Pulau Komodo: 8 jam melaut.

Judul tersebut bukan bermaksud mengecilkan keinginan, cita-cita maupun harapan kawan-kawan sekalian untuk berkunjung ke Pulau Komodo. You guys, just sit and relax. Sudah pada bekal Antimo, kan?

Oh, ya, petualangan awalnya bisa dilihat di sini, di sini, dan di sini.

Yuk, mari dilanjut petualangannya.

8 Mei 2013 adalah hari yang kami nantikan untuk bertemu dengan the-famous-ancient-reptil-in-the-world. Dan hari yang kami tunggu-tunggu itu malah diawali dengan insiden terkuncinya saya, Mila, dan Efa di penginapan. No, no, pihak hotel bukan menyandera kami karena gagal bayar tetapi lebih dikarenakan belum ada yang bangun pada pukul 5 pagi itu.

Di saat mencoba-coba sendiri membuka pintu (masukkan adegan memanjat kursi guna meraih engsel pintu di bagian atas di sini) yang ternyata sia-sia, datanglah SMS dari James (itu, lho, guide dari Komodo Eko Wisata) yang meminta kami segera berkumpul di kantornya. Secepat kilat saya membalas pesan James dengan berita permohonan bantuan untuk mengeluarkan kami dari penginapan.

Tiga menit berselang terdengar deru mesin motor matik berhenti di depan penginapan. Sosok mungil dengan topi rajutan berwarna khas penganut Rasta itu pun langsung melesat ke lantai atas melalui tangga yang terdapat di samping kiri dari bangunan penginapan tersebut. Pikir saya James pasti akan membangunkan pengelola hotel. Eh, tak lama dia malah muncul dari arah dapur sambil cengengesan. “Mari, Kak, kita keluar lewat tangga belakang ini,” ujarnya, lalu mengarahkan kami seraya dengan sigap membawa koper milik Efa.

Sesampainya di lantai atas saya melihat penjaga penginapan masih tertidur pulas. Rupanya sedikit huru-hara yang kami timbulkan tidak ada pengaruhnya. Saya pun meninggalkan kunci kamar di atas satu-satunya meja kerja yang ada di ruangan tersebut.

Setelah menitipkan ransel dan koper di kantornya James, kami berempat berjalan beriringan menuju pelabuhan yang minim penerangan. Ada banyak kapal beragam ukuran yang ditambatkan. Saya berharap kami menaiki kapal besar dengan tirai yang berjuntai-juntai menghiasi jendela kabin yang besar.

Pada kenyataannya, kami harus puas dengan kapal tak berdinding apalagi berjendela. Ada harga ada rupa.

Di ujung timur langit berpedar kemerahan, tanda mentari sedang menggeliat saat kami bertolak dari pelabuhan. Angin bertiup sangat kencang yang memaksa kami mengetatkan sarung bali pada tubuh. Anak buah kapal sudah menyiapkan tiga helai alas duduk/tidur anti-air. Di bagian buritan, kompor minyak dinyalakan untuk menjerang air panas. Tak lama kemudian Efa sudah berbaring di salah satu kasur. Antimonya sudah mulai bekerja.

Melihat tali tambang plastik yang membentang di kedua sisi kapal dan beberapa jepitan jemuran, saya langsung mengeluarkan handuk dan kaos. Menjepitkan keduanya untuk diangin-anginkan. Ketika air panas sudah tersedia, saya langsung menyiapkan sarapan seadanya. Kopi dan biskuit.

Jemuran saya dengan latar belakang pulau-pulau yang tersebar di antara Labuan Bajo dan Pulau Komodo.
Trying to shoot sunrise and the tide still high.
Mendekati Pulau Komodo, laut mulai tenang.
Foto: @EfaAyuDhewe.
Sepinyaaa…
Foto: @mila_said.
Sampaiii…
Foto: @mila_said.
Dari jauh Komodo ini seperti batang pohon.
Foto: @mila_said.
Sulphurea Hill, Pulau Komodo.
Foto: @mila_said.
Bersama Ranger Latief.

Selanjutnya, petualangan ini saya re-blog dari Ceritanya Mila, ya:

Langit biru cerah dengan sedikit sapuan awan putih lembut ketika perahu kami merapat ke dermaga Pulau Komodo. Setelah 4 jam perjalanan dari Labuan Bajo dengan perahu, menyusuri gugusan pulau-pulau indah di area Kepulauan Komodo akhirnya tiba juga saat yang sudah saya impikan sejak lama. Melihat komodo secara langsung. Salah satu spesies hewan tertua yang hingga kini masih hidup di bumi ini.  

Saya, Pagit dan Mba Efa melompat dari perahu, menjejakkan kaki-kaki mungil kita di atas titian kayu yang memanjang membentuk dermaga. Berjalan dengan riang gembira menuju pintu masuk area konservasi komodo. Tiba-tiba seekor komodo muncul, menghadang jalan masuk dengan pandangan sinis yang bikin hati langsung ciut. Memberi makna baru yang lebih pas untuk kata “judes”.  

