Labuan Bajo: Cunca Wulang dan bidadara-bidadara dari Bandung.

Dari Gua Batu Cermin, pada hari yang sama, kami bertolak menuju sebuah air terjun yang menjadi obsesi bagi @mila_said dan @EfaAyuDhewe. Dari semua atraksi wisata yang ada di Kabupaten Manggarai Barat, air terjun Cunca Wulang inilah yang paling khidmat saya baca reviewnya. Mengapa demikian? Silahkan baca tulisan ini sampai selesai, ya.

Sebenarnya penyebutan air terjun Cunca Wulang ini agak rancu karena dalam bahasa sana/bahasa Flores(?) cunca itu sama dengan air terjun. Untuk kata Wulang sendiri bisa ditebak, dong, padanan katanya? Yup, wulang -> wulan -> bulan.

Entah, ya, berapa jauh dari lokasi Gua Batu Cermin ke Cunca Wulang. Tapi dari sebuah catatan menyebutkan, jaraknya sekitar 30 Km dari kawasan keramaian Labuan Bajo. Didapati jalan yang awalnya lurus-lurus saja mulai berkelok-kelok dan menanjak. Pada satu titik kami disuruh Wawan untuk keluar dari mobil. Katanya lokasi ini paling bagus untuk ambil gambar dengan latar-belakang kota Labuan Bajo. Kami menuruti permintaannya dan membiarkannya mengarahkan gaya kami dari atap Suzuki AVP. Yang memotret lebih banyak aksi ketimbang yang menjadi objeknya😀

Ini hasil arahan gaya dari Wawan.

Mobil kembali berhenti. Kali ini di depan sebuah rumah yang sangat saya harapkan menjual mie rebus. Ya, pada saat itu waktu sudah menunjukkan jam makan siang dan saya begitu ingin memamah mie rebus dalam cuaca yang mendukung sekali, dingin dan mendung. Rupanya kami dibawa Wawan ke lokasi tempat Caci dance sering digelar terutama untuk turis mancanegara. Kalau rombongan turis macam kami ini cukup melihat-lihat saja peralatan tarinya.

Halamannya asri, ya?

Di tempat itu kami bertemu dengan Valen, lelaki gempal yang tak banyak berbicara, yang membukakan pintu rumah adat yang menyimpan perlengkapan tari dan beberapa barang rumah tangga. Sungguh berbeda sekali dengan Wawan yang sangat ceriwis😀 Valen hanya tersenyum simpul mendengarkan ocehan Wawan tentang Caci dance sampai adat pernikahan orang Flores.

Rumah yang sama juga merangkap sebagai perpustakaan yang digagas oleh Nila Tanzil, one of renown travel blogger in Indonesia. And it would be the one library with a stunning view! Di mana sejauh indera penglihatan diedarkan yang ada dihadapan adalah lembah yang rimbun dengan sawah-sawahnya, dan lautnya tentu saja. Ini lebih keren dibandingkan lokasi pertama yang ditunjukkan oleh Wawan.

Bermain rumah-rumahan.
Penanda bahwa rumah ini juga merangkap sebagai perpustakaan bagi anak-anak sekitar.
Kurang-lebih pemandangan seperti inilah yang tersaji dari rumah di atas bukit tersebut.

Setelah puas memandangi keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah warung yang dijanjikan Wawan bahwa saya bisa menyantap mie rebus sepuas hati. Hehehe…

Istirahat dulu untuk makan mie dan minum kopi.

Mie rebus dan segelas kopi susu sudah tandas. Maka kami melanjutkan perjalanan menuju hutan Mbeiling di mana Cunca Wulang berada. Medan menuju wilayah hutan ini lumayan bagus. Kendaraan roda empat apalagi roda dua mudah saja melaluinya. Sampai di suatu tanjakan Suzuki APV menolak untuk melaju dikarenakan sepotong jalan yang hancur-lebur, menyisakan petak jalan yang berlumpur tebal. Berkali-kali mobil dipacu hingga mengeluarkan bau kopling yang tak sedap, berkali-kali juga salah satu bannya mengalami slip.

