pada suatu pagi.

Pesawat Cebu Pacific tujuan Jakarta dari Manila mendarat pada pukul 23.45 WIB. Sang pilot menyarankan kepada penumpang untuk menyilangkan sabuk pengaman apabila merasa puas dengan ketepatan waktu yang telah mereka usahakan. Tapi saya lupa melakukan hal tersebut karena saya begitu ingin secepatnya keluar dari badan pesawat, begitu ingin secepatnya keluar dari imigrasi untuk selanjutnya menaiki bus bandara Damri arah Bogor.

Baik, di sini saja saya simpulkan pengalaman terbang dengan Cebu. Memuaskan!

Setelah mengucapakan salam perpisahan kepada @ariyadewi, @siachii dan @chairilina, saya pacu langkah kaki sayaenuju terminal Damri yang berada di ujung kiri Terminal 2 SHIA. Tas punggung yang bertambah beratnya beberapa kilo, tas selempang di bahu kiri serta tas jinjing di tangan kanan ditambah rasa capai dan kantuk adalah beban yang harus saya tanggung dalam perjalanan kaki selama 5 menit itu.

Sesampainya di terminal Damri saya melihat beberapa bus ukuran mikro yang terparkir dan tidak ada tanda-tanda melakukan aktivitas. Saya melihat jam tangan, hampir menuju jam setengah satu pagi. Duh, pasti sudah tidak ada lagi pelayanan Damri pada jam segini.

Rupanya masih ada penumpang yang juga menunggu Damri dan tujuannya pun sama dengan saya. Bapak tersebut menyakinkan saya bahwa masih ada satu bus yang berangkat ke Bogor. Alhamdulillah, saya tidak perlu menginap di bandara.

Dari Terminal 2 hanya kami berdua penumpangnya. Selama mengunjungi terminal-terminal berikutnya kami pun mengobrol sambil sesekali sang supir menimpali. Di Terminal 3 lebih banyak penumpang yang naik. Pembicaraan pun dihentikan sampai akhirnya menuju pool Damri di Botani Square.

Saya sempat menelepon Si Ndut untuk memintanya menjemput saya. Tapi yang dimintai tolong menyuruh saya untuk pulang dengan taksi. “Ngantuk banget, Git.” katanya. Ya sudah, saya pun tidak mau berpanjang-panjang beradu argumentasi. Perkara bagaimana saya melanjutkan perjalanan ke rumah saya pikirkan nanti saja. Saya tidur dulu dalam perjalanan menyusuri tol Jagorawi.

Pada akhirnya, saya menempel bapak tersebut yang kebetulan lagi searah pulangnya. Lupakan naik ojek yang pasti akan sukses membuat saya masuk angin. Lupakan naik taksi yang pasti tidak berargo. Naik angkot, it is!

Kami naik angkot nomor 03 merah yang menuju Bubulak. Di Jembatan Merah kami turun. Bapak tersebut memastikan saya mendapatkan angkot selanjutnya yang menuju komplek rumah saya. Alhamdulillah masih ada satu angkot. Di sinilah kami berpisah. Kepada Bapak Rizal, terima kasih untuk bantuannya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda. Aamiin.

Angkot berikutnya yang saya naiki segera meluncur dengan saya dan seorang pemuda sebagai penumpang dua-duanya. Perjalanan berlangsung sangat lancar. Ya iyalah, jam dua pagi gitu!

Melewati hampir setengah panjang perjalanan, angkot yang saya naiki berhenti mendadak di muka sebuah gang.  Di bawah lampu yang terpasang pada gapura gang tersebut terduduk laki-laki yang sedang memegangi seorang perempuan yang pucat-pasi mukanya. Sang laki-laki pun wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Melihat angkot kami berhenti, dengan suara yang hampir tak terdengar, sebuah permintaan tolong meluncur lirih. Tolong, istri saya mau melahirkan katanya. Pemuda yang duduk di samping supir langsung memegang sisi lain dari si istri. Saya sempat terdiam karena tidak tahu bantuan seperti apa yang dapat saya berikan. Tetapi setelah melihat bahwa butuh lebih banyak orang lagi untukembopong sang ibu masuk ke dalam angkot saya pun turun tangan. Saya bopong bagian bahunya. Sesampainya di dalam angkot saya berusaha mendukung si ibu untuk tetap tenang, sabar dan sadar sambil menyebut nama Yang Maha Kuasa.

Angkot pun dilajukan ke rumah bersalin yang kebetulan searah dengan tujuan saya. Sesampainya di rumah bersalin dan mebgistirahatkan si ibu di bangku panjang saya pun menggedor-gedor pintu rumah bersalin sambil terus-menerus menekan bel. Sesekali saya cek keadaan si ibu. Saya dapat melihat gumpalan hitam terbentuk di antara kedua kakinya. Astagfirullah, mana ini perawat dan bidannya?!?

Setelah pintu terbuka. Saya, si pemuda dan si suami kembali membopong si istri ke ruangan bersalin. Sesaat sebelum meninggalkan ruangan tersebut saya berhasil menangkap keluhan si bidan, “Bu, katanya ini anak kedua. Kenapa Ibu sudah tidak sanggup berjalan?!” Helowww, menurut ngana?!? Itu kepala bayi sudah di selangkangan, Bu Bidan!

Semoga si bayi dan si ibu selamat. Demikianlah yang saya ucapkan tatkala meninggalkan rumah bersalin tersebut.

Tak lama kemudian saya sudah sampai di depan jalan masuk ke dalam komplek rumah saya, membayar ongkos angkot, melewati portal sampai hampir-hampir merangkak, lalu berjalan cepat-cepat melewati pohon besar di sudut lapanngan sambil membaca ayat Kursi untuk menghindari penampakan yang tidak diinginkan. Lalu sampailah saya di rumah. There’s no other place called home.

14 thoughts on “pada suatu pagi.

    1. I pushed my luck to its limit😀 Kalau disuruh mengulang lagi, akan berpikir berulang-ulang.

      Mereka ternyata dalam perjalanan ke dukun beranak x_x pakai motor yang disupiri temannya sang suami. Tapi di tengah jalan bukaannya sudah banyak dan tidak memungkinkan lagi melaju di atas motor. Nah, pertanyaannya: ke manakah teman si suami itu pergi???🙂

  1. Pantas saja postingan ini yang pertama tayang, ternyata HUWOW ceritanya. Semoga si utun nanti dimudahkan persalinannya, ya. Aamiin. *Menunggu tayangan memuaskan si Filipino🙂

    1. Epik, kan, kisahnya??? Hehehe…
      Semoga utun sama ibunya selalu sehat dan lancar jaya persalinannya. Aamiin.
      Hihihi, cerita tentang Filipinanya keknya masih lama tayangnya. Cerita di Labuan Bajo saja belum selesai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s