Serumah: mencari kost dengan jarimu.

serumah_02

Bagi yang mendapatkan pekerjaan pertamanya selepas Lebaran ini atau yang akan punya kantor baru, saya ucapkan selamat. Seize your day.

Terkadang pekerjaan baru itu diikuti oleh keharusan untuk pindah lokasi tempat tinggal. Setuju?

Saya dulu memutuskan nge-kost, sih, agar supaya mobilisasi aktivitas pekerjaan yang sering kali mengharuskan ke luar kota menjadi mudah. Mudah ke bandara dan mudah mengambil logistik dari kantor.

Nah, karena tuntutan harus mudah menjangkau kantor itu, maka lokasi kost yang dekat dengan kantor adalah pilihan paling utama. Saya dan Efa (teman berbagi kamar kost-an) bergerilya di wilayah Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tapi keberhasilan kami mendapatkan tempat kost bukan karena blusukan memasuki tiap jalan dan gang, melainkan berasal dari info teman sekantor. Hahaha…

Setelah tempat kost yang berpotensi untuk ditempati sudah dalam genggaman, saya dan Efa selanjutnya melakukan cek terhadap daftar berikut:

  • Harga
  • Kemudahan berbagi kamar
  • Kondisi kamar: luas, perabotan yang disediakan oleh pemilik kost, kondisi kamar mandi.
  • Fasilitas mencuci dan menyeterika (kalau bisa yang tidak dibatasi. Hohoho)
  • Kondisi lingkungan rumah kost: tingkat hunian, tingkat keramaian, akses ke warteg dan warung, ada penjaga kost atau tidak.
  • Aturan main dari induk semang sendiri.
  • Sementara fasilitas dapur kami kesampingkan karena kami membeli makanan dari luar.

Tuh, kan, word of mouth itu memang mumpuni ketimbang mencari kost dengan berputar-putar di wilayah tertentu. Sekarang selain word of mouth ada, nih, yang menawarkan kepraktisan serupa. Namanya situs Serumah.

Cara menggunakan situs ini seperti menggunakan situs booking hotel. Teman-teman yang mencari kost tinggal mengetikkan wilayah yang dekat dengan lokasi kantor, misalnya. Asyiknya, pencarian bisa dikerucutkan hingga nama jalan.

Selain memberikan fasilitas mencari kost, situs ini juga memberikan fasilitas menemukan orang untuk berbagi kamar kost. Seperti yang saya dan Efa lakukan. Ini membuat kami dapat menekan pengeluaran biaya sewa kamar. Dari penghematan tersebut, kami kemudian menyalurkannya untuk membeli martabak dan cimol yang mangkal di belakang Plaza Indonesia.

Fasilitas ketiga yang Serumah berikan adalah bagi para juragan kost. Mereka bisa mengiklankan rumah kostnya di situs ini.

Kalau melihat situsnya yang sederhana dan mudahnya bernavigasi, saya yakin yang mencari maupun menawarkan rumah kost akan mudah memanfaatkannya.

So, happy hunting guys and good luck!

Advertisements

Manila dan dua perempuan yang kini menjadi ibu.

Ini adalah postingan pamungkas mengenai perjalanan saya di Filipina.

Sengaja bunyi judulnya demikian untuk menunjukkan betapa lamanya saya menyelesaikan seri tulisan ini, sedari dua teman perjalanan saya waktu itu masih perawan ting-ting sampai sudah menjadi ibu dari seorang anak perempuan.

Kepada Ariya dan Dita, selamat atas kelahiran Hufairah Nur Afifah Ardiansyah dan Qeis Rashid. Semoga tumbuh menjadi puteri yang solehah, cerdas dan penuh cinta. Aunty Pagit persembahkan tulisan ini untuk kalian berdua, sayang. Sebagai catatan kenang-kenangan bahwa ibu kalian adalah pejalan yang tangguh (terutama saat Aunty ajak ibu kalian berjalan kaki ke mana-mana), sebelas-duabelas dengan Aunty Asty.

