when blood O collide (trip to Solo part 1).

Terlihat manis, ya? Padahal belum mandi.

Akhir November lalu, tepatnya pada tanggal 20 November 2009, kami berempat melakukan perjalanan panjang ke Solo lewat jalur pantura untuk menghadiri pernikahan Ratih dan Eldy. Tadinya kami mengajak seseorang yang menjadi komentator pertama dari postingan ini. Tapi, seperti yang dijelaskan, karena kesibukannya dia tidak dapat turut serta.

Kami bertolak dari kediaman Tante Debz di Cibubur sekitar jam sepuluh malam dengan mengendarai Sexy Black, Vios Hitam milik Si Tante. Menurut Ferdy, yang berbaik hati menyupiri kami, diperkirakan kami tiba di Solo pada jam sebelas siang. Tuing… tuing…, hampir setengah hari di perjalanan, tuh. Untuk membuat perjalanan ini terasa nyaman, Tante Debz melengkapi Sexy Black dengan bantal-bantal dan selimut. Juga memastikan saya dan Lili tidak banyak minum selama perjalanan, yang ternyata kemudian diapresiasi dengan baik oleh Ferdy yang rupanya terkagum-kagum karena kami tidak rewel untuk sebentar-sebentar meminta berhenti karena ingin ke kamar kecil. Sedangkan saya melengkapi diri dengan Antangin JRG.

Di sekitar kota Pekalongan, kami berhenti di sebuah klinik karena gangguan pada gusi Tante Debz sudah tidak tertahankan lagi. Ditemani Lili, Tante Debz memeriksakan gusinya pada seorang dokter yang sudah diangkat menjadi PNS tapi sangat pemalu itu (too much information :D). Diberinya Tante Debz semacam obat penghilang rasa sakit yang kemudian membuatnya tertidur sampai kami tiba di Salatiga untuk sarapan ayam goreng dengan sambel “iblis” di Rumah Makan Tuntang.

Dari rumah makan tersebut perjalanan dilanjutkan kembali sambil mengira-ngira toko mana yang membuat tahu bakso terenak untuk dijadikan oleh-oleh. Ini terjadi menjelang memasuki kota Boyolali.

Akhirnya, kami sampai di Solo sesuai dengan perkiraan Ferdy dan memutuskan langsung menuju penginapan yang sudah dipesan oleh Ratih. Terjadi hal yang lucu saat kami menanyakan pihak hotel di mana tepatnya hotel tersebut berada. Alih-alih menyebutkan kanan, kiri atau lurus, sang penunjuk jalan malah menggunakan arah mata angin dalam bahasa Jawa untuk memandu kami. Walhasil kami terbengong-bengong, karena tidak ada satu pun di antara kami yang bisa berbahasa Jawa. Hahaha.

Cuplikan foto.

Setelah resmi menjadi suami-istri. Barakallah.

Setelah istirahat dan berganti pakaian, kami bertolak ke rumah Ratih untuk makan siang, ups, untuk mengucapkan selamat atas akad nikahnya dengan Eldy, deng. Kami disuguhi sosis solo, dan ini membuat Lili cukup puas untuk tidak mencari sosis solo di tempat lain :p

Dari rumah Ratih, kami memutuskan untuk mencari batik. Tempat pertama yang kami datangi adalah Toko Batik Genes di Jl. Dr. Rajiman. Di sini saya mendapatkan baju batik terusan dengan harga Rp 30 ribu saja setelah dipotong diskon. Senangnya. Dari Batik Genes kami lanjut ke Kampung Batik Kauman pada saat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam dan sudah tampak sunyi-senyap dari kegiatan perdagangan. Saat kami bingung harus menuju ke mana, melintaslah seorang satpam yang kemudian memandu kami menunjukkan rumah-toko yang masih beroperasi.

Di pemberhentian pertama kami memasuki rumah-toko dengan desain toko yang jadul banget. Di pintu masuknya terdapat kursi panjang dari jati (mungkin) yang ditemani oleh gantungan jas dan topi dari zaman yang sama. Di dalamnya kami disambut oleh mbak-mbak SPG (lima orang) yang selalu riuh a.k.a cekikikan tiap kali mendengarkan celetukan antara Tante Debz dan Lili. Sayang, saya lupa judul tokonya, tapi yang pasti mbak-mbak SPG tersebut berjilbab semuanya.

Pak Satpam kemudian mengarahkan kami ke toko yang sepertinya paling mentereng di kampung tersebut. Tidak ada yang kami beli di tempat ini karena isinya kurang lebih sama dengan yang ada di Batik Genes.

