Manila dan dua perempuan yang kini menjadi ibu.

Ini adalah postingan pamungkas mengenai perjalanan saya di Filipina.

Sengaja bunyi judulnya demikian untuk menunjukkan betapa lamanya saya menyelesaikan seri tulisan ini, sedari dua teman perjalanan saya waktu itu masih perawan ting-ting sampai sudah menjadi ibu dari seorang anak perempuan.

Kepada Ariya dan Dita, selamat atas kelahiran Hufairah Nur Afifah Ardiansyah dan Qeis Rashid. Semoga tumbuh menjadi puteri yang solehah, cerdas dan penuh cinta. Aunty Pagit persembahkan tulisan ini untuk kalian berdua, sayang. Sebagai catatan kenang-kenangan bahwa ibu kalian adalah pejalan yang tangguh (terutama saat Aunty ajak ibu kalian berjalan kaki ke mana-mana), sebelas-duabelas dengan Aunty Asty.

Jadi, Faira dan Qeis, perjalan hari terakhir ibu kalian bersama Aunty Pagit dan Aunty Asty di Manila sebelum terbang kembali ke Indonesia (pada sore harinya) didedikasikan dengan main ke mal. Yakinlah suatu hari nanti kalian berdua akan paham betapa menyenangkannya ngemal, walaupun masih lebih menyenangkan main ke pantai atau gunung, sih.

Pada hari sebelumnya, sebenarnya kami sempat berkunjung ke mal SM City Manila dan Glorietta. Di mal SM City Manila kami menumpang ke toilet sementara di mal Glorietta kami puaskan untuk membeli cinderamata dan polvoron. Kami sempat bertemu dengan turis lain asal Indonesia yang langsung mengajak berbincang-bincang cantik. Kami membahas maskapai yang dipakai sampai faktor cuaca.

Rencana nge-mal adalah pilihan saya. Membaca banyaknya mal yang ada di Manila telah berhasil menggelitik saya untuk mendatangi salah satunya (catatan penting: pada akhirnya kami malah memasuki 5 buah mal, termasuk mal di depan hostel). Saya maunya, sih, berkunjung ke SM Mall of Asia yang terletak di Manila Bay yang sempat digelari mal terbesar di Filipina. Hanya saja kondisi saat itu tidak memungkinkan, malasnya harus kekeretaan lagi. Jadinya saya memilih untuk main ke mal di seputaran Makati saja, yakni mal Greenbelt yang duduk manis di urutan ke-7 mal terbesar.

Manila_2[1]
Menunggu kedatangan jeepney.

Dari depan hostel kami naik jeepney hingga pertemuan jalan antara Makati Avenue dan Ayala Avenue karena jeepney tersebut sayangnya tidak melewati mal yang kami maui.

Perempatan ini menghubungkan dua ruas jalan utama dan paling sibuk di Makati. Kami sempat, lho, kebingungan bagaimana menyeberangi dua sisi Makati Avenue yang dibelah oleh Ayala Avenue ini. Sempat juga kami berjalan menyusuri sisi kanan Ayala Avenue berharap menemukan zebra cross atau jembatan penyeberangan. Hasilnya? Nol besar.

Saat sedang asyik memperhatikan para pekerja yang lalu-lalang sambil terburu-buru, mata kami mendapati orang-orang kantoran yang muncul dari dalam tanah di bawah naungan dengan atap transparan. A ha! Rupanya itu sebuah underpass bagi pejalan kaki!

Kami berempat pun lalu turut menenggelamkan diri dalam underpass yang dihiasi lukisan mural di setiap dindingnya, bersih dan penerangannya sangat memadai. Lalu, voila! Kami sampai juga di sisi lain dari Makati Avenue.

Mendekati mal Greenbelt kami disambut sebuah museum dengan bangunan modern dan sangat menarik hasrat untuk dikunjungi. Ayala Museum namanya. Sayangnya sebagaimana musem-museum di Jakarta, museum ini tidak beroperasi pada hari Senin. Manyun. Dengan melihat fasad museum yang ciamik ini saya rela berputar-putar di dalamnya ketimbang “tawaf” di mal.