Jadi, Faira dan Qeis, perjalan hari terakhir ibu kalian bersama Aunty Pagit dan Aunty Asty di Manila sebelum terbang kembali ke Indonesia (pada sore harinya) didedikasikan dengan main ke mal. Yakinlah suatu hari nanti kalian berdua akan paham betapa menyenangkannya ngemal, walaupun masih lebih menyenangkan main ke pantai atau gunung, sih.

Pada hari sebelumnya, sebenarnya kami sempat berkunjung ke mal SM City Manila dan Glorietta. Di mal SM City Manila kami menumpang ke toilet sementara di mal Glorietta kami puaskan untuk membeli cinderamata dan polvoron. Kami sempat bertemu dengan turis lain asal Indonesia yang langsung mengajak berbincang-bincang cantik. Kami membahas maskapai yang dipakai sampai faktor cuaca.

Rencana nge-mal adalah pilihan saya. Membaca banyaknya mal yang ada di Manila telah berhasil menggelitik saya untuk mendatangi salah satunya (catatan penting: pada akhirnya kami malah memasuki 5 buah mal, termasuk mal di depan hostel). Saya maunya, sih, berkunjung ke SM Mall of Asia yang terletak di Manila Bay yang sempat digelari mal terbesar di Filipina. Hanya saja kondisi saat itu tidak memungkinkan, malasnya harus kekeretaan lagi. Jadinya saya memilih untuk main ke mal di seputaran Makati saja, yakni mal Greenbelt yang duduk manis di urutan ke-7 mal terbesar.

Manila_2[1]
Menunggu kedatangan jeepney.

Dari depan hostel kami naik jeepney hingga pertemuan jalan antara Makati Avenue dan Ayala Avenue karena jeepney tersebut sayangnya tidak melewati mal yang kami maui.

Perempatan ini menghubungkan dua ruas jalan utama dan paling sibuk di Makati. Kami sempat, lho, kebingungan bagaimana menyeberangi dua sisi Makati Avenue yang dibelah oleh Ayala Avenue ini. Sempat juga kami berjalan menyusuri sisi kanan Ayala Avenue berharap menemukan zebra cross atau jembatan penyeberangan. Hasilnya? Nol besar.

Saat sedang asyik memperhatikan para pekerja yang lalu-lalang sambil terburu-buru, mata kami mendapati orang-orang kantoran yang muncul dari dalam tanah di bawah naungan dengan atap transparan. A ha! Rupanya itu sebuah underpass bagi pejalan kaki!

Kami berempat pun lalu turut menenggelamkan diri dalam underpass yang dihiasi lukisan mural di setiap dindingnya, bersih dan penerangannya sangat memadai. Lalu, voila! Kami sampai juga di sisi lain dari Makati Avenue.

Mendekati mal Greenbelt kami disambut sebuah museum dengan bangunan modern dan sangat menarik hasrat untuk dikunjungi. Ayala Museum namanya. Sayangnya sebagaimana musem-museum di Jakarta, museum ini tidak beroperasi pada hari Senin. Manyun. Dengan melihat fasad museum yang ciamik ini saya rela berputar-putar di dalamnya ketimbang “tawaf” di mal.

Manila_3[1].jpeg
Di depan gerbang masuk Ayala Museum yang tidak dipagari.

Sementara menunggu waktu mal beroperasi, kami leyeh-leyeh di bangku di antara sebuah kafe dan taman berkolam ikan koi. Adem banget suasananya. Cocok untuk tidur-tidur ayam yang diantaranya diganggu oleh semilir aroma kopi yang menguar dari dalam kafe. Ih, Git, tidur mulu! Yowes, mainan internetlah kalau begitu mumpung ada wi-fi publik.

Manila_5[1]
Menggunakan kesempatan ketika mal belum beroperasi untuk foto-foto. Bangunan yang berwarna abu-abu dengan jendela-jendela besar itu adalah bagian dari Ayala Museum yang digunakan sebagai pengubung antara bangunan mal Greenbel 4 dan 5.

