gurun putih gurun merah: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian keenam.

Isti yang menyusul kami hingga ke kamar menandakan bahwa supir jip yang akan menemani kami melakukan tur selama setengah hari sudah menunggu.

Yuk, mang, tarikkk!!!

Mui Ne adalah suatu kawasan resort yang terletak di provinsi Bin Thuan. Kota yang terdekat dengannya adalah Phan Thiet. Wilayah ini menjadi destinasi wisata sejak tahun 1995 ketika banyak orang ramai berdatangan untuk menyaksikan peristiwa gerhana matahari total yang tejadi pada 24 Oktober 1995.

Pertama-tama kami dibawa mengunjungi White Sand Dunes. Sampai di sana sunrise-nya sudah lewat, sih. Ternyata jauh juga tempatnya dari penginapan kami.

This slideshow requires JavaScript.

Karena yang bisa dilakukan di sini hanya dua hal, foto-foto atau meluncur dengan lembar plastik, maka kami memilih hal yang pertama. Oleh sang pemandu, kami diberi waktu selama 20 menit.

Dua puluh menit pun berlalu. Kembali kami ke jalan raya yang masih terlihat sepi. Kemudian kami diturunkan di red sand dunes. Lebih banyak orang yang kami temui di sini. Dan lebih banyak juga yang menawarkan hiburan seluncur pasir.

Salah satu anak yang menjajakan jasanya berhasil mengenali kami sebagai rombongan dari Indonesia. Dari mana ia tahu kami berasal? Dari melihat kerudung karya Dian Pelangi yang dikenakan oleh Ariya. Perhatian sekali, ya, anak perempuan itu.

Karena tidak berhasil membujuk kami untuk main seluncur, ia pun bergerak mencari pelanggan lain dan berhasil menemukan dua orang Indonesia lainnya di mana ia membantu mengarahkan mereka berpose. Ia melakukan ekspansi bisnis, rupanya.

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian kami bergerak ke pelabuhan. Di sini kami melihat puluhan kapal yang menurunkan hasil tangkapan mereka lalu dijual kepada pembeli yang sudah bersiap di darat. Kami memperhatikan aktivitas tersebut dari tepi jalan. Yang mengagumkan adalah bersihnya wilayah tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Selanjutnya kami mengunjungi Fairy Stream. Dari sebutannya terkesan romantis ya. Yang dapat dialami di Fairy Stream ini adalah berjalan-jalan menyusuri sungai kecil yang sangat dangkal kedalamannya lalu melihat serupa batu-batu kapur yang membentuk facade tertentu yang tercipta karena hembusan angin.

Saya berdiri sambil menahan silau sinar matahari dengan latar tebing yang terkikis angin.

Kami mendapatkan pengalaman tak mengenakkan di sini. Sebenarnya kami bisa saja membawa-bawa alas kaki kami. Tetapi untuk “membantu” anak muda setempat, akhirnya kami menitipkan deh alas kaki kami itu. Untuk sepasang alas kaki yang dititipkan kami membayar VND 5000.

Ketika mulai jalan-jalan ada seorang anak lainnya yang menempel rombongan kami. Awalnya mengajak basa-basi, lumayan bahasa Inggrisnya, lalu ia berjalan di muka kami dan menginfokan hal-hal yang terdapat di situ layaknya seorang guide.

Dan, benar saja, ketika perjalanan berakhir ia meminta kami untuk membayarnya. Saya siapkan VND 20.000, tapi ia terus minta tambah.

Bukan kami saja yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Rombongan turis dari Korea yang berjalan di belakang kami dimintai USD 10. Wakwaw!

Merasa dipermainkan, kami bersikeras pada kisaran jumlah di atas. Tetapi ia tetap menolak sambil merajuk. Mendekati tempat pengambilan alas kaki, kami bilang kepada anak itu mau ambil uang ini atau tidak sama sekali? Akhirnya diambil juga dengan muka masam.

Cepat-cepat kami bayar uang untuk deposit sepatu dan sandal kami dan bergegas meninggalkan lokasi.

