mengejar terbit matahari di Angkor Wat: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian ketiga.

15 November 2012. Setelah hari kedua perjalanan Kamboja-Vietnam diwarnai dengan keharusan mengejar bus ke Siem Reap (SR), maka pada hari ketiga ini kami mau mengejar matahari terbit di Angkor Wat.

Image
Peta yang menunjukkan destinasi utama di Angkor Archeological Park.

Mr. Siela dan temannya (yang menyupiri mobil sewa kami)  sudah menanti sebelum pukul 5 pagi. Sambil menunggu lengkapnya rombongan, ada traveler dari Cina, nih, yang sama-sama nongkrong di teras Velkommen Guesthouse (VG-SR). Pelancong dari Cina itu langsung berasumsi bahwa kami adalah turis dari Malaysia. Teman-teman saya yang berkerudung langsung menyatakan protes😀 ”We are from Indonesia! You should come to Indonesia. Please do visit other place than Bali. You can visit Lombok or Java island, those are the nearest island from Bali.” Demikian bunyi nota keberatannya :p Pelancong dari Cina itu kemudian manggut-manggut mahfum.

Ada yang spesial dalam acara mengelilingi Angkor Archeological Park (AAP)  ini yakni  kami sepakat mengenakan pakaian bercorak batik dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan, kami tampak caem-ceria dalam jepretan kamera. Oh, kami begitu berwarna bak bunga di taman Ayodhya.

Mobil berkapasitas 12 orang yang kami sewa seharian ini tarifnya USD 30. Biaya yang dikeluarkan sudah mencakup biaya untuk supirnya dan bensin, dan tidak ada biaya tambahan apa pun. Saya tegaskan betul hal ini via e-mail supaya ada bukti kalau-kalau kesepakatan dilanggar :p

Iring-iringan minivan dan tuk-tuk serta beberapa pengendara sepeda motor maupuan gowes lamat-lamat meninggalkan kota SR menuju utara. Dua jempol patut diacungkan bagi pengelola AAP (yakni Apsara Authority), mereka mengakomodasi keinginan wisatawan melihat matahari terbit di Angkor Wat. Entah petugas penjual karcis dan check-point sudah harus siap-sedia sejak jam berapa, yang pasti ketika jam lima lewat kami mengantri membeli one day pass seharga USD 20/orang, mereka sudah memasang tampang sumringah menyambut para turis yang masih setengah mengantuk atau yang tak rela melepaskan uang sebanyak itu😀

Tiket masuk ke Angkor Archeological Park untuk satu hari. Jangan dibuang karena bisa dijadikan cenderamata. Sesampainya di tanah air silahkan dilaminating dan voila, jadilah pembatas buku yang tiada duanya.
Tiket masuk ke Angkor Archeological Park untuk satu hari. Jangan dibuang karena bisa dijadikan cenderamata. Sesampainya di tanah air silahkan dilaminating dan voila, jadilah pembatas buku yang tiada duanya.

Kami diturunkan di depan pintu masuk utama (gerbang barat)  dan langsung melebur dengan ribuan manusia di bawah langit yang masih temaram. Kami meniti semacam perlintasan dari batu yang membelah parit yang mengelilingi keempat sisi komplek Angkor Wat. Dengan diterangi lampu senter satu-satunya milik Ariya dan kelebatan lampu senter milik pengunjung lain, kami berjalan penuh kehati-hatian. Watch out your step!

Saya tidak mengukur lamanya waktu yang diperlukan selama menyusuri perlintasan tersebut. Tapi rasanya lumayan lama juga untuk tiba di… pintu pagarnya/bentengnya Angkor Wat! What?, ternyata baru bagian bentengnya saja, saudara-saudara. Sementara untuk sampai ke bangunan intinya (monumennya), masih nun jauh di sana.

Karena kami berniat untuk memulai small circuit (pemegang one day pass dijatahkan mengambil pilihan ini) secara berlawanan arah dengan pengunjung kebanyakan, kami tidak serta-merta mengunjungi monumen tersebut. Tetapi cukup mencari posisi nyaman di sisi bagian dalam dari bentengnya saja untuk bisa menjepret suasana matahari terbit di atas bangunan Angkor Wat yang membentang dari utara ke selatan (jika dilihat dari pintu masuk utama).