Manila_3[1].jpeg
Di depan gerbang masuk Ayala Museum yang tidak dipagari.

Sementara menunggu waktu mal beroperasi, kami leyeh-leyeh di bangku di antara sebuah kafe dan taman berkolam ikan koi. Adem banget suasananya. Cocok untuk tidur-tidur ayam yang diantaranya diganggu oleh semilir aroma kopi yang menguar dari dalam kafe. Ih, Git, tidur mulu! Yowes, mainan internetlah kalau begitu mumpung ada wi-fi publik.

Manila_5[1]
Menggunakan kesempatan ketika mal belum beroperasi untuk foto-foto. Bangunan yang berwarna abu-abu dengan jendela-jendela besar itu adalah bagian dari Ayala Museum yang digunakan sebagai pengubung antara bangunan mal Greenbel 4 dan 5.

Mal Greenbelt ini dibagi atas beberapa seksi seperti Mall Kelapa Gading. Sementara bangunannya cukup 3 lantai saja kalau tidak salah. Arsitekturnya bergaya tropis. Jadi banyak bukaan. Di antara bangunan mal yang satu dengan yang lainnya selain dihubungkan dengan jembatan, pengunjung bisa mengaksesnya melalui taman yang ada ikan koinya tadi. Selain kolam, di tengah area mal ini ada berdiri sebuah kapel yang menurut saya layak dijadikan tempat mengikat janji karena suasana sekitarnya lebih mirip sebuah resor.

Manila_6[1]
Tempat duduk ini tersedia di sekeliling taman.
Sekelumit penampakan tamannya.

Selain memanfaatkan toiletnya, di mal ini saya membeli blush on dari merek e.l.f, kantong belanja yang bisa dilipat, dan majalah lokal Filipina berbahasa Inggris sebagai oleh-oleh bagi diri sendiri.

Jelang makan siang kami pindah ke mal berikutnya, mal Landmark. Dari Greenbelt pengunjung tinggal memanfaatkan jembatan penyeberangan yang saling menghubungkan kedua mal tersebut. Andai mal Plaza Indonesia dan Grand Indonesia punya penyeberangan seperti ini juga.

Mal kedua ini lebih seperti berkunjung ke Seibu, Sogo, Metro, atau Matahari gitu. Saya belanja perintilan perawatan tubuh di sini. Oh ya, ada satu produk yang menyolok bagi saya, sabun pepaya untuk mencerahkan wajah dari berbagai macam merek.

Puas keliling-keliling Landmark, kami lanjutkan kegiatan dengan makan siang di foodcourt yang terletak di basement. Kami memilih makanan vegetarian. Lalu karena masih terasa lapar kami menengok gerai McD untuk membeli kentang goreng.

Saatnya kembali ke hostel. Kami balik ke hostel dengan naik jeepney yang tersedia di samping pintu utama mal Landmark. Alhamdulillah, ketika pulang ini ternyata ada layanan jeepney yang langsung menuju hostel kami.

Salut saya pada warga Manila, naik jeepney saja pakai antri kayak mau naik taksi di pintu keluar Grand Indonesia, lengkap dengan queing belt-nya lagi. Dan pemandangan ini bukan hanya bisa dilihat di mal saja. Di halte juga beberapa kali saya lihat antrian serupa, bahkan sampai ada yang panjang barisannya.

Setelah tas-tas ransel dikeluarkan dari lemari penitipan di hostel, selanjutnya kami menunggu kedatangan taksi yang akan mengantarkan kami ke bandara. Pemesanan taksi ini dibantu oleh pihak hostel. Nah, sambil menunggu itu kami beramah-tamah dengan pemilik hostel.

Manila_11[1]
Membuat foto kenangan dengan bos pemilik Our Melting Pot. Saya sangat merekomendasikan penginapan ini. Toilet dan kamar mandinya banyak. Menu sarapannya pun beragam.

Sepertinya kami membayar ongkos yang lumayan mahal untuk taksi ini, tidak sesuai dengan perkiraan yang sebelumnya saya cari infonya di internet. Alhamdulillahnya uang peso masih cukup layak jumlahnya dalam genggaman.

