we’ve survived this trip: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kedelapan.

Scrapbook ini dibuat jauh hari sebelum kepergian saya ke Vietnam dan Kamboja dengan tujuan untuk membangun mood. Halah!

Hari terakhir di HCMC. Pesawat AirAsia yang akan membawa kami kembali ke Jakarta baru lepas landas sekitar jam 9 malam. Masih banyak waktu untuk melakukan banyak hal di HCMC.

Karena semalam Old Saigon Walking Tour-nya sudah sebagian dilaksanakan. Maka pagi ini sampai lewat jam makan siang, kami akan meyusuri sisanya. Perihal Old Saigon Walking Tour ini saya dapatkan dalam buku Lonely Planet: Vietnam miliknya @susiwid, teman sekantor saya yang lebih dulu bertandang. Pastikan membawa air minum dan mengoleskan sunblock sebelum meninggalkan penginapan.

Jika tertarik melakukan kegiatan sight-seeing di HCMC secara tersturktur alias menggunakan guide ada, nih,  suatu organisasi nirlaba yang dikomandoi sekumpulan mahasiswa Vietnam, Saigon Hotpot namanya. Karena saya tidak jadi menggunakan jasa mereka, jadi tidak ada yang bisa saya ceritakan.

Sebelum berangkat menjelajah kami sudah check-out dari Nga Hoang Backpacker Club Hostel. Sang Madam mengizinkan kami menitipkan tas di lobi.

Walau sudah sarapan tetapi ketika melihat penjual kembang tahu, kami tidak keberatan untuk mengisi perut kami lagi. Karena selain wafel garing, sepertinya kembang tahu ini jajanan kedua yang aman dikonsumsi.

Pembeli sebelumnya membantu kami melakukan transaksi dengan Si Ibu Penjual Kembang Tahu tersebut. Terima kasih, Kakak. Harga kembang tahu ini VND 6.000 saja per gelasnya.

This slideshow requires JavaScript.

Penjelajahan dimulai di HCMC Fine Arts Museum yang berada di Jl. Pho Duc Chinh #97A, tidak jauh dari HCMC Bus Central. Harga tiket masuknya (HTM) VND 10.000/orang dan diperbolehkan memotret.

Sewaaktu kami datang museumnya belum beroperasi. Kami menggunakan kesempatan menunggu itu untuk memamah kembang tahu. Enakkk!

HCMC Fine Arts Museum ini meliputi dua buah gedung. Gedung pertama memajang karya seni yang dibagi ke dalam 3 lantai. Pengunjung disarankan untuk memulai melihat-lihat dari lantai 3 kemudian menuju lantai satu sesuai dengan periode tatkala karya seni tersebut diproduksi.

Tidak terlalu capai, sih, untuk mencapai lantai 3 tersebut. Tetapi andaikan saja lift antik yang ada di gedung tersebut masih difungsikan tentu akan menjadi pengalaman yang menakjubkan bagi kami, menaiki lift pertama di HCMC!

Di lantai 3 ini pihak pengelola mengelompokkan karya seni yang terbuat dari batu, keramik, kayu, dan perunggu ke dalam kategori ancient contemporary arts. Yang umum dari periode ini adalah bentuk-bentuk karya seni yang berhubungan dengan acara ritual keagamaan dan alat-alat rumah tangga.

Turun ke lantai dua. Lantai ini merupakan seksi yang memamerkan karya seni semasa periode revolusi. Umumnya diwakili oleh lukisan-lukisan propaganda. Selain itu ditampilkan pula karya seni dari artis-artis yang pernah mengenyam pendidikan di Indochina Fine Arts College/Gia Dinh Fine Art School dan karya seni moderen sebelum tahun 1975.

Di lantai dasar adalah bagian karya seni moderen setelah tahun 1975 untuk unjuk gigi.

Saya sempat mencari-cari Isti, dikhawatirkan ia terlalu serius menekuni satu-dua karya seni, maklum anak seni, sementara waktu yang tersedia tidak terlalu banyak. Eh, yang ada malah saya yang lama berputar-putar dan mampir dulu ke gedung yang satunya lagi😀

Gedung itu dikhususkan untuk memamerkan karya seni yang bisa dibeli selain menyimpan karya seni koleksi pribadi pemilik gedung tersebut.

