Labuan Bajo: the arrival.

Mila sent a peace for the earth from Komodo Labuan Bajo Airport.

Satu jam setengah perjalanan udara yang dibutuhkan untuk sampai ke Labuan Bajo dari Bali. Langit cerah saja pada siang itu. Begitu pintu pesawat yang terletak di bagian belakang dibuka, kami berhamburan dan langsung bergantian berpose di depan penanda Bandar Udara Komodo Labuan Bajo. Norak? Iya. Jauh dan mahal soalnya untuk bisa sampai sini, cyin.

Memasuki ruang kedatangan, kami langsung diserbu penyedia jasa antarjemput bandara yang terbagi atas pengemudi ojek dan taksi-taksian. Ibarat kata nyawa baru kumpul dan melihat ruangan kedatangan belum terlalu jelas, ya sudah, deh, langsung njeplak saja kalau kami bertiga sudah dijemput oleh pihak hotel. Eh, masih ada juga, lho, yang mencoba peruntungannya dengan bertanya, “Dijemput oleh hotel apa, Kak?”. Kasih tahu, nggak, ya?

Dengan diiringi tatapan bak elang mencari mangsa kami meninggalkan ruang kedatangan dengan penuh percaya diri. Sampai di depan kios cenderamata yang dijaga oleh seorang ibu, luluh-lantaklah kepedean itu. Sambil berbisik lirih, dengan maksud agar tidak menarik perhatian beberapa penyedia jasa yang terlihat masih mengikuti pergerakan kami, saya menanyakan berapa ongkos untuk sampai ke titik keramaian di Labuan Bajo yakni Jl. Soekarno-Hatta. Eh, yang ditanya malah menjawab dengan lantang. Ketahuan, deh, bohongnya.

Jawaban lantang tersebut tentu saja langsung menarik minat salah satu penyedia jasa antarjemput yang saya perhatikan sejak awal memang paling dekat memepet kami bertiga. Diketahui kemudian driver Suzuki APV ini bernama Wawan. Awalnya dia meminta bayaran 50 ribu rupiah, tapi saya tawar dengan berpatokan pada ongkos ojek sebagaimana yang disebutkan dalam catper yang saya baca, Rp 10,000.-/ojek. Akhirnya kami bersepakat pada harga Rp 30,000.-

Jalanan dari bandara menuju lokasi Hotel Gardenia terbilang mulus. Kami tiba kurang dari setengah jam dengan sebelumnya mengambil foto ke arah pelabuhan dari atas Bukit Waringin.

Pelabuhan Labuan Bajo dilihat dari Bukit Waringin.

Di Hotel Gardenia hanya tersedia satu bungalow yang bisa menampung kami bertiga. Opsi ini tidak saya ambil karena letak kamarnya sangat jauh dari bungalow-bungalow lain dan lebih banyak anak tangga yang harus didaki. Wawan yang masih menunggu dengan kendaraannya menyarankan kami mencoba melihat penginapan di Komodo Indah Hotel. Melihat tidak ada masalah dengan kamar mandinya, kami memutuskan untuk menginap di tempat tersebut untuk semalam dengan membayar Rp 300,000.- untuk kamar berpendingin udara.

Setelah drop benda-benda di kamar dan membayar jasanya Wawan, berikut adalah hal-hal yang dilakukan pada sore pertama di Labuan Bajo:

Mencari paket tur ke Pulau Komodo. Banyak operator tur yang beroperasi di sepanjang Jl. Soekarno-Hatta ini. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya sambil membandingkan harga paket yang mereka tawarkan. Rata-rata mereka mengenakan biaya Rp 1,500,000.- untuk menyewa 1 buah kapal ke Pulau Komodo. Sementara untuk tur ke Pulau Rinca biayanya lebih murah. Semakin banyak orang yang diangkut oleh kapal tersebut, semakin sedikit biaya yang ditanggung per orangnya. Tidak jarang ditemui plang berbunyi: We need more participants di depan kantor-kantor penyedia jasa trip tersebut.

Setelah membandingkan tiga operator tur, kami memutuskan untuk memakai Komodo Eko Wisata yang notabene tempat Wawan bekerja😀 Tapi keputusan kami bukan karena promosinya Wawan, tetapi murni karena hasil membandingkan tiga hal berikut ini: harga sewa kapal, ketersediaan makan siang dan harga sewa alat snorkel. Pada penyedia tur yang satu mereka tidak menyediakan makan siang, sementara yang satunya lagi harga sewa kapal lebih mahal dari yang diperkirakan. Coret!

Nongkrong di depan swalayan yang ada ATM BNI-nya, sambil melihat orang-orang setempat berlalu-lalang, terutama yang berlalu-lalang dengan kendaraan roda empat. Ampun, deh, suara musiknya. Entah lagu apa yang penting keras suaranya.

