Salah satu hobi yang baru saya tekuni dua tahun belakangan ini adalah membeli makeup dan alat-alat penunjangnya. Supaya makeup dan peralatannya itu tidak sia-sia tentunya harus digunakan, dong, ya. Dan agar semakin lentur mengulas dan memegang alat makeup tentu harus banyak berlatih membuat riasan. Salah satu sumber pengajarannya saya dapatkan dari beauty vlogger asal negeri sendiri.

Tatkala berselancar dari satu kanal beauty vlogger ke kanal beauty vlogger yang lain, terselip sebuah tema yang menarik perhatian saya: belanja makeup di bawah 200 ribu rupiah. Aha, sepertinya saya bisa mengisi blog saya dengan tema yang sama, nih. Kebetulan hari Minggu dan Senin kemarin saya baru belanja makeup secara daring dari Tokopedia (bukan iklan, sumpah). Makeup yang saya beli ini untuk menggantikan makeup saya yang sudah habis. Kalau sebelum-sebelumnya saya banyak blanja-blanji merek drugstore luar negeri, kali ini merek yang saya beli buatan dalam negeri. Bukan barang abal-abal karena sudah terdaftar di BPOM. Keren! Daftar nomor registrasi tiap-tiap makeup tersebut saya sertakan dalam keterangan foto di bawah. Kalau iseng mau cek kebenarannya, silahkan klik tautan ini: http://ceknie.pom.go.id/

Ada dua toko daring yang padanya saya berhasil mengeksekusi kartu debit saya. Pertama toko Yobel Cosmetics asal Bandung. Saya belanja hari Minggu, barang sampai hari Rabu (18/05). Paket makeup saya dibungkus kantung plastik saja tapi isi paket saya terima dalam keadaan utuh.

Keterangan nama barang dan harga bisa dilihat pada foto berikut:

emina_ig

1. Emina Bare With Me Mineral Loose Powder warna Amber (03), Rp 45,900.-, POM NA 18140400509 // 2. Emina Sugar Rush Lip Scrub, Rp 33,900.-, POM NA 18151303739 // 3. Emina Sun Protection SPF 30 PA +++, Rp 26,900.-, POM NA 18151700386. Ongkos kirim Rp 11,000.-.

Toko kedua, Gudang Kosmetik asal Bogor. Kalau yang ini saya belanjanya hari Senin, hari Selasanya (17/05) barang sudah saya terima. Ya, iyalah cepat datangnya, masih satu kota soalnya. Paket dibungkus dengan sederhana menggunakan amplop kertas tapi isi paket tetap dalam kondisi prima saat dibuka.

Keterangannya sebagai berikut:

mizzu fanbo just miss_ig

4. Mizzu Eyeliner Pen warna hitam, Rp 22,000.-, POM NA 18111202612 // 5. Fanbo Eye-Brow Pencil warna coklat, Rp 22,000.-, POM NA 11141200329 // 6. Just Miss Lip Color Lipstick (serut) J-13, Rp 10,000.-, POM NA 18121301108 // 7. Just MIss Lip Color Lipstick (serut) J-39, Rp 10,000.-, POM NA 18131301362. Ongkos kirim Rp 9,000.-.

Oke, setelah perlenongan tersebut saya beberkan, mari lanjutkan tentang bagaimana keseluruhan makeup tersebut tampak di wajah saya. Dan inilah hasilnya:

before makeup_ig.jpg

Sebelum menggunakan riasan. Catatan: foto dibuat di dalam ruangan tanpa penyuntingan kecuali memperkecil berkas dan memotongkan untuk menghasilkan fokus gambar yang diinginkan.

after makeup_ig.jpg

Setelah mengaplikasikan riasan. Catatan: kondisi foto sama dengan foto sebelumnya.

Berikut tahapan yang saya lakukan dalam membuat riasan di atas:

  1. Mengaplikasikan lip scrub.
  2. Mengaplikasikan sunscreen.
  3. Mengaplikasikan bedak tabur ke seluruh wajah, leher dan dada.
  4. Mengaplikasikan pensil alis ke seluruh bagian alias lalu diratakan menggunakan ujung pensil yang tumpul.
  5. Mengaplikasikan eyeliner hanya pada bagian waterline saja.
  6. Mengaplikasikan Just Miss Lip Color Lipstick (serut) nomor J-13 pada bibir.