Melihat raut kekecewaan di wajah kami, Pak Satpam tersebut membujuk kami menuju toko terakhir yang letaknya lebih menjorok ke tengah kampung. Di depan toko tersebut terlihat seorang bapak di bawah cahaya lampu yang menyala satu-satunya. Pak Satpam berbicara sebentar kepada bapak tersebut. Bapak tersebut lalu mengalihkan pandangannya kepada kami, lalu secepat kilat masuk ke dalam. Di dalam terdengar keriuhan, kemudian lampu-lampu lainnya dinyalakan. Lalu tampaklah gantungan-gantungan pakaian batik. Seorang ibu mempersilahkan kami masuk. Saya perhatikan rambutnya acak-acakan menandakan ia baru saja dibangunkan dari tidurnya. Terbersit keengganan untuk melakukan pembelanjaan ini, apalagi kami tidak menemukan sesuatu yang menarik hati. Kami berputar-putar di toko tersebut beberapa kali untuk memastikan ada yang bisa kami boyong ke Jakarta. Ketika putaran akan berakhir, Tante Debz berhenti di deretan pakaian batik dekat pintu. Lalu matanya berbinar-binar dan menarik Lili untuk menunjukkan harta temuannya, yakni pakaian batik bladus.

Tak lama kemudian kami sudah selonjoran di lantai dengan penuh semangat memilah-milah pakaian tersebut. Ini memang tumpukan harta, karena jika belanja di Jakarta sangat tidak mungkin mendapatkan sehelai batik bladus seharga Rp 50 ribu, itu menurut Si Tante.

Setelah masing-masing dari kami mendapatkan pakaian yang diinginkan, waktunya untuk pamit pulang. Dan sebagai kenang-kenangan atas pelayanan Si Ibu yang ramah, kami melakukan foto bersama.

Dari Kauman, Sexy Black diarahkan menuju tempat bernama Galebo (correct me if I’m wrong). Dari curi dengar sana-sini, di sinilah tempat untuk mencari jajanan malam di Solo. Galebo ini lokasinya tidak jauh dari kawasan Taman Sriwedari.

Tenda-tenda putih didirikan di sepanjang jalan yang tertutup untuk kendaraan bermotor. Lima meter pertama yang kami temui adalah penjual barang-barang sandang. Semakin kami masuk dan semakin mendekati akhir dari deretan tenda ini yang kami temui masih penjual barang-barang sandang. Di mana penjual makannanya??? Lapar nian ini!

Akhirnya kami melipir menjauhi tenda-tenda itu dan menemukan penjual nasi kucing di samping area pentas seni yang menampilkan pergelaran teater dan musik jazz. Di depan seorang nenek berkebaya pink kami mengentaskan rasa lapar kami. Ada keraguan terbersit karena saya tidak paham makanan apa yang akan saya santap. Tapi melihat orang-orang di sekitar yang makan dengan lahap, hmmm, sepertinya akan baik-baik saja.

Yeahhh, semua baik-baik saja sampai kami melihat Si Nenek mengambil ayam yang batal dimakan oleh pelanggan lain dengan tangannya. :p

Oke tadi itu bukan santap malam yang “tenang”. Kami lalu mencari penjual susu murni. Di tempat ini mereka juga menghidangkan makanan dengan porsi kecil-kecil. Maka itu selain minum susu, kami juga mengemil roti bakar dan mie goreng jawa.

Akhir petualangan malam itu berakhir di bawah jam sepuluh malam. Rekor yang tidak biasanya.

16 thoughts on “when blood O collide (trip to Solo part 1).

  1. seeeppp….buat yg gak pernah ke solo…lumayan bisa keliling solo without pemandu yg asli orang solo hehe,btw Galebo yang dimaksud itu pusat barang antik Pasar Ngarsopuro bukan…kalo Galebo (yang nama sebenarnya adalah Galabo) itu yang sebenrnya pusat makanan :d

    jadi…kapan-kapan kalo gak kapok ke solo lagi yaooow….kita makan gudek ceker yg bukanya jam 2 pagi mpe subuh doank ma serabi solo yang masih anget2 dari tembikarnya🙂

  2. hmmm…memang cuma satu kata yg bisa menggambarkan smuanya: FUN!!!!..:)
    can’t wait for our next trip ya Jangdu *wink*..

    -Jangtu-

    ps. attention to Cipu, awas ya klo nnt ‘sok’ sibuk lagiiiii…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s