cieee, yang pakai iPhone: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kelima.

Tak terasa perjalanan kami sudah memasuki hari kelima. Cepat sekali waktu berlalu.

Lagi-lagi saya dan teman-teman harus menunggu dengan ketar-ketir di lobi hostel. Kali ini bukan karena pintunya belum dibuka, tetapi karena pihak Mekong Express (ME) yang akan menjemput kami belum nongol juga.

Dari pada senewen, saya dan Isti membeli setandan pisang di pasar yang ada di sisi kiri VG-PP untuk menambahi bekal sarapan. Eh, yang ditunggu masih belum juga terlihat batang hidungnya.

Petugas hostel pun membantu kami dengan menelepon kantor ME, namun menurutnya tidak ada yang mengangkat panggilan telepon di ujung sana. Harus naik tuk-tuk juga ini, mah.

Membuat foto kenang-kenangan di depan Velkommen Guesthouse Phnom Penh.
Membuat foto kenang-kenangan di depan Velkommen Guesthouse Phnom Penh.

Begitulah, dengan dua tuk-tuk yang ditawar USD 2/tuk-tuknya, kami meminta pada supir tuk-tuk tersebut untuk lebih melajukan kendaraannya. Walau sudah jelas-jelas minta dibawa ke ME, eh, Si Supir yang membawa saya malah mau menepikan tuk-tuknya di PO Capitol Tour, tepok jidat. Begitu mendekati Orrussey Market saya minta Si Supir untuk maju terus ketika melalui pool-nya Capitol, lalu ia saya suruh belok kanan dan banting setir ke kiri.  Ta daaa… sampai juga di kantornya ME.

Saya dan Lili langsung masuk ke area kantor dan melancarkan protes mengapa kami tidak dijemput. Pihak ME bilang mobil yang menjemput kami sedang dalam perjalanan. Komplain kedua, mengapa tidak ada yang mengangkat telepon kami? Pihak ME beralasan karena mereka juga baru datang. Tepok jidat lagi.

Setelah mengidentifikasi mana bus yang akan ke HCMC, kami langsung memasukkan tas ransel yang sudah diberi tag ke dalam bagasi. Penumpang tujuan HCMC tidak terlalu banyak kala itu. Ada beberapa bule tapi kebanyakan penumpangnya penduduk lokal.

Selain memberikan pelayanan standar seperti air botolan dan tisu basah, pihak ME ini juga memberikan sarapan bagi penumpangnya. Sarapan yang disiapkan waktu itu adalah dua buah bakpao isi kacang merah dan kacang hijau. Walau keras, rasanya cukup lumayan.

Supir kali ini mantap punya. Kalau kata orang Jepara, nyetirnya banter. Pramugaranya juga komunikatif, lho, setiap kali melewati sebuah daerah/kota ia akan mengumumkan nama daerah tersebut.

Saya tertidur pulas dan hanya terbangun di saat Sang Pramugara memberikan pengumuman, di saat bus harus menyeberangi sungai dengan kapal ro-ro dan di saat supir bus mau makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari wilayah perbatasan.

Memasuki imigrasi Kamboja semua penumpang harus turun bersama dengan semua barang bawaannya. Pramugara hanya mengurus paspor bagi yang warga non-ASEAN. Karena agak tersendat di pos imigrasi yang melayaninya, Isti hampir ketinggalan bus.

Sementara saat memasuki imigrasi bagian Vietnam, paspor dikumpulkan ke pramugara. Kami lagi-lagi turun dari bus dengan membawa ransel kami. Untuk mendapatkan cap masuk ke Vietnam, kami menunggu nama kami dipanggil lalu resmilah kami masuk kembali ke Vietnam.

Saya membayangkan jika bus bergerak dengan kebanteran yang sama mungkin kami bisa sampai di HCMC lebih cepat. Hahaha, lagi-lagi penarikan hipotesis yang salah. Bus kembali melaju mematuhi ketentuan 60 km/jam.

