berlibur ke Bali.

Destination: Ubud

Senang rasanya bisa mewujudkan rencana ini. Kalau saja tidak ada alasan sebagai liburan perpisahan dengan Tante Debz (yang akan menyusul suami ke Kanada), mungkin masih lama kesampaiannya :p

Happy landing in Ngurah Rai Int’l Airport at night.

Untuk acara berlibur kali ini kami mencari tiket pesawat jauh-jauh hari. Tepatnya pada pertengahan November 2010 didapatlah penerbangan dengan Air Asia untuk tanggal 13-18 Februari 2011. Saya, Lili dan Tante Debz masing-masing membayar harga tiket Rp 500.000,- untuk pergi dan pulang. Good bargain!

Dari Bandara Internasional Ngurah Rai kami dijemput oleh pihak Jati Homestay untuk selanjutnya meluncur ke Ubud. Saya mendapatkan informasi mengenai akomodasi di Ubud ini dari blognya Ollie. Pak Dewa yang mengelola Jati Homestay juga sempat bertanya pada saya, “Tahu penginapan ini dari mana?”. Dengan antusias saya jawab, “Dari Mbak Ollie!”. Lalu Pak Dewa mengangguk mahfum. Hehehe… padahal saya tidak kenal Ollie secara langsung, hanya mengenal dirinya via blog, Twitter dan Plurk.

Ambiance of Jati Homestay in the morning.

Melakukan apa di Ubud? Terinspirasi oleh film Eat Pray Love, saya ingin mengalami Ubud dengan bersepeda. Sayangnya kami tidak mendapatkan satu sepeda pun untuk disewa selama dua hari di sana. Jadi kami mengandalkan kedua kaki kami dan kebaikan seorang teman yang kini bermukim di Ubud.

At Ubud Market.

Atraksi turisme di Ubud adalah jalan-jalan di kawasan Monkey Forest. Karena satu dan lain hal, kami tidak memasuki kawasan tersebut. Kaki ini kami seret untuk menyusuri Jl. Hanoman terus ke utara. Sangat menyenangkan berjalan-jalan menyusuri jalan-jalan utama di Ubud, karena di sisi kiri dan kanan jalan terhampar toko/butik mini yang memanjakan mata, utamanya mata Tante Debz😀

Sesampainya di persimpangan dengan Jl. Ubud Raya kami berbelok ke kiri menuju Pasar Ubud.  Lagi-lagi mata ini dimanjakan dengan aneka macam cinderamata yang cantik-cantik. Kehebatan dalam hal tawar-menawar berlaku di sini.

Selanjutnya kami mencari tempat untuk berfoto-foto. Di mana lagi kalau bukan di Puri Saraswati yang terkenal dengan taman lotusnya. Jepret sini… jepret sana…. Tak terasa waktu semakin siang, hawa panas begitu menyengat. Saatnya untuk beristirahat. Sambil menunggu teman yang akan mengajak makan siang di Bebek Bengil, kami leyeh-leyeh dahulu di Starbucks dan mengomentari pelajar putri Ubud yang wara-wiri dengan kepang duanya yang berhiaskan pita merah jambu. It was Valentine’s Day.

Dear love, Ubud is beautiful. Hope we can go back here together.

Setelah menuntaskan makan siang di Bebek Bengil, saatnya untuk mencoba Balinese massage di Bali Healing. Jago deh terapisnya, saya sama sekali tidak merasakan nyeri saat jari-jemarinya melakukan kerja pada tubuh saya.

Felt happy and refresh after massage.

Malam terakhir di Ubud, kami sempatkan untuk menyambangi kafe unik yang menyajikan menu healthy food sebagai andalannya. Namanya KAFE :p

At cafe KAFE.

Tiba saatnya meninggalkan ketenangan Ubud untuk mengalami hiruk-pikuk Kuta. Sebelum benar-benar meninggalkan Ubud, kami diantar oleh driver kami yang sangat funky kali ini, Om Bob, berpusing-pusing ke:

Tegallalang’s paddies field on the background.
At Goa Gajah.
At Tirta Empul, Tampaksiring.

Hustle-bustle Kuta

Kami sampai di Kuta menjelang sore hari. Matahari sudah ramah, sinarnya tak lagi begitu menyengat. Namun masih ada satu tantangan yang harus kami taklukan, yakni mencari akomodasi. Kami sebenarnya sudah memesan kamar di sebuah hotel, tapi karena kamar tersebut terletak di lantai 3 dan jauh sekali dari pintu masuk maka pesanan tersebut kami batalkan. Dan begitulah, kami menyeret-nyeret backpack memasuki satu-persatu penginapan yang sekiranya available.

