the charming city Phnom Penh: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian keempat.

Selamat pagi Phnom Penh! Semalam tidur saya nyenyak sekali karena tidak ada bus maupun matahari terbit yang harus dikejar. Saya persilahkan ayam-ayam bangun terlebih dulu karena hari ini kegiatan saya dan teman-teman hanya mengeksplorasi kota ini.

Jam 09.00 kami meninggalkan Velkommen Guesthouse (VG-PP) bersama bungkusan buah-buahan dan roti sobek yang dibeli dari toko roti The Blue Pumpkin di ujung jalan. Kami duduk-duduk sebentar di Sisowath Quay untuk sarapan sambil melihat-lihat warga setempat berseliweran baik dengan kendaraan pribadi mereka, sepeda motor, tuk-tuk, maupun yang hanya melenggang-kangkung. Di sini lokasi yang bagus untuk memotret bangunan restoran/bar, kafe, hostel/hotel, maupun toko  yang berwarna-warni dengan gaya arsitektur kolonial bercampur modern.

This slideshow requires JavaScript.

Semilir angin yang bertiup dari arah sungai Tonle Sap hampir membuat terlena, untung kami segera bergerak. Kami menyusuri trotoar maha lebar dengan taman yang terawat tersebut ke arah selatan, menuju Royal Palace, kediaman keluarga (mendiang) Raja His Majesty Preah Bat Samdech Preah Norodom Sihanouk dan Ratu Her Majesty Preah Reach Akka-Mohesey Norodom Monineath Sihanouk.

Sebelum sampai di tempat tujuan kami berbelok dulu ke sebuah biara bagi para biksu. Biara Wat Ounalom namanya. Biara ini gratis untuk dimasuki. Namun entah mengapa tak ada satu pun dari kami yang menaiki tangga untuk masuk ke dalamnya. Lili, Ariya, Isti, Asty, dan Dita sibuk mengambil gambar di seputaran biara. Sementara saya dan Mbak Umah duduk-duduk di bawah pohon rindang sambil diganggu oleh supir tuk-tuk.

Karena masih “testing the water”, saya berusaha menaruh minat pada gambar-gambar destinasi wisata di PP yang disiapkan oleh supir tuk-tuk tersebut. Dan bertanya mengenai mengapa jalan-jalan di PP hanya berupa deretan angka dan menolak dengan sopan tatkala ia mulai menawarkan jasanya. Sementara untuk pertanyaan saya tersebut, sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya.

Lalu kami menyusuri Samdech Sothearos Boulevard yang lumayan teduh karena sinar matahari yang mulai panas sengatannya terhalang oleh tingginya bangunan ruko yang mengapit kedua sisi jalan tersebut. Di jalan ini banyak penjual perak, sutera dan barang-barang kerajinan lainnya. Ada juga sebuah toko buku yang melayani penjualan buku-buku second. Saya tertarik dengan Lonely Planet: South East Asia on The Shoestring. Tapi tahun terbitnya sudah lama sekali, batal deh.  Malamnya kami berkunjung lagi ke toko ini untuk membeli beberapa lembar kartu pos. Saya, sih, hanya membeli selembar saja. Sebuah kartu pos bergambar seorang biksu kecil di depan sebuah candi di Angkor Wat.

Mendekati Royal Palace, ditandai oleh atapnya berwarna emas, rupanya jalan ditutup. Ini berkaitan dengan acara penghormatan rakyat Kamboja atas meninggalnya Raja Norodom Sihanouk pada 15 Oktober 2012. Menurut kabar kegiatan penghormatan ini berlangsung tiga bulan lamanya. Jadi ketika kami ke sana masih terhampar karpet hijau di depan pagar istana. Buku-buku tamu yang mewakili ungkapan bela sungkawa dari masyarakat semakin banyak menumpuk. Dupa-dupa yang dinyalakan oleh pelayat sudah berjejalan dalam beberapa pot besar. Ratusan tangkai bunga teratai putih dijejerkan rapi sepanjang pagar dalam istana.