Mal Greenbelt ini dibagi atas beberapa seksi seperti Mall Kelapa Gading. Sementara bangunannya cukup 3 lantai saja kalau tidak salah. Arsitekturnya bergaya tropis. Jadi banyak bukaan. Di antara bangunan mal yang satu dengan yang lainnya selain dihubungkan dengan jembatan, pengunjung bisa mengaksesnya melalui taman yang ada ikan koinya tadi. Selain kolam, di tengah area mal ini ada berdiri sebuah kapel yang menurut saya layak dijadikan tempat mengikat janji karena suasana sekitarnya lebih mirip sebuah resor.

Manila_6[1]
Tempat duduk ini tersedia di sekeliling taman.
Sekelumit penampakan tamannya.

Selain memanfaatkan toiletnya, di mal ini saya membeli blush on dari merek e.l.f, kantong belanja yang bisa dilipat, dan majalah lokal Filipina berbahasa Inggris sebagai oleh-oleh bagi diri sendiri.

Jelang makan siang kami pindah ke mal berikutnya, mal Landmark. Dari Greenbelt pengunjung tinggal memanfaatkan jembatan penyeberangan yang saling menghubungkan kedua mal tersebut. Andai mal Plaza Indonesia dan Grand Indonesia punya penyeberangan seperti ini juga.

Mal kedua ini lebih seperti berkunjung ke Seibu, Sogo, Metro, atau Matahari gitu. Saya belanja perintilan perawatan tubuh di sini. Oh ya, ada satu produk yang menyolok bagi saya, sabun pepaya untuk mencerahkan wajah dari berbagai macam merek.

Puas keliling-keliling Landmark, kami lanjutkan kegiatan dengan makan siang di foodcourt yang terletak di basement. Kami memilih makanan vegetarian. Lalu karena masih terasa lapar kami menengok gerai McD untuk membeli kentang goreng.

Saatnya kembali ke hostel. Kami balik ke hostel dengan naik jeepney yang tersedia di samping pintu utama mal Landmark. Alhamdulillah, ketika pulang ini ternyata ada layanan jeepney yang langsung menuju hostel kami.

Salut saya pada warga Manila, naik jeepney saja pakai antri kayak mau naik taksi di pintu keluar Grand Indonesia, lengkap dengan queing belt-nya lagi. Dan pemandangan ini bukan hanya bisa dilihat di mal saja. Di halte juga beberapa kali saya lihat antrian serupa, bahkan sampai ada yang panjang barisannya.

Setelah tas-tas ransel dikeluarkan dari lemari penitipan di hostel, selanjutnya kami menunggu kedatangan taksi yang akan mengantarkan kami ke bandara. Pemesanan taksi ini dibantu oleh pihak hostel. Nah, sambil menunggu itu kami beramah-tamah dengan pemilik hostel.

Manila_11[1]
Membuat foto kenangan dengan bos pemilik Our Melting Pot. Saya sangat merekomendasikan penginapan ini. Toilet dan kamar mandinya banyak. Menu sarapannya pun beragam.

Sepertinya kami membayar ongkos yang lumayan mahal untuk taksi ini, tidak sesuai dengan perkiraan yang sebelumnya saya cari infonya di internet. Alhamdulillahnya uang peso masih cukup layak jumlahnya dalam genggaman.

Tak berkepanjangan saya merutuki hal tidak mengenakan tersebut. Karena setelah dipikir-pikir lagi yang terpenting, kan, sudah aman sentosa sampai di NAIA Terminal 3 dan bebas dari dijutekin sama supirnya (pengalaman naik taksi pertama kali dari mal Glorietta ke hostel).

Manila_8[1]
Menunggu konter Cebu Pacific tujuan Jakarta dibuka.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
NAIA Terminal 3 memfasilitasi mushola lengkap dengan peralatan solatnya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Menghabiskan peso dengan membeli novel.

