bermain bersama Hadiah Sahabat di Museum Layang-layang Indonesia.

image
Anak-anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah dan kakak-kakak pendamping.

Sabtu, 2 April 2016 menjadi saat yang spesial buat saya. Apa pasal? Karena, eh, karena hari itu merupakan hari pertama saya hadir dalam acara Hadiah Sahabat yang sudah saya ketahui gaungnya dari tahun 2009. Sungguh terlalu, ya, saya ini *evilgrin*

Hadiah Sahabat ini adalah sebuah komunitas sukarelawan asyik yang dibentuk oleh orang-orang kece yang suka jalan-jalan bersama. Pada suatu ketika mereka mendapat ilham untuk mempermanenkan kelompok jalan-jalan tadi menjadi kelompok yang juga bergiat dalam kerja-kerja sosial yang mempunyai dampak pada masyarat.

Dari mendengar cerita Lili (oknum yang mengenalkan saya pada Hadiah Sahabat) mengenai kegiatan komunitasnya ini, mereka memfokuskan program kerjanya dalam mengajak anak-anak dari kalangan marjinal untuk bermain. Bermainnya tentu tidak asal bermain. Mereka memastikan ada nilai-nilai edukasi yang dibawa pulang oleh anak-anak tersebut selain rasa bahagia.

Untuk kali ini Hadiah Sahabat mengajak 23 anak dari Yayasan Masjid Jami Nurul Falah bermain layang-layang di Museum Layang-layang Indonesia (MLI). Materi bermainnya komplet. Dimulai dengan 1) mengenal sejarah layang-layang, 2) mewarnai gambar di atas kaos, 3) meninjau koleksi layang-layang MLI dari ukuran yang imut-imut sampai yang besar juga rumit bentuknya, 4) menonton video festival layang-layang di Bali, 5) dilanjutkan dengan membuat layang-layang, 6) dan tentunya menerbangkan layang-layang hasil karya sendiri.

Rangkaian acara di atas tidak mungkin berlangsung dalam waktu yang singkat, dong. Yup, seharian kakak ini (tunjuk diri sendiri) berada di sana. Rasa kantuk yang menyerang di jam-jam kritis ditambah sekujur tubuh menjadi bau matahari tertebus saat:

  • Melihat keriangan anak-anak yang berlari ke sana ke mari ketika berusaha menerbangkan layang-layang mereka.
  • Merasakan antusiasme mereka dalam mengerjakan permainan dan menjawab kuis.
  • Manakala menerima sebungkus nasi padang isi gulai ayam (hmmm, punya bibit panasbung juga ternyata kakak ini).

Lalu, mana foto-fotonya? Kebiasaan, deh, bikin postingan tanpa foto. Hih!

Ada, dong. Tak banyak tapi. Sila cekidot!

image
Setelah mendengar kisah asal-usul layang-layang, anak-anak mulai terlihat santai dalam kegiatan mewarnai gambar di atas kaos ini.
image
Jemuran kaos serupa tapi tak sama.
image
Di bawah layang-layang berbentuk ikan singa mendengarkan cerita tentang layang-layang yang dibuat dari bahan umbi-umbian.
image
Sampai mepet begini agar layang-layang di udara bisa terlihat.
wp-1459697087841.jpeg
Yak, bisa dilepas sekarang layang-layangnya, Kak!
wp-1459697281000.jpeg
Dalam kuis menyusun potongan gambar. Tim yang menang adalah yang melakukannya dengan cepat, tepat dan rapi.
wp-1459697449393.jpeg
Membuat foto kenangan dengan anak paling aktif hari itu.