Mencari penginapan untuk malam kedua dan malam terakhir. Selain menjamurnya biro perjalanan, penginapan kelas melati juga dengan mudah ditemukan di sepanjang Jl. Soekarno-Hatta ini. Sementara untuk kelas hotel dengan bangunan bertingkat-tingkat lokasinya agak jauh dari lokasi keramaian, tepatnya menuju arah Pantai Pede. Penginapan pertama yang kami datangi setelah selesai nongkrong di Sevel-nya Labuan Bajo adalah Bajo Beach Hotel. Melihat tata-ruangnya yang terasa nyaman, hmmm… tampaknya kami tidak perlu lagi mencari-cari penginapan lain. Semoga saja masih ada kamar tersisa.

Setelah mendapatkan kepastian mengenai kamar kosong lalu mengecek keadaan kamar mandi, kami sepakat menghabiskan dua malam terakhir di penginapan tersebut. Mengenai tarif, tampaknya harga kamar juga seragam. Rp 175,000.- per kamar dengan kipas angin. Tempat tidur tambahan dihargai Rp 25,000.-. Sementara untuk kamar ber-AC tarifnya Rp 200,000.-

Menyeruput es krim yang tokonya bisa ditemui di depan Hotel Gardenia. Setelah diperhatikan, selain gerai gelato, di sepotong jalan yang berhadapan dengan pelabuhan ini banyak ditemui restoran a la Italia.

Melihat matahari terbenam di dermaga kecil dekat Cafe Philemon. Memang bukan lokasi terbaik untuk melihat sunset, tapi tidak buruk juga. Kami juga cukup terhibur dengan memperhatikan kesibukan para turis yang baru saja menyelesaikan kegiatan menyelamnya. Dan diakhiri dengan ngobrol santai dengan seorang penjual kain tenun khas NTT bernama Pak Basilus.

Makan ikan bakar di dekat pasar. Bagi saya ini bagian yang paling menyenangkan pada hari itu. Bagaimana tidak, dengan uang  Rp 50,000.- kami bisa menyantap ikan kerapu dan kakap merah ditambah nasi dan air putih. Saya sedikit merasa bersalah dalam menyantap kedua jenis ikan yang dibatasi pengkonsumsiannya ini. Maaf ya kerapu, kakap merah, demi memuaskan lidah ini kalian harus berkorban.

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki karena sudah tidak ada angkot yang beroperasi. Kami bergerak ke tempat tidur masing-masing saat waktu masih menunjukkan pukul 10 kurang atau kurang dari jam sembilan malam waktu Jakarta. Tidak lupa mengoleskan lotion antinyamuk dan mengatur alarm jam pada pukul 4 pagi.

<<Catatan>>

Lebih jauh mengenai Sustainable Seafood di Indonesia: http://awsassets.wwf.or.id/downloads/seafood_guide_electronic_new.pdf

27 thoughts on “Labuan Bajo: the arrival.

    1. Sepotong jalan itu memang ramai sekali, Non. Mau clubbing juga ternyata sudah ada tempatnya. Makanan mancanegara juga dengan mudah ditemukan. Hanya kurang ATM saja tampaknya🙂

      Semoga pemerintah setempat bisa menata lagi pusat keramaian tersebut, terutama membangun trotoar yang lebar-lebar untuk pejalan kaki. Tambah asyik, deh, jalan-jalan dari pasar hingga Pantai Pede.

    1. Hae, Cha😀 Tak lama lagi foto tersebut akan berganti lagi tampaknya.

      Posting-an ini adalah cerita di Labuan Bajo pada hari pertama. Memang tidak banyak yang dilakukan🙂

      Dirimu dan suami pasti jatuh cinta sama Flores. Pantainya indah-indah, terumbu karangnya cantik-cantik dan orangnya pun ramah-ramah.

      1. Miku sih klo pantai gak terlalu demen, tp p. komodo kaya’nya bagus deh yah?? Nungguin postingan selanjutnya deh. Foto2nya ya git ?!
        Fotonya keren kok, napa mw diganti??

  1. Aku ngak tahan kalo baca ttg labuan bajo, sampai detik ini aku blm kesana. Nunggu maskapai promo kok yaa ngak ada mulu ihik3x

    Tapi ini jadi refrensi kalo gw kesana #joget2dangdut

    1. Betul, teman, ketersediaan makan siang dalam biaya sewa perahu adalah hal yang krusial. Bayangkan, sudah lelah treking di Pulau Komodo lalu berlanjut dengan melakukan snorkeling, begitu makan siang tiba yang disantap adalah nasi bungkus dari hari sebelumnya atau cup noodle, blah! Nggak nendang, Kakak🙂

  2. setau gw kalo dari peternakannya gpp kok makan ikannya. mungkin biar less guilty, ditanya dulu sama penjualnya, hehehe.

    1. Mila bilang, “Tuh, Git, di sana itu tambak ikannya.” Sambil menunjuk keramba-keramba tidak jauh dari pelabuhan. Lumayan mengurangi rasa bersalah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s