Ini, nih, jalan yang banyak menuai sumpah-serapah😀
Foto: @EfaAyuDhewe.

Kemudian mobil ditepikan sambil berharap seseorang atau dua orang melewati kami dengan kendaraannya. Rupanya kami tidak perlu menunggu lama. Seorang pengendara motor lewat dan Wawan menghentikannya lalu menitipkan Mila untuk ikut serta menuju Kampung Wersawe yang merupakan gerbang menuju Cunca Wulang. Sekitar dua puluh menit pengendara motor yang sama kembali ke tempat mobil Wawan terparkir tanpa daya. Kali ini Efa ikut bersamanya sementara saya membonceng motor warga lain yang menuju arah yang sama. Ketika Efa dan saya meninggalkan Wawan dan mobilnya dan kamera saya, hujan mulai berjatuhan.

Menunggu jemputan.
Foto: @EfaAyuDhewe.

Di sebuah warung yang sepertinya bagian paling ramai di kampung tersebut saya menemukan Mila sedang duduk bagai dalam sebuah persidangan. Dia diapit para orang tua dengan rokok di antara jemari, sementara anak-anak mondar-mandir di dekatnya. Serius sekali tampaknya. Ketika saya mendekat, rupanya Mila sedang menonton sebuah acara peresmian gereja yang baru saja terjadi. Tapi yang membuat terpana adalah alat yang digunakan untuk mempertontokan video itu adalah… iPad!

Menunggu hujan reda.
Foto: @EfaAyuDhewe.

Saat itu hujan turun semakin deras dan tidak memungkinkan bagi kami untuk segera menuju Cunca Wulang. Kepada seorang bapak yang paling vokal saya meminta izin untuk melaksanakan sholat. Terdiam dia beberapa waktu, sejurus kemudian dia menyuruh ibu pemilik warung untuk membentangkan tikar kecil di balik etalase dagangannya. “Silahkan Kakak sembahyang di sini,” katanya. Setelah saya berwudhu dan siap dengan mukena, pintu warung pun ditutup untuk memberikan saya sedikit privasi. Indahnya toleransi. Tak lama seusai saya sembahyang, hujan pun reda.

Bapak yang vokal itu mengenalkan kami pada seorang pemuda bernama Roni yang ditunjuk sebagai pemandu menuju air terjun. Pengendara motor yang membawa Mila dan Efa juga turut serta. Hal ini sempat membuat kami bingung, karena dengan demikian kami harus memberikan tips untuk dua orang pemandu. Ah, sudahlah.

Dari pusat desa menuju lokasi air terjun kami harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1-2 Km. Dua ratus meter pertama kami berjalan membelah deretan rumah warga yang tertata rapi dengan halamannya yang luas-luas. Sebentar-sebentar kami berhenti untuk berfoto bersama anak-anak desa. Bahkan Efa menghabiskan waktu agak lama di sebuah rumah untuk memotret seorang bapak dan anjingnya. Tak lama kemudian kami mulai meninggalkan tepian desa menuju ladang-ladang masyarakat di mana rumah-rumah mulai jarang ditemui dan jalanan mulai menurun dengan sesekali mendapati turunan yang curam. Tanah merah yang basah oleh air hujan adalah tantangan yang harus ditaklukan dan tantangan tersebut menjadi sepuluh kali lipat sulitnya ketika kami mendaki pulang nanti. Aargh…

Berikut percakapan bodoh yang terjadi selama di perjalanan:

“Git, ini buah apa?” tanya Efa sambil memperlihatkan bulatan keabu-abuan di tangannya. “Itu yang namanya kemiri, Fa.” jawab saya. “Kok, tahu?” lanjutnya. “Sudah pernah lihat waktu di kampung di Tanah Karo sana.” balas saya dengan agak bangga karena bisa membedakan buah kemiri.