Ada dua kegiatan lagi yang akan dilaksanakan oleh Hadiah Sahabat di tahun ini. Jika di antara sidang pembaca ada yang tertarik untuk berkontribusi dalam hal apa pun, informasi lebih lanjut dapat merujuk tautan-tautan di bawah ini:

Situs: http://www.hadiahsahabat.org
E-mail: info@hadiahsahabat.org
Facebook: Hadiahsahabat
Twitter: @hadiahsahabat

Saran dari saya sebagai penutup tulisan ini:

Jangan sungkan jadi sukarelawan
Siapa tahu ada hati yang bisa ditambatkan
*maksasupayaberima*

Advertisements

i’m anxious.

Minggu yang lalu, 28 April 2013, saya mendatangi sebuah event yang menarik, TEDxJakarta nama acaranya. Apa itu TEDxJakarta? Saya sendiri bingung bagaimana menjelaskan kepada keluarga dan teman-teman yang bertanya mengapa saya harus meeting pada dua hari Sabtu di bilangan Gandaria dan Pasar Minggu. Maklum saja, perkenalan saya dengan TEDxJakarta hanya terjadi lewat video-video pembicara yang diunggah di YouTube.

Nah, setelah mengalaminya secara langsung, berikut penjelasan saya tentang TEDxJakarta: saya cenderung menyebut TEDxJakarta itu sebagai sebuah kuliah umum. Pemberi kuliahnya bisa siapa saja, yang penting memiliki buah pikiran yang dapat ditularkan, yang dapat diduplikasi, dan tentu saja dapat menggerakkan sebuah perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada penyelenggaraannya yang kesembilan ini tema yang diangkat adalah Generation: Anxious. Para pembicara yang hadir pun membawa kecemasannya masing-masing, tersebutlah Roni Pramaditia, Silverius Unggul, Kyla Christie, Khairani Barokka, dan Prof. Yohanes Surya. You can watch how they tackle their anxiety here.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari kelima pembicara yang keren-keren diatas itu adalah bahwa siapapun Anda, apapun keadaan Anda, Anda dapat melakukan perbedaan dengan melakukan sesuatu.

Ada pembicara tentu ada yang diajak bicara bukan? Nah, peserta yang bisa hadir di acara ini bisa siapa saja dan tidak dipungut biaya alias gratis… tis. Anda juga bisa! Dengan catatan yakni harus rajin memantau beragam saluran TEDxJakarta melalui Twitter-nya, laman Facebook-nya, dan situs resminya.

Dalam menjaring peserta kali ini pihak panitia melakukan pengundian, lho. Dengan maksud agar setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa berpartisipasi. Pssst, saya mau kasih bocoran mengenai cara mendapatkan peluang terbesar to be inspiredVolunteering! Rangkaian rapat yang saya sebutkan di atas adalah dalam rangka saya menjadi sukarelawan dalam acara ini.

Di luar kecemasan-kecemasan yang diusung para pembicara saya juga mengalami kecemasan yang harus saya taklukan. Kecemasan saya itu adalah: bergabung dengan sukarelawan yang masih berstatus mahasiswa dan atau fresh graduate. Saya sempat minder karena merasa ketuaan 😀

Tapi ibarat kapal sudah menurunkan jangkar, saya tidak bisa serta-merta segera menarik kembali sauhnya. Saya berusaha mengenyampingkan rasa minder tersebut. Saya harus fokus dengan tujuan saya hadir di situ. Alhamdulillah, secara keseluruhan acara berlangsung dengan baik.

My ID, been edited for the sake of this post 😀
Schedule of April 28th, 2013 at Teater Salihara.

Have you get inspired by reading this short explanation? Have you eager to attend their upcoming event? Ada kabar baik, nih. Untuk lebih mempersering terjadinya penyebaran ide-ide, TEDxJakarta akan menggelar TEDxJakartaSalon. Konsep acaranya tetap sama, yang membedakan adalah jumlah peserta. Peserta TEDxJakartaSalon lebih sedikit. Dengan demikian hubungan antara si penyebar ide dan calon penerima ide akan lebih intim dan intens.  So, folks, stay tune on canals that I have been mentioned above.