2013 in review.

Yang dinanti setiap akhir tahun:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 14,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

i’m anxious.

Minggu yang lalu, 28 April 2013, saya mendatangi sebuah event yang menarik, TEDxJakarta nama acaranya. Apa itu TEDxJakarta? Saya sendiri bingung bagaimana menjelaskan kepada keluarga dan teman-teman yang bertanya mengapa saya harus meeting pada dua hari Sabtu di bilangan Gandaria dan Pasar Minggu. Maklum saja, perkenalan saya dengan TEDxJakarta hanya terjadi lewat video-video pembicara yang diunggah di YouTube.

Nah, setelah mengalaminya secara langsung, berikut penjelasan saya tentang TEDxJakarta: saya cenderung menyebut TEDxJakarta itu sebagai sebuah kuliah umum. Pemberi kuliahnya bisa siapa saja, yang penting memiliki buah pikiran yang dapat ditularkan, yang dapat diduplikasi, dan tentu saja dapat menggerakkan sebuah perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada penyelenggaraannya yang kesembilan ini tema yang diangkat adalah Generation: Anxious. Para pembicara yang hadir pun membawa kecemasannya masing-masing, tersebutlah Roni Pramaditia, Silverius Unggul, Kyla Christie, Khairani Barokka, dan Prof. Yohanes Surya. You can watch how they tackle their anxiety here.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari kelima pembicara yang keren-keren diatas itu adalah bahwa siapapun Anda, apapun keadaan Anda, Anda dapat melakukan perbedaan dengan melakukan sesuatu.

Ada pembicara tentu ada yang diajak bicara bukan? Nah, peserta yang bisa hadir di acara ini bisa siapa saja dan tidak dipungut biaya alias gratis… tis. Anda juga bisa! Dengan catatan yakni harus rajin memantau beragam saluran TEDxJakarta melalui Twitter-nya, laman Facebook-nya, dan situs resminya.

Dalam menjaring peserta kali ini pihak panitia melakukan pengundian, lho. Dengan maksud agar setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa berpartisipasi. Pssst, saya mau kasih bocoran mengenai cara mendapatkan peluang terbesar to be inspiredVolunteering! Rangkaian rapat yang saya sebutkan di atas adalah dalam rangka saya menjadi sukarelawan dalam acara ini.

Di luar kecemasan-kecemasan yang diusung para pembicara saya juga mengalami kecemasan yang harus saya taklukan. Kecemasan saya itu adalah: bergabung dengan sukarelawan yang masih berstatus mahasiswa dan atau fresh graduate. Saya sempat minder karena merasa ketuaan 😀

Tapi ibarat kapal sudah menurunkan jangkar, saya tidak bisa serta-merta segera menarik kembali sauhnya. Saya berusaha mengenyampingkan rasa minder tersebut. Saya harus fokus dengan tujuan saya hadir di situ. Alhamdulillah, secara keseluruhan acara berlangsung dengan baik.

My ID, been edited for the sake of this post 😀
Schedule of April 28th, 2013 at Teater Salihara.

Have you get inspired by reading this short explanation? Have you eager to attend their upcoming event? Ada kabar baik, nih. Untuk lebih mempersering terjadinya penyebaran ide-ide, TEDxJakarta akan menggelar TEDxJakartaSalon. Konsep acaranya tetap sama, yang membedakan adalah jumlah peserta. Peserta TEDxJakartaSalon lebih sedikit. Dengan demikian hubungan antara si penyebar ide dan calon penerima ide akan lebih intim dan intens.  So, folks, stay tune on canals that I have been mentioned above.

do you Plurk?

Saya mengenal aplikasi micro-blogging ini lebih dulu dibandingkan dengan Twitter. Sekarang pun saya masih menggunakannya, walau tidak serajin dulu. Khususnya digunakan untuk menumpahkan keluh-kesah atau curhat colongan.

Banyak suka-dukanya main Plurk ini. Sukanya kalau mendapat ajakan kopdar, bahkan sampai pernah kopdar mendadak di Bandung.

Pertengan Desember yang lalu ada Plukers yang mengorganisir pembelian merchandise Plurk dari Taiwan. Langsung saya ikut pesan. Barang yang saya incar adalah notebook. Saya pesan dua.

Saya membayangkan notebook-nya itu seperti buku saku. Jadi bisa saya manfaatkan sebagai buku agenda 2013. Tapi yang datang ternyata adalah dua buku tulis ukuran boxy. Yo wesss, tak mengapa.

So, do you Plurk?

Plurk Creatures.

2012 in review.

Salah satu hal yang saya tunggu menjelang akhir tahun adalah menanti laporan perkembangan kegiatan nge-blog saya di WP. Karena apa? Karena ilustrasi dan isi editorialnya sungguh menarik hati.

Dalam kesempatan ini izinkanlah saya mengucapkan terima kasih kepada komentator setia blog ini. Nama-nama mereka saya urutkan berdasarkan pemberi komentar tersering: @mila_said, @liliamrina, @cipukun, @tantedebz, dan Si Volverhank (calon dokter yang tidak bisa saya beri tautan ke laman blognya karena laman blognya sedang bermasalah). Once again, thank you guys and happy new year. May you have a wonderful life ahead!

