we’ve met an angel.

Pernah pada suatu masa saya dan Si Mpit berbarengan menganggur. Pekerjaan orang mengganggur tentunya bolak-balik membuat lamaran pekerjaan dan menghadiri wawancara kerja. Nah, pada hari itu saya diminta Si Mpit menemaninya memenuhi panggilan wawancara di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Proses wawancaranya berlangsung hingga lewat makan siang.

Saya yang menunggu di pos satpam sudah mau pingsan dan gusar karena kadar gula darah sudah mulai drop, ditambah lagi saya dikira sedang hamil oleh si-satpam-yang-sok-ramah, jadi dobel, deh, gusarnya. Dan begitu Si Mpit keluar dari kantor, saya langsung membawanya ke Mall Citraland, eh, maksudnya Mall Ciputra dan menuntaskan makan siang di sebuah resto Jepang. Si Mpit mengingatkan saya untuk tarik ATM dulu, tapi saya begitu lapar dan meyakinkan dia kalau uang saya masih cukup untuk membiayai makan siang di tempat itu.

OK, makan siang sudah beres. Saatnya untuk pulang, eh, tarik uang dulu di ATM. Si Mpit pun mengeluarkan kartunya dan memindahkannya ke mesin tersebut. Cetak-cetik-cetak-cetik, kok, uangnya tidak muncul-muncul, ya? Kami mulai dihinggapi gelisah tahap awal. Mungkin ditunggu beberapa saat lagi. Eh, masih tidak ada reaksi juga.  Kami saling berpandangan, gelisah tahap menengah. Kemudian, layar petunjuk di mesin tersebut mati! Wuahhh, gelisah tahap akhir! Kartu maupun uang tidak ada yang keluar dari anjungan tersebut.

Tarik nafas, tarik nafas… Hirup oksigen sebanyak-banyaknya agar dapat berpikir jernih. Saya menyuruh Si Mpit untuk melakukan pemblokiran dan melaporkan kepada pihak bank apa yang terjadi pada salah satu ATM-nya.

Selang sepuluh menit kemudian pemblokiran sudah dilakukan, tapi bagaimana caranya kami bisa pulang ke Bogor?!? Ngesot? Telepon kenalan lalu minta diantarkan uang? Telepon Si Mamah yang tidak mengenal Jakarta supaya datang ke pusat perbelanjaan ini? Pinjam uang kepada orang yang lewat? Atau ke pos polisi terdekat? Kemudian, di saat itu dan di tempat itu di mana banyak sekali orang berlalu-lalang, kami melihat jalan pulang kami mewujud pada seorang perempuan langsing berwajah sedikit Arab. Kami panggil namanya seperti memanggil tukang bakso keliling. Perempuan tersebut adalah kakak dari temannya Si Mpit.

Lalu Si Mpit menjelaskan apa yang telah menimpa kami dan mengapa kami begitu senang bertemu dengannya tadi😀 Tak lama kemudian, perempuan tersebut mengansurkan lembaran limapuluh ribu rupiah yang kami terima dengan suka-cita. Mendung mengiringi kepulangan kami ke Bogor, tapi mentari pagi bagai bersinar dalam hati. Kami bertemu malaikat. Terima kasih Tuhan.

11 thoughts on “we’ve met an angel.

  1. Hehehe… selameeeet selameet…
    Untung aja ada temennya .. (kakak dari temennya si Mpit itu..)
    klo nggak pilihan2 diatas kayanya nggak asik juga .. hehhe

    Salam Kenal dari Adelays….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s