Tagaytay City yang serupa Puncak itu.

Kami mendarat di NAIA menjelang anak-anak berangkat ke sekolah. Ada perbedaan waktu satu jam dengan WIB.

Terminal kedatangan bisa dibilang sepi saja waktu itu. Begitu urusan imigrasi beres, kami bergegas menuju conveyor belt. Kemudian menukarkan uang dollar kami, setelah itu… bengong. Maklum, nyawa masih belum kumpul walau pun tidur tidak ada nyenyak-nyenyaknya. Saya bengong sambil memperhatikan perpisahan dua orang yang baru saja berkenalan di dalam pesawat yang sama dengan saya. Ada nomor telepon (atau e-mail) yang dipertukarkan lalu diikuti sederet janji-janji. Ahh…

Sementara itu Ariya mencari informasi bagaimana cara menuju ke Tagaytay City. Katanya, kemudian, kami bisa ke Tagaytay City dengan lebih dulu ke terminal bus di Pasay. Ada banyak pilihan menuju Pasay. Paling mudah menggunakan taksi tentunya. Tapi opsi tersebut tidak kami pilih semata-mata karena pertimbangan biaya. Pilihan kedua yakni naik jeepney tepat dari depan pintu Terminal 3 NAIA. Sempat menjadi bahan pertimbangan termasuk di dalamnya kemungkinan kami tersasar-sasar. Lamat-lamat opsi ini pun kami coret. Maka pilihan yang tertinggal dan yang paling masuk akal adalah memanfaatkan bus bandara. Sebagai anak Bogor yang memanfaatkan Bus Damri menuju SHIA (Soekarno-Hatta International Airport), saya sedikit bertepuk dada karena bus bandara yang biasa saya naiki itu lebih bagus. Asli!

Di mana letak bus bandara tersebut terparkir? Begini teman, begitu keluar dari terminal kedatangan beloklah ke kanan kemudian mencari pilar yang ditempeli plang “airport bus”. Baca baik-baik daerah yang akan dituju bus-bus tersebut. Kalau saya, sih, selain membaca informasi di plang, saya sempatkan bertanya kepada kondekturnya untuk lebih memastikan apakah bus ini tujuan Pasay. Dijawab saja dengan sebuah anggukan, lalu, hap, kami masuk ke dalam bus dan memilih duduk di bagian agak belakang yang lebih lega bagi barang bawaan kami.

Berapa yang harus kami bayar? PHP 20 saja per orangnya.

Bus membawa kami melewati wilayah yang sangat ramai. Menurut saya aktivitasnya serupa dengan aktivitas yang terjadi di daerah Glodok, Jakarta Barat.

Sesampainya di daerah yang disebut Pasay, bus yang kami naiki menyisakan sedikit saja penumpang. Setelah berada di luar, kami mencari-cari petunjuk bus yang menuju Tagaytay. Ada beberapa bus yang parkir tidak jauh dari tempat kami berdiri tapi tak satu pun yang menuju Tagaytay City. Kami yang celingak-celinguk bin planga-plongo tentu saja menarik perhatian (semacam) calo-calo. Dengan ramah kami berusaha menjelaskan ke mana kami akan menuju. Mereka menyarankan agar kami naik mobil van/travel saja ketimbang bus. Kebetulan mobil van tersebut parkir di depan kami yang sedang sarapan kembang tahu.

Tidak mau menyerah begitu saja, kami melanjutkan bertanya-tanya pada orang yang berbeda. Kali ini atas usul seseorang kami menyeberang ke sisi Pasay yang satunya lagi. Menurutnya di situ ada beberapa pol bus. Kami ikuti saran tersebut dengan menyeberangi jembatan penyeberangan yang juga terkoneksi dengan jaringan kereta rel listrik Manila (LRT Line 1 dan MRT Line 3). Sebagai pengguna Commuter Line dan pernah juga merasakan menggunakan MRT di Singapura, bernavigasi di sini sungguh tidak mudah. Dalam arus para komuter yang sepertinya tidak berkesudahan kita harus awas, salah-salah malah terbawa ke arah lain. Ariya pun sempat terpisah dengan kami. Setelah mengamankan Asty dan Dita di tempat yang mudah terlihat saya menyusul ke tempat di mana Ariya tadi menghilang. Fyuhh, untung Ariya memutuskan untuk berhenti berjalan dan menunggu penyelamatan😀

Sesampainya di seberang kami pun bertanya-tanya lagi mengenai bus menuju Tagaytay. Sayangnya kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan bahkan setelah bertanya pada Pak Polisi. Baiklah, untuk tidak membuang-buang waktu lagi kami kembali ke tempat awal dan memutuskan menggunakan mobil van itu.

