let’s exploring Metro Manila.

Perhatian sebelum melanjutkan membaca: terdapat banyak pemuatan foto.

Saatnya menjelajah Manila City dengan berjalan kaki dan menggunakan kereta layang ringannya.

Screenshot_2015-12-21-17-25-09
Peta yang menunjukkan lokasi kami menginap (Hostel Our Melting Pot di Makati Avenue) dan stasiun terdekat (Stasiun Buendia).

Bersama-sama warga sekitar Makati Avenue yang berangkat kerja, kami berempat juga melenggang kangkung keluar dari hostel Our Melting Pot. Tujuan rekreasi kami hari itu adalah mengunjungi Intramuros, the Walled City.

Menolak berpusing memikirkan harus naik jeepney yang mana menuju stasiun kereta terdekat, kami memutuskan untuk mengandalkan kedua kami kami dan perut yang sudah terisi penuh. Oh ya, sarapan di OMP banyak pilihannya, lho. Tidak perlu malu untuk mencoba semuanya.

Beberapa toko terlihat mulai beroperasi lengkap dengan petugas keamanan bersenjata laras panjangnya. Sambil tetap waspada, mereka mengobral senyum pada orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Setelah beberapa hari di Filipina keberadaan petugas keamanan ini mulai terasa akrab. Walau masih terbersit dalam pikiran: sebegitu tidak amannyakah Filipina ini?. Eh, kilasan pemikiran tersebut belum sampai titik, tiba-tiba di depan mata terjadi kejar-kejaran antara seorang pemulung dengan dua orang satpam. Lumayan make a scene, sih, tapi tidak sampai senjata api meletus.

Yuk, lanjut berjalan lagi.

Jika berdasarkan Google Maps di atas, di bawah 30 menit saja kami berjalan. Tapi karena diselingi dengan foto-foto, sampai stasiunnya lebih dari itu.

Screenshot_2015-12-21-17-27-52
Jarak antara Stasiun Buendia dan Stasiun Pasay/EDSA.

Kali ini kami bersama-sama warga setempat di Stasiun Buendia berdiri berbaris rapi ke belakang untuk antri masuk ke dalam gerbong. Tidak ada yang menyela antrian. Tertib. Di ujung peron bagian depan, berdiri di atas mimbar, terlihat petugas stasiun yang akan meniupkan peluitnya tanda bagi masinis untuk bisa menutup pintu.

Screenshot_2015-12-21-17-30-41
Jarak antara Stasiun Pasay/EDSA dan Stasiun United Nations.

Di Stasiun Pasay/EDSA kami berpindah menaiki LRT menuju Stasiun United Nations. Kali kedua kami berada di stasiun ini, stasiun hub yang sempat membuat kami linglung awalnya. Tapi di percobaan kedua ini kami sudah bisa bernavigasi dengan lebih baik.

Gerbong kereta dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama perjalanan saya perhatikan betul nama tiap-tiap stasiun yang akan dilalui.

Processed with VSCO with hb1 preset
Bagian dari Rizal Park yang menghadap Jalan Taft Avenue.

Dari stasiun United Nations, kami lanjut berjalan kaki menuju Rizal Park, tidak langsung ke Intramuros.

Processed with VSCO with hb1 preset
Ariya berdiri pada salah satu sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands serupa dengan kolam Kepulauan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah.
Processed with VSCO with hb1 preset
Salah satu karya dalam gelaran pameran I am Filipino. Yang ini menampilkan boneka-boneka berpakaian tradisional Filipina yang sedang mengitari meja makan dengan makanan khasnya.

Ada semacam papan pengumuman berkaca yang didirikan di sepanjang sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands berisi pesan-pesan nasionalisme yang sederhana namun punya makna yang mendalam.

Salah satu contohnya adalah hasil jepretan saya di atas. Lainnya menjelaskan perluasan dari kata “po”:

I am Filipino

You will know me by the word “po” in my sentences.
You will know my children by their “mano po”.
You will know me by the smile on my face
and the warmth of my hospitality.

But most important of all, you will know me by my loving
and caring heart when you are in need of help,even if you are a stranger.

Orang-orang Filipina memang kerap mengujarkan kata “po” ini sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Processed with VSCO with hb1 preset
Monumen sekaligus kapsul waktu: Legacy of A Hundred Years.
Processed with VSCO with hb1 preset
Asty duduk manis di bagian belakang Monumen Lapu-Lapu, the man who can’t be moved 🙂
Processed with VSCO
Ini adiknya Asty, Dita, berpose di depan Taman Jepang.