Sampai di Jl. Pham Ngu Lao, HCMC waktu menunjukkan jam 1 siang. Saya langsung menarik teman-teman ke PO Phuong Thrang. Karena menurut forum di TripAdvisor, bus-bus dari perusahaan ini akan mengantar penumpangnya tepat di depan hostel/hotel yang dikehendaki di Mui Ne. Ya, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Mui Ne, kawasan pantai di provinsi Phan Thiet sebelah timur dari HCMC.

Keberangkatan tercepat rupanya sudah penuh. Jadi kami membeli tiket untuk keberangkatan jam 5 sore.

Apa yang kami lakukan selama menunggu waktu keberangkatan? Mengunjungi KFC! Setelah mencoba KFC di Siem Reap dan PP, kini giliran menjajal KFC di HCMC. Letaknya di perempatan Jl. Le Lai dan Jl. Nguyen Thi Nghia. Dari Jl. Pham Ngu Lao tinggal jalan kaki saja.

Saya memesan menu yang ada khas Vietnam-nya, yakni ayam goreng dengan salad yang diselipi daun ketumbar. Saking sukanya, saya pesan dua porsi.

Karena masih cukup waktu untuk menunaikan solat, Ariya mengajak kami ke masjid. Dan masjid terdekat adalah Masjid Rahim di Jl. Nam Ky Khoi Nghia #45. Berbekal peta dari Google Maps yang tidak terunduh dengan sempurna (wi-fi yang bertebaran di Le Lai sepertinya sedang lemot berbarengan) saya pun bertanya pada seorang polisi di depan Ben Tanh Market.

Pertama-tama saya tunjukkan nama jalan yang akan kami tuju. Lalu Pak Polisi ini membuat coret-coretan sebuah peta. Saya menyerah dengan cepat dalam usaha membaca peta yang ia buat.

Lalu saya sodorkanlah peta yang belum rampung terunduh oleh Gemini saya itu. Dengan semangatnya Pak Polisi menggeser-geser layarnya. Tentu saja tidak terjadi apa-apa. Ini Gemini, Pak, bukan iPhone seperti yang dipunyai oleh Bapak, seperti yang dipunyai tukang parkir di restoran di perbatasan Kamboja-Vietnam tadi, atau seperti yang dimiliki oleh penjual tebu. Huhuhu…

Akhirnya keluar juga bahasa Tarzan. Dengan keterampilan memainkan tangan, menurut Pak Polisi kami harus jalan terus menyusuri jalan di depan Ben Tanh Market ini (Jl. Le Loi) sampai menemukan perempatan yang besar. Yuk, mari jalan teman-teman.

Sesampainya di perempatan yang dimaksud, kami celingak-celinguk mencari plang nama jalan. Eh, ada seorang perempuan muda yang semangat sekali membantu. Ia bilang ia tahu masjid yang dimaksud. Kami harus menyeberang ke kiri ke arah Saigon Square dan terus saja berjalan.

Masjid yang kami tuju ada di sebelah kanan. Di depannya ada penjual pho halal. Oke, ketika balik ke HCMC nanti makan pho di sini, catat kami serempak.

Setelah menunaikan solat dan sedikit beristirahat di depan kipas angin yang kencang putarannya, kami meninggalkan Masjid Rahim dengan mengambil jalan lain, yakni berbelok ke kiri menuju Jl. Ham Nghi melewati HCMC Bus Center untuk kemudian memasuki lagi Jl. Pham Ngu Lao.

Ternyata untuk menunggu bus menuju Mui Ne kami harus menunggu di pool Phuong Thrang  yang berada di Jl. De Tham, bersebelahan dengan gerai Highland Coffee. Dan rupanya kami masih punya waktu untuk membeli es kopi, bukan dari Highland Coffee tetapi dari ibu-ibu yang berjualan di depan pool Phuong Trang. Sayang ia tidak menyediakan susu. Karena itu kami hanya membeli 3 gelas es kopi hitam yang akan diseruput ber-7.

