ke mana Si Mamah?

Semalam saya hanya tidur dua jam saja. Apa pasal? Karena Si Mamah tak kunjung tiba dari acara rapat warga. Bagaimana bisa memejamkan mata, sementara ibu semata wayang pada pukul setengah satu pagi masih di luar rumah.

Izinnya pada kami anak-anaknya, Si Mamah mau rapat sebentar saja, hanya dua jam-an katanya. Jam di dinding sudah mentas menuju hari baru, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangan Si Mamah. Saya kemudian memperkirakan dengan siapa saja Si Mamah rapat. Lalu saya menghubungi sebuah nomor telepon. Dari ujung sana diberitakan bahwa Si Mamah sudah meninggalkan kediamannya sedari tadi. Saya mencoba nomor telepon lain, jawaban yang sama saya terima. Huhuhu… ke mana ibu saya ini, sih?

Saya ambil jaket fushia saya untuk membalut piyama. Perlahan-lahan mendorong pintu pagar yang ribut itu agar tak mengganggu tetangga. Jam sudah menuju pukul satu pagi dini hari. Doa-doa keselamatan dipanjatkan begitu saya melangkah ke jalan. Perjalanan saya mencari Si Mamah tidak jauh sih, hanya ke gang sebelah. Setibanya di gang sebelah, kok, tak ada pintu rumah yang masih terbuka. Keputusasaan mulai melanda. Saya kembali ke rumah, menekan nomor telepon lain. Kali ini tak ada jawaban. Huaaa… rasa putus asa mulai jadi rasa senewen.

Saya bangunkan Si Mpit yang sudah pergi ke peraduan semenjak tiga jam sebelumnya. Lalu menjelaskan situasinya. Setelah mendengarkan penjelasan saya, Si Mpit langsung menyambar cardigan-nya lalu bergegas keluar rumah meninggalkan saya di belakang. Di ujung gang kami bertemu dua orang tukang ronda yang terheran-heran melihat dua gadis keluyuran. Saya jelaskan lagi apa yang terjadi kepada kedua orang tersebut, sementara Si Mpit terus berjalan menuju gang sebelah. Sambil hampir berlari, saya dan dua orang peronda itu menguntit Si Mpit.

Di depan sebuah rumah di mana ada dua mobil terparkir, tanpa ragu Si Mpit masuk, mengucapkan salam yang kemudian dibalas dengan ucapan salam yang lebih riuh. Ta da… Si Mamah ada di situ sambil terheran-heran mendapatkan dirinya disusul begitu. Lalu dengan polosnya menjawab raut kekhawatiran kami dengan, “Mamah kira baru jam sebelas.” Hadeuhhh…

5 thoughts on “ke mana Si Mamah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s