Rizal Park ternyata luas banget. Dibelah oleh Jalan Ma. Orosa St. Ada beberapa taman tematik yang tidak gratis. Ada teater terbuka. Ada tanah lapang di mana pemandu sorak bisa menggunakannya untuk berlatih. Dan, ini yang saya suka, ada kios penjual makanan dan minuman lengkap dengan tempat duduk. Slurppp, minum air kelapa dulu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ujungnya hampir tak terlihat, ya.
Processed with VSCO with hb1 preset
Saya bersama bapak penjual jasa foto langsung jadi.

Ini bagian sentimentil dalam perjalanan saya ketika berkeliling Rizal Park. Di sekitar Monumen Jose Rizal terdapat beberapa orang yang menawarkan jasa foto Polaroid. Orang-orang tersebut umumnya laki-laki yang usianya setua bapak yang saya ajak foto bersama ini. Pandangan saya beralih bergantian antara kamera Polaroid yang ia sampirkan di lehernya dan kamera yang ada dalam genggaman saya. Ini belum membahas kamera yang tertanam dalam ponsel, ya. Ledakan emosi berhasil saya tahan di tenggorokan.

Bapak ini tersenyum ramah. Bertanya tentang asal-muasal kami. Rupanya ia pernah ke Indonesia untuk bekerja. Saya lupa di mana dan kapan tepatnya ia bekerja di Indonesia. Ia mengarahkan kami berempat untuk tepat berada dalam satu frame dengan Monumen Jose Rizal.

Klik!

“Ya, kalian sudah berfoto dengan Jose Rizal. Ini kameramu. Selamat menikmati Manila,” ujarnya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Sebelah kiri itu adalah Jalan Roxas Boulevard. Sebelah kirinya lagi adalah Manila Bay.

Akhirnya sampai di ujung lainnya dari Rizal Park. Kami berbelok ke kanan. Tuh, Intramuros masih satu kilo sekian lagi ke depan.

Processed with VSCO with hb1 preset
Rasa-rasanya mau gelar tiker lalu lanjut buka rantangan melihat ruas trotoar yang asri seperti ini.

Yay, sampai di Intramuros? Bukannn… ini adalah trotoar yang memisahkan jalan Roxas Boulevard dengan dinding Intramuros. Adem.

Processed with VSCO with hb2 preset
Membuat kenang-kenangan bersama pemandu kami hari itu.
Processed with VSCO with hb1 preset
Jalan Anda, apik penempatan nama jalannya.
Processed with VSCO with hb2 preset
Nice neighborhood, isn’t it? Bangunan semacam ini bertebaran di dalam kawasan Intramuros dan semuanya masih digunakan.
Processed with VSCO with hb1 preset
Pemandu kami dengan minat khusus dalam fotografi.
Processed with VSCO with hb2 preset
Let us rest for a while, world.
Processed with VSCO with hb2 preset
Katedral San Agustin.
Processed with VSCO with hb1 preset
Usai mengunjungi Casa Manila.

exploring Taal City of The Philippines.

Walau rencana perjalanan kami berubah dengan berhenti di Taal City, keputusan tersebut tidaklah buruk. Taal City adalah satu dari beberapa tempat di Filipina yang menawarkan wisata sejarah kota tua, wisata serupa yang awalnya ingin kami lihat di Lipa City. Konon, jika ingin merasakan betul atmosfer masa kolonial Spanyol saat berkuasa di negara ini beberapa travel blogger setempat merujuk wilayah Vigan di bagian utara Pulau Luzon.

Saya dengan maxi dress selayaknya mau jalan-jalan di pantai (yang tidak kesampaian) keluar dari Casa Cecilia sekitar jam delapan pagi waktu setempat lalu berjalan kaki menuju pom bensin yang terkenal dengan sebutan Flying V. Dari Flying V kami naik jeepney dengan ongkos PHP 8/orang untuk diturunkan di depan Taal Park dengan latar belakang Basilica de San Martin de Tours.

Segelintir warga setempat terlihat menikmati taman yang tak luas namun sangat teduh dan bersih itu. Beberapa orang di antaranya melakukannya sambil foto-foto. Melihat ini, kami pun dengan semangat mengeluarkan alat potret kami. Huruf-huruf besar bercat kuning membentuk kata TAAL adalah subjek utamanya. Klik! Klik!