Demikian seri perjalanan menyusuri selatan Pulau Luzon ini ditulis. Adapun highlight dari petualangan kali ini adalah berhasilnya kami memanfaatkan moda transportasi umum (bus, jeepney, mobil travel, LRT, MRT, taksi, hingga three cycle) mereka yang lumayan bisa diandalkan.

inspirasi gaya Lebaran 2016 dari Berrybenka yang “gw banget”.

Teman-teman yang sedang menjalankan puasa, bagaimana puasanya? Sudah ada yang bocor? Dari awal puasa, saya sendiri sudah bolong sebanyak 3 hari karena diare. Ah, semoga puasa teman-teman selalu lancar dan penuh berkah sampai Hari Kemenangan tiba. Amin.

Lalu, bagaimana dengan rencana Lebaran kalian? Biar saya tebak. Umumnya  pulang mudik dan menghabiskan waktu di rumah mertua, kan? Atau, malah pergi liburan? Kalau saya sendiri ada di pilihan kedua.  Saya, Mamah, Si Mpit, dan Si Ndut akan menghabiskan libur lebaran bersama 34 anggota keluarganya Bapak di Yogyakarta. Ini orang Karo, kok, mudiknya malah ke Yogya? Hehehe… Menurut kakak sepupu saya, jika acara ini sukses yang ditandai dengan tidak ada mulut yang minta dikepang, kemungkinan lebaran tahun berikutnya akan diadakan acara pulang kampung besar-besaran ke Tiga Beringin (nama kampungnya Bapak di Kab. Tanah Karo sana).

Saat rencana liburan ke Yogya ini digulirkan dalam acara arisan keluarga di awal tahun ini, saya banyak mengernyitkan dahi. Terbayang panjangnya waktu yang harus dihabiskan di dalam bus. Namun kemudian pada rapat terakhir di penghujung Mei kemarin, ketika rencana lebih detil diuraikan selama 5 jam dan hanya 15 orang yang berpartisipasi, saya jadi lebih plong menerimanya. Lha, rapat selama 5 jam saja bisa tidak terasa begitu. Nantinya malah akan ada 30 mulut lebih yang level sebagai komentatornya di atas rata-rata :p Benar-benar tak akan merasakan bosan (insyaallah). Hal ini lalu dipertegas oleh salah seorang mamak tua, “Yang penting itu bukan destinasinya, tapi kebersamaannya.” Cakep, Mak! Bungkus!

Biasanya untuk membangun mood menuju tanggal kebarangkatan, saya melakukannya dengan mengulik rencana perjalanan. Berhubung rencana perjalanannya sudah ada yang mengurus, maka saya putuskan untuk mengobrak-abrik situs Berrybenka sajalah. Kira-kira dalam seminggu terakhir ini saya bolak-balik log in ke situs tersebut. Memperhatikan dengan cermat setiap kategori dan harga terbaik dari barang-barang yang mereka tawarkan. Maka, berikut inilah barang-barang yang berhasil saya katalogkan berdasarkan kecenderungan gaya saya berpakaian, tingkat kepraktisan, dan acara/tempat yang akan didatangi:

Gaya saat mudik

Menurut jadwal, kami berangkat sekitar pukul 3 sore dari Jakarta Timur.

Walau sudah ada jalan tol baru yang membentang antara Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, mari kita asumsikan bahwa kegiatan mudik tak lekang dari kemacetan. Sepupu saya yeng memiliki mertua asal Pekalongan memperkirakan waktu tempuh ke Yogyakarta itu sekitar 18-24 jam. Lamanya perjalanan inilah yang paling krusial dalam menentukan  pakaian yang saya pilih. Untuk itu saya memilih pakaian yang memberikan ruang gerak yang leluasa. Daster maksudnya, Git? Hahaha… maunya, sih, begitu. Tapi ini adalah momen spesial, Kakak *lempar daster ke belakang lemari*

Berdasarkan hal tersebut, pilihan saya jatuh pada pasangan sweater berbahan ringan dan rok di bawah lutut ini.