Oh ya, gedung ini tidak berpendingin udara, tapi di tiap-tiap ruangan disediakan kipas angin. Jika sudah selesai mengamati satu ruangan, kipas anginnya jangan lupa dimatikan. Hemat energi.

This slideshow requires JavaScript.

Lonely Planet menyarankan untuk melihat-lihat tepi sungai Saigon dan kawasan bisnis HCMC yang ditandai dengan gedung Bitexco yang tinggi menjulang. Tetapi karena waktu yang terbatas maka selepas dari HCMC Fine Arts Museum kami memutuskan untuk langsung ke Ho Chi Minh City Museum.

Maka kami menyusuri Jl. Le Cong Kieu yang dipenuhi penjual barang-barang antik. Lalu memasuki Jl. Nam Ky Khoi. Dari jalan tersebut kami belok kanan ke Jl. Lo Ham Nghi, lalu belok kiri di Jl. Pasteur. Betul, nama jalan tersebut merujuk pada orang yang sama yang namanya ditasbihkan sebagai nama jalan terkenal di Kota Bandung.

Di Jl. Pasteur ini terlihat beberapa butik yang menggoda untuk dimasuki. Salah satunya Ipa-Nima, gerai yang menjual tas-tas cantik. Pramuniaganya juga sama cantiknya. Tapi sepertinya mereka mengernyitkan dahi tatkala kami masuk. Sudah bau matahari, eh, bawa-bawa kantong kresek pula😀

Keluar dari Ipa-Nima dengan tangan kosong kami memasuki sebuah toko yang menjual benda-benda fesyen serupa toko XSML. Pokoknya garis rancangnya serba minimalis. Lagi-lagi kami keluar tanpa membeli apapun, hanya numpang ngadem.

Tidak jauh dari toko terakhir itu kami berniat membeli kaos ketika menemukan sebuah gerai tanpa AC yang letaknya terhimpit di antara toko-toko besar. Kami melihat desain sablonannya tidak pasaran, siapa tahu harga sesuai kantong. Eh, belum lagi mendekat kami sudah diusir. Belum buka kata penjualnya dengan tidak sabaran.

This slideshow requires JavaScript.

Tak lama kemudian kami melihat bangunan bercat abu-abu dengan halaman luas yang berpagar. Di halaman tersebut berserakan kendaraan militer yang sudah uzur umurnya. Yup, tidak salah lagi itulah Ho Chi Minh City Museum.

Di sini kami membayar HTM sebesar VND 15.000/orang dan diperbolehkan mengambil gambar sebanyak yang kami suka.

Di lantai dasar terdapat 6 ruangan sementara di lantai dua terdapat 4 ruangan yang bisa dikunjungi. Museum ini menampilkan dan mengoleksi hal-hal yang berhubungan dengan keadaan alam, arkeologi, sejarah awal dan perkembangan HCMC, perdagangan dan pelayanan, barang-barang kerajinan dan industri, kebudayaan setempat, hingga masa revolusi.

Dari museum tersebut kami menuju Saigon Citadel atau The Notre Dame Cathedral. Banyak semangat kami berikan kepada Mbak Umah yang sudah tidak kuat berjalan.

Dari Jl. Ly Tu Trong kami berbelok ke kiri di Jl. Dong Khoi. Dari jauh dinding katedral berwarna coklat bata sudah terlihat. Tapi kami tidak langsung mendekatinya. Kami melipir ke sebuah toko buku yang ciamik tampilan visualnya. Sayang lupa namanya. Di toko ini saya dan Lili membeli magnet kulkas seharga VND 50.000 yang ternyata dijual di HCMC Central Post Office kurang dari itu. Saya pikir cenderamata tersebut produk limited edition. Hahaha…

Di seputar katedral dan HCMC Central Post Office inilah saya baru melihat banyaknya turis.

Puas jepret-jepret katedral tersebut kami bergerak ke kantor pos, yang bersama HCMC Museum sering dijadikan lokasi foto pra-nikah.