Dari taman tersebut kami beranjak menuju Basilica de San Martin de Tours. Menapaki tangga hingga sampai di halaman gereja rasanya seperti berada di kota-kota benua Eropa *ngayal*

Konon, gereja ini adalah gereja Katolik terbesar di Asia. Mulai memberikan pelayanan pada tahun 1865 walau belum semua bagian bangunan rampung dikerjakan. Kemudian, adalah Fr. Agapito Aparicio yang menyelesaikan pembangunannya pada tahun 1878. Sayang nya, pada tahun 1942 sebuah gempa bumi merontokkan menara bel yang terletak di sisi kiri bagian depan gereja. Perbaikan gereja lalu dilakukan pada tahun 1953 sebagai persiapan menyambut penobatan Our Lady of Caysasay dan selesai pada tahun 2011 (sumber: Wikipedia, The Free Encyclopedia).

Kami memasuki gereja dari pintu utama lalu berbelok menuju sisi kanan dari bangunan gereja. Kami melihat ruang tengah gereja yang luas dengan langit-langit tinggi yang melengkung di beberapa bagian. Sulit sekali menyembunyikan rasa takjub melihat isi sebuah gereja secara langsung, kami berusaha untuk tidak membuat gaduh.

Beberapa lukisan (sepertinya) yang dicuplik dari Injil menghiasi dinding gereja. Lalu ada tempat lilin yang indah bentuknya. Disusul kemudian dengan sebuah kereta kencana dengan hiasan malaikat ditiap-tiap sudutnya.

Kami menemukan pintu keluar dari sisi samping tersebut yang mengarah pada sebuh kapel kecil dengan kaca patri warna-warni. Selagi asyik melongok kapel kecil tersebut, kami ditawari penjaga gereja untuk naik ke manara bel. Dia mempromosikan pemandangan indah kota kecil ini termasuk pemandangan lautnya. Tapi tidak ada satu pun dari kami yang beranjak menuju menara tersebut.

Keluar dari gereja, hujan yang semula gerimis menjadi semakin deras. Perjalanan berkeliling heritage site ini menjadi agak kurang nyaman. Beruntunglah kami melihat Seven Eleven. Minimarket kali ini tidak mengecewakan, karena kami bisa mengakses wi-fi mereka sambil sarapan.

Dari Seven Eleven tujuan kami adalah langsung berkunjung ke salah satu ancestral house, tapi karena malas bertanya kami berputar-putar sebentar hingga sampai ke pasar Taal. Seru juga melihat pasar ini. Selain dijaga oleh polisi bersenjata, kami menemukan toko-toko yang memajang pakaian pengantin begitu saja di depan kios mereka.

Akhirnya, atas petunjuk seorang penduduk kami diarahkan pada satu rumah bersejarah yakni rumah milik Doña Gliceria Marella de Villavicencio yang terkenal sebagai The Godmother of the Revolutionary Forces. Mengapa ia mendapatkan julukan sedemikian digdayanya? Hal tersebut karena sumbangsihnya pada masa revolusi melawan penjajahan Spanyol maupun Amerika Serikat, tak kurang dari sebuah kapal perang pertama Filipina (SS Bulusan) ia berikan untuk tanah airnya.

Karena rumah ini merupakan cagar budaya, orang-orang yang memasukinya dikenakan tiket masuk sebesar PHP 100. Seorang lelaki muda dengan senyum yang ramah menggantikan posisi seorang ibu yang tidak dapat berbahasa Inggris. Di belakang lelaki muda itulah kami berempat mendengarkan uraian sejarah mengenai rumah beserta isinya yang masih terawat dengan sangat baik.

Tur Casa Villavicencio usai bersamaan dengan dihidangkannya penganan Suman (sejenis ketan kukus dibungkus daun pisang dan rasanya manis) dan roti serupa Poffertjes yang dicelupkan ke dalam secangkir minuman coklat panas.

Dari Casa Villavicencio kami kembali ke hotel lalu melakukan check out. Dari depan pintu gerbang hotel kami mengambil bus tujuan Batangas City lalu berganti bus lagi langsung menuju Manila. Rencana ke Lipa City dibatalkan, karena kami tidak mau sampai di Manila dalam keadaan langit sudah gelap.

no wi-fi, tersasar.