Angkor Wat diharafiahkan sebagai city temple atau kota kuil/candi. “Angkor” diambil dari kata “nokor” yang diserap dari bahasa Sansekerta yaitu “nagar” sementara dalam bahasa Thai disebut “nakon” yang berarti ibu kota. Kata “wat” dikenal dalam bahasa Thai dan Khmer berarti kuil/candi yang juga merupakan penyerapan dari bahasa Sansekerta, “vastu”.

Dibandingkan dengan candi Borobudur, Angkor Wat ini usianya lebih muda 300 tahun. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 oleh Dinasti Sailendra yang beragama Budha. Sementara Angkor Wat didirikan oleh Raja Suyavarman II yang beragama Hindu pada abad ke-12 dan merupakan monumen terbesar sebagai bukti kejayaan Kerajaan Khmer.

Menurut para ahli arkeologi, arahnya yang menghadap barat bukanlah struktur umum yang ditemukan pada sebuah kuil. Begitu juga bentuk arsitektur dan pahatan pada dinding candi semakin meyakinkan bahwa selain sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Wisnu, Angkor Wat ini juga merupakan tempat disemayamkannya raja setelah wafat. Saat ini Angkor Wat digunakan sebagai tempat bersembahyang bagi umat Budha setelah Kerajaan Khmer takluk pada Kerajaan Siam yang merupakan penganut agama Budha.

Setelah menunggu cukup lama, ternyata pagi itu bukanlah pagi yang baik untuk melihat matahari terbit di Angkor Wat. Matahari praktis tertutup awan sementara sekeliling Angkor Wat diselimuti kabut. Suasana pun malah berubah menjadi mistis. Kami foto-foto narsis sebentar lalu bergerak ke lapangan parkir untuk mencari Mr. Siela dan sarapan.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah menemukan mobil sewaan kami diantara ratusan kendaraan serupa (warnanya putih semua), kami meminta agar diantarkan ke rumah makan halal atau vegetarian. Mr. Siela menyarankan untuk mencari makan di warung-warung atau restoran yang ada di seputar Angkor Wat saja karena kalau kembali ke SR hanya buang-buang waktu. Saya sebenarnya agak  sangsi untuk makan di lokasi ini karena terkenal akan harganya yang mahal dan belum tentu halal.

Dengan mempertimbangkan usulnya Mr. Siela akhirnya kami merapat juga di sebuah resto yang katanya menyediakan makanan vegetarian. Tapi menu yang kami pilih tidak aneh-aneh, yakni kopi susu, teh, roti, dan telur orak-arik. Tak lupa kami persilahkan Mr. Siela dan temannya itu untuk juga ikut sarapan. Mr. Siela mengaku sudah sarapan dari rumah, jadi temannya saja yang mengambil makan pagi.

Di restoran ini kami berpisah dengan Mr. Siela, selanjutnya kami hanya diantar oleh temannya yang supir itu (saya lupa namanya, mari kita panggil saja: Si Supir). Tidak apa-apa, deh, mungkin Mr. Siela memiliki urusan bisnis lain yang lebih menjanjikan. Sebelum berpisah Mr. Siela memberitahu kepada kami bahwa untuk makan siang kami akan dibawa ke rumah makan halal di SR dan kami akan bertemu lagi dengannya setelah kami kembali ke VG-SR.

Ta Phrom

Kami diturunkan oleh Si Supir di lapangan parkir komplek candi Ta Phrom dan ia akan menjemput kami di sisi pintu yang satunya lagi. Kami berjalan kaki di atas tanah merah dan pasir yang dibaurkan pada jalan yang sebenarnya sudah ditembok.

Ta Phrom dibangun pada masa Raja Jayavarman VII dan paling dikenal sebagai kuil dengan akar pohon ara yang saling berkelindan dengan bangunan candinya. Walau membuat bangunan candi menjadi rusak, tapi keadaan ini malah menciptakan keindahan yang aneh, memberikan sebuah tampilan yang menakjubkan antara pelukan alam dan karya manusia.

Tetapi pihak terkait tidak membiarkan Ta Phrom menjadi puing-puing tak bermakna. Pemugaran sedang dilakukan. Karena proses rehabilitasi itulah maka beberapa area candi tidak bisa dilewati.