Sempat kami tawar-menawar dulu tetapi ongkos tidak mau bergerak turun😦 Pengemudinya lalu bertanya di mana kami ingin diturunkan di Tagaytay City. Ummm, di mana ya? Karena kami belum booking penginapan, tercetus oleh saya sebuah lokasi bernama Alfonso. Dari bacaan sekilas tentang lokasi tersebut, di Alfonso itu mudah ke mana-mana. Ke Taal Volcano juga dekat saja. Si Pengemudi pun manggut-manggut.

Tak lama setelah mobil van bergerak meninggalkan lokasi “ngetemnya” saya langsung tertidur mengabaikan hiruk-pikuk kegiatan manusia di luar sana pun orang-orang lokal yang berbagi kendaraan bersama kami.

Dalam mobil van/travel sebelum jatuh terlelap.
Dalam mobil van/travel sebelum jatuh terlelap.

Saya terbangun saat merasakan semilir angin yang mulai menyejuk. Ketika benar-benar membuka mata, tampaklah danau besar di hadapan saya. Sepertinya sudah memasuki kawasan Taal Lake, nih. Jalanan pun relatif lengang dan luas. Di kanan dan kirinya banyak ditumbuhi pepohonan besar dan kecil. Banyak terlihat resor, lokasi retreat dan restoran. Sekilas saya melihat kedai Starbucks yang memberikan pemandangan lepas ke danau. Harus dicoba, nih, saran saya ke teman yang lain.

Kami juga melewati lokasi makan-makan yang dilengkapi dengan bianglala. Uwow, pasti semakin indah melihat pemandangan dari titik tertinggi bianglala tersebut, boleh juga, nih, untuk didatangi. Cek.

Mobil van pun bergerak meninggalkan jalanan utama untuk menuju lokasi-lokasi penumpang yang ingin diturunkan. Saya berpendapat mungkin Alfonso juga tidak akan jauh lagi.

Ketika mobil van harus melipir di lokasi pengisian bahan bakar tiba-tiba Ariya berseru, “Lihat! Itu mobilnya Haven Hotel, salah satu hotel yang gw booking tapi gak dijawab. Mungkin lokasinya dekat-dekat sini!” Kami semakin serius memandangi setiap hotel maupun resor yang dilewati. Terserah, deh, yang mana dulu yang dicapai, Alfonso atau Haven Hotel itu.

Ternyata yang muncul terlebih dulu adalah plang Haven Hotel. Ariya langsung memberikan komando agar kami turun saja di situ. “Stop! Stop!”, teriak kami kepada Pak Supir. Pak Supir tampak bingung. Dengan gerakan tangan sambil mengucap kata Alfonso, Pak Supir menjelaskan bahwa Alfonso itu masih jauh. Sementara kami ngotot untuk tetap turun di depan Haven Hotel.

Perselisihan lembut antara cheapy-cheapy tourists dari Indonesia dengan supir mobil van ini lalu ditengahi seorang penumpang yang menyimpulkan keinginan kami ke dalam bahasa Tagalog. Hehehe…

Pak Supirnya memegang amanah dengan teguh, ya. Dia rupanya sempat ngotot untuk tetap mengantar kami ke Alfonso. Hahaha…

Ternyata Alfonso itu masih jauh, Saudara-saudara. Sila lihat peta berikut:

Tagaytay City
Alfonso itu masih jauh, Git!

Setelah dadah-dadah pada mobil van tersebut, kami menuju meja resepsionisnya Havel Hotel. Tampak dari luar hotel ini bolehlah. Sebagian bangunanya masih terlihat baru. Karena Ariya yang memegang uang maka Ariyalah yang maju untuk melakukan penawaran. Saya setujui apa pun hasil negosiasi antara Ariya dan petugas resepsionisnya, karena berapa pun harga kamarnya menurut saya pasti sudah masuk dalam perhitungannya Ariya😀

Yes, akhirnya bisa meluruskan badan barang sejenak sebelum melakukan aktivitas selanjutnya, pikir saya. Tapi ternyata kami belum bisa masuk kamar kami datang di luar jam check-in. Masih bisa maklumlah kalau itu alasannya. Jadi, mbak (embak??) kalau kami titip ransel di sini boleh, dong, dong? Mbak Penerima Tamu menggeleng lalu kami balik kanan serentak keluar hotel. Kami putuskan untuk mencari hotel lain saja. Menanggung berat ransel (lebih berat backpacknya Ariya, sih) beberapa saat lagi tak mengapalah.

