let’s exploring Metro Manila.

Perhatian sebelum melanjutkan membaca: terdapat banyak pemuatan foto.

Saatnya menjelajah Manila City dengan berjalan kaki dan menggunakan kereta layang ringannya.

Screenshot_2015-12-21-17-25-09
Peta yang menunjukkan lokasi kami menginap (Hostel Our Melting Pot di Makati Avenue) dan stasiun terdekat (Stasiun Buendia).

Bersama-sama warga sekitar Makati Avenue yang berangkat kerja, kami berempat juga melenggang kangkung keluar dari hostel Our Melting Pot. Tujuan rekreasi kami hari itu adalah mengunjungi Intramuros, the Walled City.

Menolak berpusing memikirkan harus naik jeepney yang mana menuju stasiun kereta terdekat, kami memutuskan untuk mengandalkan kedua kami kami dan perut yang sudah terisi penuh. Oh ya, sarapan di OMP banyak pilihannya, lho. Tidak perlu malu untuk mencoba semuanya.

Beberapa toko terlihat mulai beroperasi lengkap dengan petugas keamanan bersenjata laras panjangnya. Sambil tetap waspada, mereka mengobral senyum pada orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Setelah beberapa hari di Filipina keberadaan petugas keamanan ini mulai terasa akrab. Walau masih terbersit dalam pikiran: sebegitu tidak amannyakah Filipina ini?. Eh, kilasan pemikiran tersebut belum sampai titik, tiba-tiba di depan mata terjadi kejar-kejaran antara seorang pemulung dengan dua orang satpam. Lumayan make a scene, sih, tapi tidak sampai senjata api meletus.

Yuk, lanjut berjalan lagi.

Jika berdasarkan Google Maps di atas, di bawah 30 menit saja kami berjalan. Tapi karena diselingi dengan foto-foto, sampai stasiunnya lebih dari itu.

Screenshot_2015-12-21-17-27-52
Jarak antara Stasiun Buendia dan Stasiun Pasay/EDSA.

Kali ini kami bersama-sama warga setempat di Stasiun Buendia berdiri berbaris rapi ke belakang untuk antri masuk ke dalam gerbong. Tidak ada yang menyela antrian. Tertib. Di ujung peron bagian depan, berdiri di atas mimbar, terlihat petugas stasiun yang akan meniupkan peluitnya tanda bagi masinis untuk bisa menutup pintu.

Screenshot_2015-12-21-17-30-41
Jarak antara Stasiun Pasay/EDSA dan Stasiun United Nations.

Di Stasiun Pasay/EDSA kami berpindah menaiki LRT menuju Stasiun United Nations. Kali kedua kami berada di stasiun ini, stasiun hub yang sempat membuat kami linglung awalnya. Tapi di percobaan kedua ini kami sudah bisa bernavigasi dengan lebih baik.

Gerbong kereta dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Selama perjalanan saya perhatikan betul nama tiap-tiap stasiun yang akan dilalui.

Processed with VSCO with hb1 preset
Bagian dari Rizal Park yang menghadap Jalan Taft Avenue.

Dari stasiun United Nations, kami lanjut berjalan kaki menuju Rizal Park, tidak langsung ke Intramuros.

Processed with VSCO with hb1 preset
Ariya berdiri pada salah satu sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands serupa dengan kolam Kepulauan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah.
Processed with VSCO with hb1 preset
Salah satu karya dalam gelaran pameran I am Filipino. Yang ini menampilkan boneka-boneka berpakaian tradisional Filipina yang sedang mengitari meja makan dengan makanan khasnya.

Ada semacam papan pengumuman berkaca yang didirikan di sepanjang sisi kolam Relief Map of the Philipinne Islands berisi pesan-pesan nasionalisme yang sederhana namun punya makna yang mendalam.

Salah satu contohnya adalah hasil jepretan saya di atas. Lainnya menjelaskan perluasan dari kata “po”:

I am Filipino

You will know me by the word “po” in my sentences.
You will know my children by their “mano po”.
You will know me by the smile on my face
and the warmth of my hospitality.