Semenjak muncul di film Tomb Rider, Ta Phrom semakin terkenal. Sepertinya tidak ada satupun wisatawan yang melewatkan berfoto dengan berlatar-belakang akar-akar pohon yang memeluk punggung candi seperti yang malatari adegan Mrs. Pitt ketika mengikuti penampakan seorang anak perempuan yang timbul-tenggelam diantara reruntuhan candi. Titik tersebut kini diberi panggung, jadi pengunjung dijamin tidak akan salah menentukan posisi karena ada juga lokasi yang serupa.

This slideshow requires JavaScript.

Ta Keo

Dari Ta Phrom kami lanjutkan perjalanan ke kuil bernama Ta Keo. Candi ini dibuat oleh Jayavarman V dan sebenarnya belum rampung. Yang unik dari candi ini adalah tangga yang cukup tinggi menjulang dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat. Pengunjung bisa mendaki hingga bagian teratas dari bangunan candi ini dengan memilih anak tangga di bagian barat yang konon tingkat kesulitannya lebih rendah dibanding anak tangga di bagian sisi yang lain.

Mengapa tangga tersebut dibuat begitu curam? Karena perjalanan menuju akhirat itu tidaklah mudah. Demikian kira-kira penjelasannya.

Dari kami bertujuh hanya Lili dan Isti yang sampai di puncaknya. Sukses, deh, mereka bikin foto bak bidadari yang sedang bermain di atas awan kemudian turun ke bumi😀 Saya hanya berhasil di 2/3 bagian tangga karena khawatir melihat bidang pijak yang kian menyempit ditambah lagi penuh pasir, licin! Ariya dan Mbak Umah memanjat sampai setengah bagian. Sementara Asty dan Dita menyemangati dari dasar tangga.

This slideshow requires JavaScript.

Komplek Angkor Thom (Great City)

Dari candi Ta Keo kami memasuki komplek Angkor Thom melalui Victory Gate yang dihiasi  54 patung iblis di sisi kiri dan 54 patung dewa di sisi kanan. Komplek ini memiliki area yang lebih luas dibandingkan Angkor Wat, kira-kira 9 km2. Mengapa disebut sebuah komplek? Karena terdiri dari beberapa candi/kuil. Dibangun oleh Jayavarman VII pada abad ke-12, komplek Angkor Thom merupakan ibukota terakhir dari Kerajaan Khmer.

Penjelajahan kami berawal di candi Bayon yang tepat terletak di tengah komplek Angkor Thom. Candi ini dibangun pada paruh terakhir abad ke-12 oleh raja yang sama. Dikenal luas sebagai kuil dengan empat sisi wajah batu raksasa yang menghiasi ke-54 menaranya. Bayon merupakan satu-satunya kuil yang didekasikan untuk Sang Budha. Di sini rupanya pengunjung sudah menyemut. Jadi setiap kali menaiki tangga untuk berpidah level kita harus cukup bersabar, antri!

Lalu kami bergerak menuju candi Baphuon yang dibangun pada 1060 Masehi oleh Udayadityawarman II. Kami melewati patung Budha yang besar sekali ketika menuju candi ini. Saat melihat kerja restorasi yang masih berlangsung, kami memutuskan untuk mengaguminya dari jauh saja sambil mengambil gambar di bawah perlintasan batu yang menghubungkan Baphuon dengan pintu gerbangnya.

Selanjutnya kami naik ke The Elephant Terrace. Namanya juga The Elephant Terrace sudah barang tentu berhias ornamen gajah. Relief gajah dapat dilihat pada seluruh bidang terasnya maupun di kedua ujung tangganya. Teras ini terbentang cukup panjang, sejauh 350 m. Ketika berjalan di atasnya layaknya berjalan di atas panggung peragaan busana (melebay). Dan memang itulah kegunaannya, sebagai tribun untuk menyaksikan upacara kerajaan.

Selagi berjalan di teras gajah tersebut kami lalui begitu saja Phimeanakas. Mungkin karena tertutup rimbunnya pohon sehingga kami tidak tertarik untuk mengetahui rupa dari area istana kerajaan yang dibangun pada akhir abad ke-10 oleh Rajendravarman lalu dibangun kembali oleh Suryavarman II.