Berrybenka_Sweet M3_Carvil
Sweet M3//Carvil//Rp137.310 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Berrybenka_Dan Skirt_Berrybenka Label
Dan Skirt//Berrybenka Label//Rp159.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Gaya di Hari Idulfitri

Untuk merayakan Hari Idulfitri, saya mengesampingkan gamis-gamis yang girly dan penuh payet. Pilihan saya adalah blus/tunik dengan detil bukaan di bagian punggung dengan tanktop yang senada dengan warna bawahan, dan celana panjang model kulot.

Berrybenka_Daven Balckless Top_Berrybenka Label
Daven Backless Top//Berrybeka Label//Rp149.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Berrybenka_Sarah Tanktop In Nav_BLANC
Sarah Tanktop In Nav//BLANC//Rp99.000.
Berrybenka_Bitro Wide Pants_Berrybenka Label
Bitro Wide Pants//Berrybenka Label//Rp129.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Gaya saat mengeksplorasi Yogyakarta

Kami berencana untuk mendatangi wisata candi, pantai, gunung, kuliner, museum, dan tentunya belanja. Dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut, saya memadupadankan pakaian-pakaian dari Berrybenka sebagai berikut:

Berrybenka_Kiera Top In Dusty Pink_Coup Belle
Kiera Top in Dusty Pink//Coup Belle/Rp129.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Berrybenka_Organic Basic Pants Grey_Cocolyn Apparel
Organic Basic Pants Grey//Cocolyn Apparel//Rp204.000.

Karena saya gandrung pakai cardigan, jadi, ya, harus ada paling tidak sehelai jenis pakaian tersebut.

Berrybenka_Electryone Outer in White_Angge
Electryone Outer in White//Angge//Rp249.000.

Andai, a a a a a aku punya celana jins belel dengan tingkat ke-rebel-an seperti ini:

Berrybenka_London LongPants_X8
London LongPants//X8//Rp295.920 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Gaya saat arus balik

Ini pilihan saya:

Berrybenka_Merry Top_Coup Belle
Merry Top//Coup Belle//Rp119.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).
Berrybenka_Jenahara Joger Pants Black_ELLYSA QUEEN.jpg
Jenahara Joger Pants Black//ELLYSA QUEEN//Rp105.000.
Aksesoris pendukung

Alas kaki yang nyaman dan mudah dilepas-pakai.

Berrybenka_Jones Sandals Grey White_Berrybenka Label
Jones Sandals in Grey White//Berrybeka Label//Rp209.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).

Selendang yang dapat difungsikan sebagai kerudung dan penghangat tubuh maupun penghalau sinar matahari.

Berrybenka_Leaf Scarf_Coup Belle
Leaf Scarf//Coup Belle//Rp69.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).

Tas selempang yang menyolok warnanya untuk menambahkan nuansa ceria pada keseluruhan pakaian saya yang setelah saya amati pilihan warnanya cenderung yang aman (heran sendiri).

Berrybenka_Rosianna Bag in Yellow_Coup Belle
Rosianna Bag-Yellow//Coup Belle//Rp129.000 (harga diskon saat tulisan ini dimuat).

Perhiasan yang saya sukai itu adalah anting-anting. Dalam kesempatan ini saya memilih anting-anting dengan model sebagai berikut untuk memberikan ilusi oval pada wajah saya yang bulat.

Berrybenka_Clarisa Earings Gold_Berrybenka Label
Clarissa Earings Gold//Berrybenka Label//Rp49.000.

Demikianlah inspirasi yang saya dapatkan dari Berrybenka. Tidak banyak jumlahnya karena yang akan menguasai koper saya nanti adalah peralatan dandan dan skin care regime. Dannn, semoga diantaranya ada yang bisa direalisasikan. Amin.

<<Catatan>>
Postingan ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons dan InvolveAsia X HB & BB. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. Voucher Berrybenka dan voucher Hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka

Sumber featured image: http://bit.ly/29WeaMs

BB_HB_Blogger_Contest_FB_Post

belanja makeup di bawah 200 ribu rupiah.

