no wi-fi, tersasar.

Usai trekking di Taal Volcano, kami kembali dulu ke Green Fortune Hotel untuk mengambil ransel-ransel yang dititipkan untuk selanjutnya kami bertolak menuju Lipa City. Dari pihak hotel diinfokan bahwa tidak ada bus langsung menuju kota tersebut. Kami diharuskan berganti bus di kota Nasugbu atau Batangas.

Haruskah kami mengawali perjalanan selanjutnya dari terminal bus? Ternyata tidak perlu, bus-bus menuju kedua kota tersebut dapat dicegat langsung dari depan hotel. Sound so familiar, hahaha.

Ketika di sisi jalan โ€ฆ ke Nasugbu atau Batangas? Nasugbu? Batangas?

Lalu menepilah sebuah bus bertanda Nasugbu yang kelihatannya tidak begitu penuh. Hop, kami memasukinya dan mengambil tempat duduk lagi-lagi di bagian belakang. Kernet bus menghampiri kami sambil menanyakan tujuan. Setelah tujuan diketahui, kernet tersebut mengeluarkan sebuah alat mirip penggesek kartu kredit/debit. Ketak-ketik beberapa saat, lalu meluncurlah lembaran kertas yang adalah tiket bus kami yang menerakan seberapa jauh kilometer yang akan kami tempuh beserta tarifnya. Canggih betul!

Setelah ongkos dibayar, masing-masing kami beristirahat, terkecuali Ariya yang masih berkutat meredakan sakit kepala dan mual-mualnya.

Tidak jelas berapa jam kami dalam bus. Sesampainya di Nasugbu sepertinya waktu Ashar. Sebelum turun dari bus, saya sudah melihat papan penanda Sevel dan memang ke sanalah saya mengajak teman-teman saya. Pertama untuk mengisi perut, kedua untuk mendapatkan koneksi internet. Malangnya, tanda free wi-fi yang tertempel di pintu masuk Sevel hanya berhenti sebagai tanda semata. Pelayan Sevel tidak ada yang mau memberikan kata kunci bagi keabsahan kami berselancar dalam jaringan mereka. Huh!

Ariya yang masih lemah (kali ini lebih karena menahan kantuk akibat obat yang diminumnya), Asty dan Dita lalu saya ajak masuk-keluar resto Jolibee dan Mang Inasal demi sambungan wi-fi. Hasilnya? Nol. Keinginan saya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai daerah ini, apa yang bisa dilakukan, dan fasilitas akomodasi yang tersedia tidak kesampaian. Tanya warga sekitar? Umumnya mereka menghindar dengan alasan tidak paham berbahasa Inggris. Duh, bagaimana ini???

Rupanya kami diturunkan memang di pusat keramaiannya Nasugbu karena di tengah kebingungan itu, kami melihat lagi bus yang sebelumnya menurunkan kami. Ariya meminta saya untuk bertanya pada kernet bus tersebut di mana kami bisa menaiki bus tujuan Batangas. Kernet bus tersebut menunjuk sebuah pohon beringin, di sanalah bus-bus tujuan Batangas City terparkir. Maka koprollah kami ke arah yang ditunjuk itu.

Ketika menunggu bus dipenuhi penumpang, Ariya memutuskan agar kami turun di Taal City saja tak perlu sampai ke Batangas City karena diperkirakan sampai Batangas sudah sangat larut malam. Demikianlah, rencana perjalanan kami berubah tanpa kami ketahui benar apa yang akan kami hadapi kemudian. Karena baik Taal City, Batangas City, dan Lipa City serupa dengan Nasugbu, kami tidak memiliki informasi yang cukup mengenainya. Nekat!

Dari secarik kertas yang lagi-lagi meluncur keluar dari mesin EDC diketahu bahwa jarak dari Nasugbu ke Taal City itu sejauh 53 km. Pada kernet bus kami minta untuk diinfokan jika sudah sampai Taal City.

Lamat-lamat langit mulai menggelap. Penumpang bus naik-turun silih berganti. Saya tidak dapat memejamkan mata, konsentrasi penuh memperhatikan plang-plang toko untuk mengetahui nama-nama daerah yang kami lewati. Sampai suatu ketika bus berhenti lama di sebuh pom bensin. Kernet bus menghampiri kami dan memberitahukan bahwa di sinilah titik untuk menuju Taal City dan kami bisa melanjutkan perjalanan dengan jeepney atau tricycle.

Sedikit kekhawatiran di dada, saya menuruni bus menuju pelataran pom bensin yang sepi. Sesuai saran si kernet bus, kami menyetop sebuah tricycle. Belum berpanjang-panjang kami menjelaskan keinginan kami, pembicaraan dengan pengemudi tricycle berlangsung singkat sekali karena dia tidak mengerti bahasa Inggris. Ya, kami paham sekali. Kami tidak bisa memaksakan bahwa semua orang harus mengerti bahasa Inggris, lha, kemampuan bahasa Inggris saya pun level standar saja.

Kami berempat benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu jalan pulang ke kandang.

Saya bilang pada teman-teman kalau sepertinya tadi sebelum turun saya lihat sepertinya ada sebuah hotel yang tidak jauh dari pom bensin ini. Maka berjalan kakilah kami menuju arah sebaliknya. Dan ternyata memang benar sebuah hotel, Casa Cesilia namanya. Bangunannya mirip rumah gedong dalam telenovela. Dua harapan saya, moga-moga masih ada kamar dan harganya wajar saja.

Seorang perempuan muda dengan rambut panjang bergelombang menyambut kami dengan ramah. Saya lagi-lagi berseloroh dalam hati, perempuan ini cocoklah menyandang nama Cecilia. Saya tinggalkan dia dengan Ariya. Tak lama kemudian Ariya menghampiri saya, Asty dan Dita untuk mengabarkan bahwa kamar yang tersedia bagi kami sangat wajar harganya. Fyuhhh, akhirnya kami dapat tempat beristirahat.

7 thoughts on “no wi-fi, tersasar.

    1. Lebih kurang seperti Si Mbak yang menerima kami di hotelnya malam-malam itu. Rambutnya hitam, terurai panjang bergelombang. Perawakannya sedikit mungil. Senyum selalu tersungging di bibirnya yang tak lekang oleh lipstik yang sesuai dengan riasan matanya yang membuatnya terlihat bundar tajam.
      ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s