Tak berkepanjangan saya merutuki hal tidak mengenakan tersebut. Karena setelah dipikir-pikir lagi yang terpenting, kan, sudah aman sentosa sampai di NAIA Terminal 3 dan bebas dari dijutekin sama supirnya (pengalaman naik taksi pertama kali dari mal Glorietta ke hostel).

Manila_8[1]
Menunggu konter Cebu Pacific tujuan Jakarta dibuka.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
NAIA Terminal 3 memfasilitasi mushola lengkap dengan peralatan solatnya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Menghabiskan peso dengan membeli novel.

Demikian seri perjalanan menyusuri selatan Pulau Luzon ini ditulis. Adapun highlight dari petualangan kali ini adalah berhasilnya kami memanfaatkan moda transportasi umum (bus, jeepney, mobil travel, LRT, MRT, taksi, hingga three cycle) mereka yang lumayan bisa diandalkan.

exploring Taal City of The Philippines.

Walau rencana perjalanan kami berubah dengan berhenti di Taal City, keputusan tersebut tidaklah buruk. Taal City adalah satu dari beberapa tempat di Filipina yang menawarkan wisata sejarah kota tua, wisata serupa yang awalnya ingin kami lihat di Lipa City. Konon, jika ingin merasakan betul atmosfer masa kolonial Spanyol saat berkuasa di negara ini beberapa travel blogger setempat merujuk wilayah Vigan di bagian utara Pulau Luzon.

Saya dengan maxi dress selayaknya mau jalan-jalan di pantai (yang tidak kesampaian) keluar dari Casa Cecilia sekitar jam delapan pagi waktu setempat lalu berjalan kaki menuju pom bensin yang terkenal dengan sebutan Flying V. Dari Flying V kami naik jeepney dengan ongkos PHP 8/orang untuk diturunkan di depan Taal Park dengan latar belakang Basilica de San Martin de Tours.

Segelintir warga setempat terlihat menikmati taman yang tak luas namun sangat teduh dan bersih itu. Beberapa orang di antaranya melakukannya sambil foto-foto. Melihat ini, kami pun dengan semangat mengeluarkan alat potret kami. Huruf-huruf besar bercat kuning membentuk kata TAAL adalah subjek utamanya. Klik! Klik!

Dari taman tersebut kami beranjak menuju Basilica de San Martin de Tours. Menapaki tangga hingga sampai di halaman gereja rasanya seperti berada di kota-kota benua Eropa *ngayal*

Konon, gereja ini adalah gereja Katolik terbesar di Asia. Mulai memberikan pelayanan pada tahun 1865 walau belum semua bagian bangunan rampung dikerjakan. Kemudian, adalah Fr. Agapito Aparicio yang menyelesaikan pembangunannya pada tahun 1878. Sayang nya, pada tahun 1942 sebuah gempa bumi merontokkan menara bel yang terletak di sisi kiri bagian depan gereja. Perbaikan gereja lalu dilakukan pada tahun 1953 sebagai persiapan menyambut penobatan Our Lady of Caysasay dan selesai pada tahun 2011 (sumber: Wikipedia, The Free Encyclopedia).

Kami memasuki gereja dari pintu utama lalu berbelok menuju sisi kanan dari bangunan gereja. Kami melihat ruang tengah gereja yang luas dengan langit-langit tinggi yang melengkung di beberapa bagian. Sulit sekali menyembunyikan rasa takjub melihat isi sebuah gereja secara langsung, kami berusaha untuk tidak membuat gaduh.

Beberapa lukisan (sepertinya) yang dicuplik dari Injil menghiasi dinding gereja. Lalu ada tempat lilin yang indah bentuknya. Disusul kemudian dengan sebuah kereta kencana dengan hiasan malaikat ditiap-tiap sudutnya.

Kami menemukan pintu keluar dari sisi samping tersebut yang mengarah pada sebuh kapel kecil dengan kaca patri warna-warni. Selagi asyik melongok kapel kecil tersebut, kami ditawari penjaga gereja untuk naik ke manara bel. Dia mempromosikan pemandangan indah kota kecil ini termasuk pemandangan lautnya. Tapi tidak ada satu pun dari kami yang beranjak menuju menara tersebut.