Salah satu hobi yang baru saya tekuni dua tahun belakangan ini adalah membeli makeup dan alat-alat penunjangnya. Supaya makeup dan peralatannya itu tidak sia-sia tentunya harus digunakan, dong, ya. Dan agar semakin lentur mengulas dan memegang alat makeup idealnya harus banyak berlatih membuat riasan. Nah, salah satu sumber pengajaran dalam berias itu saya dapatkan dari beauty vlogger asal negeri sendiri. Kapan-kapan saya ulas vlogger kecintaan saya tersebut.

Tatkala berselancar dari satu kanal beauty vlogger ke kanal beauty vlogger yang lain, terselip sebuah tema yang menarik perhatian saya: belanja makeup di bawah 200 ribu rupiah. Aha! Sepertinya saya bisa mengisi blog saya dengan tema yang sama, nih. Kebetulan hari Minggu dan Senin kemarin saya belanja makeup secara daring dari Tokopedia (bukan iklan, sumpah!). Makeup yang saya beli ini untuk menggantikan makeup saya yang sudah habis. Kalau sebelum-sebelumnya saya banyak blanja-blanji merek drugstore luar negeri, kali ini merek yang saya beli buatan dalam negeri. Bukan barang abal-abal karena sudah terdaftar di BPOM. Keren! Daftar nomor registrasi tiap-tiap makeup tersebut saya sertakan dalam keterangan foto di bawah. Kalau iseng mau cek kebenarannya, silahkan klik tautan ini: http://ceknie.pom.go.id/

Ada dua toko daring yang padanya saya berhasil mengeksekusi kartu debit saya. Pertama toko Yobel Cosmetics asal Bandung. Saya belanja hari Minggu, barang sampai hari Rabu (18/05). Paket makeup saya dibungkus kantung plastik saja tapi isi paket saya terima dalam keadaan utuh.

Keterangan nama barang dan harga bisa dilihat pada foto berikut:

emina_ig
1. Emina Bare With Me Mineral Loose Powder warna Amber (03), Rp 45,900.-, POM NA 18140400509 // 2. Emina Sugar Rush Lip Scrub, Rp 33,900.-, POM NA 18151303739 // 3. Emina Sun Protection SPF 30 PA +++, Rp 26,900.-, POM NA 18151700386. Ongkos kirim Rp 11,000.-.

Toko kedua, Gudang Kosmetik asal Bogor. Kalau yang ini saya belanjanya hari Senin, hari Selasanya (17/05) barang sudah saya terima. Ya, iyalah cepat datangnya, masih satu kota soalnya. Paket dibungkus dengan sederhana menggunakan amplop kertas tapi isi paket tetap dalam kondisi prima saat dibuka.

Keterangannya sebagai berikut:

mizzu fanbo just miss_ig
4. Mizzu Eyeliner Pen warna hitam, Rp 22,000.-, POM NA 18111202612 // 5. Fanbo Eye-Brow Pencil warna coklat, Rp 22,000.-, POM NA 11141200329 // 6. Just Miss Lip Color Lipstick (serut) J-13, Rp 10,000.-, POM NA 18121301108 // 7. Just MIss Lip Color Lipstick (serut) J-39, Rp 10,000.-, POM NA 18131301362. Ongkos kirim Rp 9,000.-.

Oke, setelah perlenongan tersebut saya beberkan, mari lanjutkan tentang bagaimana keseluruhan makeup tersebut tampak di wajah saya. Dan inilah hasilnya:

before makeup_ig.jpg
Sebelum menggunakan riasan. Catatan: foto dibuat di dalam ruangan tanpa penyuntingan kecuali memperkecil berkas dan memotongkan untuk menghasilkan fokus gambar yang diinginkan.
after makeup_ig.jpg
Setelah mengaplikasikan riasan. Catatan: kondisi foto sama dengan foto sebelumnya.