Kantor pos ini bisa dikatakan cantik luar-dalam. Bangunan yang dirancang oleh Gustav Eiffel (iya, orang yang sama yang merancang Menara Eiffel dan Patung Liberty) ini dihiasi jam dinding besar di pintu masuknya. Cat temboknya kala itu berwarna dusty pink. Di bagian dalamnya terdapat dua buah lukisan peta. Di sisi kiri adalah peta Vietnam bagian selatan dan Kamboja yang berjudul Telegraphic Lines of Southern Vietnam and Cambodia 1892. Di sisi kanan peta Saigon yang berjudul Saigon and Its Environment 1892.

Sementara sejajar dengan pintu masuk terpampang gambar Ho Chi Minh yang besar sekali.

Setelah mengirimkan beberapa lembar kartu pos ke tanah air, kami meninggalkan gedung yang cantik dengan plafon melengkungnya tepat ketika bunyi sirene tanda jam istirahat berbunyi.

Para pekerja kantoran pun mulai terlihat meninggalkan gedung tempat mereka bekerja dan merapat di pedagang kaki lima sambil duduk di dingklik warna-warni.

Karena perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk tidak mengunjungi Reunification Palace dan War Remnants Museum. Maaf ya, Dita.

Kami tidak berputus-asa untuk mencari penjual pho halal di depan Masjid Rahim. Jadi ke sanalah kami menuju untuk makan siang.

Sesampainya di Masjid Rahim lagi-lagi tidak ditemukan penjual pho yang dimaksud. Yang ada adalah nasi rames yang didagangkan oleh seorang ibu mengenakan ciput. Di lemari kaca tertempel bacaan “halal”. Walau sempat mau mencoba makan di tempat lain, akhirnya saya, Mbak Umah, Ariya, Lili, Asty, dan Dita duduk manis di bawah payung besar yang menaungi lokasi jualannya. Sementara Isti yang tidak makan nasi memilih makan pho di resto halal dekat Ben Thanh Market.

Belum sah berkunjung ke HCMC jika tidak mencoba menyeberangi (terpaksa) jalan di kawasan paling padat lalu-lalang kendaraannya. Salah satunya, menyeberang di bundaran yang terdapat patung Tran Nguyen Han di depan Ben Thanh Market.

Walau sebelum-sebelumnya sudah terbiasa menyeberang, tetap deg-deg-an juga, lho. Karena jalanan kali ini lebih lebar. Lebih banyak pula motor dan mobilnya. Salah satu tips yang disarankan adalah menyeberang dengan orang lokal. Kebetulan saat itu ada ibu yang akan menyeberang sambil mendorong gerobak. Okeh, itu target lokal kami!

Seiring dengan bergeraknya Si Ibu dengan gerobaknya kami pun bergerak. Eh, cepat sekali Si Ibu itu bergerak! Wah, kami tertinggal, nih. Lariii…

Pyuhhh… selamat juga kami tiba di depan Ben Thanh Market.

Waktunya belanjaaa…

Dari hasil berpusing-pusing di Ben Thanh market, saya mendapatkan kantong make-up, kopi dipper dan susu kondensasi buatan Vietnam, serta satu kaos berlambang bendera Vietnam. Juga membeli kopi dan tas tangan untuk Tante Debz.

Psttt… di luar Ben Thanh Market ternyata harga kaosnya lebih murah. Saya beli lagi kaos merah bergambar bintang kuning sebanyak 3 potong.

This slideshow requires JavaScript.

Kami kembali ke Nga Hoang Hostel dengan barang belanjaan masing-masing. Langsung melakukan kegiatan re-packing sambil diawasi oleh Sang Madam dan teman-temannya.

Tadinya kami mau mencoba naik bus umum ke bandara. Tapi dengan adanya tambahan beban, pilihan tersebut bukanlah pilihan terbaik. Kebetulan ada taksi Vinasun yang baru saja disewa berhenti tidak jauh dari tempat kami berdiri. Supir taksinya memperbolehkan kami bertujuh untuk naik semua. Kami membayar USD 7 dan VND 40.000 (tips dan biaya parkir bandara).

Vinasun ini adalah armada taksi terpercaya selain Mai Linh. Catat, ya!