Keluar dari gereja, hujan yang semula gerimis menjadi semakin deras. Perjalanan berkeliling heritage site ini menjadi agak kurang nyaman. Beruntunglah kami melihat Seven Eleven. Minimarket kali ini tidak mengecewakan, karena kami bisa mengakses wi-fi mereka sambil sarapan.

Dari Seven Eleven tujuan kami adalah langsung berkunjung ke salah satu ancestral house, tapi karena malas bertanya kami berputar-putar sebentar hingga sampai ke pasar Taal. Seru juga melihat pasar ini. Selain dijaga oleh polisi bersenjata, kami menemukan toko-toko yang memajang pakaian pengantin begitu saja di depan kios mereka.

Akhirnya, atas petunjuk seorang penduduk kami diarahkan pada satu rumah bersejarah yakni rumah milik Doña Gliceria Marella de Villavicencio yang terkenal sebagai The Godmother of the Revolutionary Forces. Mengapa ia mendapatkan julukan sedemikian digdayanya? Hal tersebut karena sumbangsihnya pada masa revolusi melawan penjajahan Spanyol maupun Amerika Serikat, tak kurang dari sebuah kapal perang pertama Filipina (SS Bulusan) ia berikan untuk tanah airnya.

Karena rumah ini merupakan cagar budaya, orang-orang yang memasukinya dikenakan tiket masuk sebesar PHP 100. Seorang lelaki muda dengan senyum yang ramah menggantikan posisi seorang ibu yang tidak dapat berbahasa Inggris. Di belakang lelaki muda itulah kami berempat mendengarkan uraian sejarah mengenai rumah beserta isinya yang masih terawat dengan sangat baik.

Tur Casa Villavicencio usai bersamaan dengan dihidangkannya penganan Suman (sejenis ketan kukus dibungkus daun pisang dan rasanya manis) dan roti serupa Poffertjes yang dicelupkan ke dalam secangkir minuman coklat panas.

Dari Casa Villavicencio kami kembali ke hotel lalu melakukan check out. Dari depan pintu gerbang hotel kami mengambil bus tujuan Batangas City lalu berganti bus lagi langsung menuju Manila. Rencana ke Lipa City dibatalkan, karena kami tidak mau sampai di Manila dalam keadaan langit sudah gelap.

no wi-fi, tersasar.

Usai trekking di Taal Volcano, kami kembali dulu ke Green Fortune Hotel untuk mengambil ransel-ransel yang dititipkan untuk selanjutnya kami bertolak menuju Lipa City. Dari pihak hotel diinfokan bahwa tidak ada bus langsung menuju kota tersebut. Kami diharuskan berganti bus di kota Nasugbu atau Batangas.

Haruskah kami mengawali perjalanan selanjutnya dari terminal bus? Ternyata tidak perlu, bus-bus menuju kedua kota tersebut dapat dicegat langsung dari depan hotel. Sound so familiar, hahaha.

Ketika di sisi jalan … ke Nasugbu atau Batangas? Nasugbu? Batangas?

Lalu menepilah sebuah bus bertanda Nasugbu yang kelihatannya tidak begitu penuh. Hop, kami memasukinya dan mengambil tempat duduk lagi-lagi di bagian belakang. Kernet bus menghampiri kami sambil menanyakan tujuan. Setelah tujuan diketahui, kernet tersebut mengeluarkan sebuah alat mirip penggesek kartu kredit/debit. Ketak-ketik beberapa saat, lalu meluncurlah lembaran kertas yang adalah tiket bus kami yang menerakan seberapa jauh kilometer yang akan kami tempuh beserta tarifnya. Canggih betul!

Setelah ongkos dibayar, masing-masing kami beristirahat, terkecuali Ariya yang masih berkutat meredakan sakit kepala dan mual-mualnya.

