bobok-bobok bego: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kedua.

Maafkan bunyi judul di atas jika terdengar kasar. Tapi demikianlah yang terjadi selama perjalanan dari Ho Chi Minh City (HCMC) menuju Phnom Penh (PP) dan dari PP menuju Siem Reap (SR). Seorang blogger bernama Alid saja sampai menjuluki perjalanannya (yang hanya) dari PP-SR sebagai perjalanan tiada akhir sepanjang hayat😀

Sepertinya saya mulai beranjak ke alam mimpi sekitar pukul 1 atau 2 dini hari pada tanggal 14 November  2012 itu. Dan harus bangun lagi pada pukul 5 subuh karena tidak mau tertinggal bus yang dijadwalkan berangkat pukul setengah tujuh pagi. Di tanah air bolehlah jam karet, di negeri orang harus on time!

This slideshow requires JavaScript.

Di lobi, saya, Lili dan Ariya menemui Mbak Umah dan Isti yang stand by dengan manis di bawah cahaya lampu remang-remang (tapi ini tanpa dinding kaca, lho) dan pintu hostel yang masih dalam keadaan terkunci. Walah, ke mana ini petugas hostelnya? Padahal semalam seingat saya Ariya sudah wanti-wanti pada pihak Madam Cuc kalau kami yang bertujuh ini akan check-out pada pukul 6 pagi. Mau membangunkan mereka juga terkendala perbedaan bahasa apalagi minta dibuatkan sarapan :p

Tak lama kemudian Asty dan Dita turun. Lengkaplah kami bertujuh dengan tentengan masing-masing, lalu berbincang-bincanglah kami. Rupanya suara-suara yang kami buat menggerakkan seorang petugas hostel untuk turun dari ranjangnya. Kunci-kunci kamar pun langsung diserahkan. Sepuluh menit dari pukul 6, kami meninggalkan Madam Cuc dengan setandan pisang sebagai bekal sarapan (kebetulan ketika pihak Madam Cuc itu membuka pintu, tukang pisang langganan mereka mampir menyerahkan pisang pesanan) dan segudang petuah agar selalu  awas dengan tas selempang/tas kamera yang dibawa, maklum di HCMC ini terkenal dengan tukang jambretnya.

Menuju kantor Sinh Tourist (ST) kami melewati sebuah pasar kecil. Saya lihat ada penjual jajanan pasar. Sekilas kue-kue yang dijual mirip dengan kue-kue basah di Indonesia. Hmmm, tampak enak. Ingin rasanya berbelok. Tapi tidak, tidak ada waktu untuk membeli dan melakukan tawar-menawar, harus bergegas ke ST-HCMC!

Sampailah kami di ST pada setengah tujuh kurang sepuluh. Langsung melakukan check-in dan memasang tag pada setiap tas ransel dan wusss… ransel kami mendarat dalam bagasi bus. Dan bus pun melaju tepat waktu membelah jalan-jalan HCMC yang baru menggeliat. Dari jendela bus saya mengamati keadaan kota dengan lebih jelas. Selain taman-taman kota yang saya sebutkan sebelumnya, sepertinya bernavigasi di HCMC dengan jalan kaki menyenangkan. Karena trotoarnya lumayan luas. Tidak sabar rasanya untuk melakukan Old Saigon Walking Tour. Tapi sekarang saya ke SR dahulu.

Empat puluh lima menit kemudian bus meninggalkan keriuhan kota. Toko-toko maupun rumah penduduk yang bangunannya tinggi semampai mulai terlihat berjarak, diselingi oleh sawah, ladang, sawah, ladang, dan saya pun tertidur.

Pada pukul 09.00, pramugara kami yang mengurus visa membangunkan saya dan seisi bus, memberitahu bahwa bus sudah tiba di Moc Bay, kawasan perbatasan Vietnam dengan Kamboja. Saya memanfaatkan acara mengantri di imigrasi ini selain melakukan peregangan juga untuk ke toilet. Jangan lupa memberi penjaga toiletnya VND 2000.

Urusan mendapatkan cap keluar dari Moc Bay memang dibantu oleh pramugara tadi. Tapi begitu masuk ke bagian imigrasi Kamboja, pemegang passport dari negara ASEAN harus urus sendiri. Prosesnya mudah asal patuh mengikuti arahan petugas. Ambil sidik jari, pindai bola mata, pindai suhu tubuh, dan keluarlah kita di Bavet, daerah perbatasan Kamboja dengan Vietnam.

