Pulau Komodo: this is Pink Beach, baby!

Pagi ini rasanya malas sekali berangkat ke kantor. Saya salahkan keadaan ini pada kurangnya waktu tidur saya karena listrik padam sepanjang malam. Sedikit-sedikit saya terbangun karena menjaga lilin untuk tetap menyala (hahaha, terdengar seperti sedang melakukan kegiatan “ngepet”). Ditambah lagi, sebelum meninggalkan rumah, tidak ada kopi susu yang dapat diteguk.

Saat memasuki kerbong kereta, tempat duduk yang tersedia tinggal bangku prioritas. Kemudian saya pura-puranya menjadi perempuan yang sedang hamil sehingga bisa duduk dan bobok sampai Stasiun Sudirman. Ya, ya, memang bukan tindakan terpuji. Kombinasi kurang tidur dan tidak minum kopsus itu sama dengan menenggak Actifed, lho.

Sesampainya di kantor saya langsung membuat kopsus yang mana susunya adalah dari raw almond milk. Hasil kombinasi rasanya? Blah. Tapi demi menuju cara-cara hidup sehat, telan sajalah. Tak perlu komplen. Cek email kantor. Okeh, tidak ada hal yang “urgent”. Lalu saya cek blognya teman-teman, terutama blognya @mila_said karena saya penasaran dengan kelanjutan cerita perjalanan kami ke Pulau Komodo. Ya, siapa tahu bisa saya re-blog lagi begitu di laman WP saya ini.

Dan ternyata, ada! Kali ini Mila menulis tidak berpanjang-panjang mengenai kunjungan kami ke sebuah pantai yang masih-masih sangat perawan, orang jamak menyebutnya Pink Beach. Apa yang Mila tulis setelah rekreasi di Pink Beach itu menurut saya lebih menarik, sila tengok di sini, ya.

Maka dari itu izinkanlah saya yang berpanjang-panjang dalam mendeskripsikan kunjungan kami di Pink Beach, Pulau Komodo.

Seusai melakukan apel perpisahan dengan Pak Latief di dekat dermaga Taman Nasional Komodo kami tentunya balik lagi ke kapal yang ternyata sudah rapi jali. Hanya menyisakan handuk dan baju saya di tali tambang. Waktu itu sudah menunjukkan hampir jam makan siang, tetapi saya tidak melihat makanan disiapkan di atas meja. Pikiran buruk langsung melintas, jangan-jangan biaya sewa kapal tidak termasuk makan siang? Jeng… jeng… jeng…

Selama kapal menuju Pink Beach saya terus merenung, kalau memang tidak disediakan makan siang, kira-kira apa yang dapat dijadikan ganjelan perut. Sendal? Atau biskuit yang tinggal setengah memenuhi bungkusnya?

Ketika pantai yang kami tuju sudah terpampang nyata di depan mata saya bergegas berganti pakaian dengan pakaian yang lebih pantas untuk bermain air. Dan mengenai makan siang itu terlupakan sejenak tatkala melihat jernihnya air laut yang menampilkan dengan sangat jelas terumbu karang yang ada di dasarnya. Ketika saya bergegas masuk toilet mini yang ada di buritan kapal. Saya sempat menengok ke dapur yang tak kalah mininya. Di atas meja kecil terlihat irisan cabai merah, bawang merah dan bawang putih yang siap diolah. Di atas wajan terlihat tempe berbalut tepung yang sedang ditiriskan. Ow, ow, ow, rupanya itu makan siang untuk kami. Akhirnya kami terselamatkan dari memakan biskuit yang sudah melempem maupun dari sendal yang kenyal itu.

Di Pink Beach ini kapal dilarang merapat ke pantai. Apa sebab? Ini untuk melindungi terumbu karang. Pada waktu itu, selain kapal kami ada juga beberapa kapal yang menambatkan sauhnya. Umumnya mereka membawa wisatawan mancanegara yang begitu saja meloncat dari kapal dan berenang dengan santai menuju bibir pantai. Sementara saya, Mila dan Efa langsung masuk dalam mode kebingungan. Saya jelas tidak berani merenangi jarak yang menurut saya lumayan jauh itu. Duh, sudah jauh-jauh ke mari tapi tak bisa menikmati keindahan Pink Beach dan terumbu karangnya itu.

Karena pada dasarnya kami adalah gadis-gadis yang manis, tidak sombong, patuh pada orang tua, menyayangi sesama, dan rajin menabung, pertolongan pun datang dalam wujud seorang penjual mutiara dan kapal kecilnya. Serta-merta kami memanggil bapak tersebut untuk mengajukan permintaan dan penawaran harga. Setelah hal-hal tersebut disetujui kedua belah pihak, maka kami bertiga beserta sarung bali, alat-alat snorkel, botol-botol air minum, dan tas anti-air berisi dompet, hp serta kamera akhirya berpindah lokasi.

Seperti Mila, saya dan Efa pun mengais-ngais pasir pantai untuk melihat apa yang membuat pasir di Pink Beach ini berwarna merah jambu. Dalam kesempatan mengais pasir tersebut saya kerap menemukan potongan-potongan kecil dari terumbu karang berwarna merah. Oh, mungkin organisme inilah yang berkolaborasi dengan air laut dan hal lainnya yang berkontribusi dalam menciptakan butiran-butiran konsentrat (istilahnya Mila) merah jambu.

Ketika Mila berlarian dan meloncat-loncat untuk mengungkapkan kesenangan hatinya, saya menemukan tempat di bawah salah satu pohon rindang (yang sedikit jumlahnya) untuk meletakkan logistik kami. Setelah dirasa lokasi tersebut aman (dengan cara-cara yang mirip ibu penyu saat akan bertelur), kegiatan selanjutnya adalah mengoles-oles tabir surya untuk meminimalkan kulit gosong, apalagi matahari sedang lucu-lucunya bersinar di langit.

Snorkel sudah dipasang, jaket pelampung sudah dikencangkan. Mari melaut!

Asyiknya melakukan snorkeling di Pink Beach ini adalah air lautnya yang jernih sekali (ups, sampai dua kali mengatakan hal ini). Jadi terumbu karang dan ikan-ikan karang terlihat dengan jelasnya. Kelompok-kelompok coral hadir sejajar dengan bibir pantai. Dalam jarak 5 meter dari pantai kita sudah bisa menemukan school of fish yang warna-warni. Aaah, betapa saya menyukai pantai dan laut.

Begitu kembali ke kapal, makan siang yang saya sangat nantikan sudah terhidang manis di atas meja.

Ketika kami kembali ke Labuan Bajo hari itu kami membawa serta sepasang turis. Salah seorang dari mereka sakit sampai sulit diajak berjalan. Kapal pun tiba-tiba menjadi sesak. Efa yang kembali menelan Antimo harus puas berbaring di dekat ruangan kapten kapal.

Pink Beach tampak dari sisi kiri.
Foto: @mila_said.
Ini yang membuat pasir pantai berwarna merah jambu.
Foto: @mila_said.
Sisi kanan dari Pink Beach.
Foto: @mila_said.
Rasanya ingin terus berendam.
Foto: @mila_said.
Makan siang yang mewah sekali.

15 thoughts on “Pulau Komodo: this is Pink Beach, baby!

      1. waaaa…nunggu sebentar setelah dapat ijin bole jalan2 sama dokter yaaaa…*akan berusaha mengajak teman2 misua juga (baca: yg potensial tentunya :p)

  1. Wow keren! pasir pantainya putih bersih airnya bening jernih
    klo diliat dari fotonya itu pantai masih terbilang sepi ya?
    #masihmikirkenapadinamakanpinkbeach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s