berlibur ke Belitung (bagian 1).

Akhir pekan kemarin saya, Lili, Efa, dan Mila bertolak ke Pulau Belitung untuk main air, foto-foto, sedikit kegiatan kuliner, dan sedikit belanja. Keberangkatan kami ini dimungkinkan karena temannya Lili bersedia mengkoordinasikan segalanya, mulai dari tiket pesawat sampai jajan cemilan.

Lagi-lagi supaya biaya berliburnya murah, acara diatur jauh-jauh hari dan diajaklah sebanyak-banyaknya peserta๐Ÿ˜€ Tiket pesawat dibeli pada bulan Agustus 2011. Kebetulan bagi pemegang kartu kredit dari BNI bisa mendapatkan promo Beli 1 Dapat 2 Tiket Untuk Semua Rute Sriwijaya Air. Saya mengeluarkan biaya Rp 750,000.- untuk tiket Jakarta-Tj. Pandan-Jakarta dan… masih ada kembaliannya lho, yang kemudian digunakan untuk membayar airport tax Bandara Soetta.

Sekitar jam tiga pagi pada Sabtu (12/11) saya, Lili dan Efa meninggalkan rumah kost saya. Sedikit mengendap-endap supaya penghuni kost lainnya tidak terbangun. Efa yang cukup heboh membawa koper sambil digendong (bukan ditarik) membuat seorang tukang ojek berkomentar, “Mbak, sudah nggak betah ya di Jakarta?”. Nah, lho.

Kami bertiga sampai di bandara sekitar 04.15 untuk bergabung dengan rekan seperjalanan lainnya. Pertama bertemu dengan Si Turis Kere, Mila, di depan gerai BNI. Lalu berturut-turut bertemu dengan Vira, Evie, Isna, Rini, Ariya, dan Lala. Bergabung kemudian dengan Novie, Hany dan Adin di ruang tunggu keberangkatan. Sementara baru berkenalan dengan Ray slash Ibnu dan Henri dalam mobil yang mengantar kami berkeliling Belitung.

Dalam penerbangan kali ini bukan hanya rombongan kami saja yang akan berlibur. Bisa dikatakan dalam keberangkatan pagi itu banyak ditemukan penumpang dengan penampilan celana pendek, kaos kutung, kacamata hitam, dan topi anyaman serta backpack. Perjalanan udaranya sendiri berlangsung nyaman dan singkat. Nyaman karena sukses membuat saya tertidur. Singkat karena tidur saya terasa kurang lama๐Ÿ˜€

Para Pelancong dari ki-ka: Efa, Mila, saya, dan Lili, sesaat sesudah turun dari pesawat. Dan Mila butuh tiga topi dalam perjalanan kali ini.

Begitu turun dari pesawat, kamera-kamera saku langsung dikeluarkan. Beberapa orang berfoto dengan latar belakang pesawat sementara banyak lainnya berfoto berlatar tulisan Selamat Datang di Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin, Belitung.

Kami dijemput oleh Riko dan Eko dari Gerbang Belitung Tour and Travel Services. Setelah cukup bertukar-sapa dan mengabsen, kami digiring memasuki minibus semodel dengan travel-travel ke Bandung itu. Keempat perempuan di atas mendapatkan tempat duduk paling belakang dan langsung ber-hahahihi ngobrol ngalur-ngidul.

Karena sampai di Tanjung Pandan masih dalam rentang waktu sarapan, kami dibawa ke warung Mie Belitung Atep. Mienya disajikan dengan tahu serupa tahu sumedang, udang, potongan mentimun, potongan semacam cakwe, dan emping lalu diguyur oleh kuah seperti kuah tahu gejrot namun lebih manis. Karena kurang cocok dilidah tapi harus dimakan juga, saya mengakalinya dengan menambahkan sambal dan menghancurkan emping sehancur-hancurnya. Ta da… jadi enak deh. Di warung ini pula pertama kali mencoba es jeruk kunci yang jernih airnya. Es jeruk ini disajikan beserta biji-bijinya sebagai hiasan(sepertinya untuk menandakan bahwa air tersebut air jeruk, dan bukan air mineral).

Mie Belitung “Atep” dan es jeruk kunci.

Perut sudah tenang dan perjalanan pun dilanjutkan kembali. Kami langsung menuju Kabupaten Belitung Timur untuk mengunjungi Vihara Dewi Kwan Im. Dalam perjalanan yang cukup jauh itu ditambah cuaca yang panas dan kelembaban yang tinggi, seisi minibus tampaknya serempak untuk memejamkan mata.

Vihara Dewi Kwan Im terletak di atas bukit di wilayah bernama Burung Mandi. Dari bagunan utama vihara kita bisa melihat pemandangan ke laut lepas. Sayang, penjaga vihara saat itu sedang makan siang jadi kami tidak bisa menggali informasi apa pun mengenai tempat ibadah terpencil ini.

Vihara Dewi Kwan Im.

Kemudian kami bergerak ke Pantai Bukit Batu. Bentangan pantainya tidak panjang dan terbagi dua antara yang berpasir dan berbatu besar. Tidak ditemukan orang lain selain grup kami di pantai ini. Wuhuuu… serasa memiliki pantai pribadi! Di sekitar pantai masih banyak pohon-pohon besar yang ampuh mengurangi teriknya sengatan matahari.

Menyusuri Pantai Bukit Batu.

Setelah puas berfoto-foto di atas bebatuan Pantai Bukit Batu kami makan siang yang dilanjutkan dengan nongkrong di Warkop Atet di Manggar.

Warkop Atet, Manggar.
Sepotong jalan di Manggar, Belitung Timur. Sepi.

Kami lalu bertolak ke salah satu lokasi wisata utama di Belitung Timur yakni mengunjungi sekolahnya Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun. Saat itu rupanya bertepatan dengan syuting serial drama Laskar Pelangi sehingga kami tidak dapat mendekati bangunan sekolah. Pun saat berbicara kami harus berbisik-bisik agar tidak mengganggu proses pengambilan gambar.

Ayo, sekolah!

Setelah foto-foto di depan gerbang sekolah, kami bergegas kembali ke Tanjung Pandan untuk mengejar sunset di Pantai Tanjung Pendam (menurut Lala).

Kegiatan hari pertama ini diakhiri dengan makan malam di restoran Sari Laut, belanja kaos dan makan durian. Untuk kegiatan makan durian ini, saya, Lili, Efa, dan Mila memilih untuk menjauhinya. Pertama karena alasan kesehatan, habis makan seafood soalnya. Kedua karena rasa solidaritas kepada Lili yang sedang dalam fase anti-durian :p

9 thoughts on “berlibur ke Belitung (bagian 1).

  1. Woooow.. reportase yang ciamik sekali saudari pagit. ditunggu episode selanjutnya yaaaa…
    aku baru sadar kalo pke 3 topi jiahahaa… tapi kog ttp gosong yak? x_x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s