Tidak jelas berapa jam kami dalam bus. Sesampainya di Nasugbu sepertinya waktu Ashar. Sebelum turun dari bus, saya sudah melihat papan penanda Sevel dan memang ke sanalah saya mengajak teman-teman saya. Pertama untuk mengisi perut, kedua untuk mendapatkan koneksi internet. Malangnya, tanda free wi-fi yang tertempel di pintu masuk Sevel hanya berhenti sebagai tanda semata. Pelayan Sevel tidak ada yang mau memberikan kata kunci bagi keabsahan kami berselancar dalam jaringan mereka. Huh!

Ariya yang masih lemah (kali ini lebih karena menahan kantuk akibat obat yang diminumnya), Asty dan Dita lalu saya ajak masuk-keluar resto Jolibee dan Mang Inasal demi sambungan wi-fi. Hasilnya? Nol. Keinginan saya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai daerah ini, apa yang bisa dilakukan, dan fasilitas akomodasi yang tersedia tidak kesampaian. Tanya warga sekitar? Umumnya mereka menghindar dengan alasan tidak paham berbahasa Inggris. Duh, bagaimana ini???

Rupanya kami diturunkan memang di pusat keramaiannya Nasugbu karena di tengah kebingungan itu, kami melihat lagi bus yang sebelumnya menurunkan kami. Ariya meminta saya untuk bertanya pada kernet bus tersebut di mana kami bisa menaiki bus tujuan Batangas. Kernet bus tersebut menunjuk sebuah pohon beringin, di sanalah bus-bus tujuan Batangas City terparkir. Maka koprollah kami ke arah yang ditunjuk itu.

Ketika menunggu bus dipenuhi penumpang, Ariya memutuskan agar kami turun di Taal City saja tak perlu sampai ke Batangas City karena diperkirakan sampai Batangas sudah sangat larut malam. Demikianlah, rencana perjalanan kami berubah tanpa kami ketahui benar apa yang akan kami hadapi kemudian. Karena baik Taal City, Batangas City, dan Lipa City serupa dengan Nasugbu, kami tidak memiliki informasi yang cukup mengenainya. Nekat!

Dari secarik kertas yang lagi-lagi meluncur keluar dari mesin EDC diketahu bahwa jarak dari Nasugbu ke Taal City itu sejauh 53 km. Pada kernet bus kami minta untuk diinfokan jika sudah sampai Taal City.

Lamat-lamat langit mulai menggelap. Penumpang bus naik-turun silih berganti. Saya tidak dapat memejamkan mata, konsentrasi penuh memperhatikan plang-plang toko untuk mengetahui nama-nama daerah yang kami lewati. Sampai suatu ketika bus berhenti lama di sebuh pom bensin. Kernet bus menghampiri kami dan memberitahukan bahwa di sinilah titik untuk menuju Taal City dan kami bisa melanjutkan perjalanan dengan jeepney atau tricycle.

Sedikit kekhawatiran di dada, saya menuruni bus menuju pelataran pom bensin yang sepi. Sesuai saran si kernet bus, kami menyetop sebuah tricycle. Belum berpanjang-panjang kami menjelaskan keinginan kami, pembicaraan dengan pengemudi tricycle berlangsung singkat sekali karena dia tidak mengerti bahasa Inggris. Ya, kami paham sekali. Kami tidak bisa memaksakan bahwa semua orang harus mengerti bahasa Inggris, lha, kemampuan bahasa Inggris saya pun level standar saja.

Kami berempat benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu jalan pulang ke kandang.

Saya bilang pada teman-teman kalau sepertinya tadi sebelum turun saya lihat sepertinya ada sebuah hotel yang tidak jauh dari pom bensin ini. Maka berjalan kakilah kami menuju arah sebaliknya. Dan ternyata memang benar sebuah hotel, Casa Cesilia namanya. Bangunannya mirip rumah gedong dalam telenovela. Dua harapan saya, moga-moga masih ada kamar dan harganya wajar saja.