Usai trekking di Taal Volcano, kami kembali dulu ke Green Fortune Hotel untuk mengambil ransel-ransel yang dititipkan untuk selanjutnya kami bertolak menuju Lipa City. Dari pihak hotel diinfokan bahwa tidak ada bus langsung menuju kota tersebut. Kami diharuskan berganti bus di kota Nasugbu atau Batangas.

Haruskah kami mengawali perjalanan selanjutnya dari terminal bus? Ternyata tidak perlu, bus-bus menuju kedua kota tersebut dapat dicegat langsung dari depan hotel. Sound so familiar, hahaha.

Ketika di sisi jalan … ke Nasugbu atau Batangas? Nasugbu? Batangas?

Lalu menepilah sebuah bus bertanda Nasugbu yang kelihatannya tidak begitu penuh. Hop, kami memasukinya dan mengambil tempat duduk lagi-lagi di bagian belakang. Kernet bus menghampiri kami sambil menanyakan tujuan. Setelah tujuan diketahui, kernet tersebut mengeluarkan sebuah alat mirip penggesek kartu kredit/debit. Ketak-ketik beberapa saat, lalu meluncurlah lembaran kertas yang adalah tiket bus kami yang menerakan seberapa jauh kilometer yang akan kami tempuh beserta tarifnya. Canggih betul!

Setelah ongkos dibayar, masing-masing kami beristirahat, terkecuali Ariya yang masih berkutat meredakan sakit kepala dan mual-mualnya.

Tidak jelas berapa jam kami dalam bus. Sesampainya di Nasugbu sepertinya waktu Ashar. Sebelum turun dari bus, saya sudah melihat papan penanda Sevel dan memang ke sanalah saya mengajak teman-teman saya. Pertama untuk mengisi perut, kedua untuk mendapatkan koneksi internet. Malangnya, tanda free wi-fi yang tertempel di pintu masuk Sevel hanya berhenti sebagai tanda semata. Pelayan Sevel tidak ada yang mau memberikan kata kunci bagi keabsahan kami berselancar dalam jaringan mereka. Huh!

Ariya yang masih lemah (kali ini lebih karena menahan kantuk akibat obat yang diminumnya), Asty dan Dita lalu saya ajak masuk-keluar resto Jolibee dan Mang Inasal demi sambungan wi-fi. Hasilnya? Nol. Keinginan saya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai daerah ini, apa yang bisa dilakukan, dan fasilitas akomodasi yang tersedia tidak kesampaian. Tanya warga sekitar? Umumnya mereka menghindar dengan alasan tidak paham berbahasa Inggris. Duh, bagaimana ini???

Rupanya kami diturunkan memang di pusat keramaiannya Nasugbu karena di tengah kebingungan itu, kami melihat lagi bus yang sebelumnya menurunkan kami. Ariya meminta saya untuk bertanya pada kernet bus tersebut di mana kami bisa menaiki bus tujuan Batangas. Kernet bus tersebut menunjuk sebuah pohon beringin, di sanalah bus-bus tujuan Batangas City terparkir. Maka koprollah kami ke arah yang ditunjuk itu.

Ketika menunggu bus dipenuhi penumpang, Ariya memutuskan agar kami turun di Taal City saja tak perlu sampai ke Batangas City karena diperkirakan sampai Batangas sudah sangat larut malam. Demikianlah, rencana perjalanan kami berubah tanpa kami ketahui benar apa yang akan kami hadapi kemudian. Karena baik Taal City, Batangas City, dan Lipa City serupa dengan Nasugbu, kami tidak memiliki informasi yang cukup mengenainya. Nekat!

Dari secarik kertas yang lagi-lagi meluncur keluar dari mesin EDC diketahu bahwa jarak dari Nasugbu ke Taal City itu sejauh 53 km. Pada kernet bus kami minta untuk diinfokan jika sudah sampai Taal City.

Lamat-lamat langit mulai menggelap. Penumpang bus naik-turun silih berganti. Saya tidak dapat memejamkan mata, konsentrasi penuh memperhatikan plang-plang toko untuk mengetahui nama-nama daerah yang kami lewati. Sampai suatu ketika bus berhenti lama di sebuh pom bensin. Kernet bus menghampiri kami dan memberitahukan bahwa di sinilah titik untuk menuju Taal City dan kami bisa melanjutkan perjalanan dengan jeepney atau tricycle.

