mengejar mas-mas: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian ketujuh.

Sehari sebelum meninggalkan Vietnam kami melakukan tur ke Mekong Delta.

Mekong Delta adalah sebutan untuk kawasan yang terletak di Vietnam bagian selatan. Lokasi di mana sungai Mekong yang berhulu di Tibetan Plateu bermuara ke Laut Cina Selatan. Luas wilayah ini 39.000 km2 dan terbagi ke dalam 9 provinsi/wilayah administrasi.

Melihat luasnya wilayah dan banyaknya ragam paket tur yang ditawarkan, kami menjatuhkan pilihan dengan memilih paket tur seharga USD 7/orang dari Tuan Travel (TT). Paket dari TT akan mengajak wisatawan ke daerah bernama My Tho.

Karena tempat kami menginap berdekatan dengan kantornya TT ini, maka kami meninggalkan hostel agak dipepet-pepetin waktunya. Maksudnya agar kami bisa sarapan dengan tenang.

Oh ya, sarapan yang disiapkan Sang Madam pengelola Nga Hoang Backpacker Club Hostel ini sudah termasuk harga kamar. Murah, kan? Apa, sih, menu sarapannya? Anak buah Sang Madam mempersiapkan roti perancis, telur orak-arik atau ceplok, kopi hitam, susu, dan teh.

This slideshow requires JavaScript.

Bus yang dijanjikan akan mengangkut kami jam 8 pagi ternyata baru datang mendekati jam 08.30. Dan bukannya langsung menuju tujuan tapi mampir dulu ke kantor TT yang ada di Jl. Bui Vien (jika tidak salah). Di sana kami bertukar bus. Selanjutnya bus yang baru kami naiki itu balik lagi ke kantor TT yang ada di Jl. Pham Ngu Lao untuk menjemput dua penumpang yang tertinggal.

Begitu dua perempuan berwajah mediterania itu masuk ke dalam bus, seisi bus kompak menggerundel dengan bahasanya masing-masing.

Akhirnya bergerak juga bus ini menuju barat daya. TT menyediakan seorang pemandu di dalam bus kami. Nimh namanya. Di awal perjalanan ia menjelaskan hal-ihwal mengenai HCMC atau yang dulu dikenal sebagai Saigon. Tampaknya hanya rombongan kami yang tertarik dengan penjelasannya. Mungkin karena kami lebih dekat dengan tempat di mana ia berdiri.

Seperti halnya ketika meninggalkan HCMC menuju PP, pemandangan yang sama juga ditemui ketika menuju My Tho ini. Tapi ada yang umum terlihat, yakni rumah-rumah makan yang menyediakan hammock. Sayangnya restoran yang dipilih ketika bus ini beristirahat tidak ada hammock-nya.

Saat istirahat inilah kami dapat melihat dengan jelas teman-teman seperjalanan kami yang lain. Rombongan yang menarik minat adalah rombongan (sepertinya) anak-anak kuliahan entah dari mana. Yang jelas yang berjenis kelamin laki-lakinya “lucu-lucu”. Terutama, nih, yang sempat menarik minat adalah dua anak kembar dan seorang yang brewokan.

Karena hanya Dita yang sepertinya lebih dekat usianya dengan mereka, kami berenam menggoda Dita sepenuh hati. Yang digoda sukses senyum-senyum penuh arti. Serunya dari kegiatan menggoda Dita ini, kami bisa menyampaikan candaan tanpa perlu berbisik-bisik. Iyalah, karena tidak ada yang mengerti bahasa yang kami gunakan, pokoknya, “Oppa, saranghae!!!”

Tur Mekong Delta dimulai ketika bus yang kami tumpangi merapat di sebuah pelabuhan yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan. Di dalam bangunan pelabuhan sudah bersiap karyawan-karyawan dari beragam operator tur di balik meja masing-masing.

Entah operatur tur mana yang menjadi rekanannya TT, yang pasti kami digiring menuju salah satu kapal dengan dua banjar kursi rotan.

Mbak Umah sedikit takut naik kapal tapi setelah melihat pelampung-pelampung yang ditempelkan di bagian atap dari kapal tersebut ia bisa tenang bahkan duduk di bagian pinggir.