Seorang perempuan muda dengan rambut panjang bergelombang menyambut kami dengan ramah. Saya lagi-lagi berseloroh dalam hati, perempuan ini cocoklah menyandang nama Cecilia. Saya tinggalkan dia dengan Ariya. Tak lama kemudian Ariya menghampiri saya, Asty dan Dita untuk mengabarkan bahwa kamar yang tersedia bagi kami sangat wajar harganya. Fyuhhh, akhirnya kami dapat tempat beristirahat.

short trekking at Taal Volcano.

Ini adalah kelanjutan dari jalan-jalan saya di Pulau Luzon, Filipina.

Setelah menunaikan solat Subuh saya, sih, memilih meringkuk lagi di kasur. Udara Tagaytay yang mirip kawasan Puncak ini memang menjerat orang untuk berlama-lama bergelung dalam selimut. Lain halnya dengan teman-teman seperjalanan saya, mereka sudah mandi, berhias dan memilih untuk berburu matahari terbit dari balkon.

Jam 8 pagi kami check out dari Green Fortune Hotel lalu menitipkan barang bawaan kami yang berat-berat itu ke pihak resepsionis. Kami dipersilahkan untuk mengambil jatah sarapan kami, tapi karena pilihannya bacon semua, dengan halus kami tolak tawaran tersebut.

Di depan pintu gerbang hotel tersebut kami berdiri menunggu kedatangan jeepney. Hop, kami menumpak jeepney yang paling tidak dipenuhi penumpang menuju Olivares Circle dengan membayar 10 PHP per orang. Ini kali pertama kami menggunakan jeepney.

Pengalaman berangkot ria di Bogor adalah ketika membayar angkot baru dieksekusi saat penumpang turun, kan. Nah, dengan jeepney ini begitu penumpang naik dia langsung mengasurkan ongkosnya secara estafet dari tangan penumpang disebelahnya berurutan hingga sampai ke tangan si supir. Kami yang duduk tepat di belakang supir harus ekstra memperhatikan penumpang yang mana yang harus menerima kembalian ongkos.

Olivarest Circle sudah terlihat di depan mata. “Para, po!” dan kami pun turun dari jeepney.

Di sekeliling Olivarest Circle ada beberapa resto fast food baik yang bercita rasa nasional maupun yang internasional. Kami pun melangkahkan kaki memasuki KFC untuk sarapan.

Setelah menuntaskan sepiring nasi dan sepotong ayam tepung dengan sambal bawaan dari Indonesia (yang harus mulai diirit pemakaiannya) kami meninggalkan ruang sejuk KFC untuk kemudian diserbu para pengemudi tricycle yang menjamin akan mengantarkan kami melihat danau Taal.

Tricycle ini adalah kendaraan serupa becak-motor (bentor) yang terkenal di kota Medan sana. Bedanya, kalau naik bentor, tempat penumpangnya itu sejajar dengan pengemudinya. Kalau naik tricycle, tempat penumpangnya itu sejajar dengan kaki pengemudinya! Idealnya, tricycle ini menampung 2 orang saja. Berhubung kami meresapi betul predikat “cheapy-cheapy tourist” yang dilekatkan oleh penarik tuk-tuk waktu di Phonm Pehn dulu, maka satu tricycle itu kami paksa untuk mengangkut kami berempat. Ariya, Asty dan Dita duduk di kereta penumpang, sementara saya dengan sigap duduk mengangkang di jok belakang.

Kendaraan yang kami sewa PHP 150 untuk satu kali jalan itu akhirnya bergerak menuju danau Taal yang mulus, sepi, berkelok-kelok, dan konstan menurun yang otomatis merupakan fase yang mudah bagi pengemudinya. Nah, sekembalinya pasti pe-er “banget”!

Dari hasil mengintai para travel blogger asal Filipina, Taal Yatch Club adalah tempat penyewaan perahu penyeberangan ke Taal Volcano yang paling sering mereka sebut. Saya punya keinginan untuk menggunakan fasilitas mereka, tapi nasib berkata lain. Saya pasrahkan saja ke mana supir tricycle membawa kami.