“Fa, lihat ini cacing tanahnya gemuk sekali!” teriak saya sambil mencangkul-cangkulkan ujung sepatu pada tanah untuk menguak tubuh si cacing lebih jauh. Efa, Mila dan Roni memberikan tatapan yang seolah berkata, “Hayahhh…”

Selepas ladang yang ditumbuhi kemiri, kopi dan coklat serta padi ladang dapat dijumpai bukaan tanah yang agak lapang yang menjadi peralihan menuju kawasan hutan. Di muka hutan tersebut kami bertemu dengan segerombolan bapak-bapak yang sepertinya baru saja menyelesaikan petualangannya dari air terjun. Beberapa bapak saya lihat tampak kepayahan sekali. Duh, seberat itu ya medannya, keluh saya dalam hati.

Setelah bertukar sapa dengan bapak-bapak tersebut kami pun berlalu. Sayup-sayup terdengar dukungan lirih menyemangati perjalanan kami. Hati saya semakin mencelos.

Menembus hutan.
Foto: @EfaAyuDhewe.

Berturut-turut, pengendara motor yang membonceng Mila dan Efa, Mila, Roni, Efa, kemudian saya memasuki hutan dengan pepohonan yang masih rapat. Medannya semakin berat menurut saya. Turunan melulu. Kami berpapasan dengan seorang bule dan pemandunya. Wajah si bule tak kalah dengan kepiting rebus. Tak ada kata yang diucapkan hanya cengiran meringis menahan nafas yang memburu yang dia tebarkan. Semakin horor.

Kemudian kami mendengar gemericik air sungai dan hempasan bergalon-galon air yang tercurah tanpa ragu-ragu. Tampaknya air terjun itu semakin dekat. Ada sekejap semangat menggelora di hati saya dan itu cukup untuk melecut kedua kaki ini untuk mempercepat langkah.

Ada air terjun kecil yang kami temui di sisi sungai. Di situ kami beristirahat sebentar. Bumi yang dipijak pun berubah permukaannya, kami menyisir tepi dan menyeberangi sungai di atas bebatuan yang besar-besar ukurannya. Untuk mempermudah melompat-lompat itu alas kaki harus saya copot. Semakin mendekati Cunca Wulang, bebatuannya semakin besar membentuk tebing yang memagari air terjun. Pengunjung yang datang terhenti perjalanannya di tebing tersebut. Melongok dari tebing terdapat aliran sungai yang mengolam. Roni dan pemandu kami yang satunya lagi (sungguh saya lupa namanya) berdiri di ujung tebing, lalu satu per satu mereka terjun. Byurrr, lompatan yang cukup sempurna kawan!

Sungainya masih bersih.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Menyisir tebing.
Foto: @EfaAyuDhewe.

Sementara mereka berdua berenang sambil kedinginan, saya, Mila dan Efa tentunya sibuk mengambil gambar dengan berbagai gaya. Tapi harus dipastikan kami jauh-jauh dari bibir tebing. Ngeri, Po!

Karena Efa berniat untuk mandi-mandi di sungai, Roni memilihkan aliran sungai yang dapat direnangi dengan aman. Maka mandi-mandilah Efa di situ dengan riang gembira.

Setelah puas Efa berendam kami memutuskan untuk segera kembali ke kampung. Banyak-banyak saya menarik nafas meredakan kekhawatiran saya untuk mendaki pulang. Mila dan pemandu-yang-saya-lupa-namanya sudah melesat lebih dulu. Sementara Efa dan Roni harus terjebak menyamai kecepatan langkahnya dengan saya. Pukpuk Efa, pukpuk Roni.

Efa dan Roni bergantian mengingatkan saya untuk beristirahat, tapi saya menyanggah tawaran tersebut tanpa dialog. Cukup melambaikan tangan saja. Dialog yang saya punya saat itu adalah dialog dengan Tuhan Pemilik Semesta, saya memohon kepadaNya untuk menguatkan kedua kaki dan paru-paru saya. Dan paruh pertama perjalanan balik saya lalui dengan baik. Di luar hutan saya disambut cengiran Mila.

