Labuan Bajo: pre-departure.

My trip mate: Efa mencari majalah impor and Mila yang terus-menerus memonitor orderan barang.

Entah mengapa menuju perjalanan bertemu Si Komo ini rasanya woles banget. Apakah karena cuaca Jakarta dan sekitarnya yang mendung-mendung membuat ingin selalu berada di bawah selimut?

Sesekalinya saya gedubrakan itu sewaktu cari tiket Denpasar–Labuan Bajo pp. Saya gangguin sepupu saya yang baru membuka usaha jual-beli tiket pesawat dengan harapan dapat potongan harga. Tidak berhasil, sih :p

Kemudian membujuk-bujuk @mila_said agar dia mau meninggalkan sejenak netbook dan MS Outlook-nya demi untuk mencek harga tiket tersebut di kantor-kantor travel yang bertebaran di Tebet. Ini juga tidak menghasilkan. Pada akhirnya kami membeli tiket secara online di merpati.co.id🙂

Pun ketika mencari penginapan di Labuan Bajo via blog pejalan Indonesia. Setelah menemukan satu dua hotel yang dijadikan referensi, lalu melakukan hubungan jarak-jauh untuk cek rentang harga, and that’s it! Tidak ada kamar yang dipesan. Hehehe… Apa-apa yang akan dilakukan selama di Labuan Bajo juga tidak direncanakan dengan matang, cukup berpegang pada tujuan utama saja, melihat Varanus komodoensis!

Sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu, Senin, 6 Mei 2013. Seperti biasa pesawat menuju Bali itu baik penerbangan pagi, siang, sore, maupun malam suasananya menggembirakan. Mungkin karena penumpangnya berstatus pelancong semua, ya? Tak ada terlihat wajah yang gundah-gulana, yang ditemukan adalah wajah-wajah sumringah bak pasangan pengantin baru.

Dari segi berpakaian saja, umumnya sepakat menggunakan kaos oblong, tank top warna-warni, celana pendek bahkan sampai celana super pendek. Tidak lupa kaca mata hitam disematkan pada kaos tersebut walau matahari sebenarnya sudah lama bergulir ke barat. Dan topi-topi anyaman terlihat menghiasi satu dua kepala.

Saya, Mila dan Efa tiba di Ngurah Rai yang sedang mengalami renovasi besar-besaran satu jam lewat dari jadwal.  Sementara Efa menunggu kedatangan kopernya, saya dan Mila melipir ke luar pintu kedatangan melihat-lihat situasi terkini dari terminal domestiknya Ngurah Rai alias melihat-lihat pojokan yang berpotensi dijadikan tempat untuk mengistirahatkan badan hingga keesokan harinya.

Sampai Efa bergabung kembali dengan saya dan Mila, saya tidak bisa memutuskan akan menginap di bandara atau ikut Efa ke Green Villas and Spa. Saya tatap Mila untuk mendapatkan jawaban namun jawaban itu tidak saya temukan jua (mengapa jadi serupa flash fiction begini???)

Ketika penjemput dari hotel datang dengan seragamnya yang hijau stabilo, saya pun akhirnya tuturut siga munding di belakangnya Efa lalu menempatkan bokong saya di atas kursi Suzuki APV berwarna silver sambil tidak lupa mengatur suhu pendingin udara dan siap rebahan selama perjalanan ke penginapan. Ketika Mas Made memberitahu bahwa lokasi tempatnya bekerja itu hanya di seberang pagar pembatas bandara, saya segera menegakkan sandaran. Dekat sekali hotelnya!

Sudah hampir tengah malam di Tuban, Bali. Badan sudah letih tapi perut keroncongan. Di hotel tersebut kami disambut dengan senyuman lebar dan segelas orange punch, rasanya seperti menerima suntikan semangat. Apalagi ternyata kami diperbolehkan menginap bertiga dalam satu kamar dengan hanya menambah biaya sarapan Rp 25,000.-

Setelah memindahkan gembolan ke dalam kamar, kami berencana untuk mengisi perut di KFC yang berdasarkan plang di depan hotel menjanjikan perjalanan sejauh 500 m ke arah utara. Baru saja melangkah dua meter, kami melihat ada yang berjualan nasi dan ayam goreng. Parkirlah kami di warung tersebut.