Tricycle kami memasuki sebuah rumah berhalaman luas yang dihiasi beberapa gazebo. Kami pun dipersilahkan memasuki salah satunya untuk melepas lelah sesaat. Sejurus kemudian seorang lelaki menghampiri kami sambil mengangsurkan selembar brosur berisi daftar harga paket tur ke Taal Volcano. Setelah Ariya menekuni daftar tersebut, akhirnya diputuskan untuk mengambil paket seharga PHP 3,500 yang terdiri dari seorang pemandu, sebuah perahu dan jaket pelindung. Sementara itu biaya yang tidak di-cover dalam paket adalah biaya sandar perahu (PHP 50/perahu) dan tiket masuk Taal Volcano (PHP 50/orang).

Ketika memasuki daerah resort di sekeliling danau Taal, banyak terlihat alat selancar angin yang sedang ditiriskan. Pantas saja lokasi ini ideal untuk olahraga tersebut karena sungguh anginnya kencang sekali. Perahu yang kami gunakan untuk menyeberang sering kali harus menerobos ombak yang cukup tinggi dibandingkan pengalaman saya berperahu kayu lainnya.

Sesampainya di seberang, pemandu perahu yang sekaligus pemandu tur mengarahkan kami menuju jalur trekking. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang yang menyewakan kuda. Dengan halus kami tolak tawaran mereka. Dua diantaranya sempat mengikuti kami hingga beberapa saat, sambil mengutarakan nanti kami capek, lho, kalau jalan. Haha, usaha yang bagus, kawan. Tapi, sekali “cheapy-cheapy tourists” akan tetap demikian! Teguh kami, mah.

Saya, si pemilik jiwa yang sekarang keder dengan kegiatan tanjak-menanjak, bolehlah memberikan kesimpulan: bahwa jalur trekking menuju puncak Taal Volcano itu moderat levelnya (walau saya sering berhentinya). Kesulitan yang umum didapati adalah menaklukkan jalur trekking yang berpasir, berdebu dan berhias kotoran kuda. Jadi sangat-sangat disarankan untuk yang ingin melancong ke sini mempersiapkan masker, kacamata dan topi. Alas kaki pun sebaiknya menggunakan sepatu bukan sandal ala-ala mau main ke mall seperti yang saya pakai.

Kira-kira satu jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai puncak yang ditandai dengan deretan warung-warung temporer yang menjual kelapa muda (bako juice). Saya paling awal tiba di situ kalau saja Ariya tidak terdampak mountain sickness. Tapi jika dibandingkan dengan pelancong senior asal Korea Selatan, kalah jauh saya ini. Dengan pakaian khusus trekking dengan warna-warna mencolok mata, para opa dan oma ini semangat sekali menapaki tiap jengkal jalur tanpa terlihat kelelahan.

Tagaytay City yang serupa Puncak itu.

Kami mendarat di NAIA menjelang anak-anak berangkat ke sekolah. Ada perbedaan waktu satu jam dengan WIB.

Terminal kedatangan bisa dibilang sepi saja waktu itu. Begitu urusan imigrasi beres, kami bergegas menuju conveyor belt. Kemudian menukarkan uang dollar kami, setelah itu… bengong. Maklum, nyawa masih belum kumpul walau pun tidur tidak ada nyenyak-nyenyaknya. Saya bengong sambil memperhatikan perpisahan dua orang yang baru saja berkenalan di dalam pesawat yang sama dengan saya. Ada nomor telepon (atau e-mail) yang dipertukarkan lalu diikuti sederet janji-janji. Ahh…

Sementara itu Ariya mencari informasi bagaimana cara menuju ke Tagaytay City. Katanya, kemudian, kami bisa ke Tagaytay City dengan lebih dulu ke terminal bus di Pasay. Ada banyak pilihan menuju Pasay. Paling mudah menggunakan taksi tentunya. Tapi opsi tersebut tidak kami pilih semata-mata karena pertimbangan biaya. Pilihan kedua yakni naik jeepney tepat dari depan pintu Terminal 3 NAIA. Sempat menjadi bahan pertimbangan termasuk di dalamnya kemungkinan kami tersasar-sasar. Lamat-lamat opsi ini pun kami coret. Maka pilihan yang tertinggal dan yang paling masuk akal adalah memanfaatkan bus bandara. Sebagai anak Bogor yang memanfaatkan Bus Damri menuju SHIA (Soekarno-Hatta International Airport), saya sedikit bertepuk dada karena bus bandara yang biasa saya naiki itu lebih bagus. Asli!

