Labuan Bajo: Gua Batu Cermin.

@mila_said sudah menurunkan lagi tulisan mengenai trip kami ke Labuan Bajo/Pulau Komodo. Maka, saat ini, detik ini, saya menetapkan hati untuk menyelesaikan kisah perjalanan tersebut. Huff!

Setelah dadah-dadah pada kapten kapal dan anak buahnya, kami bertiga meninggalkan pelabuhan Labuan Bajo. Di muka gerbang pelabuhan langkah kami tertahan oleh kemunculan James dari salah satu warung sambil memamerkan senyum lebarnya. Dengan sigap dia mengambil alih peralatan snorkel yang kami tenteng. “Kamu sedang apa tadi, James?” tanya saya yang terheran-heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. “Hmmm, anu, Kak, saya tadi refreshing. Main PS,” jawabnya.

Lalu kami berempat berjalan santai menuju kantor Komodo Eko Wisata sambil membicarakan kegiatan untuk keesokan harinya. Mila mengulang lagi rencana untuk mengunjungi sebuah gua dan air terjun yang lokasinya masih berada di Kabupaten Manggarai Barat. Sementara dalam kepala saya berputar-putar angka-angka yang menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan. Dana pribadi saya sudah menipis kala itu, karena itu juga rencana saya untuk memperpanjang liburan di Ubud harus diurungkan *so sad*

Tampaknya kedua teman seperjalanan saya ini menangkap dengan baik perubahan raut wajah saya. Kata mereka, “Tenang, Git, biaya transportasi besok kami yang menanggungnya.” Serta-merta badan ini ringan terasa. Hahaha…. Tapi tentunya saya tidak begitu saja menerima tawaran mereka, saya tawarkan kontribusi saya dalam bentuk membeli cemilan dan makan siang. Pematangan rencana lalu kami lakukan di Bajo Beach Hotel dengan memanggil Wawan yang kami sewa lagi jasanya.

Keesokan harinya, 9 Mei 2013, setelah menyantap sarapan yang terdiri dari pancake pisang dan segelas kopi susu kami meninggalkan penginapan menuju Gua Batu Cermin, kira-kira empat kilometer dari pusat keramaian Labuan Bajo. Wawan menurunkan kami di depan sebuah warung yang berlaku juga sebagai loket yang menjual tiket masuk. Kami mencatatkan nama masing-masing di buku tamu, lalu seorang laki-laki yang lumayan tegap menghampiri. Namanya John. Dan dia adalah pemandu kami hari itu.

Saya pribadi merasa terintimidasi dengan perawakannya itu, kalimat “do not mess with me” tampak tergadang-gadang di dahinya. Lalu saya teringat perkataan Pak Basilus yang mengutip perumpamaan jadul sebagai berikut, “Wajah kami memang terlihat menyeramkan seperti Rambo, tapi yakinlah hati kami ini begitu halus seperti Rinto.”

Sebelum meninggalkan warung/loket tiket, John membagikan helm proyek dan lampu senter kepada kami. Lalu kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah diperkeras dengan semen menuju mulut gua. Jalan sejauh kira-kira 200 meter tersebut sangat teduh karena pohon-pohon bambu yang rimbun menaungi kedua sisinya.

Selama menyusuri jalan tersebut John mulai melakukan tugasnya sebagai pemandu dan… pelawak. Ya ampun, tak henti-hentinya kami tertawa. Di kemudian hari ketika saya dan Mila mengingat petualangan dalam gua ini, Mila berseloroh, “Git, apa yang sebenarnya kita lihat di dalam gua tersebut??”

Tapi inilah sekelumit deskripsi saya mengenai Gua Batu Cermin. Gua ini masih menyimpan stalaktit dan stalagmit yang masih terjaga dengan baik kondisinya. Salah satu yang unik bagi saya adalah kumpulan stalaktit yang berbonggol-bonggol yang ketika dipukul mengeluarkan bunyi nada yang beragam.

Kami sempat bertanya kepada John mengapa gua ini tidak diberi penerangan. Kata John, seorang petinggi perusahaan telekomunikasi juga pernah menanyakan hal serupa. “Apa jadinya tempat ini kalau diberi lampu, Kak? Jadi tempat berbuat dosa saja nantinya,” demikian jawaban yang diberikan John. Lugas dan tegas. Kami pun manggut-manggut menyetujui argumentasinya.

Selain melihat bentuk-bentuk stalaktit dan stalagmit yang aneh-aneh, kami pun diperlihatkan binatang-binatang yang menghuni gua tersebut. Ada kelelawar, laba-laba, dan tikus. Untung tak melihat ular. Hiii…

Pada satu kesempatah John menunjukkan cetakan di dinding gua yang menyerupai rangka ikan dan penyu, sejurus kemudian dia mengajukan kuis kecil-kecilan, “Jika melihat bentuk ikan ini apakah yang dapat disimpulkan?”

Kami berdiam untuk memikirkan jawaban yang berbobot dan tampaknya kami sepakat pada jawaban berikut, “Lokasi ini dulunya laut?” John pun mengangguk-anggut tanda puas akan jawaban yang didengarnya.

Sementara asal-muasal penyebutan Gua Batu Cermin ditunjukkan John dengan mambawa kami ke salah satu ruangan dari gua tersebut di mana sinar matahari masuk dari celah yang letaknya jauh di atas kepala kami. Dia menjelaskan bahwa pada tanah yang kami injak itu dulunya mengalir sebuah sungai. Sinar matahari yang terpancar dari celah tersebut mengenai aliran sungai yang kemudian memantulkan kembali cahaya tersebut ke dinding-dinding gua. Tak lama dari lokasi tersebut tur pun berakhir.

Kami meninggalkan Gua Batu Cermin dengan satu harapan, John harus mencoba audisi Stand Up Comedian Indonesia!

Ini John dan batu bernyanyi.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Di dalam gua. Sebentar-sebentar menengok ke belakang.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Kami di luar gua. Sudah dapat bernafas lega.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Sekelumit cahaya mentari.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Terlihat tidak cetakan tubuh ikannya?
Foto: @EfaAyuDhewe.

7 thoughts on “Labuan Bajo: Gua Batu Cermin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s