Berikut tahapan yang saya lakukan dalam membuat riasan di atas:

  1. Mengaplikasikan lip scrub.
  2. Mengaplikasikan sunscreen.
  3. Mengaplikasikan bedak tabur ke seluruh wajah, leher dan dada.
  4. Mengaplikasikan pensil alis ke seluruh bagian alias lalu diratakan menggunakan ujung pensil yang tumpul.
  5. Mengaplikasikan eyeliner hanya pada bagian waterline saja.
  6. Mengaplikasikan Just Miss Lip Color Lipstick (serut) nomor J-13 pada bibir.

Lalu  inilah kesan saya terhadap barang-barang riasan yang saya beli itu:

  • Emina Bare With Me Mineral Loose Powder warna Amber (03)
    Sebelumnya: Rimmel London Stay Matte Pressed Powder warna Sandstorm.
    Kesan: saya baru tahu kalau bedak ini jenis bedak mineral. Kenyataan ini lumayan mengerem keinginan untuk mencoba Mineral Botanica Original Loose Foundation. Teksturnya lumayan halus. Warnanya yang agak kekuning-kuningan ternyata sesuai dengan tone wajah dan leher saya. Ada wangi seperti bedak bayi yang menguar tapi tidak mengganggu bagi saya, cenderung memberikan efek menenangkan seperti melihat bayi-bayi. Saya mengaplikasikannya menggunakan kuas bedak, spon bawaannya belum pernah dipakai.
  • Emina Sugar Rush Lip Scrub
    Sebelumnya: e.l.f Lip Scrub
    Kesan: kemasannya mungil dengan warna dan font yang girly. Ada wangi vanilanya. Tesktur gulanya lebih kecil dan tidak selengket e.l.f. sehingga terasa lembut dan mudah diusrek-usrek (bahasa apa ini?) pada bibir. Pastikan jari tangan dalam keadaan bersih saat menggunakannya.
  • Emina Protection SPF 30 PA+++
    Sebelumnya: tidak begitu suka menggunakan sunscreen, hanya mengandalkan SPF yang terkandung dalam pelembab atau primer wajah.
    Kesan: sesuai dengan klaim yang tertera di kemasan belakangnya, sunscreen ini memiliki tekstur yang ringan membuatnya mudah diaplikasikan dan cepat menyerap di kulit. Sekilas wanginya mirip pembersih muka Biore.
  • Mizzu Eyeliner Pen warna hitam
    Sebelumnya: Love Darling Eyeliner bentuk spidol (buatan Jepang).
    Kesan: jauh sebelumnya saya pernah menggunakan eyeliner ini, dan karena sudah lama sekali tidak menggunakan produk ini saya lupa bagaimana wujud ujung kuasnya 🙂 Ujung eyelinernya yang lebih ndut dibandingkan eyeliner Love Darling atau Maybelline Hypersharp membuatnya lebih cocok untuk mengisi bingkai eyeliner. Kali ini saya hanya mengaplikasikannya pada bagian waterline. Tidak tahan lama jadinya mudah untuk dihapus.
  • Fanbo Eye-Brow Pencil warna coklat
    Sebelumnya: Silkygirl Natural Brow Pencil warna hitam dan coklat yang dipadukan dengan eyebrow kit dari e.l.f dan NYX.
    Kesan: tidak terlalu pigmented, tapi saya suka karena dengan begitu saya tidak khawatir membuat bingkai alis yang ketebalan.
  • Just Miss Lip Color Lipstick (serut) J-13
    Sebelumnya: macam-macam lipstik termasuk lipstik Just Miss juga yang tidak diketahui nomor berapa.
    Kesan: harus beberapa kali diaplikasikan agar lipstiknya bisa menempel di bibir.
  • Just Miss Lip Color Lipstick (serut) nomor J-39
    Kesan: lebih mudah diaplikasikan daripada J-13.

Ternyata membahas makeup dengan menuliskannya sama menyenangkannya dengan membahasnya secara verbal 🙂

bermain bersama Hadiah Sahabat di Museum Layang-layang Indonesia.

image
Anak-anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah dan kakak-kakak pendamping.