Kapal lalu memecah sungai Mekong menuju pulau pertama yang kami kunjungi yakni Con Thoi Island.

Pemandu khusus dalam kegiatan menjelajah sungai Mekong ini adalah seorang Bapak yang sudah lewat usia 50 tahun tetapi masih penuh semangat. Berdandan a la koboi, ia bak menghela rombongan biri-biri. Karena selain memandu rombongan dari kapal kami ia juga sekaligus memandu rombongan asal Malaysia yang memenuhi dua kapal lainnya.

Tugasnya Pak Koboi ini tidak terlalu sulit karena ketika pertama-tama memperkenalkan cara membuat permen kelapa, kami dan rombongan Malaysia tidak tertarik sama sekali. Lha, wong, hanya melihat orang-orang yang memarut dan memeras kelapa. Lalu santan hasil perasan digodok dalam penggorengan besar bersama gula aren.

Kemudian kami dibawa untuk mencicipi teh dengan madu. Di sini saya tidak menikmatinya. Bukan, bukan karena sudah sering menyeduh teh tapi karena perut saya mules sampai melilit. Huhuhu… gegara Diatabs yang saya minum semalam. Saya benar-benar perlu ke toilet. Celingak-celinguk, celingak-celinguk, saya tidak menemukan papan petunjuknya.

Ketika acara minum teh ini saya berkenalan dengan Joyce, warga negara Taiwan yang sedang bekerja di HCMC, yang berbagi tempat duduk dengan Isti di dalam bus. Joyce takjub dengan rombongan kami yang berkerudung semua kecuali saya. “So, Pagitta, why don’t you wearing headscarf?” tanyanya.

Yang ditanya langsung pasang senyum Monalisa, lalu berkata “Joyce, look! There is a bird! A plan! A Superman!”😀 Untuk sesaat itu saya lupa kalau saya sedang mules-mules bukaan tujuh.

Sekuat tenaga saya tahan keinginan tersebut, sampai dibagian disuguhi nyanyian-nyanyian tradisional Vietnam akhirnya saya melihat papan petunjuk menuju toilet terdekat. Saya segera melesat. Saya hanya melewati sesi makan buah-buahan tropis.

Selanjutnya kami mengantri untuk menaiki sampan di atas aliran sebuah kanal. Satu sampan diisi oleh empat orang. Isti, Asty, Dita, dan Joyce naik terlebih dulu. Disusul oleh saya, Mbak Umah, Ariya, Lili, dan Nimh. Ternyata ia menebeng perahu kami.

Sambil bersampan kami foto-foto dengan topi khas Vietnam. Yang mendayungi perahu kami adalah seorang bapak ditemani oleh anak laki-lakinya. Tidak lupa ia memperingatkan penumpangnya untuk tidak berpegangan pada tepi sampan. Karena jika melakukan hal tersebut ada kemungkinan cedera ketika sampan bersisian dengan sampan lainnya. Pendeknya, awas tangan terjepit diantara sampan!

Tahu kah Anda berapa upah yang diterima para pendayung perahu ini setiap kali membawa turis hingga ke dermaga di mana kapal ditambatkan? VND 6.000 alias tiga ribu perak! Padahal perjalanannya lumayan jauh.

Setelah semua penumpang memasuki kapalnya masing-masing, kami dibawa ke pulau untuk makan siang. Karena kami meminta makanan vegetarian, maka makan siang gratis yang kami dapatkan adalah nasi dan tumis buncis. Kalau mau menambah ikan goreng harus keluar biaya sendiri. Sementara yang non-vegetarian ada tambahan daging babinya.

Selepas makan siang ternyata kegiatan tur pun berakhir. Hih, pendek banget waktunya. Kami kembali ke pelabuhan dan naik ke dalam bus untuk meninggalkan My Tho.

This slideshow requires JavaScript.

Ternyata bus yang kami tumpangi bisa menurunkan penumpang di depan Ben Thanh Market. Maka di situlah kami turun. Rencana awal adalah menonton film.

Jadi berusaha, deh, tanya-tanya pusat perbelanjaan yang ada bioskopnya. Oleh polisi yang stand by di Ben Thanh Market kami diarahkan ke Mall Vincom. Dari Ben Thanh kami disuruh jalan terus sepanjang Jl. Le Loi sampai menemukan bundaran berikutnya.

