bye, June.

Yang terjadi di bulan Juni ini:

1. Konser #NKOTBSB

Keriaan di bulan Juni ini dimulai dengan hadirnya saya bersama @liliamrina, @EfaAyuDhewe dan @eten19 di konser #NKOTBSB, One Stage One Night.

Keterlibatan kami ini bisa ditarik enam bulan sebelumnya di mana Kak Eten berhasil memesan empat buah tiket kelas festival dalam waktu kurang dari satu menit! Disebut-sebut bahwa penjualan tiket online  ini memegang rekor tercepat saat itu. Entah berapa lembar yang terjual, tapi pihak panitia yang menyiapkan waktu sekitar dua jam untuk masa penjualan harus segera menutup lapak kelas festivalnya dalam waktu tujuh menit!

Mendengar berita tersebut bisa dibayangkan betapa gegap-gempitanya para fans #NKOTBSB dalam menyambut konser ini. Kami juga senang bukan kepalang, karena kami turut serta di dalamnya. Yay!

Dua hari sebelum hari H menjadi tugas saya menukar lembaran konfirmasi pembelian tiket menjadi tiket fisik di kantor RajaKarcis di bilangan Manggarai. Tidak perlu antri lama, tiket asli sudah di tangan. Berkali-kali saya memastikan bahwa lembar tiket tersebut tersimpan rapi di dalam tas. Parno.

Empat lembar tiket kelas festival.

Hari H pun tiba. Kak Eten yang bertugas di daerah Ragunan memutuskan untuk bekerja di Thamrin agar bisa bersama-sama berangkat ke MEIS Ancol.

Kami berangkat sekitar pukul empat sore. Walau berangkat dengan riang-gembira ada sedikit kekhawatiran yang menggelayut di hati, pasalnya jalanan Jakarta pada hari Jumat sore dikenal tidak ramah, kuadrat! Masing-masing dari kami pun mengucapkan harapan yang sama, semoga jalanan tidak macet dan kami masih punya waktu luang untuk makan malam dulu sebelum konser berlangsung.

Puji syukur, Pak Cik-sebutan untuk Proton Exoranya Kak Eten-hanya tersendat saat antri menuju lapangan parkir MEIS. Dan tak dinyana saat antri itulah seorang petugas parkir menyuruh Pak Cik diparkir tidak jauh dari pintu masuk MEIS sehingga kami pun tidak perlu jalan terlalu jauh.

We are Blockheads! Photo: @EfaAyuDhewe.

Setelah menukar tiket dengan gelang-gelang kertas berwarna pink (Lili terpaksa menggunakannya) untuk kelas festival, kami menuju Kopi Tiam Oey untuk mengisi amunisi. Di sini saya dan Kak Eten mengantri untuk mendapatkan meja sementara Lili dan Efa mengantri untuk masuk ke toilet.

Karena menu makanan yang dipesan Efa tidak kunjung tiba sementara pintu gedung segera dibuka, akhirnya Efa memutuskan untuk membeli sandwich. Kami meninggalkan Efa dan mulai memasuki gedung yang ternyata belum rampung 100%. Lantainya belum dipasangi tegel sehingga debu-debu menguar di mana-mana. Bagusnya, pihak panitia mengharuskan para penonton untuk memasuki gedung dalam kelompok-kelompok yang dibariskan seperti pasukan pengibar bendera sehingga tidak berdesak-desakan.

Karena Efa belum terlihat batang-hidungnya, saya menunggunya di depan pintu masuk gedung. Lili dan Kak Eten bertugas mencari spot yang representatif. Mereka berhasil mendapatkan tempat di barisan paling depan! Keren!

Front rows stand! Photo from @eten19.

Menjelang pukul delapan malam, masih sedikit penonton yang hadir. Area-area kosong masih terlihat di sisi kiri, kanan bahkan di kelas dengan nomor duduk. Tapi begitu tirai diangkat lewat sedikit dari jam 20.00, semua penonton menyeruak mendekati bibir panggung. Sudah penuh rupanya gedung ini. Dan dimulailah nostalgia cinta (uhuk!) sepanjang 32 lagu.

Masih terekam dengan baik dalam ingatan bagaimana @jordanknight memamerkan perutnya sambil menari semi-erotis (menurut pandangan mata saya, lho). Aksinya ini membuat saya menahan pandangan dengan kedua belah telapak tangan tapi tetap melihat dia meliuk-liukkan badan lewat celah jari-jemari, ogah rugi. Ini sebuah antitesa jika dibandingkan dengan ribuan penonton perempuan lainnya yang berteriak histeris😀

We’re waiting for twenty years to see them again.                            Photo: @EfaAyuDhewe.

Kami berempat sepakat, bahwa malam itu kami datang untuk NKOTB.  Bukan bermaksud mengecilkan kehadiran Brian Littrel Cs., tapi dalam masa jaya NKOTB-lah perempuan-perempuan ini terpapar Cinderella Syndrome, berharap Jordan dan Joey di atas kuda putihnya menjemput hati yang putih suci ini menuju matahari tenggelam bersama-sama. Kok, penggambarannya seperti di halaman akhir komik Lucky Luck, ya? Oh, well😀

2. Lili’s birthday

Lili merayakan ultahnya kali ini dengan membawa kue pisang coklat dengan tulisan ucapan berwarna pink. Sepertinya dia tak sabar untuk segera memotongnya😀

Tulisannya berwarna pink!😀

Lili a.k.a Jangtu, wilujeung tepang taun.