Dipuncak keputusasaan, Tante Debz dengan mata dan indra keenamnya yang (tumben) tajam melihat signboard berjudul Hidden Oasis Bed and Breakfast diantara deretan ruko di Jl. Pantai Kuta. Tanpa ragu Tante Debz melakukan pemesanan kamar dan tak lama kemudian kami sudah mendarat di kamarnya yang besar, bersih, ber-AC, dan tersedia air panas (catat, ini penting sekali kawan).

Penginapan ini dekat sekali dengan Kuta Square, lebih lengkapnya:

Address of Hidden Oasis Bed and Breakfast.

Eits, untung diingatkan oleh Tante Debz dalam komentarnya di bawah. Dalam edisi Kuta, ada yang menyusul dari Jakarta. Tersebutlah Efa alias Neng Ephoy yang saking ingin eksisnya memperbarui model rambutnya dahulu. Ckckck…. Lalu, ke mana selama di Kuta:

Get ready to explore Kuta.
Bargaining at Legian.
Women in their kebaya marching in a procession.

Going to South

Hari berikutnya kami menyewa mobil untuk menjelajah sedikit bagian selatan dari Pulau Bali. Sebelumnya kami mampir dahulu untuk membeli buah tangan paling terkenal dari Bali, kaos oblong dari Joger. Saya yang semenjak dari penginapan agak cuek-bebek dalam balutan tube dress, di toko Joger ini agak merasa risi karena 99% pengunjungnya adalah turis domestik! Hehehe…

Setelah dari Joger, isi perut dulu di Nasi Pedas Ibu Andika. Mmm…, murah meriah bin lezat.

At Dreamland beach, busy blocking sun burst. The beach not that special anymore.
With our friendly driver, Leo, at Uluwatu Temple.
At Menega Cafe, Jimbaran.

Pada tanggal 18 Februari 2011 berakhirlah liburan kami. So long Bali, till us meet again.

15 thoughts on “berlibur ke Bali.

    1. Lumayan hitam, Cip. Berkat bedak dingin Saripohatji, tak perlu menunggu lama untuk kulit ini kembali ke warna asalnya😀

  1. Walaupun gossipnya bilang …ini cerita belum selesai..tapi saya sudah gatal mau comment (cieee enggres) pertama-tama saya terharu karena ternyata saya sangat fotogenik dan keren di foto2 in ..aih..so candid sekali ..the most memorable valentine day..in Ubud..with lovely friends.. and a darling man in my heart..

    Banyak bangeth cerita lucu ..seperti foto kebalik dan nggak bisa di edit di BB jadi bela2in nyewa warnet khusus membalikan foto di Facebook..hahahaha..oh ya jangan pernah ngirim postcard di Kuta..nggak nyampe😦

    Dan… gaya2an minum juz sehat yang membuat perut ngamuk semalaman termasuk besoknya…hihiihih.. anehnya lagi semua bikini yang dibawa tidak ada yang dipake karena nggak ke pantai🙂

    the most thing is ..bisa ikut serta dalam pengalaman Jangtu pertama kali ke Bali ..oh terharu..anak itu sudah dewasa…hahahahahaha

  2. *ketawa ngakak sambil koprol gembira*…it was fun! walo gosong2nya lama sekali bisa hilang (stok bedak dingin sakti Saripohatji habis waktu habis Jangdu), tapi teteup tidak sabar menunggu trip kita berikutnya.

    Dengan ini saya berani mendeklarasikan kawan: am not a virgin of Bali anymore, hiye hiye!

    Pipittttt, aku sudah dewasa :p.

  3. Barusan dapat pesan sponsor..kalo blog ini sudah selesai..so comment will continue (halah enggress terooos)..
    Tadi saya lupa mau ucapkan thanks a bunch buat penulis yang cantik, kalem, rajin merenda..karena sudah banyak menaruh wajah dan tubuh ini dalam tulisannya (sumpah nggak nyogok apapun)…srooooooooooot!!!!

    Juga buat neng Epha… nekat nyusul last minute .. dan sudah rela salah potong rambut demi eksis di Bali🙂

    Sampe detik ini masih utang jawaban buat driver di ubud yang nanya soal “cowok gemini itu gimana?” sama jawaban buat mas yang punya homestay “Adjie Masaid itu meninggal kenapa ya”

    Juga buat di Rambo binti Rambow kalo malam .. buat udah nggak gengges di hari selanjutnya sehingga membuat keluar masuk kami lebih damai sentosa..

    Juga kepada warga ubud dan sekitarnya .. yang memaklumi kenapa kami suka jalan zig zag di jalan raya siang itu hihihihihih…

    Terakhir untuk penulis..rajin2 nulis yeee..biar eke rajin2 komen

    dari si molegh.. binti semolohay…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s