book review: Where the Mountain Meets the Moon.

Where the Mountain Meets the Moon // Grace Lin

Sudah lama juga saya tidak membuat nukilan sebuah buku, terakhir kali saya memuatnya di blog ini terjadi pada tahun 2009, waktu itu saya mengulas Perahu Kertas-nya Dee.

Jadi sambil menunggu posting-an tentang perjalanan saya ke Kamboja dan Vietnam, izinkan saya mengupas sekilas buku karya Grace Lin yang berjudul Where the Mountain Meets the Moon.

Pertama-tama saya ingin menceritakan bagaimana buku ini bisa sampai di tangan saya, mari kita mulai: jadi ketika saya dan teman-teman seperjalanan (total jenderal: 7 orang perempuan kece, rajin berdoa, rajin menabung, menantu idamanlah intinya) akan menuju KFC di perempatan Le Lai, kota Ho Chi Minh (HCMC) setelah sebelumnya ngopi-ngopi cantik di kedai Trung Ngunyen Coffee yang berada di pojokan antara Jl. Dong Khoi dan Jl. Le Loi, saya melihat sebuah toko buku berdiri di Jl. Le Loi. Fahasa nama toko buku tersebut.

Rencana awal adalah melihat lebih dekat rupa toko buku di HCMC itu, tentu saja kami kecewa karena yang kami temukan tidak lain dan tidak bukan adalah berderet-deret rak dengan beragam judul buku. Ya, iyalah! Hehehe…. Saya susuri setiap rak dengan khidmat sampai saya tertumbuk di deretan rak ketiga. Pupil mata saya rasanya membesar dua kali kala itu tatkala menemukan buku-buku karya Judy Blume, maklum, salah satu penulis favorit soalnya. Lalu saya intip harga salah satu judul. Apaaa??? Buku tersebut dibandrol Rp 60 ribu (langsung mengkalkulasikan dengan harga di tanah air). Langsung saya peluk semua karya Mrs. Blume yang belum saya miliki. Total dapat tiga buah buku.

Kemudian, sebuah, dua buah kalimat melintas dalam pikiran saya: this is too good too be true. Saya harus tambah satu judul lagi, nih! Nah, buku terakhir yang saya peluk sebelum menuju kasir adalah buku yang akan saya review ini.

Total uang yang saya keluarkan malam itu sebesar Rp 250 ribu. Walau keempat buku tersebut nantinya menambah berat beban ransel, saya rela.

Where the Mountain Meets the Moon adalah cerita mengenai seorang anak perempuan berambut hitam legam dengan pipi selalu bersemu merah delima serta mata yang senantiasa berbinar-binar ketika tersenyum maupun saat mengalami petualangan. Nama anak perempuan itu, Minli.

Minli tinggal bersama Ma dan Ba di sebuah gubuk yang hampir rubuh di sebuah desa bernama Fruitless Mountain. Dari nama desanya saja sudah dapat dipastikan bagaimana merananya kondisi penduduknya. Ya, mereka hidup sulit karena tanah garapan yang tidak gembur yang menolak memaksimalkan tiap tetumbuhan di atasnya. Ma, Ba bersama penduduk desa lainnya berusaha keras menggarap tanah tersebut untuk menyambung hidup. Keadaan yang demikian konstan membuat kehidupan mereka berjalan membosankan tiap harinya. Sampai-sampai terbawa pada penampilan mereka sehari-hari, kusam, sama kusamnya dengan  tanah yang miskin unsur hara itu.

Sementara Minli berbeda, ia tidak berubah kusam dan membosankan. Mungkin itu pengaruh dari cerita-cerita yang selalu didongengkan Ba setiap malam. Minli bersinar penuh rasa ingin tahu dan pengharapan. Namun terkadang rasa jengkel tentang kondisi hidup datang menyelusup jika melihat Ma yang wajahnya selalu lelah dengan kening mengkerut dalam atau melihat Ba yang selalu berupaya tegar. Minli ingin sekali melakukan sesuatu bagi Ma dan Ba selain membantu mereka di ladang dan menyiapkan makan malam. Minli ingin sekali bisa membawa keberuntungan ke dalam rumah. Namun entah bagaimana caranya.

Sampai pada suatu hari Minli membeli seekor ikan mas menggunakan salah satu keping dari dua keping koin harta terakhir keluarga tersebut. Pedagang ikan mas itu membujuk begitu halusnya bahwa bagi siapa saja yang membeli ikan masnya niscaya keberuntungan akan menghampiri. Minli dengan pemikirannya yang sederhana membuang koin berharga untuk seekor ikan mas yang kemudian malah menambah sebuah mulut untuk diberi makan, murka Ma setelahnya.

Karena Minli tidak berpikir bahwa seekor ikan mas akan menambah beban keluarga, maka pada hari berikutnya Minli memutuskan untuk menghanyutkan ikan mas itu ke sungai. Segera setelah si ikan mas bersentuhan dengan aliran sungai, si ikan mas mulai berbicara kepada Minli untuk meyakinkan Minli  bahwa cerita Ba tentang Kakek Rembulan itu benar adanya. Bahwa sang kakek akan menjawab semua pertanyaan, termasuk pertanyaan tentang bagaimana mendatangkan keberuntungan bagi keluarga Minli.

Di sinilah kemudian cerita petualangan Minli berawal. Ia memutuskan untuk mencari Kakek Rembulan di mana pertemuan tersebut akan sulit dilakukan karena Minli harus melakukan perjalanan menuju Never Ending Mountain.

Pencarian Minli dijalin oleh Grace Lin dengan indahnya. Di bagian-bagian Minli bertemu naga, anak gembala, seekor macan, raja yang menyamar, maupun bersua Si Kembar Da-A-Fu, diceritakan juga dongeng-dongeng lain. Pun, ketika Ma dan Ba berupaya mencari Minli yang keluar dari rumah, ada dongeng-dongeng yang disisipkan. Jadi ketika buku ini mencapai akhirnya dongeng-dongeng tersebut seperti menjahit buku ini menjadi adibusana yang indah. Ditambah lagi dengan ilustrasi yang dibuat sendiri oleh si pengarang. Jadi, walaupun ditujukan untuk pembaca anak-anak, orang dewasa pun akan turut jatuh cinta.

Buku ini mengetengahkan banyak pesan moral antara lain pengorbanan seorang anak yang ingin melihat orang tuanya bahagia, persahabatan tanpa syarat dan bahwa ketamakan akan menjerumuskan pemujanya.

4 thoughts on “book review: Where the Mountain Meets the Moon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s