Semoga di tahun 2013 ini semakin beragam lagi pemberi komentarnya (ya, kali! kalau jarang up-date dan blog walking, sih, tak akan ada perkembangan).

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 7,400 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 12 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Spot It Yourself: aplikasi mobile deteksi dini kanker payudara.

Sebelum saya menjelaskan mengenai aplikasi tersebut, yuk, kenalan dulu dengan inisiatornya.

Rina Susanti, seorang survivor kanker payudara, apoteker dan bloger di tukangobatbersahaja.com
Rina Susanti, seorang survivor kanker payudara, apoteker dan bloger di tukangobatbersahaja.com

Namanya Rina Susanti, saya sering mengunjungi blognya untuk mengetahui macam obat dan efektifitasnya dalam memerangi suatu penyakit maklum saja Rina ini seorang farmasis/apoteker yang loyal membagi pengetahuannya.

Ada hal yang menarik yang membuat saya menuliskan tentang dirinya dalam blog saya ini. Pada bulan Maret 2012 yang lalu, Rina dinyatakan sebagai pemenang The + project yang diadakan oleh Philips Indonesia untuk kategori akses kesehatan dengan ide Mendeteksi Dini Kanker Payudara. Ternyata bukan karena latar belakangnya yang berbau dunia kesehatan yang mengantarkan Rina menelurkan ide tersebut tetapi karena Rina adalah seorang survivor kanker payudara. Testimoni mengenai pengalamannya dalam mendeteksi dini benjolan pada payudaranya bisa dilihat di sini:

Nah, pada bulan November kemarin dengan dukungan Philips, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan beberapa organisasi lainnya idenya Rina mewujud menjadi sebuah aplikasi mobile yang disebut Spot It Yourself.

Tampilan aplikasi mobile Spot It Yourself. Sumber: http://bit.ly/10jl5Vn
Tampilan aplikasi mobile Spot It Yourself. Sumber: http://bit.ly/10jl5Vn

Adapun fitur yang terdapat dalam aplikasi ini adalah konsultasi gratis dengan dokter YKI, penyajian info dan artikel seputar kanker payudara, daftar rumah sakit yang memeberikan pelayanan untuk menangani kanker, dan sebagai forum bagi sesama anggota komunitas.

Untuk saat ini aplikasi Spot It Yourself baru tersedia untuk smartphone bersistem operasi Android dan BlackBerry touch screen series (menatap nanar pada Si Gemini). Selanjutnya aplikasi ini akan merambah smartphone dengan dukungan Symbian, iPhone dan iPad.

Aplikasi tersebut mempermudah kita mengakses informasi mengenai kanker payudara, tapi pencegahannya ada di jari tangan kita, lho. Yuk, selalu periksa payudara sendiri (SADARI) setiap bulan pada 7-10 hari setelah menstruasi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Langkah pertama:

  • Mulailah dengan melihat payudara Anda di cermin dengan posisi pundak tegap dan kedua tangan di pinggang. Lihat payudara dari ukuran, bentuk, dan warna yang anda biasa ketahui.
  • Payudara yang sehat berbentuk sempurna tanpa perubahan bentuk dan pembengkakan.

Segera melakukan konsultasi ke dokter jika melihat perubahan sebagai berikut: 1) kulit mengerut, ada lipatan atau tonjolan; 2) puting berubah posisi, biasanya tertarik ke dalam, 3) kemerahan, nyeri, ruam-ruam atau bengkak.

Langkah kedua: angkat kedua tangan Anda. Amatilah jika ada perubahan-perubahan yang telah disebut pada langkah petama.

Langkah ketiga: sambil Anda bercemin, amati apakah ada cairan yang keluar dari kedua puting. Baik berupa cairan bening, seperti susu, berwarna kuning, atau bercampur darah.

Langkah keempat: 

  • Berbaringlah, kemudian rasakan atau pegang payudara Anda menggunakan tangan kanan. Begitu juga sebaliknya.
  • Lakukan pijitan pelan tetapi mantap (bukan keras) dengan tiga ujung jari anda, yaitu jari telunjuk , jari tengah, dan jari manis.
  • Jaga posisi ujung jari agar tetap datar terhadap permukaan payudara.
  • Lakukan gerakan memutar, sekali putaran mencakup seperempat bagian payudara.
  • Buatlah pola memutar untuk memastikan bahwa Anda telah memijat seluruh bagian payudara. Mulailah dari puting, buat gerakan memutar semakin lama semakin besar sampai Anda mencapai bagian tepi payudara. Anda juga dapat membuat gerakan naik turun. Bagi sebagian besar wanita, cara ini dianggap lebih efektif.
  • Pastikan Anda merasakan seluruh jaringan payudara dari depan (puting) sampai bagian belakang.

Tips pijatan:

  • Pijatan ringan untuk memijat jaringan tepat di bawah kulit.
  • Pijatan sedang untuk bagian tengah payudara
  • Pijatan kuat untuk jaringan bagian dalam, Anda harus dapat merasakan tulang iga Anda.

Langkah kelima:

  • Terakhir, rasakan payudara Anda saat berdiri,duduk,atau saat mandi. Bagi sebagian wanita, merasakan payudara saat mandi lebih mudah melakukan pemijitan karena kulit payudara dalam keadaan basah dan licin.
  • Lakukan dengan gerakan yang sama seperti pada langkah ke-4.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Spot It Yourself!