Sedikit kekhawatiran di dada, saya menuruni bus menuju pelataran pom bensin yang sepi. Sesuai saran si kernet bus, kami menyetop sebuah tricycle. Belum berpanjang-panjang kami menjelaskan keinginan kami, pembicaraan dengan pengemudi tricycle berlangsung singkat sekali karena dia tidak mengerti bahasa Inggris. Ya, kami paham sekali. Kami tidak bisa memaksakan bahwa semua orang harus mengerti bahasa Inggris, lha, kemampuan bahasa Inggris saya pun level standar saja.

Kami berempat benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu jalan pulang ke kandang.

Saya bilang pada teman-teman kalau sepertinya tadi sebelum turun saya lihat sepertinya ada sebuah hotel yang tidak jauh dari pom bensin ini. Maka berjalan kakilah kami menuju arah sebaliknya. Dan ternyata memang benar sebuah hotel, Casa Cesilia namanya. Bangunannya mirip rumah gedong dalam telenovela. Dua harapan saya, moga-moga masih ada kamar dan harganya wajar saja.

Seorang perempuan muda dengan rambut panjang bergelombang menyambut kami dengan ramah. Saya lagi-lagi berseloroh dalam hati, perempuan ini cocoklah menyandang nama Cecilia. Saya tinggalkan dia dengan Ariya. Tak lama kemudian Ariya menghampiri saya, Asty dan Dita untuk mengabarkan bahwa kamar yang tersedia bagi kami sangat wajar harganya. Fyuhhh, akhirnya kami dapat tempat beristirahat.

short trekking at Taal Volcano.

Ini adalah kelanjutan dari jalan-jalan saya di Pulau Luzon, Filipina.

Setelah menunaikan solat Subuh saya, sih, memilih meringkuk lagi di kasur. Udara Tagaytay yang mirip kawasan Puncak ini memang menjerat orang untuk berlama-lama bergelung dalam selimut. Lain halnya dengan teman-teman seperjalanan saya, mereka sudah mandi, berhias dan memilih untuk berburu matahari terbit dari balkon.

Jam 8 pagi kami check out dari Green Fortune Hotel lalu menitipkan barang bawaan kami yang berat-berat itu ke pihak resepsionis. Kami dipersilahkan untuk mengambil jatah sarapan kami, tapi karena pilihannya bacon semua, dengan halus kami tolak tawaran tersebut.

Di depan pintu gerbang hotel tersebut kami berdiri menunggu kedatangan jeepney. Hop, kami menumpak jeepney yang paling tidak dipenuhi penumpang menuju Olivares Circle dengan membayar 10 PHP per orang. Ini kali pertama kami menggunakan jeepney.

Pengalaman berangkot ria di Bogor adalah ketika membayar angkot baru dieksekusi saat penumpang turun, kan. Nah, dengan jeepney ini begitu penumpang naik dia langsung mengasurkan ongkosnya secara estafet dari tangan penumpang disebelahnya berurutan hingga sampai ke tangan si supir. Kami yang duduk tepat di belakang supir harus ekstra memperhatikan penumpang yang mana yang harus menerima kembalian ongkos.

Olivarest Circle sudah terlihat di depan mata. “Para, po!” dan kami pun turun dari jeepney.

Di sekeliling Olivarest Circle ada beberapa resto fast food baik yang bercita rasa nasional maupun yang internasional. Kami pun melangkahkan kaki memasuki KFC untuk sarapan.

Setelah menuntaskan sepiring nasi dan sepotong ayam tepung dengan sambal bawaan dari Indonesia (yang harus mulai diirit pemakaiannya) kami meninggalkan ruang sejuk KFC untuk kemudian diserbu para pengemudi tricycle yang menjamin akan mengantarkan kami melihat danau Taal.

Tricycle ini adalah kendaraan serupa becak-motor (bentor) yang terkenal di kota Medan sana. Bedanya, kalau naik bentor, tempat penumpangnya itu sejajar dengan pengemudinya. Kalau naik tricycle, tempat penumpangnya itu sejajar dengan kaki pengemudinya! Idealnya, tricycle ini menampung 2 orang saja. Berhubung kami meresapi betul predikat “cheapy-cheapy tourist” yang dilekatkan oleh penarik tuk-tuk waktu di Phonm Pehn dulu, maka satu tricycle itu kami paksa untuk mengangkut kami berempat. Ariya, Asty dan Dita duduk di kereta penumpang, sementara saya dengan sigap duduk mengangkang di jok belakang.