Setelah minum sedikit, kami pun berjalan lagi untuk menyelesaikan paruh terakhir. Ya, Tuhan, sungguh berat perjalanannya ditambahi lagi dengan beban tanah berlumpur yang menumpuk di alas sepatu kets saya. Saya bertopang pada Roni untuk membantu saya menyeret bokong dan kaki saya. Rasanya ingin menangis dan ingin sebotol Coca-Cola dingin.

Mau Coca-Cola dingin!
Foto: @EfaAyuDhewe.

Selepas sebuah tikungan saya melihat bapak-bapak berkerumun di antara dua buah mobil. Hmmm, sepertinya ini rombongan bapak-bapak yang kami temui sebelumnya. Semakin mendekati kerumunan mereka, semakin jelas saya mendengar apa yang mereka perbincangkan. Salah satu mobil mereka patah as-nya. Tapi, tunggu, mereka berbincang dalam bahasa Sunda. Lalu saya melihat seorang bapak mengenakan jaket berbodir Badan Geologi. EUREKA! Saya pun mendekat tanpa ragu. Kemudian meluncurkan percakapan dalam bahasa Sunda yang kira-kira jika disarikan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Saya: Bapak-bapak ini dari Bandung?
Bapak yang berdiri lebih dekat dari saya: Betul, Neng.
Saya: Bapak kenal dengan Ibu L? (menyebutkan nama tante saya)
Suara bapak-bapak yang bersahutan: Oh, yang menikah sama orang Amerika itu, ya?
Saya: betul, Pak.
Suara bapak-bapak yang tumpang-tindih: Eneng, siapanya?
Saya: saya keponakannya, Pak.
Suara bapak-bapak yang bertalu-talu: Ya ampun, Neng, jauh amat mainnya!?!
Saya hanya tersenyum simpul dengan sejuta harapan bermekaran di hati.
Suara bapak-bapak yang saya tunggu-tunggu: Eneng, mau ikut bareng ke kampung atau ke Labuan Bajo?
Saya: kalau boleh saya ikut sampai kampung saja, Pak.
Bapak Nandar (yang saya ketahui kemudian namanya): boleh, boleh.

Yipeee yayay! Saya dapat tumpangan mobil sampai ke kampung. Sayang sekali Mila dan Efa lebih memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Saya ditempatkan duduk di samping Pak Driver. Sementara tiga orang bapak berjejalan di kursi belakang Daihatsu Rocky. Ya, Allah, terima kasih atas pertolonganMu ini.

Kepada Pak Driver saya meminta untuk diturunkan di warung yang paling ramai di kampung Wersawe. Pada kenyataannya saya diajak dulu mampir ke salah satu rumah warga di mana bapak-bapak yang lainnya sedang melepas lelah. “Ayo, Neng, masuk. Ngopi-ngopi dulu,” ajak Pak Nandar kepada saya yang termangu di depan pintu rumah tersebut.

Kemudian bapak yang lainnya, Bapak Oki, muncul dari dalam rumah ketika saya berusaha menanggalkan sepatu kets saya. Melihat saya yang kesulitan mengurai tali sepatu yang begitu kencang belitannya, Bapak Oki dengan tidak sungkan membantu saya. Saya malu, lho. Setelah saya terbebas dari kets saya berubah warnanya jadi coklat saya pun mengambil segelas kopi yang diangsurkan tuan rumah. Hehehe, what a life, duduk di antara kelompok bapak-bapak dari Bandung ini sambil menyesap kopi setempat di suatu desa terpencil di Indonesia Timur.

Potret kenang-kenangan bersama Pak Nandar dan kawan-kawan.
Foto: @EfaAyuDhewe.

Saya bersua kembali dengan Mila dan Efa di warung semula. Kata Efa, “Git, nggak ada Coca-Colanya.”

Yahhh…

11 thoughts on “Labuan Bajo: Cunca Wulang dan bidadara-bidadara dari Bandung.

  1. wuiii ….. kebayang campuradukny aperasaan Saat itu andia aku gabung dalam perjalan seru di atas, kepo nih pengen lihat langsung ladnag dgn kemirinya😛

    btw, met natal ya Pagit🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s