Potong kuenya.. potong kuenya… dan saya minta dua potong.

3. Pameran Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia

Kemudian untuk menambah pengetahuan mengenai seni dan budaya dalam negeri, Lili mengajak saya melihat pameran lukisan karya Raden Saleh di Musium Nasional, eh, Galeri Nasional.

Bisa dikatakan bahwa ini peristiwa langka. Jika tanpa kerjasama internasional, mungkin sulit ya mengumpulkan 230 karya Raden Saleh yang sudah menjadi benda koleksi sangat berharga.

Galeri Nasional, Jl. Merdeka Barat.
Hormatilah Tuhan dan cintailah manusia//Raden Saleh (1848)

Saya sendiri memiliki ketertarikan atas salah satu karya Bapak Seni Lukis Modern Indonesia ini, yakni Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dilukis pada tahun 1857. Tidak menyangka bahwa ukuran asli lukisan tersebut besar sekali. Dari membaca sekilas kemudian ditambah dengan mencuri dengar seorang pemandu, saya menemukan banyak hal yang menarik dibalik lukisan tersebut. Lukisan ini merupakan interpretasi bagi lukisan dengan tokoh yang sama yang dibuat oleh pelukis Nicolaas Pieneman duapuluh lima tahun sebelumnya. Jika dalam lukisan Pieneman secara garis besar menggambarkan “penyerahan diri” Pangeran Diponegoro, dalam lukisan Raden Saleh Pangeran Diponegoro menunjukkan kekerasan hatinya atas penangkapan tersebut. Wajahnya menolak untuk meminta belas-kasihan, malah menantang penangkapnya. Seolah-olah mengatakan bahwa penangkapan ini bukanlah sebuah akhir, bahwa perjuangan menuju kebebasan dari penjajah Belanda akan terus berlanjut.

Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857//Raden Saleh

Dalam lukisan ini juga, Raden Saleh menempatkan sosoknya sendiri sebanyak 4 orang sebagai dukungannya atas perjuangan yang dilakukan Pangeran Diponegoro.

4. Trip to Yogyakarta

Pada pertengan Juni saya mendapat tugas untuk mengawal sebuah pelatihan di Yogyakarta. Kegiatannya bertepatan dengan usainya acara meditasi yang diikuti beberapa teman kantor. Di sela-sela kegiatan memburu kebutuhan pelatihan, saya sempatkan untuk makan siang bersama mereka.

Kongkow bersama @CieDie dan Efa yang selesai bermeditasi di Candi Mendut.

Hari lainnya saya melakukan wisata kuliner. Tidak menyangka kuliner di Yogyakarta sudah banyak rupa dan serunya lagi kita harus melakukan kegiatan ekstra mencari tempat-tempat makan yang enak itu. Salah satu lokasi kuliner yang saya datangi adalah Iga Sapi Bali di Jl. Kaliurang Km. 8. Untungnya ada kawan baru yang memandu.

Wisata kuliner di Kaliurang Km. 8, tepatnya di Iga Sapi Bali. Bertemu kawan baru.

Di hari lainnya saya sempatkan mengunjungi Pantai Parangtritis. Kegiatan ini dimungkinkan karena lokasi praktek dalam rangkaian pelatihan tersebut hanya selemparan batu dari pantai.

Menapaki pasir Parangtritis.

Dan, untuk pertama kalinya saya bisa memakan daging kambing tanpa mengernyitkan dahi dan memencet hidung.

Berhasil menghabiskan setusuk sate kambing di Sate Klatak, Bantul.

5. Sunday evening with @SuciMuliasih and chef @DiankaDee

Rencana -rencana yang tertunda lama sekali, akhirnya ditunaikan pada sore hari tanggal 24 Juni 2012. Pastinya banyak yang terjadi and I still wait for the best part.

Evening hangout with the sweet ladies, @SuciMuliasih and @DiankaDee.
Tas ini berjaya lagi setelah resletingnya diperbaiki. Menemani saya jalan-jalan sore itu.

6. Pertunjukan Matah Ati

Ini sebuah pertunjukkan yang tidak bisa disederhanakan dengan menyebutnya sebagai sendra tari, karena lebih dari itu. Tata panggung yang sungguh modern, tata gerak yang menggambungkan tari tradisional dan modern, kostum dan tata rias yang apik, apalagi disiplin para penarinya yang begitu memukau.

Matah Ati akan pentas sekali lagi di kota kelahirannya, Solo, pada tanggal 8 dan 9 September 2012. Jay Subiakto menjanjikan bahwa pertunjukkan di Solo nanti lebih spektakuler. Silahkan follow @matah_ati.

Bersama pendukung acara Matah Ati. Kostumnya begitu detil dan cantik.

5 thoughts on “bye, June.

  1. June is a fascinating month, always. Begitu juga org2 yang lahir di bulan ini *uhuk*.
    Ow, maafkan tak bisa me’wakili’mu untuk pertunjukan dalang ‘keren’ itu ya, hihi.

    1. Keseruannya dikumpulkan hingga akhir bulan, karena yang punya blog sedang kehabisan kata-kata😦

      Saya, kurus? Ah, masa? *melipirkekubikal*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s