Mizan Online Book Fair.

Suka, deh, sama acara diskon buku. Ditambah lagi kalau berlangsung secara online, seperti yang digelar penerbit Mizan grup untuk keempat kalinya ini. Jangan ditanya betapa paniknya saya ketika melihat banner berikut terpampang nyata pada laman BukaBuku.com (salah satu toko buku online nasional langganan saya).

Dengan tekun saya mengamati setiap judul buku dari Mizan grup yang ada dalam daftar jualannya bukabuku.com dan berhasil mengumpulkan 40-an judul menarik versi saya. Keinginan, sih, beli semua judul tersebut tapi hal ini bertolak belakang dengan realita keuangan :D

Dan setelah mempertimbangkan masak-masak judul buku yang paling ingin dibeli, maka mengerucutlah menjadi 9 judul, selembar alat pengukur tinggi badan plus Time Will Tell-nya Okke Sepatumerah dan Rini Sardjono (yay!) dari penerbit Gagas Media.

My book order from BukaBuku.com

Lihat, tak, hasil penghematannya? Good bargain isn’t it?

Penawaran istimewa ini sepertinya berlangsung di setiap toko buku online nasional dan akan berakhir pada tanggal 22 Juli 2013.

Labuan Bajo: the arrival.

Mila sent a peace for the earth from Komodo Labuan Bajo Airport.

Satu jam setengah perjalanan udara yang dibutuhkan untuk sampai ke Labuan Bajo dari Bali. Langit cerah saja pada siang itu. Begitu pintu pesawat yang terletak di bagian belakang dibuka, kami berhamburan dan langsung bergantian berpose di depan penanda Bandar Udara Komodo Labuan Bajo. Norak? Iya. Jauh dan mahal soalnya untuk bisa sampai sini, cyin.

Memasuki ruang kedatangan, kami langsung diserbu penyedia jasa antarjemput bandara yang terbagi atas pengemudi ojek dan taksi-taksian. Ibarat kata nyawa baru kumpul dan melihat ruangan kedatangan belum terlalu jelas, ya sudah, deh, langsung njeplak saja kalau kami bertiga sudah dijemput oleh pihak hotel. Eh, masih ada juga, lho, yang mencoba peruntungannya dengan bertanya, “Dijemput oleh hotel apa, Kak?”. Kasih tahu, nggak, ya?

Continue reading

Labuan Bajo: pre-departure.

My trip mate: Efa mencari majalah impor and Mila yang terus-menerus memonitor orderan barang.

Entah mengapa menuju perjalanan bertemu Si Komo ini rasanya woles banget. Apakah karena cuaca Jakarta dan sekitarnya yang mendung-mendung membuat ingin selalu berada di bawah selimut?

Sesekalinya saya gedubrakan itu sewaktu cari tiket Denpasar–Labuan Bajo pp. Saya gangguin sepupu saya yang baru membuka usaha jual-beli tiket pesawat dengan harapan dapat potongan harga. Tidak berhasil, sih :p

Kemudian membujuk-bujuk @mila_said agar dia mau meninggalkan sejenak netbook dan MS Outlook-nya demi untuk mencek harga tiket tersebut di kantor-kantor travel yang bertebaran di Tebet. Ini juga tidak menghasilkan. Pada akhirnya kami membeli tiket secara online di merpati.co.id :)

Continue reading

a postcard from Komodo Island.

Dear Noni and Kazwini,

Backpack yang saya pajang pada dua posting-an sebelumnya baru saja saya gunakan untuk mengunjungi Si Komo di Nusa Tenggara Timur sana. Tidak menyangka, Non, ternyata saya mengikuti jejak perjalanan dirimu yang baru saya ketahui manakala  melakukan blog walking guna mencari informasi mengenai penginapan di Labuan Bajo.

