and we are doomed (trip to Solo part 2).

Hari terakhir di Solo, 22 November 2009. Saat sarapan, ketiga perempuan ini dikejutkan oleh kedatangan Ferdy yang terlihat rapi jali dengan kemeja dan celana panjang serba hitam. Sebaliknya dia pun terkejut dengan penampilan kami yang hanya berbalut pakaian santai (baca: baju yang dipakai semalam). Hahaha, lagi-lagi dia salah kostum karena tidak mendengar wejangan Tante Debz sebelum masuk kamar. Sambil makan, kami jelaskan bahwa pagi ini rutenya adalah mengunjungi Pasar Klewer dan keraton, baru setelahnya menuju resepsi pernikahan Ratih (yang memang baru dimulai jam 12 siang).

Setelah Ferdy berganti pakaian, meluncurlah Sexy Black ke Pasar Klewer. Sesampainya di sana, kok, masih sepi ya??? Hasil dari tanya sana-sini, rupanya pasar mulai beroperasi sekitar jam 11. Berarti masih tiga jam ke depan (doh). Ahhh, daripada menunggu tidak jelas, lebih baik dimulai saja blusukannya.

Beberapa toko yang menghuni pasar bagian belakang sudah ada yang buka. Kesempatan ini dimulai dengan tawar-menawar daster. Kami menemukan daster dengan corak  jumputan seharga Rp 15.000,-. Selain membeli buat diri sendiri, kami belikan juga untuk beberapa orang terkasih. Perburuan selanjutnya adalah mencari sprei batik. Terjadi tawar-menawar yang cukup alot. Kami bertiga sudah mengeluarkan seluruh kemampuan melawak kami, tapi harga spreinya tidak turun secara signifikan😀.

Untuk rok batik, tampaknya sedang tidak tren di Solo. Sulit sekali mendapatkannya. Umumnya penjual merujuk pada kain pasangan kebaya yang penuh dengan payet. Tapi bukan Lili namanya kalau menyerah secepat itu, setelah keliling sebanyak dua kali putaran, kami menemukan sebuah kios (lagi-lagi di bagian belakang pasar) yang dikepalai oleh seorang ibu yang ramah.  Di kiosnya ini kami bukan hanya membeli rok tapi juga sebuah kaos putih dengan gambar tokoh pewayangan, Rama dan burung tunggangannya. Kaos tersebut hasil rekomendasi Ferdy, yang mana keesokan harinya resmi menjadi miliknya.

Selesai merambah pasar, kami mengistirahatkan diri dengan minum es dawet dan sop timlo. Setelah kenyang dan bahagia, kami bergerak menuju Keraton Surakarta yang berada di sebelah kanan Pasar Klewer.

Penjelajahan Keraton Surakarta Hadiningrat (didirikan pada tahun 1744) dimulai dari Siti Hinggil Lor di mana Sexy Black terparkir. Sehabis mengambil foto dan mengagumi meriam, kami mengarah ke Kamandungan Lor untuk sampai di tempat utama penjelajahan keraton ini, yakni museum dan pendopo keraton itu sendiri. Sebelum memasuki museum, kami melihat seorang mbok jamu berdagang di bawah rindangnya sebuah pohon. Boleh juga nih mencoba minum jamu agar tambah terasa suasana zaman dulunya. Bertiga kami menyeruput jamu kunyit asam (Rp 1.500,-/gelas) sambil melihat dagangan lain yang dibawa si mbok. Mata saya tertumbuk pada salah satu jamu instan yang sangat sederhana kemasannya tapi penuh arti kegunaannya. Judul jamu itu kurang lebih sebagai penambah gairah bagi hubungan pasutri. Ditambahkan, efek sampingnya adalah memberikan rasa kedutan ketika melakukan hubungan suami-istri. Sejurus kemudian, saya, Lili dan Tante Debz tergelak-gelak sementara si mbok jamu hanya bisa tersenyum simpul. Lalu dengan lugunya, si mbok mengangsurkan jamu galian singset untuk saya dan Tante Debz. Ough.

Aksi kami minum-minum jamu rupanya menarik perhatian seorang turis. Pemandunya berusaha meyakinkan bahwa minuman tersebut pahit rasanya. Mungkin melihat kami masih tetap tegar berdiri, sang bule bersikeras untuk mencicipi. Mr. Bule, semoga perut Anda baik-baik saja.