Kendaraan yang kami sewa PHP 150 untuk satu kali jalan itu akhirnya bergerak menuju danau Taal yang mulus, sepi, berkelok-kelok, dan konstan menurun yang otomatis merupakan fase yang mudah bagi pengemudinya. Nah, sekembalinya pasti pe-er “banget”!

Dari hasil mengintai para travel blogger asal Filipina, Taal Yatch Club adalah tempat penyewaan perahu penyeberangan ke Taal Volcano yang paling sering mereka sebut. Saya punya keinginan untuk menggunakan fasilitas mereka, tapi nasib berkata lain. Saya pasrahkan saja ke mana supir tricycle membawa kami.

Tricycle kami memasuki sebuah rumah berhalaman luas yang dihiasi beberapa gazebo. Kami pun dipersilahkan memasuki salah satunya untuk melepas lelah sesaat. Sejurus kemudian seorang lelaki menghampiri kami sambil mengangsurkan selembar brosur berisi daftar harga paket tur ke Taal Volcano. Setelah Ariya menekuni daftar tersebut, akhirnya diputuskan untuk mengambil paket seharga PHP 3,500 yang terdiri dari seorang pemandu, sebuah perahu dan jaket pelindung. Sementara itu biaya yang tidak di-cover dalam paket adalah biaya sandar perahu (PHP 50/perahu) dan tiket masuk Taal Volcano (PHP 50/orang).

Ketika memasuki daerah resort di sekeliling danau Taal, banyak terlihat alat selancar angin yang sedang ditiriskan. Pantas saja lokasi ini ideal untuk olahraga tersebut karena sungguh anginnya kencang sekali. Perahu yang kami gunakan untuk menyeberang sering kali harus menerobos ombak yang cukup tinggi dibandingkan pengalaman saya berperahu kayu lainnya.

Sesampainya di seberang, pemandu perahu yang sekaligus pemandu tur mengarahkan kami menuju jalur trekking. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang yang menyewakan kuda. Dengan halus kami tolak tawaran mereka. Dua diantaranya sempat mengikuti kami hingga beberapa saat, sambil mengutarakan nanti kami capek, lho, kalau jalan. Haha, usaha yang bagus, kawan. Tapi, sekali “cheapy-cheapy tourists” akan tetap demikian! Teguh kami, mah.

Saya, si pemilik jiwa yang sekarang keder dengan kegiatan tanjak-menanjak, bolehlah memberikan kesimpulan: bahwa jalur trekking menuju puncak Taal Volcano itu moderat levelnya (walau saya sering berhentinya). Kesulitan yang umum didapati adalah menaklukkan jalur trekking yang berpasir, berdebu dan berhias kotoran kuda. Jadi sangat-sangat disarankan untuk yang ingin melancong ke sini mempersiapkan masker, kacamata dan topi. Alas kaki pun sebaiknya menggunakan sepatu bukan sandal ala-ala mau main ke mall seperti yang saya pakai.

Kira-kira satu jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai puncak yang ditandai dengan deretan warung-warung temporer yang menjual kelapa muda (bako juice). Saya paling awal tiba di situ kalau saja Ariya tidak terdampak mountain sickness. Tapi jika dibandingkan dengan pelancong senior asal Korea Selatan, kalah jauh saya ini. Dengan pakaian khusus trekking dengan warna-warna mencolok mata, para opa dan oma ini semangat sekali menapaki tiap jengkal jalur tanpa terlihat kelelahan.

dua malam dan dua hari di Bekasi.

Hampir satu bulan semenjak Chacha berumur 29.

Saya pikir rencana Mila untuk pergi kemping di bulan penghujan begini hanya sekedar wacana saja. Sampai saya menerima pesan WA-nya pada tanggal 25 November 2014 yang mengingatkan bahwa pada Jumat-nya sepulang kerja saya harus bersiap ke Bekasi karena tenda dan kompor sudah disewa 😀

Maka pada Jumat sore tanggal 28 November saya meluncur langsung dari Bogor (bukan dari kantor, sebab saya mengambil jatah cuti terakhir saya tahun ini akibat “sumilangeun”). Saya dijemput Mila dengan pesawat ulang-alik pribadinya di Stasiun Cawang dan langsung meluncur ke rumahnya di Bekasi sana.