Lagi-lagi perjalanan ini dimungkinkan karena ketersediaan tiket murah dari AirAsia yang saya dan teman-teman beli secara  impulsif pada bulan September 2012. Masing-masing kami merogoh uang 300 ribu rupiah untuk rute Jakarta – Denpasar pp. Waktu keberangkatan dan kepulangan yang terbentang cukup lama (berangkat: 6 Mei 2013, pulang: 14 Mei 2013) membuat kami berpikir untuk tidak hanya leyeh-leyeh di Pulau Dewata saja.

Berkat hasutan halus dari @susiwid  yang kala itu baru melaksanakan pelatihan di Pulau Alor (pulau yang terletak di ujung timur dari Pulau Flores) maka kami  (saya, @liliamrina dan @EfaAyuDhewe) menyepakati untuk melakukan Flores overland tour. Sementara @mila_said cukup tahu beresnya saja.

Menuju bulan keberangkatan ternyata banyak hal yang terjadi. Di antaranya pembatalan menjelajahi Pulau Flores dan dari lima orang cewek kece yang akan berkelana, hanya tiga orang yang positif berangkat. Dengan dua di antaranya (saya dan Mila) sedang menganut paham go show, que sera sera. Sehingga membuat pejalan satunya sedikit gusar oleh rencana bermalam di Bandara Ngurah Rai saja sebelum melanjutkan penerbangan ke Labuan Bajo.

Apakah saya dan Mila jadi menginap di bandara kebanggaan masyarakat Bali itu? Tunggu kelanjutan kisahnya. Tsahhh

Little Maya’s free design blog and portrait drawing giveaway.

Apakah kalian menyukai gambar potret di atas? Kalau saya sukaaa sekali! Potret-potret tersebut digambar oleh Artika Maya. Ihhh, si empunya nama saja sudah nyeni, ya?

Beberapa waktu yang lalu saya pernah mampir ke blognya dia. Lumayan lama saya mondar-mandir di sana sambil berandai-andai kalau saya digambar potret rupa saya akan seperti apa? Saya pun sempat bertanya sambil lalu kepada @mila_said, kira-kira berapa biaya untuk mendapatkan gambar potret karya Maya? Jawabannya Mila pendek saja, “Sana kirim e-mail ke orangnya”.

Dan waktu pun bergulir, gulma-gulma kembali menyemak di pekarangan, dan saya kembali disibukkan oleh urusan pekerjaan *alasanpalingmanjur*, kemudian rasa penasaran tersebut terlupakan sudah :)

Sampai pada hari ini ketika sebuah komentar masuk di bawah posting-an mengenai backpack andalan saya:

… ah ya, join giveaway yg sdg kuadakan ya. gift nya free design blog dan free drawing portrait ;)

Wihhh, ajakan tersebut seperti pucuk dicinta ulam pun tiba nggak, sih??? (walau baru separuh jalan :D ).

Begitu sampai di rumah saya buru-buru buka laptop dan tak lupa mengisi pulsa Telkomsel Flash yang sudah habis masa berlangganannya (walau quota masih bejibun). Klik… klik ke laman Little Maya, lalu baca aturan giveaway-nya, dan muncullah tulisan ini sebagai pemenuhan syarat nomor tiga.

Ayo… ayo, siapa yang mau di-redesign blognya atau ingin punya self portrait seperti impian saya? Silahkan tengok tautan ini:
http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html
Masih ada waktu sepuluh hari lagi untuk berpartisipasi. Tapi jangan lakukan sampai nanti, lakukan sekarang juga! :D

what inside my backpack?

Saya baru kembali dari sebuah trip yang menyenangkan, nih. Sebelum cerita panjang-panjang mengenai trip tersebut, saya mau kasih intip isi tas gembolan saya.

Pertama-tama, mari tengok backpack yang menjadi andalan saya yakni Eiger Suburban 01. Usianya kalau tak salah sudah mau lima tahun. Pelapis bagian dalamnya sudah robek-robek, tapi tampak luar masih gagah, lho.

Eiger Suburban 01

Adapun dimensi dari tas tersebut adalah 47 x 30 x 18 cm.

