jangan ajak ngobrol supir taksinya: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian pertama.

Tahun 2012 yang lalu saya kembali melakukan trip ke negara ASEAN, yakni Kamboja dan Vietnam. Lamanya waktu perjalanan dari menjejak Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City (HCMC) sampai kembali ke Terminal 3 Bandara Soetta di Tangerang adalah 8 hari 7 malam. Demi untuk merealisasikan rencana ini saya menahan diri untuk tidak sering cuti, lho, tapi pada akhirnya jatah cuti tersebut sama sekali tidak digunakan😀

Dalam perjalanan ini saya ditemani oleh 6 orang perempuan lainnya. Absen sebentar, yuk: ada @liliamrina (familiar, dong, secara doi sudah sering wara-wiri dalam tulisan saya sebelumnya), @ariyadewi (yang adalah temannya Lili dan pernah trip bareng ke Pulau Belitung), kakak beradik @siachiii (Asty) dan @chairilina a.k.a Dita (mereka berdua adalah temannya Ariya), serta the dynamic duo dari Yogya, Mbak Umah (yang adalah temannya Lili semasa nge-kost di Bandung) dan Isti (yang adalah temannya Mbak Umah). Hihihi… hubungan tersebut layaknya jejaring MLM, ya?

My trip companion. Took pose before depart to HCMC.

Semestinya @tiara_alamanda  (Lala) ikut dalam perjalanan ini dan menjadi teman sekamar saya. Tapi karena sesuatu hal, sehari sebelum keberangkatan ia mengundurkan diri. Walau Lala batal ikut, saya tidak akan melupakan jasanya dalam mewujudkan tamasya ini. Karena atas kartu kreditnyalah tiket AirAsia Jakarta-Ho Chi Minh-Jakarta yang dibeli pada bulan Februari bisa sampai di tangan. So, terima kasih banyak ya Lala *kecupbasah*

Dua minggu sebelum keberangkatan, saya, Lili, Ariya, dan Lala bertemu untuk mematangkan rencana perjalanan. Sore di penghujung bulan Oktober itu kami bertemu di resto Mr. Pancake di Setiabudi One. Agendanya adalah membahas dua versi  itinerary yang sudah dibuat Ariya. Jempolan deh itinerary-nya, karena mencakup rentang waktu, tujuan, moda transportasi yang akan digunakan, dan perkiraan seluruh biaya di luar pengeluaran pribadi. Dalam pertemuan ini hadir juga teman-teman saya yang sudah pernah melancong ke Kamboja dan Vietnam. Tersebutlah @tantedebz, @cipukun dan @mila_said. Saya tidak akan panjang kali lebar kali tinggi membahas perihal kejadian ini. Jika ada yang tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi saat itu, silahkan tengok blog ini dan ini.

Seminggu jelang keberangkatan, komunikasi saya dengan Lili dan Ariya semakin intens. Ratusan baris BBM dan puluhan e-mail berseliweran antara kami bertiga dengan penyedia jasa transportasi dan penginapan di HCMC, Siem Reap (SR), Phnom Penh, dan Mui Ne.

Jika tertarik melakukan perjalanan mandiri, saya sarankan untuk cek-ricek review yang dilakukan pejalan sebelumnya lewat catatan perjalanan mereka atau situs TripAdvisor atau Travelfish. Ini berguna sekali untuk mendapatkan gambaran mengenai penyedia jasa yang baik reputasinya selain mencari harga murahnya. Setelah cek-ricek, hal yang kami lakukan kemudian adalah menghubungi penyedia jasa tersebut melalui e-mail mereka. Kami menghindari membeli jasa secara online. Pertama untuk menghindari kesalahpahaman, kedua untuk menghindari adanya biaya-biaya tambahan.

Investasi waktu dalam melakukan hal tersebut tidak sia-sia. Contohnya, saat  saya mencari angkutan dari HCMC menuju SR rupanya operator tur dan bus bernama Shin Tourist (ST) yang bermarkas di Jl. De Tham #246-248 sedang mengadakan diskon hingga 50% (dibuatnya saya terheran-heran, karena baru kali ini mendapatkan tiket bus yang didiskon) bertepatan dengan waktu keberadaan kami di sana.

ST ini menyediakan pembelian tiket bus dan paket tur secara online, cakep dah! Tetapi untuk menghindari kesalahpahaman tadi, saya mencoba mengirimkan e-mail yang segera dibalas oleh Ms. Cindy Ho, marketingnya. Berbalas e-mail pun tak terelakkan. Ms. Ho meyakinkan kami bahwa benar tiket bus dari HCMC menuju SR (waktu tempuh 12 jam) itu adalah USD 12/orang, dari harga USD 18/orang. Yay! Dan Ms. Ho juga memastikan bahwa booking-an tiket kami itu akan mereka hold sampai kami datang langsung ke kantor mereka asal kami sudah sampai sebelum jam 10 malam (kami pergi ke SR esok harinya). Double yay!