Kami turun di ujung utara dari The Elephant Terrace untuk mengakhiri petualangan di  Terrace of The Leper King. Pemberian nama dari teras ini mengacu pada sebuah patung yang berada di atas teras tersebut. Lalu, apa sangkut-pautnya dengan penyakit lepra, ya?  Jawabannya, kata “king” di sini mengacu pada Yama, Dewa Penghancur. Sementara “leper” menunjukkan keadaan patung tersebut yang kian memudar warnanya karena pertumbuhan lumut. Tapi ada juga, lho, yang mengaitkan patung tersebut sebagai patung salah satu raja Khmer yang memang memililki penyakit kusta, yakni Yasovarman I atau Dharmaraja. Patung yang asli sekarang disimpan di Phnom Penh Museum.

Cerita menarik lainnya dari Terrace of The Lepper King adalah bentuknya yang mirip huruf U menandakan bahwa bahwa di sinilah lokasi kremasi dari raja-raja Kerajaan Khmer. Seandainya saya tahu kalau lokasi tersebut memang sebagai lokasi kremasi, malaslah saya untuk berlama-lama mengambil foto relief-relief yang terdapat di dinding bagian dalam  dari Terrace of The Leper King.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah kehabisan tenaga mengeksplorasi komplek Angkor Thom, kami langsung meminta Si Supir untuk tancap gas mencari makan siang. Sesuai janji Mr. Siela, kami dibawa ke restoran halal Cambodian Muslim Restaurant di #086 Steng Thmey Village, Sangkat Svay Dangkum, SR. Kami mengeluarkan biaya untuk makan siang ini USD 29,50 termasuk makan siang untuk Si Supir. Yang membuat makan siang menjadi menyenangkan di restoran ini adalah lauk yang menyertai nasi goreng atau mie gorengnya itu banyak sekali. Dan bagi saya, es kopinya! Sungguh dapat menambah kesegaran bagi tubuh yang mulai letih, eaaa.

Kemudian kami berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan solat Dzuhur dan Ashar. Masjid ini menyediakan mukena dan sajadah lebih dari cukup. Sayang tempatnya berdebu sekali. Tak heran, sih, karena jalanan di depannya masih berupa tanah merah yang dalam keadaan kering menimbulkan banyak debu, sementara dalam keadaan basah bisa menjadi arena off-road. Sempat pula kami bercakap-cakap dengan salah satu warga yang menjelaskan bahwa asal-muasal komunitas muslim di SR ini. Ternyata mereka adalah keturunan bangsa Melayu. Dan sempat pula kami tergiur oleh penjaja gorengan serupa odading. Maksudnya untuk menghabiskan mata uang riel kembalian dari resto tadi. Tapi begitu masuk mobil, lupa sudah.

This slideshow requires JavaScript.

Angkor Wat

Kembali ke Angkor Wat tidak lupa kartu pass saya yang sudah lecek kembali dicek.

Keluar dari mobil yang ber-AC kami langsung disergap sengatan matahari yang semakin menggigit. Dengan mengenakan topi, kacamata hitam yang pantang ditanggalkan dan payung yang selalu terkembang, kami mendekati inti dari Angkor Wat.

Setelah menyusuri lintasan batu lagi sesudah benteng Angkor Wat, sampailah kami di teras berbentuk salib (jika dilihat dari atas). Naik sebentar ke atasnya untuk mengambil gambar, lalu turun di bagian sisi kirinya untuk kemudian memasuki Gallery of 1000 Buddhas. Setelah berpanas-panasan di luar, angin semilir yang mengalir melewati galeri ini membuat suasana adem-ayem.

Kemudian setelah melewati dua buah kolam (tak berair) yang ada pada setiap sisi galeri, kami memasuki inti Angkor Wat. Foto-foto lagi lalu memperhatikan pengunjung yang berhasil menaiki level tertinggi dari Angkor Wat. Mereka berada 50 m dari permukaan tanah, lho. Pasti indah pemandangan dilihat dari atas sana. Tapi begitu melihat tangganya, lagi-lagi tangga curam yang menggambarkan betapa sulitnya perjalanan menuju surga itu, saya cukup mengambil gambar orang-orang yang memiliki kemauan kuat untuk memanjat.

This slideshow requires JavaScript.