1.  Pakaian

  • Celana kaos warna abu-abu kepunyaan Si Mpit yang panjangnya sampai mata kaki.
  • Celana pendek selutut warna abu-abu hasil menggunting celana panjang yang biasa saya gunakan untuk pergi kerja, sudah lusuh soalnya.
  • Celana kaos yang pendeknya juga selutut, warna hitam. Celana ini biasa saya gunakan untuk berolahraga.
  • Tank top warna hitam.
  • Tank top warna abu-abu.
  • Tank top warna hitam model racer back.
  • Oversized t-shirt warna biru dongker.
  • Blus corak batik warna oranye yang melambai-lambai jika tertiup angin.
  • Blus warna kuning.
  • Blus warna putih.
  • Cardigan warnau hijau muda yang menyilaukan mata.
  • Daster bergambar kucing dengan dominasi warna biru, hohoho.

Dari pakaian yang terdaftar di atas, yang tidak dipakai adalah blus warna kuning.

2.  Pakaian dalam

  • Bra tanpa kawat dan busa, 5 buah.
  • Panties: 8 buah

Saya menyisakan masing-masing 2 buah dari item di atas.

3.  Bahan dari kain lainnya

  • Mukena dari bahan parasut berwarna hijau.
  • Sajadah yang tipis berwarna merah.
  • Handuk ukuran kecil berwarna salem.
  • Handuk ukuran sapu tangan berwarna biru dongker.
  • Kain bali warna coklat tua+coklat muda+merah tua.
  • Tas belanja yang bisa dilipat.
  • Payung corak burberry.
  • Topi kanvas warna merah jambu.

4.  Toiletries

  • Sabun mandi cair, yang kemudian tidak saya bawa kembali ke rumah.
  • Sampo ukuran kecil.
  • Pasta gigi ukuran terkecil.
  • Sikat gigi warna merah jambu
  • Pelembab tubuh ber-SPF ukuran terkecil
  • Pembersih wajah 2in1 ukuran terkecil.
  • Tabir surya ber-SPF.
  • Lotion antinyamuk yang saya pindahkan ke dalam botol plastik kecil yang dilengkapi penyemprot.
  • Pantyliners.
  • Tisu basah dan tidak.

Selama perjalanan, lotion antinyamuk sama sekali tidak digunakan. Nyamuknya kebanyakan nyamuk jantan, jadi tidak menggigit, itu kata teman saya.

5.  Kosmetik

  • Lipbalm-nya Maybeline Baby Lips Smoothing Cherry.
  • PAC Lipstick Pencil Frozen Rose.
  • Mineral face powder dari Revlon dalam wadah L’oreal True Match Minerals.
  • Maskara-nya Maybeline The Hyper Curl Volum’ Express Waterproof.
  • Cheek blush dari Body Shop.
  • Kuas pemerah pipi dari Maybeline.

Kecuali lipbalm, semua peralatan melenong di atas hanya digunakan sekali secara lengkap.

6.  Aksesoris

  • Jam tangan warna perak.
  • Gelang dengan aksen ikan.
  • Kalung batu warna-warni.
  • Kalung dari kain bekas warna fuschia.
  • Anting (imitasi) bulu burung merak.
  • Sun glasses.

Anting (imitasi) bulu burung merak tidak sempat unjuk gigi.

7.  Obat-obatan

  • Ponstan 1 strip.
  • Minyak kayu putih.
  • 4 bungkus Tolak Angin.

Alhamdulillah, obat-obatan tersebut sama sekali tidak digunakan.

8.  Alas kaki

  • Sepatu kanvas warna merah jambu pucat.
  • Sendal a la Birkenstock warna ungu tua.
  • Kaos kaki yang tipis warna merah.

Yang paling lama berada di dalam tas adalah sepatu kanvas.

9.  Lainnya

  • Charger batre untuk kamera.
  • Tiket-tiket pesawat.
  • Dompet pribadi.
  • Dompet yang berisi uang saku saya dan Mila.
  • Handphone.

Selain tas Eiger ini saya juga membawa tas kamera berisikan Si Olly SP 600UZ.