Selain foto besar sang raja, di depan istana juga terpasang layar lebar.  Dari layar tersebut orang-orang yang berkumpul di taman besar di depan istana bisa melihat suasana berkabung yang terjadi di dalam istana. Beberapa biksu terlihat memanjatkan doa-doa sementara keluarga kerajaan menerima ucapan bela sungkawa dari tamu-tamu negara.

Tak lama setelah kami sampai di Royal Palace, cuaca menjadi mendung dan cenderung berangin. Sambil berharap hujan tidak turun, kami memberi makan burung-burung merpati dengan biji jagung yang dijual USD 1/dua bungkus. Mungkin karena kami sudah berlaku baik pada burung-burung tersebut, hujan hanya turun rintik-rintik.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyisir pagar istana lebih ke selatan lagi sampai kami menemukan  pintu masuk khusus wisatawan. Sayangnya ketika kami sampai, jam masuk pertama sudah berakhir. Kami dipersilahkan kembali pada jam dua siang. Untuk memanfaatkan waktu yang ada kami memutuskan mengunjungi The Killing Fields of Choeung Ek.

This slideshow requires JavaScript.

Kali ini kami naik tuk-tuk lagi. Setelah melakukan tawar-menawar yang lumayan alot, akhirnya harga disepakati pada USD 13/tuk-tuk (kami menyewa dua buah tuk-tuk) dengan rute: Royal Palace – Choeung Ek – kantor operator bus menuju PP  – KFC – Royal Palace.

Lokasi yang kami tuju itu jaraknya 17 km dari PP. Setelah melalui Independence Monument dan keramaian kota PP, pemandangan di sepanjang jalan sudah tidak menarik lagi. Saya putuskan untuk tidur-tidur ayam sambil tak lupa membekap mulut dengan syal untuk menghalau butiran debu. Kacamata hitam tentu saja wajib dikenakan.

Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di The Killing Fields of Choeung Ek adalah 45 menit. Harga tiket masuknya sebesar USD 5/orang. Pihak pengelola sudah menyiapkan alat pemandu digital (audio tour) yang bisa dipilih sesuai dengan bahasa yang dipahami. Kalau tidak salah ada versi bahasa Melayu, kami memilih versi bahasa Inggris.

Choeung Ek adalah salah satu lokasi ditemukannya kuburan massal tempat Khmer Merah membunuh ribuan korbannya selama 4 tahun masa teror yang mencekam. Ada 16 titik yang harus dikunjungi oleh wisatawan. Dimulai dengan tempat pemberhentian truk yang membawa korban dan berakhir di Memorial Stupa.

Karena semua pengunjung mendengarkan penjelasan dari audio tour maka suasananya menjadi sunyi-senyap. Ini membuat penjabaran tentang kekejaman Pol Pot terasa mencekamnya. Apalagi ketika bertemu lelaki tua  dari balik pagar pembatas yang kehilangan salah satu kakinya…

Yang semakin mengharukan adalah mendengarkan kisah mengenai sebuah pohon yang kemudian disebut The Killing Tree. Pohon yang kini dihiasi gelang tali berwarna-warni adalah saksi bisu di mana anak-anak termasuk balita dihempaskan kepalanya hingga ajal menjemput.

Sebenarnya Ariya bermaksud mengajak kami ke Tuol Sleng Genocide Museum tapi tertukar dengan Choeung Ek. Untung tertukar, karena berkunjung ke tempat ini saja sudah tidak “mudah”, apalagi ke Tuol Sleng.

Sebagian besar pakaian-pakaian yang pernah dikenakan korban tersimpan dalam sebuah kotak kaca, tapi terkadang kita masih bisa menemukan sisanya di bawah pepohonan bersamaan dengan tulang-belulang para korban.