Setelah semua penumpang kembali ke dalam bus, bus lalu mengarah ke sebuah restoran, untuk brunch kali ya? Karena tidak ada makanan nasi-nasian yang bisa kami makan, pilihan terbaik adalah… makan jagung. Saya, Lili dan Mbak Umah menilik-nilik jagung yang ada di tangan kami. Warnanya pucat tapi teksturnya seperti ketan ketika dimakan. Lumayan, jagung ini menemani pisang di dalam perut sana.

Begitu kembali ke jalan raya, supir bus kami mulai ugal-ugalan menyetirnya. Selamat tinggal ketentuan laju 60 km/jam. Tidak sekali-dua kali, setir dibanting tak terduga ketika bus harus menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Elus-elus dada dan… tidur lagi!

Saya terbangun karena tidak merasakan hentakan-hentakan bus yang berupaya menghindari kendaraan lain. Rupanya bus berhenti untuk memasuki pelabuhan penyeberangan dengan kapal ro-ro di Neak Leung.

Saya perhatikan semua kendaraan mengantri lumayan tertib. Begitu gerbang sisi keberangkatan dibuka, motor, mobil, bus, dan truk masuk dengan sabar. Di atas kapal banyak penjual asongan tapi mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam bus, begitu pun para pengamen dan peminta-minta. Waktu penyeberangan sepertinya tidak berlangsung lama, tapi saya langsung jatuh tertidur lagi begitu kapal mulai meninggalkan dermaga. Hehehe…

Saya terbangun bertepatan dengan masuknya bus di kota Phnom Penh (PP). Tirai jendela yang dipasang untuk menghalau sinar matahari saya sibakkan, waktunya mengamati PP. Dapat disimpulkan, jarang sekali menemukan mobil-mobil pribadi yang berukuran mini jangankan mobil seperti Daihatsu Ceria, serupa Daihatsu Xenia saja jarang terlihat. Masyarakat PP atau Kamboja sepertinya gandrung pada mobil berukuran besar seperti Ford Ranger atau Land Cruiser.

Bus akhirnya merapat di kantor ST cabang PP pada pukul 13.00. Sebagai penumpang tujuan SR, kami berganti bus. Selesai urusan check in dan pemasangan tag (lagi) kami punya waktu untuk beristirahat selama 45 menit. Lili dan Isti langsung mencari toko kelontong yang menjual cup noodle. Sementara Ariya langsung sibuk dengan laptopnya karena harus menyelesaikan sebuah pekerjaan dari kantornya. Pekerjaannya Ariya itu terbantu, lho, dengan koneksi wi-fi gratisan yang ada di kantor ST-PP.

Kemudian mie instan yang ditunggu-tunggu datang juga. Langsung dibawa ke dapurnya ST-PP yang merangkap sebagai hostel dan restoran. Karena kami tahu ini sebuah restoran, tanpa mengurangi rasa hormat, kami membayar USD 1/7 cup untuk pemberian air panas tersebut. Sebelum disantap bersama kentang mustofa (bekal dari ibunya Asty dan Dita) tidak lupa kami mengucapkan bismillah, semoga mie ini halal.

Bus yang akan membawa kami ke SR pun datang. Ransel-ransel dimasukkan kembali ke dalam lambung bus. Dan perjalanan 6 jam kedua segera dimulai. Kali ini supir busnya menyetel radio, sepertinya dia mendengarkan acara kirim-kirim salam. Baik pembawa acara maupun lagu yang diperdengarkan sama mendayunya dan saya pun kembali dibuai alam mimpi.

Entah di daerah mana yang pasti banyak sawah, ladang, dan rawa bus berhenti di sebuah restoran. Penumpang wajib meninggalkan bus karena bus akan dikunci. Maka berloncatanlah semua penumpang keluar, ada juga yang merasa terpaksa. Mungkin sedang dipertengahan mimpi indah seperti saya?

Di restoran ini saya sempatkan untuk ke toilet. Senangnya dapat toilet jongkok. Tapi ada juga yang rupanya bingung melihat keadaaan toilet seperti itu. Siapakah mereka? Yup, para pelancong dari negara empat musim.

Kembali dari urusan kamar kecil saya bergabung dengan teman-teman yang sudah menenteng aneka buah-buahan. Saya dan Lili berbagi membeli sekantong sawo yang langsung tandas di samping penjualnya. Teman-teman yang lain ada yang membeli mangga mengkel dan buah seperti apel hijau tapi rasanya seperti pir, jujube sebutannya.