Hari keberangkatan pun tiba. Penerbangan saya dari Jakarta menuju HCMC dijadwalkan pada 13 November 2012 pukul 16.35 WIB. Berdasarkan perjanjian dengan teman-teman, saya ditunggu di Terminal 3 Soetta pada pukul 14.00 WIB agar kami ada cukup waktu untuk mengisi perut, mengantri di bagian imigrasi dan mengatur siapa yang menjadi bandar –> saya.

Jam sepuluh pagi waktu Bogor saya meninggalkan rumah diiringi doa keselamatan dan enteng jodoh dari Si Mamah. Sampai di pool Damri Botani Square saya berleha-leha dulu di ruang tunggunya dan membiarkan bus Damri yang ada saat itu berlalu. Saya mengambil bus yang berangkat jam sebelas.

Perjalanan dari Bogor menuju Soetta tersendat di Cawang, selebihnya sih lancar jaya. Alih-alih berniat tidur (karena tidak bisa tidur malamnya saking bersemangatnya) saya malah sibuk ber-BBM-an dan ngobrol dengan seorang ibu di bangku sebelah. Dari ceritanya, Si Ibu ini akan menjemput anak perempuan dan cucu laki-lakinya yang akan tiba dari Brunei Darussalam. Di depan Terminal 3 saya dan Si Ibu berpisah. Saya masuk ke ruang keberangkatan sementara Si Ibu yang datang dari Sadeng, Sukabumi sana balik kanan menuju ruang tunggu. Selamat berkangen-kangenan dengan anak dan cucunya ya, Bu.

Menuju meja imigrasi Vietnam sekeluarnya dari garbarata. Foto oleh @chairilina.

Apa yang terjadi selama di Terminal 3 sampai di Bandara Tan Son Nath, HCMC bisa membaca uraian yang ditulis Ariya. Saya akan menyambung cerita dimulai ketika saya, Lili, Mbak Umah, dan Isti naik taksi menuju Jl. Pham Ngu Lao, kawasan backpacker-nya HCMC.

Jika Ariya, Asty, Dita, dan dua laki-laki yang bersama mereka langsung menuju penginapan Madam Cuc 127, kami berempat harus mampir ke Jl. De Tham untuk mengambil tiket bus di atas. Begitu pantat menyentuh jok kulit imitasi Isuzu Panther-nya Saigon Taxi, saya langsung meminta kepada supirnya untuk diarahkan ke kantornya ST. Nah, kesalapahaman terjadi, deh. Bodohnya saya ini, bukannya langsung memberikan kertas bertuliskan alamat kantornya ST tapi malah mencoba berkomunikasi dengan broken English. Doomed! Saya telat menyadari karena sepertinya pelafalan jalan yang ingin saya tuju itu tidak serta-merta sama bunyinya dengan apa yang dituliskan.

Setelah kesalapahaman teratasi dengan terlebih dulu Lili bertelepon ria dengan dispacher Saigon Taxi, kami pun bisa menikmati sisa perjalanan dengan mengomentari suasana malam HCMC.

Ternyata HCMC itu kota yang modern, bermandikan cahaya dari banyak toko dan saya ada melihat beberapa billboard yang menampilkan merk-merk internasional. Yang membuat saya lebih takjub adalah banyak dan luasnya taman-taman kota. Kalau mengenai pengendara motor, saya sudah ketahui sebelumnya. Tapi tetap saja membuat saya menganga, pasalnya pengendara motor yang berjenis kelamin perempuan tidak sedikit yang dandanannya kinyis-kinyis. Mereka tidak takut menantang angin malam dan pandangan lelaki hidung belang (that is a rhyme). Juara!

Komentar-komentar yang keluar dari mulut kami rupanya menghibur Si Supir taksi, tiada lagi kejengkelan. Tapi hal itu tidak bertahan lama, sampai pada suatu waktu kemudian laju taksi kami melambat karena ada banyak anak sekolah yang menyebrang jalan. Sontak kami melihat jam dan terheran-heran, ini anak sekolah baru bubar sekolah jam sembilan malam?!? Isti yang duduk disamping Si Supir langsung bertanya polos dalam bahasa Inggris: apakah sekolah mereka baru selesai atau mereka habis mengikuti les atau kegiatan ekstrakulikuler? (panjang ya pertanyaannya). Eh, Si Supir malah mau menepikan taksinya, menyangka kami mau turun. Woalah! Yo wes, nggak tanya-tanya lagi deh, Mas. Biarlah keheranan kami tersebut tetap menjadi tanda-tanya.

Akhirnya kami sampai di kantor ST sebelum jam 10 malam. Agak tersasar dan ini dimanfaatkan oleh Si Supir untuk minta ongkos tambahan. Otomatis kami berempat merepet bersamaan melakukan penolakan. Dengan senyum (atau rasa dongkol) dikulum Si Supir beringsut ke belakang. Menyerah dia😀

Sesampainya di dalam kantor ST saya diarahkan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Karena tak mau berlama-lama menerangkan dengan bahasa Tarzan saya langsung angsurkan kode booking yang tercatat dalam buku saku juga tak lupa saya siapkan uang dan passport, ini dilakukan setelah berkaca pada pembeli sebelumnya.