Sebelum meninggalkan lokasi jangan lupa mampir ke museumnya. Pihak pengelola memutar film dokumentasi pengangkatan jasad-jasad ketika kuburan massal itu ditemukan pada tahun 1979. Tapi ketika saya ke sana, saya tidak sempat menonton. Jadi cukup melihat foto-foto Pol Pot dan para tangan kanannya sejak mereka mulai memerintah Kamboja hingga menghadapi persidangan HAM internasional.

This slideshow requires JavaScript.

Dalam perjalanan kembali ke PP, kami meminta pendapat Mr. Paul, salah satu supir tuk-tuk, mengenai operator bus mana yang paling oke untuk mengantar kami ke HCMC. Dengan antusias Mr. Paul menyarankan untuk menggunakan bus Mekong Express. Dan diantarlah kami ke Orussey Market di mana Mekong Express menempatkan kantor perwakilannya.

Setelah tiket ke PP untuk kepergian jam tujuh esok pagi dibeli, maka saatnya untuk makan siang. Kami memutuskan untuk kembali nge-KFC. Sedikit kesalapahaman terjadi, alih-alih diantar ke KFC, kedua tuk-tuk ini malah menepi di Dairy Queen. Kami jelaskan lagi bahwa kami ingin makan siang di KFC, dan berputarlah tuk-tuk tersebut ke utara.

Kalau yang terjadi kemudian memang membuat kesal. Ketika turun di KFC, kedua supir tuk-tuk itu bilang bahwa perjalanan sudah berakhir dan kami bisa kembali ke Royal Palace dengan jalan kaki. Heh,  jalan kaki dari Hongkong?!? Jauh kaleee!

Kami langsung membacakan butir-butir kesepakan yang dibuat sebelum menggunakan jasa mereka. Mengetahui bahwa mereka tidak bisa menang, akhirnya kami dipersilahkan untuk menikmati makan siang kami. Hehehe…

A very busy city.

Kembali ke Royal Palace. Antrian masuk sudah terbentuk. Tidak lupa saya membebatkan kain bali di luar celana pendek  saya. Awalnya Ariya yakin bahwa tidak ada biaya untuk memasuki tempat ini. Tetapi, kok ya ada pemandu wisata yang mengacung-acungkan tiket yang digunakannya untuk memanggil anggota rombongannya. Setelah dicek ternyata untuk bisa melihat ke dalam per-orangnya dikenakan biaya USD 6,5.

Kami lalu melipir ke sebuah kursi panjang yang diteduhi sebuah pohon beringin untuk menimbang apakah perlu masuk atau tidak. Dengan USD 6,5 itu yang bisa kami lihat hanya Silver Pagoda-nya saja sementara istananya tidak dapat dikunjungi berkaitan dengan masa berkabung itu.

Dan setelah menghitung ulang biaya-biaya hingga akhir perjalanan nanti, maka kami memutuskan untuk melakukan hal lain saja.

Di luar pintu masuk kami langsung disambut Mr. Paul dengan senyum mengembang. Rupanya ia belum beranjak. Lagi-lagi ia memberi usul untuk mendatangi Russian Market. Menurutnya di sana lebih banyak ragam barangnya ketimbang di Orrusey Market.

Kami bilang, kalau Mr. Paul mau mengangkut kami ber-7 dan kemudian mengantar kami pulang ke VG-PP dengan harga USD 5, kami akan gunakan jasanya. Mr. Paul-nya sepertinya mau pengsan mendengar penawaran kami itu. Mungkin persaingan antar pengemudi tuk-tuk di PP ini begitu ketat, akhirnya mau juga ia mengantar kami. “Asal, jika kalian senang, kalian tambah lagi ya USD 1.” Katanya.

Pada sebuah perempatan tuk-tuk Mr. Paul berhenti sebentar. Lalu lewatlah pengemudi tuk-tuk lain di depannya. Kami melihat pengemudinya geleng-geleng kepala melihat penuhnya muatan dalam tuk-tuk Mr. Paul. Apa gerangan yang dilontarkan oleh Mr. Paul menanggapi komentar temannya itu, “Yeah, they are cheapy-cheapy tourist.” Kami pun ikut-ikutan tergelak.