Komodo memang hewan besar yang tidak banyak bergerak dan tampak malas-malasan, tapi menurut hasil browsing-browsing saya, kalau hewan buas ini sudah bergerak bisa cepat sekali. Dalam sekejap mata bisa-bisa kaki kita sudah hilang di gigit. Hewan ini juga jago berenang di laut. Sebelum kita berangkat, Pagit bertanya apa kita bisa snorkeling di Pulau Komodo situ? Saya cuman bilang, ya boleh aja sih kalo mau balapan renang sama komodo.  

Di saat kita lagi ragu-ragu dan merasa terintimidasi oleh tatapan galak komodo betina itu munculah seorang ranger (pemandu yang sudah dilatih khusus untuk menghadapi komodo) dengan tongkat kayu yang ujungnya bercabang dua, mirip galah untuk memetik mangga di atas pohon. Cabang di ujung kayu itu berfungsi untuk menahan leher komodo supaya gak bisa menjilat. Jadi kalau anjing kan kalau menjilat-jilat majikannya itu tandanya sayang, nah, jangan disamakan sama komodo ya. Soalnya kalau sampai kena jilatan komodo itu bisa fatal banget, gak bisa cuman di basuh tanah 7 kali, malahan kalau dalam waktu 4 jam gak dapet pertolongan khusus kita bisa mati kena racun yang ada di lidahnya itu. 

Ranger itu pun menyambut dan mempersilahkan kita bertiga untuk masuk dan melewati komodo yang lagi mejeng di pantai itu. “Jangan goyang-goyangin tas, ya,” kata ranger itu. Kita bertiga pun patuh, berjalan kaku melewati komodo yang hanya melirik jutek, berjingkat-jingkat sambil nunduk-nunduk sopan. Takut menyinggung perasaannya.  

“Itu dia mencium bau sesuatu yang ada di antara kapal-kapal itu,” kata ranger berperawakan mungil itu sembari menunjuk ke jajaran perahu-perahu yang lagi parkir di dermaga, seolah-olah bisa membaca pikiran kita yang lagi bertanya-tanya ngapain ada komodo disitu. Ranger yang ternyata bernama Latif itu menjelaskan lebih lanjut, “komodo kan penciumannya bisa sampai 5 kilometer, ya tergantung angin juga sih, kadang bisa lebih jauh.”

Karena itu lah kalau ada wanita yang lagi datang bulang dilarang banget deket-deket komodo kalo gak mau langsung dicaplok gara-gara kecium bau darah.  

Latif mengantarkan kita bertiga menuju loket administrasi untuk membayar biaya-biaya masuk. Sebelum-sebelumnya kita bertiga survei di Labuan Bajo, kira-kira berapa biaya masuk yang harus kita keluarkan. Hasil survei itu membuat kita galau, konon menurut khalayak ramai mau masuk sana aja musti bayar sampai ratusan ribu per-orang. Ternyata pas kita sampai sana dan melakukan transaksi sendiri, murah bangeeettt… ternyata yang selama kita survei tanya-tanya di Labuan Bajo itu tarif masuk untuk turis asing, sementara untuk turis domestik bedanya jauh. *elus-elus dada, elus-elus dompet*

Dari catatan biaya yang saya buat tiket masuk ke Taman Nasional Komodo itu meliputi karcis masuk pengunjung (Rp 2,500.-/orang), retribusi Pemda Manggarai Barat (Rp 20,000.-/orang), karcis pengambilan foto nonkomersial (Rp 5,000.-/orang), dan jasa pemanduan (Rp 80,000.-/grup). Sementara biaya yang tidak tercantum di sini adalah tips untuk ranger-nya. 

Sebelum mulai tracking pencarian komodo kita bertiga di-briefing mengenai rute yang akan kita jalani. Ada rute gampang, menengah, dan susah. Yang membedakannya adalah jaraknya, dan juga possibility ketemu komodonya, walopun di setiap akhir kalimat penjelasan Latif selalu menambahkan “Ya belum pasti juga sih.”

Contohnya nih. 

“Nanti kita akan jalan ke sini,” menunjuk suatu lokasi di peta yang gambarnya berupa kolam, “Komodo-komodo biasanya suka menunggu mangsa di sini karena di sini tempat minum rusa, babi huta,n dan hewan-hewan lainnya di pulau itu yang jadi buruan komodo. Biasanya sih ada. Ya tapi belum pasti juga sih.” 

Contoh lain. 

“Di sini adalah dapur umum ranger, nah biasanya suka ada komodo disini nunggu jatah makanan. Ya tapi belum pasti juga sih.” 

Pokoknya tidak ada yang pasti kalau menurut Latif. Kita jadi ragu-ragu mau mulai tracking, takutnya udah capek-capek masuk hutan malah gak ketemu komodo. 

Akhirnya setelah saya, Pagit dan Mba Efa berdiskusi, kita memutuskan mengambil rute yang tingkat kesulitannya menengah. Eh bener aja, di tempat kolam air yang ditunjuk Latif, yang katanya suka ada komodo mengintai mangsa, kita gak nemu satu pun komodo. 

