ririungan GRI di Bogor (tahun kedua).

Yay, acara kumpul-kumpul komunitas baca paling seru se-Indonesia kembali lagi digelar di (oleh urang) Bogor. Judul resminya adalah Ririungan Goodreads Bogor Kadua. Masih ada kegiatan wisata kulinernya, masih ada kegiatan bagi-bagi bukunya dan masih banyak peserta Goodreads Jakartanya (kalian memang top). Tapi acara utamanya sendiri sungguh dahsyat, yakni berkunjung ke Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer (PAT) yang berlokasi di sebuah jalan bernama Warung Ulen di wilayah Bojonggede sana.

Transportasi paling mudah untuk mencapai tempat tersebut adalah menggunakan KRL Jabodetabek. Dari stasiun Bogor cukup membayar dua ribu rupiah saja untuk kelas ekonomi. Berhenti di stasiun Bojonggede disambung dengan angkot yang ke arah Bogor dan minta diturunkan di muka jalan Warung Ulen. Serahkan lagi uang dua ribu rupiah kepada supir angkotnya. Lalu dari muka gang itu berjalanlah sekitar 200 meter. Rumah besar dengan halaman luas yang pertama ditemui (di sebelah kiri) dapat dipastikan sebagai kediaman PAT. Bertamulah untuk menemui Mbak Astuti Ananta Toer (Mbak Titi), anak perempuan PAT atau Mba Mira, pengurus perpustakaan PAT.

Karena kali ini Lili juga ikut serta, maka saya tidak bisa hadir di tempat berkegiatan sesuai dengan ketentuan. Saya harus menunggu Lili yang menempuh perjalanan Plumpang-Bogor dengan bus antarkota.

Dalam kegiatan kali ini saya ditunjuk sebagai MC pendamping Harun. Dengan gagap saya membuka acara dan membacakan agendanya, yakni:

  • Mengenal PAT dengan berdiskusi bersama Mbak Titi, Amang Suramang dan Ronny Agustinus.
  • Menonton film dokumenter Mendengar Si Bisu Bernyanyi.
  • Mengunjungi perpustakaannya.
Dua buah buku tebal bersampul biru yang berada di sebelah kiri adalah buku Di Bawah Bendera Revolusi.
Lili, Mbak Titi dan saya.

Jadi, Pagit seberapa kenal dirimu dengan PAT kini? PAT lahir di Blora tanggal 6 Februari 1925 (bintangnya Aquarius, sama dong dengan saya). Ibunya meninggal karena TBC di usia 34 tahun dan PAT seorang yang menguburkan ibunya tersebut, karena orang lain takut tertulari. Beliau tidak jengah mengerjakan tugas-tugas domestik. Memiliki kekesalan pribadi sekaligus bangga pada bapaknya. Sempat mempunyai rasa rendah diri yang akut yang kemudian tereduksi setelah mengenal seorang noni Belanda. Hobi PAT adalah membakar sampah dan merokok. Seorang pengkliping yang mumpuni.

Novel Bumi Manusia (tetralogi Pulau Buru) awalnya adalah cerita dari mulut ke mulut. Novel Gadis Pantai berkisah tentang neneknya.

Kegiatan diakhiri dengan makan siang, bagi-bagi doorprize buku-buku karya atau tentang PAT dan foto bersama.

Buku yang berada di tangan saya adalah Gadis Pantai yang berhasil dimenangkan oleh Lili.

Rangkaian acaranya, sih, berlangsung hingga malam. Dikarenakan saya harus menebus suatu janji, maka dengan menyesal saya melewatkan kegiatan berkunjung ke Taman Bacaan Baroedak (pernah ngubek-ngubek buku tentang semiotik di sini), wisata kuliner di Jalan Suryakencana dan berkareoke di Inul Vizta Plaza Ekalokasari.

Oh ya, catatan lain tentang kunjungan ini ditulis juga oleh Azia Azmi.

8 thoughts on “ririungan GRI di Bogor (tahun kedua).

  1. big thanks to Jangdu, yg udah ajak aku kesana. mwah mwah :D…had a lotta fun, gak sabar mo ikutan yg berikutnya

    1. Kejadiannya akhir Mei lalu. Anggit sudah gabung dalam Goodreads Indonesia belum? Kalau belum, ayo gabung. Mereka suka mengadakan kopdar yang ciamik, salah satunya mengunjungi perpustakaan PAT itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s