Eh, masih ada waktu juga untuk berlari ke Circle K. Maka saya dan Lili pergi berbelanja cup noodle dan susu full cream Dutch Lady dua kotak kecil untuk dicampur dengan es kopi. Saya sendiri memang suka menyambangi Circle K ini, suka melihat produk-produk perawatan tubuh yang mereka jual. Dan kali itu saya membeli tabir surya ber-SPF 81 dari Sunplay.

Sebelum keluar dari Circle K, Lili menanyakan lokasi sebuah hostel bernama Nga Hoang Backpacker Club Hostel. Ternyata tempatnya dekat sekali. Dari lokasi kami menunggu bus, tinggal menyeberang dan masuk ke gang yang bersebelahan dengan resto/bar Allezboo. Masih sempat, kan, untuk booking kamar?

Kami disambut seorang perempuan setengah baya dengan kacamata hitam yang sepertinya ogah dicopot. Padahal di dalam ruangan itu lumayan gelap, lho. Diketahui kemudian mengapa Sang Madam (kami menyebutnya demikian) selalu memakai kacamatan hitam, karena Sang Madam baru selesai operasi pembuatan kelopak mata.

Setelah tanya-tanya harga dan melihat kamar yang berisi 9 tempat tidur, empat pasangnya berupa bunk bed, maka untuk dua malam terakhir di HCMC kami tetapkan untuk menginap di hostel ini. Kami membayar USD 5/orang. Dan kamar berisi 9 tempat tidur itu spesial untuk kami. Wuhuuu… Pembayaran langsung dilunasi saat itu juga.

Diperkirakan perjalanan dari HCMC ke Mui Ne akan menghabiskan waktu selama 5 jam. Tapi saya memperkirakan lebih dari itu, mengingat waktu keberangkatan kami berbarengan dengan akhir pekan dan belum lagi kebijakan 60 km/jam itu.

Menuju Mui Ne ini saya melihat HCMC yang sedang giat membangun. Selain jalan raya yang lebar-lebar dan memiliki jalur terpisah untuk kendaraan besar, kendaraan kecil dan motor, juga ada lokasi central business district dengan gedung-gedung pencakar langit. Di tempat lain banyak dibangun komplek-komplek perumahan.

Bus Phuong Trang berhenti sebanyak tiga kali. Pertama untuk mengambil penumpang tak lama setelah meninggalkan HCMC, kedua untuk mengisi bahan bakar dan ketiga untuk makan malam. Air panas… mana air panas???

Ketika saya sudah tidak lagi ingin tidur saya memperhatikan langit di luar sana. Eh kok, terang, ya? Bus yang kami tumpangi mendekati langit yang terang itu dan meninggalkan langit gelap di belakang. Seperti ada kota besar di sana.

Ternyata yang saya duga sebagai kota besar adalah perkebunan buah naga yang luas. Pada setiap pohon buah naga, sang petani memasang satu bohlam lampu. Pertanyaannya, berapa banyak bohlam lampu yang dibutuhkan sehingga bisa menerangi langit sedemikian rupa? Hehehe..

Tinggal beberapa penumpang saja yang benar-benar turun di area penginapan yang membentang sejajar dengan bibir pantai. Kami diturunkan di Hai Yen Resort di Mui Ne menjelang pukul 12 malam. Pengelolanya saja sudah ogah-ogahan melayani kami. Untung kamarnya sudah dipesan oleh Lili dari sebelumnya.

Asty, Dita, Isti, dan Mbak Umah masing-masing ditempatkan dalam dua kamar yang berbeda. Sementara saya, Lili dan Ariya berbagi satu tempat tidur di penginapan Hai Yen yang lain, yang ada di seberangnya. Setelah pesan paket tur untuk keliling Mui Ne sebesar USD 30, kami pun langsung masuk kamar.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

5 thoughts on “cieee, yang pakai iPhone: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kelima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s