Ketika tiket diserahkan, saya serahkan uang beserta passport tersebut. Eh, Si Kasir tidak menggubris passport itu untuk dicek. Ah, biarlah pikir saya. Yang penting saya sudah dapat tiket yang sesuai dengan yang tertera dalam e-mail Ms. Ho: USD 84/7 orang, HCMC ke SR tanggal 14 November 2012, berangkat pukul 06.30. Lucunya, walau sudah dijelaskan dalam e-mail pembuka bahwa kami berasal dari Indonesia, dalam tiket tersebut tercetak bahwa kewarganegaraan saya adalah Filipina.

Sebagai penutup pembicaraan dengan petugas kasir, saya menanyakan apakah dia mengetahui letak hostel Madam Cuc 127 di Jl. Cong Quynh #127. Hanya gelengan kepala yang saya terima sebagai jawabannya. Sudahlah, kami mengandalkan saja pada kekuatan membaca peta😀

Hmmm, di depan sana sepertinya Taman 23/9 yang sejajar dengan Jl. Pham Ngu Lao, saya mengingat-ingat peta HCMC yang saya tekuni dari Google Maps. Jadi kami harus mengarah ke kiri  karena Jl. Cong Quynh terletak dua atau tiga blok dari Jl. De Tham.

Jalan-jalan malam ini menjadi pembiasaan kami dengan suasana HCMC, terutama kawasan backpacker-nya ini. Sepanjang Jl. Pham Ngu Lao berjajar hostel, operator tur, operator bus antarkota, binatu, mini market, restoran, bar,  toko souvenir, dan sebuah toko roti yang disarankan Lonely Planet untuk dikunjungi, ABC Bakery.

Saya, Lili, Mbak Umah, dan Isti tentunya berbelok. Kami perlu mencari bekal untuk perjalanan selama 12 jam keesokan harinya. Melihat seorang pelayan sedang menyiapkan roti isi bagi para pelanggan bule yang menyemut, terbit juga air liur ini. Tapi saya memilih membeli bolu pisang :p

Tak disangka sekeluarnya kami dari ABC Bakery, kami bersua dengan dua laki-laki yang berbagi taksi dengan kelompoknya Ariya, mereka mau membeli air kemasan, akunya. Patut disyukuri, karena kemampuan saya melokasi area tiba-tiba menurun (alasan :p). Kalau tidak salah ingat, nama mereka itu Ismail dan Arif. Mah, hampir dapat jodoh, nih🙂

Beruntungnya mereka. Mereka jalan-jalan ke Vietnam karena mendapatkan tiket gratis dari AA. Kami akhirnya mengintil mereka masuk ke Circle K, sama-sama membeli air mineral ukuran 1 liter, karena mereka berjanji menunjukkan lokasi Hostel Madam Cuc 127. Kami berpisah dengan pemuda Yogya dan Makassar itu di depan pintu hostel.  Have fun yah you guys!

Penampakan kamar mandi di hostel Madam Cuc 127 yang kering dan bersih.

<<Note>>

Tulisan lainnya dari Ariya, lengkap dengan pengeluaran biaya harian:

  1. Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)
  2. Menuju Siem Reap (Hari 2)
  3. Angkor – Menyusuri Situs Warisan Dunia (Hari 3)

23 thoughts on “jangan ajak ngobrol supir taksinya: perjalanan ke Kamboja dan Vietnam bagian pertama.

  1. cerita tentang perjalanan kurang dapet kesannya kalo gak make foto
    :p

    btw, banyak amat sampe bertujuh gitu perginya
    ditunggu sambungannya yes
    jangan lupa foto! :p

  2. Saya dan beberapa teman pengin ke Vietnam…tapi kami kan acara jalan-jalan cuma setahun sekali…dan kalah suara, akhirnya kemarin ke Bangkok. Maklum nini-aki, penginnya tetap hotel bintang 4-5 jadi deh saya kalah lagi. Tapi lumayan lho, dengan rombongan besar (28) orang bisa ke Bangkok-Pattaya dengan menginap hotel bintang 4-5 (semalam tidur di Pattaya) termasuk makan dan wisata hanya bayar Rp.6 juta.

    Dan kayaknya bakal kalah lagi karena lebih banyak yang pengin ke Hongkong-Macao.

    Btw mbak Dian, apakah di Vietnam mudah mendapatkan makanan halal? karena ini yang jadi concern teman-teman saya.

    1. Saya harus tunduk, nih, pada Ibu –> traveling bersama 27 orang lainnya🙂

      Di HCMC ada beberapa restoran halal, Bu, yang dimiliki orang Malaysia dan atau India. Mereka berkoloni di dekat masjid raya-nya. Di situ juga ada hotel bintang 4-5 dan dekat dengan pusat keriaannya HCMC. Budget mungkin bisa lebih murah lagi.

  3. nice article. Taun depan tepatnya april rencananya ke HCMC, tiket udah ditangan. Nyampe sana sekitar jam 9 malam, cewek sendirian pula, aman ga yah naik taksi, parno duluan nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s