Sabtu, 2 April 2016 menjadi saat yang spesial buat saya. Apa pasal? Karena, eh, karena hari itu merupakan hari pertama saya hadir dalam acara Hadiah Sahabat yang sudah saya ketahui gaungnya dari tahun 2009. Sungguh terlalu, ya, saya ini *evilgrin*

Hadiah Sahabat ini adalah sebuah komunitas sukarelawan asyik yang dibentuk oleh orang-orang kece yang suka jalan-jalan bersama. Pada suatu ketika mereka mendapat ilham untuk mempermanenkan kelompok jalan-jalan tadi menjadi kelompok yang juga bergiat dalam kerja-kerja sosial yang mempunyai dampak pada masyarat.

Dari mendengar cerita Lili (oknum yang mengenalkan saya pada Hadiah Sahabat) mengenai kegiatan komunitasnya ini, mereka memfokuskan program kerjanya dalam mengajak anak-anak dari kalangan marjinal untuk bermain. Bermainnya tentu tidak asal bermain. Mereka memastikan ada nilai-nilai edukasi yang dibawa pulang oleh anak-anak tersebut selain rasa bahagia.

Untuk kali ini Hadiah Sahabat mengajak 23 anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah bermain layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia (MLI). Materi bermainnya komplet. Dimulai dengan 1) mengenal sejarah layang-layang, 2) mewarnai gambar di atas kaos, 3) meninjau koleksi layang-layang MLI dari ukuran yang imut-imut sampai yang besar juga rumit bentuknya, 4) menonton video festival layang-layang di Bali, 5) dilanjutkan dengan membuat layang-layang, 6) dan tentunya menerbangkan layang-layang hasil karya sendiri.

Rangkaian acara di atas tidak mungkin berlangsung dalam waktu yang singkat, dong. Yup, seharian kakak ini (tunjuk diri sendiri) berada di sana. Rasa kantuk yang menyerang di jam-jam kritis ditambah sekujur tubuh menjadi bau matahari tertebus saat:

  • Melihat keriangan anak-anak yang berlari ke sana ke mari ketika berusaha menerbangkan layang-layang mereka.
  • Merasakan antusiasme mereka dalam mengerjakan permainan dan menjawab kuis.
  • Manakala menerima sebungkus nasi padang isi gulai ayam (hmmm, punya bibit panasbung juga ternyata kakak ini).

Lalu, mana foto-fotonya? Kebiasaan, deh, bikin postingan tanpa foto. Hih!

Ada, dong. Tak banyak tapi. Sila cekidot!

image
Setelah mendengar kisah asal-usul layang-layang, anak-anak mulai terlihat santai dalam kegiatan mewarnai gambar di atas kaos ini.
image
Jemuran kaos serupa tapi tak sama.
image
Di bawah layang-layang berbentuk ikan singa mendengarkan cerita tentang layang-layang yang dibuat dari bahan umbi-umbian.
image
Sampai mepet begini agar layang-layang di udara bisa terlihat.
wp-1459697087841.jpeg
Yak, bisa dilepas sekarang layang-layangnya, Kak!
wp-1459697281000.jpeg
Dalam kuis menyusun potongan gambar. Tim yang menang adalah yang melakukannya dengan cepat, tepat dan rapi.
wp-1459697449393.jpeg
Membuat foto kenangan dengan anak paling aktif hari itu.

Ada dua kegiatan lagi yang akan dilaksanakan oleh Hadiah Sahabat di tahun ini. Jika di antara sidang pembaca ada yang tertarik untuk berkontribusi dalam hal apa pun, informasi lebih lanjut dapat merujuk tautan-tautan di bawah ini:

Situs: http://www.hadiahsahabat.org
E-mail: info@hadiahsahabat.org
Facebook: Hadiahsahabat
Twitter: @hadiahsahabat

Saran dari saya sebagai penutup tulisan ini:

Jangan sungkan jadi sukarelawan
Siapa tahu ada hati yang bisa ditambatkan
*maksasupayaberima*