Sesampainya di Bekasi, tanpa istirahat berpanjang-panjang, saya dan Mila bahu-membahu mendirikan tenda yang ditempatkan di sisi kanan halaman depan rumahnya. Di atas rerumputan yang masih basah.

Rupa tenda kami di pagi harinya.
Rupa tenda kami di pagi harinya.

Tenda sudah berdiri kokoh saat Chacha bergabung kemudian setelah berhasil menaklukkan kemacetan Jakarta.

Tinggal membuat makan malam yang menunya dihayati betul layaknya kemping di gunung, mie instan dengan segala atributnya seperti bakso dan sosis.

Mie instan dengan segala pernak-perniknya.

Diantara kegiatan kemping kami itu, Mama dan Papanya Mila/Chacha sempat nimbrung sambil menyarankan untuk memasang terpal di atas tenda kami agar kalau hujan turun lagi malam itu, tendanya ndak kebasahan dan menarik kabel supaya tenda kami bisa diterangi lampu 😀

Baru saya sadari sebulan yang lalu kalau Mila dan Chacha itu cepat sekali tidur. Jam sembilan malam mereka sudah terlelap sementara mata saya masih nyalang memandangi layar handphone.

IMG_20141130_201104
Ada yang memaksa untuk membaca dengan diterangi lampu senter.

Nah, ketika pagi tiba mereka bangun cepat padahal hari libur. Saya yang bukan early riser kembali menarik selimut.

Sarapan yang dibuat adalah pancake instan dengan toping sirup karamel dan taburan coklat Hershey’s. Tidak lupa kopi tubruknya.

Selesai sarapan Mila menengok tanaman-tanamannya. Mengurus sebagian dari mereka yang perlu terpaan sinar matahari. Memindahkan bibit-bibit yang mulai tumbuh ke media tanam yang lebih luas. Sementara saya dan Chacha? Cukup sibuk melakukan selfie.

Kesibukannya Mila lalu berpindah ke ukulele biru yang baru diterimanya dari seorang teman Plurker nun jauh di tanah Kalimantan sana. Dadah-dadah sama Tante Meiyin.

IMG_20141130_191829
Pergi kemping tanpa gitar bagai sayur tanpa garam.

Tak terasa sudah saatnya makan siang. Menu yang disiapkan Mila dan Chacha adalah spaghetti tuna minyak zaitun.

Dan keriaan Sabtu siang itu ditutup dengan acara peniupan lilin ulang tahunnya Chacha. Happy 29th birthday, Cha!

IMG_20141130_201123
Cepat tiup lilinnya sebelum meleleh kuenya 😀

Menjelang sore kami ke Epicentrum Walk untuk menonton film terkininya Jennifer Lawrence dan saya tidak diizinkan untuk pulang ke Bogor. Harus menginap satu malam lagi kata mereka. Untung membawa satu set pakaian lebih. Akurlah.

Malam kedua di Bekasi saya habiskan di kamarnya Mila, yang ber-AC.

Keesokan harinya setelah sarapan dengan menu cake ultahnya Chacha saya diajak main ke Pasar Santa. Tapi sebelum itu kami belok dulu ke mal Pacific Place (yay, akhirnya menjejakkan kaki juga di PP!) untuk menjemput salah satu karibnya Chacha. Kami bertemu di kedai Kopi Luwak di mana temannya Chacha itu memberikan kejutan ulang tahun dengan bantuan para pramusaji yang ada.

IMG_20141130_200838
Lihat juru fotonya!

Pasar Santa, kami datang!

Untung dapat parkir!

Beberapa kios di lantai dua yang menjadi pusat sensasi beberapa waktu belakangan ini masih dalam keadaan tertutup. Tapi yang diincar Chacha sudah beroperasi. Kami mengantri manis di kios siomay.

IMG_20141130_164149
Enak siomaynya.

Dari kios siomay itu kami berturut-turut menclok di @abcd_coffee, Koedapan oleh @trfhomemade, dan es potong sandwich dari @LimIceCream. Sayangnya, kios Jajanan SD tidak buka hari itu.

IMG_20141130_194912
Antri untuk mendapatkan seteguk-dua teguk kafein.
IMG_20141130_164728
Mnz mz-nya.

Seusai menjelajah Pasar Santa,usai pula perjalanan saya di Bekasi.

Oh, ya, simak lagu penutup untuk postingan ini.