Acara keliling Angkor Wat selesai dengan keluarnya kami di sisi selatan dari komplek tersebut, dengan melintasi lapangan Pertempuran di Kuruksethra. Saya sepakat bahwa mengunjungi AAP ini butuh waktu lebih dari sehari karena masih ada “kota-kota candi” lainnya yang harus dilihat dan dikagumi. Contohnya Banteay Srei yang dikenal sebagai citadel of the women. Kota SR pun memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi. Andai punya waktu banyak, saya ingin sekali mengunjungi Angkor National Museum.

Sebelum diantar kembali ke VG-SR, kami minta diantar ke supermarket karena kami perlu membeli cup noodle, buah-buahan dan air mineral sebagai bekal makan malam kami.

Sesampainya di VG-SR rupanya Mr. Siela sudah menunggu. Kami serahkan pembayaran kepadanya. Setelah Mr. Siela berpamitan, rencananya saya akan memberikan uang tips bagi Si Supir tapi langkah saya terhenti karena sepertinya saya melihat Mr. Siela memberikan semua uang yang saya serahkan tadi kepada Si Supir. What a kind man he is. Semoga semakin maju usahanya ya, Pak.

Selanjutnya kami menyegarkan diri dalam sisa waktu yang ada sebelum dijemput oleh perusahaan travel pada pukul lima sore.

Berfoto bersama dua orang pengelola Velkommen Guesthouse Siem Reap. Di sebelah kiri adalah mobil van yang membawa kami ke Phnom Penh.

A minivan from hell

Entah menjiwai benar merk kendaraan yang disupirinya, Ford Sprint, Si Supir minivan ini ampun DJ dalam mengendalikan mobilnya. Ngebut lalu rem mendadak, ngebut lalu rem mendadak, begitu berulang-ulang di jalan yang lebarnya hanya cukup untuk dua buah kendaraan berpapasan. Sepertinya supir angkutan colt Bogor-Cianjur atau Bogor-Sukabumi dapat saingan berat, nih. Badan ini terombang-ambing, sudah pasti sulit untuk memejamkan mata.

Tapi  penumpang lainnya yang warga setempat terlihat anteng bahkan ada yang asyik berteleponan hingga berjam-jam (tambahan gangguan, sih, sebenarnya). Saya sempat berdecak kagum dalam hati, koneksi selular di Kamboja ternyata reliable juga, ya.

Minivan ini berhenti satu kali untuk makan malam, kalau tidak salah di provinsi Kampong Cham. Lagi-lagi kami meminta air panas untuk cup noodle kami dan diberi gratis.

Setelah melewati Cambodian-Japan Friendship Bridge dan bundaran Wat Phnom, kami selamat sampai di PP lima jam kemudian tanpa kurang satu apapun. Di PP ini kami menginap di Velkommen Guesthouse PP, sister hostel-nya Velkommen SR. Awalnya sok-sokan mau jalan dari pool minivan itu ke penginapan karena kata Edvin cukup jalan sedikit, kok. Tapi petunjuk arah yang sudah dibuat Edvin tertinggal di SR. Saya menyerah untuk mengingat-ingat denah. Kami putuskan untuk naik tuk-tuk yang dengan setia menempel rombongan kami semenjak meninggalkan pool. Setelah mengeluarkan jurus rayuan gombal, kami bertujuh tumplek-plek dalam tuk-tuknya beserta ransel-ransel kami. Harga yang kami bayarkan? USD 2!

Lagi-lagi kami disambut hangat. Di VG-PP ini kami ditempatkan dalam dua buah kamar, satu kamar berisi 5 orang dan satunya lagi diisi 2 orang. Hehehe… saya lagi-lagi dapat tempat tidur sendiri dengan bantal dua buah.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

16 thoughts on “mengejar terbit matahari di Angkor Wat: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian ketiga.

  1. sama Pagit…tiket2 yang cantik dari perjalanan itu kulaminating juga …
    baca tulisan ini sambil ngebayangin akar2an yang membelit candi ….di episode berapa ada fotonya ya

  2. Hahaha seminggu di Kamboja hanya satu pelayan warung makan di Siem Reap yang berhasil menebak saya darimana. Yes I’m Indonesian🙂
    lainnya nebaknya klo gak Malaysia ya Filipin, sebel😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s