Lalu Β inilah kesan saya terhadap barang-barang riasan yang saya beli itu:

  • Emina Bare With Me Mineral Loose Powder warna Amber (03)
    Sebelumnya: Rimmel London Stay Matte Pressed Powder warna Sandstorm.
    Kesan: saya baru tahu kalau bedak ini jenis bedak mineral, ini membuat keinginan untuk mencoba Mineral Botanica Original Loose Foundation harus ditunda lebih lama. Teksturnya lumayan halus. Warnanya yang kuning ternyata sesuai dengan tone wajah dan leher saya. Bagi saya wanginya seperti bedak bayi, jadi ada efek menenangkannya.
  • Emina Sugar Rush Lip Scrub
    Sebelumnya: e.l.f Lip Scrub
    Kesan: kemasannya mungil dengan warna dan font yang girly. Ada wangi vanilanya. Tesktur gulanya lebih kecil dan tidak selengket e.l.f. sehingga berasa lembut dan mudah diusrek-usrek (bahasa apa ini?) pada bibir. Pastikan jari tangan dalam keadaan bersih saat menggunakannya.
  • Emina Protection SPF 30 PA+++
    Sebelumnya: tidak begitu suka menggunakan sunscreen, hanya mengandalkan SPF yang terkandung dalam pelembab atau primer wajah.
    Kesan: sesuai dengan klaim yang tertera di kemasan belakangnya, sunscreen ini memiliki tekstur yang ringan membuatnya mudah diaplikasikan dan cepat menyerap di kulit. Sekilas wanginya mirip pembersih muka Biore.
  • Mizzu Eyeliner Pen warna hitam
    Sebelumnya: Love Darling Eyeliner bentuk spidol (buatan Jepang).
    Kesan: jauh sebelumnya saya pernah menggunakan eyeliner ini, kali ini saya coba mengaplikasikannya pada bagian waterline dari mata saya, sedikit bleberan tapi mudah dihapus.
  • Fanbo Eye-Brow Pencil warna coklat
    Sebelumnya: Silkygirl Natural Brow Pencil warna hitam dan coklat yang dipadukan dengan eyebrow kit dari e.l.f dan NYX.
    Kesan: tidak terlalu pigmented, tapi saya suka karena dengan begitu saya tidak khawatir membuat bingkai alis yang ketebalan.
  • Just Miss Lip Color Lipstick (serut) J-13
    Sebelumnya: macam-macam lipstik termasuk lipstik Just Miss juga yang tidak diketahui nomor berapa.
    Kesan: harus beberapa kali diaplikasikan agar lipstiknya bisa menempel di bibir.
  • Just Miss Lip Color Lipstick (serut) nomor J-39
    Kesan: lebih mudah diaplikasikan daripada J-13.

Ternyata membahas makeup dengan menuliskannya sama menyenangkannya dengan membahasnya secara verbal:)

image

Anak-anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah dan kakak-kakak pendamping.

Sabtu, 2 April 2016 menjadi saat yang spesial buat saya. Apa pasal? Karena, eh, karena hari itu merupakan hari pertama saya hadir dalam acara Hadiah Sahabat yang sudah saya ketahui gaungnya dari tahun 2009. Sungguh terlalu, ya, saya ini *evilgrin*

Hadiah Sahabat ini adalah sebuah komunitas sukarelawan asyik yang dibentuk oleh orang-orang kece yang suka jalan-jalan bersama. Pada suatu ketika mereka mendapat ilham untuk mempermanenkan kelompok jalan-jalan tadi menjadi kelompok yang juga bergiat dalam kerja-kerja sosial yang mempunyai dampak pada masyarat.

Dari mendengar cerita Lili (oknum yang mengenalkan saya pada Hadiah Sahabat) mengenai kegiatan komunitasnya ini, mereka memfokuskan program kerjanya dalam mengajak anak-anak dari kalangan marjinal untuk bermain. Bermainnya tentu tidak asal bermain. Mereka memastikan ada nilai-nilai edukasi yang dibawa pulang oleh anak-anak tersebut selain rasa bahagia.

Untuk kali ini Hadiah Sahabat mengajak 23 anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah bermain layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia (MLI). Materi bermainnya komplet. Dimulai dengan 1) mengenal sejarah layang-layang, 2) mewarnai gambar di atas kaos, 3) meninjau koleksi layang-layang MLI dari ukuran yang imut-imut sampai yang besar juga rumit bentuknya, 4) menonton video festival layang-layang di Bali, 5) dilanjutkan dengan membuat layang-layang, 6) dan tentunya menerbangkan layang-layang hasil karya sendiri.

Rangkaian acara di atas tidak mungkin berlangsung dalam waktu yang singkat, dong. Yup, seharian kakak ini (tunjuk diri sendiri) berada di sana. Rasa kantuk yang menyerang di jam-jam kritis ditambah sekujur tubuh menjadi bau matahari tertebus saat:

  • Melihat keriangan anak-anak yang berlari ke sana ke mari ketika berusaha menerbangkan layang-layang mereka.
  • Merasakan antusiasme mereka dalam mengerjakan permainan dan menjawab kuis.
  • Manakala menerima sebungkus nasi padang isi gulai ayam (hmmm, punya bibit panasbung juga ternyata kakak ini).