Banyak cenderamata yang dijajakan di Russian Market ini. Tetapi karena dibandrol dalam mata uang dollar, saya urung belanja. Toh, masih bisa belanja di Benh Tanh Market di HCMC, pikir saya. Sebuah prinsip yang saya sesali kemudian. Bukan saja ternyata harganya lebih murah (setelah dikonversi ke rupiah), barang-barang yang dijual pun teryata berbeda (ya, iyalah).

Haggle till you drop.
Photo session at Sisowath Quay with property that bought from Russian Market.

Sebagai kenang-kenangan telah berkunjung ke Russian Market ini, Ariya Tour menghadiahi kami masing-masing sebuah kipas berbentuk lolipop warna-warni seharga USD 5 untuk 7 buah kipas. Tuh, murah, kan?

Sebelum meninggalkan VG-PP untuk mencari makan malam, Gavin (sang pengelola) memberi tahu kami, “Sori-dori-mori, ya, malam ini akan bising sekali karena kami mengadakan pesta perpisahan untuk salah satu teman baik kami.” Well,terima kasih atas pemberitahuannya, Mister.

Dari catper orang-orang (baik buku maupun blog) katanya belum sah ke PP jika belum mendatangi salah satu restoran Indonesia yang letaknya tidak jauh dari The National Museum of Cambodia. Sudah dipastikan bahwa masakan Indonesia yang disajikan adalah makanan yang halal.  Jadi ke sanalah kami untuk merayakan malam terakhir di PP. Sayangnya Dita tidak bisa ikut serta karena ia sakit.

Restoran Warung Bali namanya. Tapi ketika Lili menanyakan apakah resto tersebut menyediakan nasi campur bali atau sambal matah, pemiliknya, Pak Firdaus mengatakan tidak ada. Hehehe…. Nama Warung Bali dibuat agar menarik pembeli, terutama mereka yang sudah pernah melancong ke Indonesia.

Restoran yang menempati area bawah dari ruko berlantai dua itu sedang tidak penuh. Selain kami berenam, berdekatan dengan meja kami ada rombongan warga setempat sementara di kanan jauh kami ada rombongan bule. Dan di luar ada seorang bule berpakaian kantoran menenteng sepeda sedang menunggu pesanan take-away-nya

Apakah yang kami pesan? Kami memesan tumis tahu, tumis toge ikan asin, ikan bumbu bali, mie goreng seafood, dan nasi goreng ayam untuk Dita. Minumnya es teh, es kopi susu dan jus lemon. Ditambah krupuk, biaya makan kami malam itu USD 77,5. Kemudian mendapat diskon USD 7,5 (keinginannya Asty tercapai, nih).

Rasa Indonesia di Phnom Penh.

Yang berecana jalan-jalan ke PP, Warung Bali berokasi di Jl. 178 #25Eo, ya. Sebelum meninggalkan restoran, kami diminta untuk selalu hati-hati dengan barang bawaan kami. Terima kasih ya, Pak atas keramahannya.

Melihat Royal Palace bermandikan cahaya, kami pun memutuskan untuk kembali mengunjunginya. Pengunjungnya kali ini lebih ramai dibandingkan waktu siang. Kami tidak berlama-lama di sini apalagi setelah melihat hasil jepretan yang kurang bagus.

Gadis kecil penjual pita tanda berduka cita dan emblem bergambar Raja Sihanouk.

Dari istana kerajaan kami jalan kaki menuju KFC untuk membeli bekal, lagi-lagi kami melewati Sisowath Quay. Saya baru memperhatikan adanya public service awareness (PSA) yang disponsori oleh The Body Shop (TBS) mengenai stop sex trafficking 0f children and young people!

Logo dari kampanye anti-human trafficking inilah yang saya temui di Sisowath Quay.