Di mana letak bus bandara tersebut terparkir? Begini teman, begitu keluar dari terminal kedatangan beloklah ke kanan kemudian mencari pilar yang ditempeli plang “airport bus”. Baca baik-baik daerah yang akan dituju bus-bus tersebut. Kalau saya, sih, selain membaca informasi di plang, saya sempatkan bertanya kepada kondekturnya untuk lebih memastikan apakah bus ini tujuan Pasay. Dijawab saja dengan sebuah anggukan, lalu, hap, kami masuk ke dalam bus dan memilih duduk di bagian agak belakang yang lebih lega bagi barang bawaan kami.

Berapa yang harus kami bayar? PHP 20 saja per orangnya.

Bus membawa kami melewati wilayah yang sangat ramai. Menurut saya aktivitasnya serupa dengan aktivitas yang terjadi di daerah Glodok, Jakarta Barat.

Sesampainya di daerah yang disebut Pasay, bus yang kami naiki menyisakan sedikit saja penumpang. Setelah berada di luar, kami mencari-cari petunjuk bus yang menuju Tagaytay. Ada beberapa bus yang parkir tidak jauh dari tempat kami berdiri tapi tak satu pun yang menuju Tagaytay City. Kami yang celingak-celinguk bin planga-plongo tentu saja menarik perhatian (semacam) calo-calo. Dengan ramah kami berusaha menjelaskan ke mana kami akan menuju. Mereka menyarankan agar kami naik mobil van/travel saja ketimbang bus. Kebetulan mobil van tersebut parkir di depan kami yang sedang sarapan kembang tahu.

Tidak mau menyerah begitu saja, kami melanjutkan bertanya-tanya pada orang yang berbeda. Kali ini atas usul seseorang kami menyeberang ke sisi Pasay yang satunya lagi. Menurutnya di situ ada beberapa pol bus. Kami ikuti saran tersebut dengan menyeberangi jembatan penyeberangan yang juga terkoneksi dengan jaringan kereta rel listrik Manila (LRT Line 1 dan MRT Line 3). Sebagai pengguna Commuter Line dan pernah juga merasakan menggunakan MRT di Singapura, bernavigasi di sini sungguh tidak mudah. Dalam arus para komuter yang sepertinya tidak berkesudahan kita harus awas, salah-salah malah terbawa ke arah lain. Ariya pun sempat terpisah dengan kami. Setelah mengamankan Asty dan Dita di tempat yang mudah terlihat saya menyusul ke tempat di mana Ariya tadi menghilang. Fyuhh, untung Ariya memutuskan untuk berhenti berjalan dan menunggu penyelamatan 😀

Sesampainya di seberang kami pun bertanya-tanya lagi mengenai bus menuju Tagaytay. Sayangnya kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan bahkan setelah bertanya pada Pak Polisi. Baiklah, untuk tidak membuang-buang waktu lagi kami kembali ke tempat awal dan memutuskan menggunakan mobil van itu.

Sempat kami tawar-menawar dulu tetapi ongkos tidak mau bergerak turun 😦 Pengemudinya lalu bertanya di mana kami ingin diturunkan di Tagaytay City. Ummm, di mana ya? Karena kami belum booking penginapan, tercetus oleh saya sebuah lokasi bernama Alfonso. Dari bacaan sekilas tentang lokasi tersebut, di Alfonso itu mudah ke mana-mana. Ke Taal Volcano juga dekat saja. Si Pengemudi pun manggut-manggut.

Tak lama setelah mobil van bergerak meninggalkan lokasi “ngetemnya” saya langsung tertidur mengabaikan hiruk-pikuk kegiatan manusia di luar sana pun orang-orang lokal yang berbagi kendaraan bersama kami.

Dalam mobil van/travel sebelum jatuh terlelap.
Dalam mobil van/travel sebelum jatuh terlelap.

Continue reading “Tagaytay City yang serupa Puncak itu.”