Lalu, mana foto-fotonya? Kebiasaan, deh, bikin postingan tanpa foto. Hih!

Ada, dong. Tak banyak tapi. Sila cekidot!

image

Setelah mendengar kisah asal-usul layang-layang, anak-anak mulai terlihat santai dalam kegiatan mewarnai gambar di atas kaos ini.

image

Jemuran kaos serupa tapi tak sama.

image

Di bawah layang-layang berbentuk ikan singa mendengarkan cerita tentang layang-layang yang dibuat dari bahan umbi-umbian.

image

Sampai mepet begini agar layang-layang di udara bisa terlihat.

wp-1459697087841.jpeg

Yak, bisa dilepas sekarang layang-layangnya, Kak!

wp-1459697281000.jpeg

Dalam kuis menyusun potongan gambar. Tim yang menang adalah yang melakukannya dengan cepat, tepat dan rapi.

wp-1459697449393.jpeg

Membuat foto kenangan dengan anak paling aktif hari itu.

Ada dua kegiatan lagi yang akan dilaksanakan oleh Hadiah Sahabat di tahun ini. Jika di antara sidang pembaca ada yang tertarik untuk berkontribusi dalam hal apa pun, informasi lebih lanjut dapat merujuk tautan-tautan di bawah ini:

Situs: http://www.hadiahsahabat.org
E-mail: info@hadiahsahabat.org
Facebook: Hadiahsahabat
Twitter: @hadiahsahabat

Saran dari saya sebagai penutup tulisan ini:

Jangan sungkan jadi sukarelawan
Siapa tahu ada hati yang bisa ditambatkan
*maksasupayaberima*

Perhatian sebelum melanjutkan membaca: terdapat banyak pemuatan foto.

Saatnya menjelajah Manila City dengan berjalan kaki dan menggunakan kereta layang ringannya.

Screenshot_2015-12-21-17-25-09

Peta yang menunjukkan lokasi kami menginap (Hostel Our Melting Pot di Makati Avenue) dan stasiun terdekat (Stasiun Buendia).

Bersama-sama warga sekitar Makati Avenue yang berangkat kerja, kami berempat juga melenggang kangkung keluar dari hostel Our Melting Pot. Tujuan rekreasi kami hari itu adalah mengunjungi Intramuros, the Walled City.

Menolak berpusing memikirkan harus naik jeepney yang mana menuju stasiun kereta terdekat, kami memutuskan untuk mengandalkan kedua kami kami dan perut yang sudah terisi penuh. Oh ya, sarapan di OMP banyak pilihannya, lho. Tidak perlu malu untuk mencoba semuanya.

Beberapa toko terlihat mulai beroperasi lengkap dengan petugas keamanan bersenjata laras panjangnya. Sambil tetap waspada, mereka mengobral senyum pada orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Setelah beberapa hari di Filipina keberadaan petugas keamanan ini mulai terasa akrab. Walau masih terbersit dalam pikiran: sebegitu tidak amannyakah Filipina ini?. Eh, kilasan pemikiran tersebut belum sampai titik, tiba-tiba di depan mata terjadi kejar-kejaran antara seorang pemulung dengan dua orang satpam. Lumayan make a scene, sih, tapi tidak sampai senjata api meletus.

Yuk, lanjut berjalan lagi.

Jika berdasarkan Google Maps di atas, di bawah 30 menit saja kami berjalan. Tapi karena diselingi dengan foto-foto, sampai stasiunnya lebih dari itu.

Screenshot_2015-12-21-17-27-52

Jarak antara Stasiun Buendia dan Stasiun Pasay/EDSA.

Kali ini kami bersama-sama warga setempat di Stasiun Buendia berdiri berbaris rapi ke belakang untuk antri masuk ke dalam gerbong. Tidak ada yang menyela antrian. Tertib. Di ujung peron bagian depan, berdiri di atas mimbar, terlihat petugas stasiun yang akan meniupkan peluitnya tanda bagi masinis untuk bisa menutup pintu.

Screenshot_2015-12-21-17-30-41

Jarak antara Stasiun Pasay/EDSA dan Stasiun United Nations.

Di Stasiun Pasay/EDSA kami berpindah menaiki LRT menuju Stasiun United Nations. Kali kedua kami berada di stasiun ini, stasiun hub yang sempat membuat kami linglung awalnya. Tapi di percobaan kedua ini kami sudah bisa bernavigasi dengan lebih baik.

