a trip to Cirebon.

Ki-ka: Cipu, Lili, Tante Debz, dan saya. Out of frame: Ferdy yang sudah kembali ke Jakarta.

Akhir tahun 2009 ditutup dengan sebuah perjalanan menyenangkan ke Cirebon, Jawa Barat. Rencana ini sudah diwacanakan jauhhh sebelum acara plesiran ke Solo tempo hari, pikir saya mungkin masih jauh juga realisasinya. Jadi saya santai-santai saja membelanjakan uang gaji untuk buku, sepatu dan pakaian. Hohoho…

Lalu bagai petir di siang bolong, di hari Senin sebelum tanggal 18 Desember 2009 ketiga orang ini (Cipu, Lili dan Tante Debz) memveto untuk melaksanakannya pada tanggal tersebut. Saya panik! Saya tidak menyisihkan uang untuk ini! Tapi saya ingin sekali ikut! Bagaimana ini?

Pada waktu makan siang, jalan keluar itu datang. Tante Debz bersedia menanggung dulu tiket kereta Argo Jati pp. Jakarta-Cirebon. Pesan moral, belilah tiket kereta di stasiun kereta😀

Malam sebelum keberangkatan, saya mendapat kabar baik dari sahabat saya, Suci. Dia menawarkan kami untuk menginap di rumahnya yang ada di Cirebon. Senang sekali, karena dengan demikian kami menghemat ongkos penginapan.

Jumat malam kami sampai di Cirebon. Di pintu keluar stasiun banyak sekali abang tukang becak dan calo travel mendagangkan jasanya. Sedikit jengah diserbu sedemikian rupa, sementara otak masih berusaha menyesuaikan dengan ruang yang baru. Sejenak saya melipir untuk mengumpulkan nyawa dan menghubungi Tante Enci, tantenya Suci, untuk menanyakan arah menuju rumah singgah kami. Setelah yakin dengan petunjuk yang diberikan, kami meninggalkan stasiun dalam dua becak menuju kawasan Kalibaru Utara. Hehehe, kami sukses tersesat di kawasan itu, padahal kawasannya tidak luas! Bertanya pada orang-orang yang kami temui, semuanya menggeleng tidak mengetahui alamat yang kami tuju. Duh, modernisasi, tetangga yang jaraknya selemparan batu saja mulai terasa asing (peringatan bagi diri sendiri).

Setelah melakukan percakapan jarak jauh dengan Suci yang berada di Bogor, akhirnya kami sampai di rumahnya Tante Enci. Ia menyambut kami dengan hangat dan langsung mengantarkan kami ke rumah singgah yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya. Rumah tersebut sangat luas. Ada tiga kamar besar dan satunya ber-AC. Saya, Lili dan Tante Debz berdesakan di kamar tersebut sementara Cipu harus puas dengan kipas angin. Cirebon panas, bo!

Sesudah menyingkirkan barang bawaan yang membebani pundak, kami langsung ngacir ke RM Seafood Haji Moel yang berniaga di Kalibaru Selatan untuk makan malam sekaligus merayakan ulang tahun Cipu. Kami memesan cumi bakar, bawal bakar, udang bakar, lho semuanya dibakar? Maklum lapar, sehingga tidak fokus dengan pilihan menu lainnya. Sejauh ini, olahan seafoodnya sih enak.

Besoknya kami kedatangan tamu tak diundang. Seorang Ferdy yang menyusul kami dengan motornya. Niat banget! Tak lama kemudian neneknya Suci, Si Mbah, datang membawa cemilan dan membantu saya menyalakan kompor gas. Maklum, takut meledak secara bukan di rumah sendiri. Si Mbah menanyakan apakah kami kerasan tidur semalam. Saya jawab dengan semangat, tentu saja kami tidur lelap.

Yang kemudian datang berkunjung adalah suaminya Tante Enci dan kakaknya Suci yang juga berlibur di Cirebon. Sebelum mereka mengeluarkan mobil-mobil yang ada di garasi, kembali soal masalah tidur dipertanyakan. Lagi-lagi saya merespon dengan jawaban yang sama. Dan, mereka mengangguk-angguk mahfum.

Terakhir yang muncul mewarnai pagi pertama di Kota Udang ini adalah tiada bukan Tante Enci sendiri yang membawa dua bungkus nasi langi. Tante Enci menemani kami sarapan. Di tengah-tengah obrolan, pertanyaan di atas ditanyakan lagi. Kali ini saya menjawab dengan kadar semangat sudah setengahnya, setengahnya lagi diisi dengan rasa heran. Dikemudian hari jawaban atas keheranan saya itu terjawab dari penuturannya Suci. Dia menjelaskan kalau rumah itu sebenarnya agak angker! Wuahhh

Hari itu saya, Lili dan Cipu mengunjungi Keraton Kasepuhan, sementara Tante Debz diantar Ferdy ke gereja. Karena tidak tahu rute angkot di sini, kami lagi-lagi memanfaatkan becak. Sebutkan tempat yang dituju, lalu tanyakan tarifnya. Tawar-menawar sebentar dan biasanya si abang tukang becak cukup puas dengan batas tarif Rp 5.000,-.