Di seberang Haven Hotel ada hotel juga. Bangunannya lebih sederhana. Tapi mari kita lihat dulu secara riil. Sebelum menyeberang, tengok kiri dulu lalu tengok kanan sejurus kemudian berdirilah kami di depan pintu gerbang Green Fortune Hotel. Di pintu kamar yang berdekatan dengan pintu gerbang, terpampang daftar harga tiap-tiap kamar yang mereka punyai. Dari tiap harga itu lalu kami konversikan ke dalam rupiah. Kata Ariya harganya jauh lebih murah dibandingkan harga dari Haven Hotel untuk fasilitas yang sama, kamar untuk empat orang.

Untuk mengakomodasi permintaan kami, resepsionis Green Fortune Hotel menempatkan kami di kamar yang unik lokasinya. Bukan kamar yang berjajar rapi di dekat gerbang tapi kamar yang masuk-masuk ke dalam gang yang berliku-liku tapi ada balkonnya. Tidak luas, sih, tapi pemandangan dari balkon ini langsung menghadap Taal Lake! Foto-foto…

Taal Lake dari balkon (yang agak luas) Green Forest Hotel.
Taal Lake dari balkon (yang agak luas) Green Forest Hotel.

Selain istirahat yang disambi dengan mandi dan makan siang bekalnya Asty dan Dita, kami memutuskan untuk berkeliling di seputaran hotel. Lumayan ramai, sih. Di depan hotel kami tepatnya bersebelahan dengan Haven Hotel ada resto ayam suntik Jolibee, berjalan sedikit ada supermarket SM dan beberapa ruko. Tapi nantilah itu dilihat-lihat karena menurut pedoman berkelana di Tagaytay City ada salah satu resto yang terkenal dengan kopi dan kue-kue manisnya, namanya Bag of Beans.

Saya berpikir kami perlu naik jepney menuju resto tersebut pada kenyatannya lokasinya hanya selemparan batu dari Green Fortune Hotel. Ah-syeek.

Ariya, Asty dan saya di depan pintu masuk BoB.
Ariya, Asty dan saya di depan pintu masuk BoB.

Suasana Bag of Beans ini homey sekali, seperti main ke rumah teman lalu nongkrong di meja makannya sambil mengamati mamanya temanmu itu menyiapkan hidangan😀 Kami memilih lokasi duduk yang ada colokan listriknya. Sambil menumpang nge-charge kami pun berseluncur dengan wi-fi gratisan yang disediakan resto ini.

Kami tentu saja memesan kopi dan dessert sebagaimana yang direkomendasikan. Sajian kopi yang kami pilih sore itu adalah kopi tubruk tanpa ampas yang disediakan dalam mug besar ditemani susu dan brown sugar. Sedikit catatan, wilayah Batangas ini pada zaman dahulu kala terkenal sebagai penghasil kopi di Filipina. Industri kopinya sendiri terpusat di Lipa City dan sebutan terkenal bagi kopinya adalah kapeng barako. Kapeng barako inilah yang kami sesap sore itu. Lumayan membukakan mata.

Untuk pilihan dessert kami memilih Apple Pia a la Mode, Blueberry Cheesecake dan Panacotta. Yummm…

Meninggalkan BoB yang sudah ramai dihiasi dekorasi Natal kami memutuskan untuk memasuki supermarket SM. Siapa tahu menemukan camilan yang menarik. Di supermarket ini ternyata ada fasilitas penukaran uangnya. Menurut saya nilai tukarnya tidak mengecewakan.

Melongok lorong yang menjual sabun mandi saya menemukan banyak sekali sabun pemutih kulit berbahan papaya. Sementara melongok lorong chiki-chikian banyak juga yang sudah bersertifikat halal.

Keluar dari supermarket kami tidak menjinjing kantong kresek tapi membopong kantong kertas. Saat makan malam di Jolibee juga kami tidak menemukan sendok dan garpu plastik apalagi piring styrofoam. Keheranan kecil ini pun terjawab oleh sebuah peraturan daerah seperti ini:

Tagaytay says no to plastic.
Tagaytay says no to plastic.

Keren!

Sebagai penutup cerita kali ini, sila simak lagu dari Bamboo Manalac.

Cakep!

8 thoughts on “Tagaytay City yang serupa Puncak itu.

    1. Asyik, dikunjungi Rio yang femeus itu (sering dengar cerita tentangmu dari Mila dan Chacha). Terima kasih sudah mampir ke sini.

      Ketersesatan kami ini barulah awalnya saja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s