But most important of all, you will know me by my loving
and caring heart when you are in need of help,even if you are a stranger.

Orang-orang Filipina memang kerap mengujarkan kata “po” ini sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Processed with VSCO with hb1 preset
Monumen sekaligus kapsul waktu: Legacy of A Hundred Years.
Processed with VSCO with hb1 preset
Asty duduk manis di bagian belakang Monumen Lapu-Lapu, the man who can’t be moved🙂
Processed with VSCO
Ini adiknya Asty, Dita, berpose di depan Taman Jepang.

Rizal Park ternyata luas banget. Dibelah oleh Jalan Ma. Orosa St. Ada beberapa taman tematik yang tidak gratis. Ada teater terbuka. Ada tanah lapang di mana pemandu sorak bisa menggunakannya untuk berlatih. Dan, ini yang saya suka, ada kios penjual makanan dan minuman lengkap dengan tempat duduk. Slurppp, minum air kelapa dulu.

Processed with VSCO with hb2 preset
Ujungnya hampir tak terlihat, ya.
Processed with VSCO with hb1 preset
Saya bersama bapak penjual jasa foto langsung jadi.

Ini bagian sentimentil dalam perjalanan saya ketika berkeliling Rizal Park. Di sekitar Monumen Jose Rizal terdapat beberapa orang yang menawarkan jasa foto Polaroid. Orang-orang tersebut umumnya laki-laki yang usianya setua bapak yang saya ajak foto bersama ini. Pandangan saya beralih bergantian antara kamera Polaroid yang ia sampirkan di lehernya dan kamera yang ada dalam genggaman saya. Ini belum membahas kamera yang tertanam dalam ponsel, ya. Ledakan emosi berhasil saya tahan di tenggorokan.

Bapak ini tersenyum ramah. Bertanya tentang asal-muasal kami. Rupanya ia pernah ke Indonesia untuk bekerja. Saya lupa di mana dan kapan tepatnya ia bekerja di Indonesia. Ia mengarahkan kami berempat untuk tepat berada dalam satu frame dengan Monumen Jose Rizal.

Klik!

“Ya, kalian sudah berfoto dengan Jose Rizal. Ini kameramu. Selamat menikmati Manila,” ujarnya.

Processed with VSCO with hb2 preset
Sebelah kiri itu adalah Jalan Roxas Boulevard. Sebelah kirinya lagi adalah Manila Bay.

Akhirnya sampai di ujung lainnya dari Rizal Park. Kami berbelok ke kanan. Tuh, Intramuros masih satu kilo sekian lagi ke depan.

Processed with VSCO with hb1 preset
Rasa-rasanya mau gelar tiker lalu lanjut buka rantangan melihat ruas trotoar yang asri seperti ini.

Yay, sampai di Intramuros? Bukannn… ini adalah trotoar yang memisahkan jalan Roxas Boulevard dengan dinding Intramuros. Adem.

Processed with VSCO with hb2 preset
Membuat kenang-kenangan bersama pemandu kami hari itu.
Processed with VSCO with hb1 preset
Jalan Anda, apik penempatan nama jalannya.
Processed with VSCO with hb2 preset
Nice neighborhood, isn’t it? Bangunan semacam ini bertebaran di dalam kawasan Intramuros dan semuanya masih digunakan.
Processed with VSCO with hb1 preset
Pemandu kami dengan minat khusus dalam fotografi.
Processed with VSCO with hb2 preset
Let us rest for a while, world.
Processed with VSCO with hb2 preset
Katedral San Agustin.
Processed with VSCO with hb1 preset
Usai mengunjungi Casa Manila.

8 thoughts on “let’s exploring Metro Manila.

  1. Baru tau rizal itu jg nama org filipina, kedengarannya indonesia bgt. Jose Rizal sih kedengerannya kayak ga matching, biasanya yg banyak disini kan muhammad rizal hahahahaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s