Ketika sampai di bundaran yang dimaksud, kami melihat patung Paman Ho, kebetulan langit masih terang, jadi masih ada cukup cahaya untuk jepret-jepret di depan patung tersebut. Tidak lupa memotret bangunan City Hall yang ada di belakangnya.

Lalu kami masuk ke Mall Parkson untuk menggunakan toiletnya. Dari mall tersebut kami lalu masuk ke Mall Vincom yang menjadi tujuan awal kami.

Eh, rencana kemudian berubah. Kami memutuskan untuk ngopi-ngopi cantik saja. Karena tidak berminat ngafe di mall, keluarlah kami dari Vincom.

Sebenarnya tidak tahu arah kafe yang ingin dituju. Kami mengikuti saja langkah kaki menuju wilayah yang banyak cahayanya. Halah! Jadi di perempatan Jl. Le Than Ton dan Jl. Hai Ba Trung kami berbelok ke kanan mengikuti Jl. Hai Bai Trung itu.

Kemudian di perempatan Jl. Hai Ba Trung dan Jl. Nguyen Sieu kami berbelok ke kanan lagi sampai melewati Hotel Caravelle.

Berhadapan dengan hotel tersebut rupanya berdiri Municipal Theater yang dulu dikenal sebagai Saigon Opera House.Tak begitu jauh dari gedung opera tersebut adalah Continental Saigon Hotel yang menjadi basecamp para reporter saat meliput perang Perancis.

Dan rupanya kami sudah berdiri di wilayah yang penuh cahaya itu, Jl. Dong Khoi! Jalan ini bisalah disebut sebagai Orchard Road-nya HCMC.

Melihat signboard Trung Nguyen Coffee kami memutuskan di situlah tempat ngopi-ngopi cantik dilangsungkan. Untuk menemani kopi susu yang kami pesan, kami memilih tiga potong kue yang enak dan pas manisnya. Begitu duduk, langsung handphone-handphone ber-wi-fi dikeluarkan.

Trung Nguyen Cofee ini letaknya tidak jauh dari Masjid Jamia di Jl. Dong Du #66. Kami mencoba peruntungan kami dalam mencari pho halal harga kaki lima. Sekali lagi kami harus menelan pil pahit. Tidak ada penjual pho halal yang dapat kami temui di sekitar masjid tersebut. Kalau restoran halal, ada banyak.

Salah satunya D’Nyonya Penang Restaurant. Kami berdiri di depan restoran ini untuk melihat-lihat harga dalam daftar menunya. “Wah, mahal, yak!” seru kami. Rupanya ada seorang nenek yang mendengar keluh-kesah kami itu. Dimintanya kami mengikuti langkah dia. Tidak jauh, sih, ke sebuah gang. Apa gerangan yang dilakukannya? Ternyata nenek tersebut menunjukkan lokasi resto bernama Taj Mahal. Kami pun cengengesan dan pelan-pelan mengundurkan diri.

Karena Isti perlu membeli flash disk, maka kami pergi ke Jl. Nguyen Hue di mana terdapat banyak toko komputer dan kamera. Setelah membeli flashdisk kami menukarkan dollar kami ke dalam dong, kan esoknya mau blanja-blanji

Keluar dari bank saya melihat sebuah toko buku, Fahasa namanya. Saya membujuk teman-teman untuk ke sana. Di sini saya menemukan oleh-oleh untuk diri saya sendiri.

Bertemu lagi dengan Ben Thanh Market. Lalu kami menuju KFC melewati jalan yang berbeda, yakni lewat jalan lain yang separalel dengan Jl. Le Loi, Jl. Pham Hong Thai. Kami berjalan sampai di bundaran yang menjadi pusat dari lima cabang jalan, lalu berbelok ke kiri ke Jl. Nguyen Thi Nghia.Dan, perjalanan hari itu berakhir di KFC.

This slideshow requires JavaScript.

 

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

4 thoughts on “mengejar mas-mas: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian ketujuh.

    1. Lebih lumayan lagi kalau bisa lihat pasar apungnya. Paket yang saya pilih tidak ada kunjungan ke tempat tersebut. Sepertinya harus pilih paket tur yang lebih mahal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s