Begitu masuk bandara, kami mau cepat-cepat check-in, eh konternya masih tutup. Kami dipersilahkan kembali satu jam sebelum boarding.

Dari pada bengong sampai kelaparan lebih baik menyegarkan tubuh dengan tisu basah agar sedikit nyaman selama perjalanan pulang nanti.

Kesimpulan yang dapat ditarik setelah mengunjungi Vietnam (HCMC, Mui Ne, My Tho) adalah kotanya yang relatif bersih (bukan udaranya, tapi) dan tertib.

Eh, ketika pengumuman konter check-in untuk penerbangan AA tujuan Malaysia sudah dibuka, ternyata konter untuk tujuan Indonesia juga sudah mulai diantri penumpang.

Ada insiden menyebalkan dengan sesama orang Indonesia. Jadi ketika bagian rombongan kami berhadapan dengan petugas check-in, rupanya petugas tersebut ingin tahu barang-barang yang masuk kabin.

Saya dan Dita yang membawa ransel-ransel  yang sebelumnya sudah ditimbang dan beratnya kurang dari 7 kg berdiri agak jauh dari teman-teman yang mengurus check-in, jadi Lili harus memanggil-manggil kami. Nah, ini menyulut seorang ibu untuk nyolot. Langsung sama Lili di-skak-mat tuh si ibu. Sabar napa, Bu! Dan proses check-in kami pun tidak berlangsung lama, karena bawaan kami tidak perlu pakai acara bongkar-bongkar dibandingkan penumpang-penumpang sebelumnya.

Okeh, Bu, selamat mengurus rombongannya dan koper segede-gede gaban itu!

Oleh-oleh buat Si Mamah dan Si Mpit belum berhasil dibeli. Begitu melihat toko souvenir menuju ruang tunggu saya melipir. Walau bentuk dan warnanya tidak istimewa, mudah-mudahan Si Mamah dan Si Mpit suka dengan tas pesta dan dompet kain yang saya beli.

Karena masih memiliki uang saku yang cukup untuk membeli in-flight meal. Kami berniat untuk mencoba Nasi Minyak Palembang karya Farah Quin. Keinginan tinggallah keinginan, karena untuk mendapatkan Pop Mie saja hanya Mbak Umah dan Isti yang beruntung.

A mental note, jika menggunakan AA lagi dan waktu tempuhnya lebih dari dua jam saya akan memesan makan secara online. Selain lebih murah, ketersediaannya pun sudah terjamin.

Kami sampai di Terminal 3 sekitar jam 11 malam. Kendaraan keluar bandara tinggal mobil sewa dan taksi “gurem”. Jadilah kami memutuskan menginap di bandara menemani Mbak Umah dan Isti yang esok pagi terbang ke Yogyakarta.

Kami yang tidak sempat makan di pesawat, membeli cup noodle dan bubur ayam instan di Circle K Terminal 3 yang buka 24 jam. Melihat arena bermain anak-anak ada karpetnya, kami memutuskan menggelar makan di situ. Seorang petugas bandara lewatlah. Melihat kami yang sedang asyik makan atau melihat kami yang seperti rombongan TKW, maka menegurlah ia “Kalau mau tidur jangan di sin, ya. Ke mushola.”

Oh, jadi kami bisa dan diperbolehkan tidur di mushola, tho? Baru tahu, hehehe…

Setelah makan kami bergerak ke mushola untuk solat Magrib dan Isya kemudian dilanjutkan tidur-tidur ayam hingga waku Subuh berkumandang.

Rombongan Ariya Tour bubar jalan setelah menunaikan solat. Mbak Umah dan Isti masuk kembali ke terminal keberangkatan. Asty dan Dita tetap menunggu travel di Terminal 3. Saya, Lili dan Ariya numpak shuttle ke Terminal 2 untuk mencegat Bus Damri dengan tujuan masing-masing.

Baru saya ketahui, ternyata menunggu Bus Damri di Terminal 2 sekarang sudah ada terminal tersendiri. Letaknya paling ujung dari Terminal 2.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

2 thoughts on “we’ve survived this trip: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kedelapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s