Kami memasuki museum tanpa didampingi pemandu, walhasil jadi tebak-tebakan sendiri apa maksud setiap tulisan dan angka yang tertera, setiap gambar yang tergantung, setiap pusaka yang terpajang, dan air sumur yang berkhasiat. Oh ya, kita juga bisa berplesiran di halaman kedhaton. Syaratnya adalah menanggalkan alas kaki, berjanji tidak membungkus pasir yang menutup halaman keraton dan menggunakan pakaian yang pantas (baca: tidak menggunakan celana pendek bahkan tank top). Jika menilik syarat ketiga, Tante Debz dipastikan tidak memenuhi syarat😀 Seorang abdi dalem menyarankan kepada Tante untuk mengenakan kain yang mereka sediakan, yaaanggg langsung ditolak halus. Saya dan Lili meninggalkan Tante Debz di kursi tunggu untuk bermain pasir pantai (halah) dan berfoto di depan patung-patung Yunani yang mengelilingi bangunan utama di area kedhaton tersebut.

Masih ada keraton lain di Solo ini yang menarik untuk dikunjungi yakni Pura Mangkunegaraan. Tapi karena keterbatasan waktu, keraton kecil tersebut harus kami lewati.

Kami meninggalkan keraton bertepatan dengan dimulainya resepsi pernikahan Ratih. Sexy Black pun dipacu secepat mungkin sampai tersasar. Sebelum tiba di penginapan, saya dan Tante Debz diturunkan di salon terdekat. Tante Debz gelisah dengan rupa rambut saya yang lengket dan kusam. Thanks for your concern, Tante.

Pelaminan Ratih yang belum dibereskan langsung menjadi tempat pemotretan😄.

Tampil cantik, cek. Check out dari hotel, sudah. Kini kami melaju ke tempat resepsinya Ratih di sekitar Stadion Manahan. Dari kejauhan sudah tidak terlihat mobil-mobil tetamu yang terparkir di halaman gedung, yang tersisa hanya mobil box dari perusahaan catering dan dekorator pesta. Saya dan Lili langsung melesat ke dalam gedung, Tante Debz dan Ferdy menyusul di belakang. Di dalam gedung kami disambut oleh para tukang yang sedang membereskan ruangan. Dalam hati saya berharap, semoga kedua pengantin masih ada di tempat.

Tak lama kemudian seorang ibu menghampiri. Dilihat dari penampilannya yang masih bersanggul walau sudah tidak berkebaya, si ibu ini tampak punya hubungan kekerabatan dengan Ratih. Setelah kami menyampaikan silsilah hubungan kami dengan Ratih, ibu tersebut mempersilahkan kami menuju area belakang di mana Ratih dan suaminya baru saja menyelesaikan sesi foto untuk katalog perusahaan tata rias pengantin yang dikepalai si ibu tadi.

Walau tidak sempat melihat resepsinya, kami bersyukur masih bisa menemui kedua pengantin untuk menyampaikan rasa kegembiraan kami. Mission accomplished, yay!!!

Selanjutnya kami menuju Yogyakarta, karena perjalanan kembali ke Jakarta akan melalui jalur selatan.

Di Klaten kami singgah di sebuah rumah makan yang bersih dan teratur, Rumah Makan Sop Penganten namanya. Kami makan pecel madiun di situ bukan sop pengantennya. Pemiliknya sangat ramah buktinya mereka tidak berkeberatan kami memonopoli pesawat televisi yang kala itu menyiarkan program Take Him Out. Kami juga disuguhi kersen yang memang sedang berbuah lebat.

Tiba di Yogya dengan hati berbunga-bunga. Waktunya untuk belanja di Mirota dan membeli bakpia. Tak lupa memanggil abang pengayuh becak. Dan setelah menyelesaikan makan malam di sebuah SPBU di luar Yogya, kami pun bergerak ke Jakarta dan langsung masuk kerja.

6 thoughts on “and we are doomed (trip to Solo part 2).

  1. hemm…stelah mencermati postinganmu ya Jangdu,sepertinya ada yg ‘miss’ sedikit ya :p..
    1. kayaknya pasar klewernya baru buka jam 9 d, bukan 11
    2. trus yg bule n jamu itu, sssttt cewek itu bukan guide…dia itu pacarnya, wong dipanggil honey :p..
    3. as for sop timlo, ada informasi ‘maha’ penting yg blum disampaikan tuh. aku gak dapet telur!!!😦..

    so Jangdu, next destination???

    1. Jangtu yang pintar,
      1. Serius bukanya jam 9? Oh well, terima kasih sudah memberikan pencerahan.
      2. Serius pemandu itu pacarnya? Terlihat seperti pemandu bagi saya.
      3. Hayah, terpikir informasi pentingnya itu adalah grosiran bra karo clono😀

      Next destination: Malang. Jangan lupa ajak Bayu dan please kasih tahu Ferdy untuk meninggalkan Bram di Jakarta saja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s