Saya mengkalkulasi, jika bus berhenti untuk makan malam walau masih terang benderang begini rupa, maka jarak tempuh tinggal setengahnya lagi. Eh, kalkulasi saya meleset. Untuk kedua kalinya bus berhenti di sebuah resto, kali ini langit sudah gelap dan penerangan di restorannya menggunakan beberapa lampu berkekuatan 5 watt, warna merah lagi. Jadi seperti ruang konsultasi dengan seorang peramal. Agak ragu sebenarnya untuk ke kamar kecil lagi karena banyaknya laron dan serangga yang memenuhi (benar-benar memenuhi, mengepung) resto tersebut. Tapi saya tidak mau sakit akibat menahan pipis, maka saya beranikan untuk menggunakan toilet mereka yang lebih spooky lagi dibandingkan restonya. Airnya tidak bisa digunakan karena dipenuhi serangga!

Begitu selesai dengan urusan kamar kecil, saya langsung ngibrit masuk ke dalam bus. Kali ini pintu busnya tidak dikunci dan saya pun terjaga hingga kantor ST di SR ditemani bacaan tentang SR dan siaran radio yang mendayu-dayu itu.

Di akhir tujuan rupanya seorang gadis yang langsing dari Velkommen Guesthouse (VG-SR) sudah menunggu. Ia langsung sigap membawa ranselnya Ariya (ransel terberat dibandingkan ransel yang lain) setelah berhasil mengidentifikasi rombongan kami sebagai tamu di penginapannya.

Dengan semangat 45 gadis tersebut berjalan di depan memimpin iring-iringan. Ternyata lokasi VG-SR sangat dekat dengan kantor ST-SR yang berseberangan dengan Siem Reap Museum yang malam itu terlihat begitu cantik bermandikan cahaya lampu.

Kami disambut oleh Edvin, sepertinya owner dari VG-SR ini, seorang pria bule berperawakan tinggi. Sebagai ucapan terima kasih karena telah mau menjadi tamu VG-SR yang baru beroperasi, Edvin memberikan diskon untuk kamar yang ditempati saya, Lili dan Ariya dan memperbolehkan kami untuk late check-out (satu kamar saja tapi). Iyes!

Malam itu juga saya dan Lili menyelesaikan pembayaran akomodasi dan transportasi yang akan kami gunakan untuk kembali ke PP pada keesokan sorenya. Pengaturan transportasi ini difasilitasi juga oleh Edvin. Jadi pihak travelnya (saya sebutnya travel seperti armada minibus yang melayani rute Jakarta-Bandung) akan menjemput kami langsung di penginapan.

Tak lupa juga ia menghubungkan saya dengan Mr. Siela, supir mobil sewa yang akan membawa kami keliling Angkor Archeological Park esok paginya. Mr. Siela ini rupanya mencek keberadaan kami baik lewat telepon maupun datang langsung ke VG-SR untuk menanyakan apakah benar ada rombongan cewek-cewek kece asal Indonesia yang menginap di situ. Inisiatifnya bagus juga, ya.

Saatnya makan dengan nasi. Kami putuskan untuk makan malam di KFC. Keputusan kami ini ditertawakan oleh Edvin saat kami menanyakan lokasi KFC. Katanya, sudah jauh-jauh datang ke SR yang dicari malah KFC. Ya, bagaimana lagi kami tidak mau repot-repot mencari resto halal atau minimal resto vegetarian karena sudah lumayan malam. Dan melihat jalanan SR yang sepi, resto yang jelas seperti KFC adalah pilihan terbaik yang kami punya.

Di sinilah untuk kali pertama saya naik tuk-tuk, pergi ke dan pulang dari KFC. Dan senangnya menyantap nasi, walau saos sambalnya rasanya aneh tapi cukuplah untuk mendamaikan perut sehingga kami dapat tidur nyenyak untuk menghadapi petualangan esok subuh. Yup, subuh! Karena kami mau mengejar matahari terbit di Angkor Wat.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

8 thoughts on “bobok-bobok bego: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian kedua.

    1. Ini menuliskan catper kemarin saja betul-betul ingin cepat kembali naik pesawat.

      Bolehlah nanti kita bertemu agar supaya saya bisa meng-copy foto-foto tersebut.

    1. Mbak, saat saya di hostel Osaka, kuncinya cuma dimasukkan dalam kotak, karena penjaganya nggak ada….tapi pintu depan sudah dibuka. Dan sepertinya nggak apa-apa, karena bulan depannya anakku tidur lagi di hostel tsb karena menemani temannya yang berkunjung ke Osaka-Kyoto.

    2. Memang bagus, Bu. Kalau Ibu berkesempatan ke sana nanti, ambil tur yang lebih dari satu hari ya, Bu. Karena satu hari itu tidak cukup meliput area Angkor yang luasss was was…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s