Agar tidak planga-plongo, kami meminta bantuan seorang pemandu untuk menjelaskan 5W+1H dari Keraton Kasepuhan ini. Selain keratonnya sendiri, di sini terdapat dua buah museum. Museum kereta terletak di sebelah kiri dan museum benda-benda kuno di sebelah kanan. Di museum kereta terdapat salah satu koleksi yang paling dikeramatkan yakni Kereta Singabarong yang dibuat oleh Panembahan Losari pada abad ke-14.

Inilah kereta kencana yang unik itu. Di sebelah kiri adalah Singabarong yang asli dan di sebelah kanan adalah replikanya. Singabarong ini merepresentasikan hubungan Kesultanan Cirebon dengan India (bentuk belalai gajah), Cina (bentuk kepala naga) dan bangsa Arab (bentuk badan serupa Buraq).

Di museum benda-benda kuno koleksi yang menurut saya unik adalah seperangkat alat untuk meyantet/tumbal, namanya Naga Tunggal Wulung. Selain itu koleksi yang membuat saya mengerang linu adalah seperangkat peralatan debus dari Banten.

Naga Tunggal Wulung.

Setelah berkumpul kembali dengan Tante Debz dan Ferdy, tujuan wisata selanjutnya adalah wisata belanja batik di Trusmi. Tante Enci yang menjadi pemandunya kali ini. Desa Trusmi ini terletak 4 Km sebelah barat Cirebon atau menuju arah Bandung.

Yang paling terkenal dari batik cirebonan adalah motif mega mendung. Karena itu saya berketetapan untuk membeli entah sehelai kain atau pakaian dengan motif tersebut. Alhamdulillah, atas kejelian mata Tante Debz saya berhasil membawa pulang sebuah dress.

Puas ngubek-ngubek Trusmi, kami leyeh-leyeh dulu di depan sebuah rumah bergaya tradisional sambil makan tahu gejrot. Begitu enaknya makanan tersebut, Cipu sampai menolak untuk duduk. Weleh-weleh…

Malamnya kami berpusing-pusing di Grage Mall. Mengintip kehidupan kawula muda Cirebon😀 Lalu diakhiri dengan menonton film Sang Pemimpi. Tante Debz, Ferdy dan Cipu sempat tertidur di sini.

Pagi berikutnya kami berburu nasi jamblang. Menurut Lili, dan diamini oleh Tante Enci, nasi jamblang yang enak itu bisa ditemukan di daerah pelabuhan. Maka ke sanalah kami dengan naik becak lagi. Oh ya, kita harus datang pagi-pagi ke tempat ini kalau ingin mencicipinya. Karena beranjak siang, dijamin sudah ludes. Harga sepaket nasi jamblang dengan lauk-pauk sesuai selera, sekitar Rp 10.000,-.

Dari pelabuhan kami mampir ke sebuah klenteng. Tepatnya sih bukan untuk berwisata, tapi untuk menghindari orang gila yang menghalangi jalan kami.

Dan, sebelum naik kereta kembali ke Jakarta, kami menuntaskan hasrat kuliner kami dengan yang paling terbaik dari Cirebon, empal gentong! Salah satu penjual empal gentong yang menurut kami enak banget berjualan di dekat stasiun Cirebon.  Setelah keluar halaman stasiun, belok kanan sedikit. Harganya Rp 10.000,- saja untuk semangkok empal gentong dan sepiring nasi. Jangan lupakan empingnya yang gurih-manis-lebar itu. Tambah sedap pokoknya!

Cerita lain tentang kunjungan kami ke Cirebon, di sini.

9 thoughts on “a trip to Cirebon.

  1. Jyaaah, masuk klenteng untuk menghindari orang gila sambil membawa sekantong duku, wakakakak.

    Tapi empal gentong dekat stasiun itu emang enak, gua kalo ingat pasti ngiler😀

  2. Baru tahu kalau klenteng tersebut sudah termasuk cagar budaya. Terima kasih informasinya, Ibu.

    Mengunjungi Nasi Jamblang Pelabuhan sudah termasuk kewajiban jika ke Cirebon. Lauk-pauknya betul beraneka ragam.

  3. Terakhir kesana … empang gentol yang enak itu sudah tak ada….😦
    eh iya teryata Klenteng itu ngetop … banyak yang bahas di internet….dan sama kita malah main2an buat foto2 tak penting hahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s