Dalam temaram cahaya lampu satu-satunya yang menerangi warung mungil itu kami dengan khusyuk menghadapi pesanan makanan masing-masing. Efa dengan setengah nasi goreng dan sayur plus-plusnya sementara untuk saya dan Mila adalah setengah porsi nasi putih dan satu dada ayam. Kepada Ibu-Pemilik-Warung-Nasi-dan-Ayam-Goreng-di-depan-Green-Villas-and-Spa, terima kasih atas makan malamnya yang enak sekali. Kenyangnya. Oh, saya bisa, nih, memiliki tidur yang nyenyak dan dipenuhi mimpi yang manis… sampaiii suara banyak langkah kaki dan teriak-teriakan membangunkan saya pada pukul 5 pagi keesokan harinya. Oh well, setidaknya saya tidak telat untuk menunaikan solat Subuh. Tapiii… semakin terang warna langit di luar jendela kamar, semakin gaduh pula suara-suara tersebut. Shit! We lose our proper sleep. Padahal kami masih punya waktu 5 jam sebelum kembali ke bandara. Rugi rasanya menyia-nyiakan kesempatan tidur beralaskan kasur empuk dalam ruangan berpendingin udara.

Saya berusaha untuk melanjutkan tidur a la ayam. Begitu pun dengan Efa. Kalau Mila, sih, tiada masalah bagi dia. Setelah membuka mata, pantang bagi Mila untuk kembali ke kasur.

Pada pukul 7 usai sudah tidur-tidur ayam saya. Kami putuskan untuk melihat oknum-oknum yang membuat segala keributan itu. Kami bertemu mereka di ruang makan, serombongan besar anak-anak SMP (atau SMA) yang berasal dari Jawa Tengah (atau Jawa Timur). Tidak ada yang kami lakukan selain mengamati mereka makan dari seberang restoran yang dipisahkan oleh kolam renang.

Setelah anak-anak itu beranjak, giliran kami menguasai restoran. Hanya kami bertiga. Entah ke mana penghuni hotel lainnya.

Setelah menenggak 240 ml espresso kopi bali yang ditambahi kreamer dan sarapan a la American breakfast, kami bertiga segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap meninggalkan Bali.

Kami bertiga kembali ke bandara diantar driver dari hotel. Sebelum check-in, mampir dulu di minimarket karena Efa perlu membeli Antimo.

Keluar dari minimarket-yang-tidak-boleh-disebut-namanya itu, Efa terlihat misuh-misuh. Apakah yang terjadi? Efa berkali-kali disuruh membeli Laxing oleh pramuniaganya, padahal yang dicari itu Antimo. Antimo, Mbak, obat anti mabuk darat, laut dan udara. Minumlah sebelum berpergian…

Nasi janggo sebagai makan siang. Di terminal domestik bandara Ngurah Rai dihargai Rp 10,000.- per bungkusnya.

Jam satu siang kami bertiga meninggalkan Pulau Bali menuju Labuan Bajo. Ini kali pertama saya menaiki pesawat berbaling-baling. Ada ketegangan tersendiri. Pesawat ini terbang pada ketinggian 16.500 sd. 17.000 kaki. Jadi dari atas pemandangan pulau-pulau di bawah sana dapat terlihat dengan lumayan jelas. Ada yang gersang kecoklatan ada juga yang rimbun. Kesemuanya dikelilingi perairan berwarna biru yang siap untuk diselami.

Sekian cerita pre-departure to Labuan Bajo-nya.

23 thoughts on “Labuan Bajo: pre-departure.

  1. Mbak Dian, teman-temanku pengin ke Komodo, namun karena sudah tak muda usia, agak serem juga…apalagi mesti naik pesawat kecil ya…
    Tak sabar nunggu lanjutan ceritanya.

    1. Pesawat Merpati yang saya naiki tidak terlalu kecil, kok, Bu.

      Dari Labuan Bajo–Pulau Komodo–Labuan Bajo membutuhkan waktu berkapal selama 8 jam. Sementara Labuan Bajo–Pulau Rinca–Labuan Bajo hanya menghabiskan waktu 3 jam saja. Mungkin Ibu bisa memilih melihat komodo di Pulau Rinca. Asal mengikuti peraturan, insyaAllah aman, Bu. Kan, saat melakukan treking kita ditemani oleh jagawana yang sudah berpengalaman.

      Adapun waktu berkunjung yang baik adalah pada bulan Februari sampai dengan Juni. Karena pada bulan-bulan tersebut ombak sudah relatif tenang dan matting season para komodo sudah berlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s