Dalam perjalanan, pihak Hai Yen menelepon kami menanyakan bus apa yang akan kami gunakan untuk kembali ke HCMC. Perhatian, ya?

Karena teman-teman ingin menggunakan bus dari PO lain, sungguh susah menjelaskannya lewat telepon. Jadi begitu sampai ke Hai Yen, buru-buru, deh, mengurus transportasi kepulangan. Pilihan jatuh pada armada Han Cafe. Kami akan menggunakan model sleepper bus nantinya dan bus tersebut akan menjemput kami di depan penginapan.

Setelah urusan per-bus-an selesai, waktunya sarapan atau brunch kali ya, sudah lewat jam 10 pagi soalnya. Kebetulan Hai Yen juga merangkap sebuah restoran, langsung saja kami memesan roti perancis dan segelas kopi susu dan teh.

Brunch at Hai Yen Resort.

Setelah kenyang kami menyegarkan badan lalu nongkrong di depan Hai Yen menunggu bus Han Cafe.

Bus berwarna ungu muda itu datang juga. Sebelum memasuki bus, sepatu dan sandal yang dikenakan penumpang harus dilepaskan dan dimasukkan ke dalam plastik yang sudah disediakan.

Karena tempat duduk/sleepper bed yang masih kosong dan saling berdekatan itu terletak di bagian belakang, maka disitulah kami membuat sangkar. Mbak Umah dan Isti mengambil posisi di bagian atas sementara kami berlima di bagian bawah.

Rupanya bus tidak segera menuju HCMC, tapi berhenti dulu di pool-nya Han Cafe. Selain untuk mengambil penumpang lain juga memberikan kesempatan kepada supirnya untuk makan siang. Sementara makan siang kami kala itu terdiri dari roti peracis lengkap dengan selai jeruk.

Sebus dengan kami ada sepasang muda-mudi yang tidak malu ber-public display affection. Hih, mbikin sirik, deh!

Bus Han cafe berhenti satu kali di sebuah rest area yang lumayan luas karena ada minimarket, pasar buah dan restorannya. Toiletnya pun banyak sekali. Kesempatan bagi kami untuk membeli buah mangga dan jujube.

Senang bisa mencoba sleeper bus seperti ini.

Kami tiba kembali di HCMC selepas Magrib dan langsung check-in di Nga Hoang Hostel. Baru saya perhatikan kalau di dalam kamar tersebut telah disediakan dua kamar mandi dan satu toilet yang berupa bangunan dari alumunium. Jadi seperti ditempelkan saja pada dinding yang sudah ada sebelumnya.

Ada kejadian lucu yang terjadi sebelum kami keluar kamar untuk mengalami HCMC malam hari. Yaituuu… kunci pintu kamar tidak bisa dibuka. Satu-persatu mengerahkan keberuntungannya. Tapi pintu tersebut tetap bergeming.

Saya dan Isti kemudian berkolaborsi membuat teriakan minta tolong lewat jendela yang sempit teralisnya. Teriakan minta tolongnya pun harus dilakukan sekuat tenaga, karena di lantai paling bawah, Si Madam sedang menggelar acara karoke-an bersama teman-temannya.

Setelah 10 menit mencoba mencari perhatian dan menolak usul Isti untuk menjatuhkan botol air mineral ada juga mendengar permintaan tolong kami. Alhamdulillah. Tak lama kemudian, terdengar langkah Si Madam tergopoh-gopoh membukakan pintu.

Kali ini kami makan malam di Green House sebuah restoran Malaysia masih di Jl. Nam Ky Khoi Nghia, karena tidak ada penjual pho yang kami temui di depan Masjid Rahim. Harga pho-nya VND 75.000 seporsi. Mahal jika dibandingkan harga pinggir jalan. Tapi tak apalah, satu dua kali makan mewah.

Jostle inside elevator.

Pulang dari Green House kami mampir sebentar di pasar malam yang mengapit Ben Tanh Market. Tak ada yang dibeli. Karena kopi Vietnam yang memang diniatkan untuk dijadikan oleh-oleh sudah dibeli di Green House tadi.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

4 thoughts on “gurun putih gurun merah: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian keenam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s