Gerbong kereta dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama perjalanan saya perhatikan betul nama tiap-tiap stasiun yang akan dilalui.

Processed with VSCO with hb1 preset

Bagian dari Rizal Park yang menghadap Jalan Taft Avenue.

Dari stasiun United Nations, kami lanjut berjalan kaki menuju Rizal Park, tidak langsung ke Intramuros.

Processed with VSCO with hb1 preset

Ariya berdiri pada salah satu sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands serupa dengan kolam Kepulauan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah.

Processed with VSCO with hb1 preset

Salah satu karya dalam gelaran pameran I am Filipino. Yang ini menampilkan boneka-boneka berpakaian tradisional Filipina yang sedang mengitari meja makan dengan makanan khasnya.

Ada semacam papan pengumuman berkaca yang didirikan di sepanjang sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands berisi pesan-pesan nasionalisme yang sederhana namun punya makna yang mendalam.

Salah satu contohnya adalah hasil jepretan saya di atas. Lainnya menjelaskan perluasan dari kata “po”:

I am Filipino

You will know me by the word “po” in my sentences.
You will know my children by their “mano po”.
You will know me by the smile on my face
and the warmth of my hospitality.

But most important of all, you will know me by my loving
and caring heart when you are in need of help,even if you are a stranger.

Orang-orang Filipina memang kerap mengujarkan kata “po” ini sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Processed with VSCO with hb1 preset

Monumen sekaligus kapsul waktu: Legacy of A Hundred Years.

Processed with VSCO with hb1 preset

Asty duduk manis di bagian belakang Monumen Lapu-Lapu, the man who can’t be moved:)

Processed with VSCO

Ini adiknya Asty, Dita, berpose di depan Taman Jepang.

Rizal Park ternyata luas banget. Di belah oleh Jalan Ma. Orosa St. Ada beberapa taman tematik yang tidak gratis. Ada teater terbuka. Ada tanah lapang di mana pemandu sorak bisa menggunakannya untuk berlatih. Dan, ini yang saya suka, ada kios penjual makanan dan minuman lengkap dengan tempat duduk. Slurppp, minum air kelapa dulu.

Processed with VSCO with hb2 preset

Ujungnya hampir tak terlihat, ya.

Processed with VSCO with hb1 preset

Saya bersama bapak penjual jasa foto langsung jadi.

Ini bagian sentimentil dalam perjalanan saya ketika berkeliling Rizal Park. Di sekitar Monumen Jose Rizal terdapat beberapa orang yang menawarkan jasa foto Polaroid. Orang-orang tersebut umumnya laki-laki yang usianya setua bapak yang saya ajak foto bersama ini. Pandangan saya beralih bergantian antara kamera Polaroid yang ia sampirkan di lehernya dan kamera yang ada dalam genggaman saya. Ini belum membahas kamera yang tertanam dalam ponsel, ya. Ledakan emosi berhasil saya tahan di tenggorokan.

Bapak ini tersenyum ramah. Bertanya tentang asal-muasal kami. Rupanya ia pernah ke Indonesia untuk bekerja. Saya lupa di mana dan kapan tepatnya ia bekerja di Indonesia. Ia mengarahkan kami berempat untuk tepat berada dalam satu frame dengan Monumen Jose Rizal.

Klik!

“Ya, kalian sudah berfoto dengan Jose Rizal. Ini kameramu. Selamat menikmati Manila,” ujarnya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Sebelah kiri itu adalah Jalan Roxas Boulevard. Sebelah kirinya lagi adalah Manila Bay.

Akhirnya sampai di ujung lainnya dari Rizal Park. Kami berbelok ke kanan. Tuh, Intramuros masih satu kilo sekian lagi ke depan.

Processed with VSCO with hb1 preset

Rasa-rasanya mau gelar tiker lalu lanjut buka rantangan melihat ruas trotoar yang asri seperti ini.

Yay, sampai di Intramuros? Bukannn… ini adalah trotoar yang memisahkan jalan Roxas Boulevard dengan dinding Intramuros. Adem.

Processed with VSCO with hb2 preset

Membuat kenang-kenangan bersama pemandu kami hari itu.

Processed with VSCO with hb1 preset

Jalan Anda, apik penempatan nama jalannya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Nice neighborhood, isn’t it? Bangunan semacam ini bertebaran di dalam kawasan Intramuros dan semuanya masih digunakan.

Processed with VSCO with hb1 preset

Pemandu kami dengan minat khusus dalam fotografi.

Processed with VSCO with hb2 preset

Let us rest for a while, world.

Processed with VSCO with hb2 preset

Katedral San Agustin.

Processed with VSCO with hb1 preset

Usai mengunjungi Casa Manila.