sleeping beauty.

Ini merupakan serpihan cerita mengenai suka-duka berkereta listrik.

Berikut ceritanya:

Teman-teman sekantor menyebut saya Si Pelor, yang begitu menemukan sandaran langsung terlelap sentosa. Terkadang butuh bantuan Antimo atau CTM, sih.

Ah, mereka belum bertemu dengan perempuan ini yang dalam hitungan lima detik langsung terlelap di pundak saya. Saya tidak keberatan dia menjadikan bahu saya yang empuk ini sebagai bantal. Yang membuat saya bersungut-sungut adalah karena dia tidak bisa mendiamkan saja kepalanya di situ, tapi sebentar-sebentar terbangun. Ini jelas mengganggu, karena saya jadi tidak bisa tidur.

Oke, selama dua hari kemarin saya pasrah saja duduk bersisian dengannya. Tapi hari ini saya bertekad untuk menjauh ^^

Maka ketika menunggu di peron sebelum memasuki kereta saya menilik situasi, mengira-ngira keberadaannya. Hmmm, saya tidak melihat lambaian roknya, sih. Legaaa…

Pintu kereta terbuka, penumpang berebut masuk dan segera mencari kursi termasuk saya. Ah, di sebelah kanan saya masih kosong. Lirik ke sebelah kiri, juga masih kosong. Tapi tunggu… di sebelah kirinya lagi saya kenal, deh. Yup, si perempuan itu! Fiuhhh, setidaknya kami tidak tepat bersebelahan dan rasanya tidak perlu bermigrasi ke deretan kursi yang lain.

Kereta pun melaju menuju Stasiun Tanah Abang sebelum berbalik menuju Bogor. Saya melirik ke kiri dan mendapati perempuan itu sudah tertidur. Hihihi, sabar-sabar ya Bu, ucap saya dalam hati ketika kepala perempuan tersebut sudah membentur-bentur bahu seorang ibu yang duduk di sebelah kirinya.

Di Stasiun Tanah Abang, tempat duduk di kiri-kanan saya langsung terisi, yang tiap barisnya seharusnya terisi tujuh orang kini dijejali 8 orang. Apalagi barisan kursi ini dihalangi sebuah tiang yang membagi tempat duduk menjadi 3 orang di bagian kanan dan 4 orang di bagian kiri, semakin sesaklah jadinya. Beginilah angkutan massal penggunanya harus banyak bertenggang-rasa.

Tak lama setelah meninggalkan Tanah Abang, para penumpang wanita yang duduk di hadapan saya menyarankan agar saya bertukar tempat duduk ke bagian kiri. Sehingga dua orang penumpang perempuan yang kurus-kurus bisa bergabung dengan dua perempuan kurus-kurus lainnya di bagian kanan.

Are you kidding me? Jadi kalian memindahkan saya agar bersebelahan dengan perempuan penidur itu, keluh saya dalam hati.

Seperti membaca jalan pikiran saya, para perempuan tersebut semakin semangat menyarankan saya untuk berpindah.

Tidak mungkin saya mendebat mereka (baca: penumpang angkutan massal harus bertenggang-rasa), maka dengan berat hati saya mengangkat bokong. Memang, sih, tempat duduk jadi terasa leluasa. Empat perempuan kurus di bagian kanan. Dua orang ibu yang agak gemuk, perempuan penidur dan saya di bagian kiri.

Kemudian saya berhitung hingga lima, dan Si Sleeping Beauty pun sudah melepas kantuk di bahu saya.

Bahu saya memang empuk.

12 thoughts on “sleeping beauty.

  1. hahahaa… kog bisa sih ada org gitu, aneh amat.
    tp paling sebel emang klo ada org disebelah yg ketiduran sampe kepalanya nempel2 ke bahu, apalg klo ga kenal.. risih bgt. kalo cowo ganteng sih gpp😉

  2. Git,gua suka postingan ini

    Wah si perempuan penidur itu cepet yah, cuman hitungan beberapa detil langsung tidur. Ckckckckck hebat …..

    Ada yang ngalahin Pagit nih….

  3. huehuehue …
    sayang saya engga bisa setoleran dirimu jeng😀
    pasti deh saya sangat tega membangunkan orang yang seenaknya tertidur pulas, bukan apa2 klo saya juga bisa ikut tidur siy gpp huehue .. lebih gpp lagi klo yg nyenderin cogan hahaha … *ngarep*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s