Latif malah dengan semangat memperlihatkan sebuah pohon yang katanya adalah pohon bernama Palang Sandi. “Ini daunnya suka di pakai di acara gereja-gereja.” 

Mba Efa yang rajin ke gereja berpikir keras, “oooo…. buat acara yang hari Rabu itu ya.” 

Sementara Pagit diam-diam masih mikir itu jenis tanaman yang biasa digunakan di kegiatan Pramuka soalnya ada kata-kata Palang nya dan ada kata-kata Sandi nya. 

“Ini Palang Sandi,” Latif masih ngotot seolah-olah mikir ini cewek-cewek kota kog bodoh-bodoh amat yak. “Palang Sandi itu biasa dipake di hari Minggu. Sandi kan Minggu.” 

Ternyata saudara-saudara, Latif itu okkots. Saya sih sudah curiga karena dia senantiasa menambahkan huruf G di kata-kata yang berakhiran N. Yang dimaksudnya dengan Palang itu ternyata adalah Palm. Dan Sandi itu adalah Minggu. Jadi tanaman itu tulisannya adalah Palm Sunday, dibaca Palang Sandi. 

Mungkin dalam hati Latif berpikir, ini cewek-cewek kota kenapa bodoh-bodoh amat yak. Jelas-jelas Sandi itu Minggu, kalo Rabu yang namanya Wenesdi. 

Dan kita pun meneruskan perjalanan kita menyusuri hutan-hutan. Kata Latif sebenarnya di kepulauan komodo ada 3 pulau yang dihuni oleh Komodo, yang sering dikunjungi wisatawan adalah Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang letaknya lebih dekat dengan labuan bajo. Sementara pulau satunya lagi itu jauh banget. Kita gak sempat ke Pulau Rinca, tapi kata Latif, komodo di pulau Rinca lebih kecil-kecil tapi lebih agresif. Kebanyakan insiden penyerangan komodo ke manusia terjadi di Pulau Rinca. Kondisi alamnya juga beda banget sama Pulau Komodo, kalau di pulau komodo adem, rindang, banyak pohon-pohonnya, sementara di Pulau Rinca itu adanya savana dan panas. 

Sampai di atas bukit, kita bisa memandang Pulau Komodo dari atas. Kemudian tiba-tiba Latif menyuruh kita jangan berisik. Ternyata ada seekor komodo sedang leyeh-leyeh di antara rumput. Kepalanya aja yang keliatan lagi melongok-longok ke kiri dan kanan. Lagi-lagi kita terintimidasi oleh kegagahannya.

Kata Latif, walopun komodo itu sangat gesit dalam mengejar mangsanya tapi sebenarnya trik berburunya adalah menyamar jadi batu. Jadi komodo akan diam gak bergerak sama sekali sehingga mangsanya gak sadar kalau ada bahaya yang sedang mengincar nyawanya, mangsa pun lengah dan hap! komodo pun akan menerkamnya. 

Konon populasi komodo di pulau itu ada ratusan, tapi karena mereka pemalu dan mungkin pas kita lewat lagi pada menyamar jadi batu makanya kita tidak melihat mereka. Tapi menurut Latif kita sudah sangat beruntung bisa lihat komodo yang diatas bukit itu.  

Di belakang dapur umum ranger, sesuai kata Latif, kita ketemu dua komodo lagi sedang tumpuk-tumpukan. Latif pun segera menghampiri sambil teriak-teriak, ” woooi homooo.” Soalnya menurut latif itu dua-duanya komodo jantan lagi peluk-pelukan, tapi ya gak gitu juga kali ya sampe musti teriak-teriak homo di muka komodo itu. Untung kayaknya mood mereka lagi bagus, jd cuman ngelirik judes males-malesan aja ke si Latif, coba kalo moodnya lagi jelek, pasti tuh langsung di cabik-cabik si Latif.

Yang pertama menemukan hewan-hewan Komodo Dragon di Pulau Komodo ini adalah pelaut-pelaut Belanda waktu jaman kolonial dulu. Tapi sebenarnya penduduk lokal punya satu legenda tentang reptil raksasa ini. Jaman dahulu kala ada seorang putri yang melahirkan anak kembar, yang satu adalah manusia dan satu lagi adalah komodo. Karena rupanya yang menyeramkan maka komodo di kucilkan.  

Hingga suatu hari kembaran manusianya komodo sedang berburu dan nyaris membunuh komodo, munculah sang putri ibu mereka memberi tahu bahwa sebenarnya mereka bersaudara, jadi gak boleh saling menyakiti. Nah karena itulah di Pulau Komodo ini ada penduduk manusia yang hidup berdampingan dengan aman bersama Komodo tanpa saling menyakiti satu sama lain. 

Tapi..tapi.. kalau manusia dan komodo tidak boleh saling menyakiti satu sama lain, trus kenapa hati ku masih sering disakiti sama buaya darat, sih? Kan sama-sama reptil *hiks.

Demikianlah cuplikan perjalanan saya, Mila dan Efa di Pulau Komodo.

9 thoughts on “Pulau Komodo: 8 jam melaut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s