Saya pernah mengisi petisi yang digagas TBS tersebut di gerainya di Plaza Indonesia. Hanya saja saya tidak membeli produk yang menjadi bagian dari kampanye tersebut. Bagi yang berpartisipasi dengan membeli produk terkait yakni hand cream dan tas belanja, donasinya disalurkan kepada Somaly Mam Foundation di Kamboja dan organisasi ECPAT.

Walau Indonesia dan Kamboja menghadapi permasalahan yang sama dalam hal perdagangan manusia, saya tidak menemukan usah-usaha untuk mengatasinya segamblang yang saya temui di PP ini. Atau karena saya saja yang kurang perhatian?

Setelah melihat PSA itu saya jadi memperhatikan dengan sungguh-sungguh anak-anak dan remaja yang hilir-mudik di situ. Dalam malam yang semakin larut, anak-anak usia SD selayaknya sudah berada di rumah, kan? Dan bukan malah mengejar om-om expat.

Di salah satu tempat duduk yang memagari tepi sungai, saya melihat seorang remaja perempuan sedang berbincang mesra, bukan dengan laki-laki seumurnya, tetapi lagi-lagi dengan om-om expat.

Dan ini, sebelum keluar dari KFC Mbak Umah cerita kalau buah asam yang dibelinya tidak sempat dimakan karena lebih cepat dimintai oleh anak-anak jalanan.

Anak-anak dan remaja yang dijerumuskan dalam perdagangan manusia ini berakhirnya seperti ini, sebagai budak seks atau peminta-minta atau sebagai pekerja di sweat shop.

Sayangnya saya malah lupa, saya tidak memperhatikan dengan seksama makna yang dikandung dari cerita Mbak Umah. Dengan santainya saya keluar KFC sambil menenteng anti repot (kantong plastik) putih berlogo Colonel Sanders yang berisi 7 buah burger.  Tak lama kemudian seorang anak jalanan mensejajari jalan saya sambil meminta bekal kami itu. Saya menolak dengan halus. Saya juga masih menjaga perasaan anak tersebut, lho, saya tidak segera memasukkan tentengan saya tersebut ke dalam tas.

Anak tersebut terus memohon, saya bersikeras menolak😀 Sampai ia hampir merengek, saya berbelok ke sebuah minimarket karena kami perlu membeli air mineral dan Asty perlu membeli Tiger Balm pesanan ayahnya.

Syukurlah ketika saya keluar dari minimarket, anak itu sudah berlalu. Dan saya putuskan untuk memasukkan bungkusan burger tersebut ke dalam tas. Agar saya tenang ketika melihat-lihat di Night Market.

Tidak ada yang istimewa dari pasar malam itu terutama karena makanan yang dijual tidak bisa kami makan kecuali jajan air tebu.  Dan walau ada panggung hiburan kami tidak bertahan lama dalam menikmati mata acara yang disajikan.

Kembali ke VG-PP, pestanya Gavin masih berlanjut. Tapi keributan yang dibuat di lobi rupanya tidak begitu mengganggu tidur kami.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

12 thoughts on “the charming city Phnom Penh: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian keempat.

  1. saya jadi kepingin tau lebih dekat tentang sejarah pembantaian massal yang dilakukan khmer merah itu.
    udah 2 tulisan yang saya baca tentang itu dan masih penasaran
    errrrr

    1. Di luar soal mendatangi Tuol Sleng atau The Killing Fields Cheoung Ek atau soal human trafficking atau penjambret atau supir tuk-tuk yang “pushy”, menyenangkan kok mendatangi Phnom Penh.

      Kegiatan yang menyenangkan dan romantis seperti berperahu di sungai Tonle Sap atau Mekong bisa menjadi pilihan. Atau ikut kursus masak. Atau terlibat dalam kegiatan di rumah yatim-piatu. Sayangnya hal-hal tersebut tidak saya lakukan di sana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s