jalan-jalan malam bersama KHI.

Sabtu kemarin (09/05) saya menghabiskan malam minggu dengan melakukan jalan-jalan mengunjungi Kota Tua Batavia bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI). Hajatan ini berjudul Jakarta Night Heritage Trail (JNHT) dan merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan World Book Day di Indonesia yang dipusatkan di Museum Bank Mandiri (MBM) mulai tanggal 23 April – 17 Mei 2009.

Kegiatan berlangsung selama kurang lebih tujuh jam. Dimulai pada pukul tiga sore dan berakhir sekitar pukul 10 malam. Dan semua dilakukan dengan berjalan kaki.

Bersama Andri dan CieDie, saya beranjak dari Ragunan menuju MBM yang berada di seberang Stasiun Kota menggunakan Bis Transjakarta. Sebelumnya niat kami sempat melempem karena hujan deras disertai angin ribut sempat menghampiri area selatan Jakarta dari pukul 09.00 – 13.00 WIB. Namun rupanya semakin kami melaju ke utara, awan mendung tampak semakin menipis. Bahkan ketika kami sampai di Stasiun Kota, mentari sore bersinar hangat.

Menunggu Bom-Bom

Di kantin MBM kami bertemu dengan Trio M (baca: Monica, Mia dan Mba Mitra), tiga orang teman sekantor saya lainnya. Perut saya sebenarnya sudah terisi soto lamongan, seporsi nasi, sepotong tempe goreng, dan kerupuk, tapi saat melongok menu yang disantap Trio M terbit lagi nafsu untuk mengudap (setelah melakukan kalkulasi singkat atas lamanya waktu yang diperlukan untuk menuntaskan acara jalan-jalan dan membandingkan dengan ketahanan lambung). Saya pun memutuskan untuk ngemil siomay. Tapi saya harus menelan kekecewaan, sambal kacang untuk siomay sudah habis. Oke, kalau begitu bagaimana dengan gado-gado? Ternyata habis juga. Benar-benar laku keras kantin ini, yang tersisa hanya ayam goreng kremes yang dipesan oleh Andri. Maka jadilah ayam tersebut diganyang beramai-ramai. Terima kasih, Ndri.

Jam tiga sore kami berenam mulai memasuki ruang depan MBM. Wuahh, ruangan tersebut terlihat hiruk-pikuk layaknya pasar malam. Para pemandu berkoar-koar memanggil tiap-tiap anggota kelompoknya. Kami yang masuk dalam Kelompok 8, menunggu dengan tidak sabar seperti apa gerangan pemandu kami. Berbisik-bisik, kami saling menyampaikan doa semoga kami mendapatkan pemandu yang ganteng. Halah!.

Dia tidak ganteng tapi sangat komunikatif, dan pada detik itu kami memutuskan untuk mengikuti Bom-Bom ke mana pun. Hehehe.

Sekilas tentang MBM

Sebelum acara JHNT resmi dibuka, Bom-Bom mengajak kelompok 8 melihat ruang brangkas. Selain memamerkan brankas dalam beragam ukuran dan bermacam peti kayu pengangkut uang, yang menarik dari ruangan ini adalah ruangan safe deposit box yang dijaga oleh pintu baja seberat 10 ton. Konon, pintu tersebut dibawa dari Negeri Belanda dan sudah disetel otomatis. Artinya, pintu tersebut akan menutup pada pukul lima sore dan membuka pada pukul lima pagi. Teknologi yang sangat canggih pada zamannya, lho. Dan pada tahun rentang tahun 1942-1945, ruangan-ruangan lain dalam ruang safe deposit box ini digunakan penjajah Jepang untuk menimbun mayat. Hiii….

Dari ruangan brankas, Bom-Bom mengarahkan kami ke sebuah taman di mana acara peresmian JHNT dilangsungkan. Kami berenam langsung mengambil tempat duduk, tidak menyia-nyiakan waktu untuk beristirahat dan berfoto-foto. Taman di tengah komplek MBM ini terasa sangat menentramkan, sampai-sampai saya tidak merasakan bahwa saya sedang berada di utara Jakarta yang lebih panas karena angin bertiup sepoi-sepoi.

FYI, MBM ini dibangun pada tahun 1929 dan siresmikan penggunaannya sebagai perusahaan dagang Belanda (Nederlandsche Handel-Maatschappij) pada 14 Januari 1933.

Memandang Stasiun Kota dan Mengagumi MBI

Setelah acara pemaran tujuan kegiatan, pengenalan panitia/pemandu, dan wejangan dari pendiri KHI, Kang Asep Kambali, serta dari Kepala UPT Penataan dan Pengembangan Kawasan Kota Tua (Chandrian A.), kami diberangkatkan. Situs pertama yang dikunjungi adalah memandang Stasiun Kota atau Stasiun BeOS (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij) dari seberang. Sayang, yang dapat kami lihat hanyalah lengkungan khas arsitektur art deco pada pintu-pintu masuknya, sedangkan fasade bangunan terhalang oleh bangunan halte Bis Transjakarta yang entah merujuk gaya arsitektur apa.

Jelaslah kami tidak bisa berdiam lama-lama memandang Stasiun Kota, kami mulai menyisir Jalan Pintu Besar Utara. Bersebelahan dengan MBM terdapat Museum Bank Indonesia (MBI) yang sama apik dan kokohnya dengan MBM. Namun karena bertepatan dengan Perayaan Waisak, kami tidak bisa melihat-lihat keindahan arsitektur neoklasik Eropa pada bangunan MBI dari dekat, cukup dari luar pagar saja.

Deretan angkutan kota yang berhenti di depan pagar mengurangi kenyamanan kami dalam mengagumi MBI. Ditambah lagi bau pesing yang menguar tidak habis-habisnya, membuat kami buru-buru hengkang untuk menuju Taman Fatahillah.

Rendevouz di Taman Fatahillah

Sepotong ruas dari Jalan Pintu Besar Utara yang menuju Taman Fatahillah rupanya kini hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki saja, kendaraan bermotor dilarang keras menjejakkan ban-bannya di sini. Tapi sayang, masih banyak orang yang bermotor dan bermobil seenaknya tidak mengidahkan anjuran yang sudah termaktub dalam peraturan daerah. Padahal UPT Kota Tua memiliki niat baik, tidak lain adalah untuk menjaga area penikmat jalan kaki agar tidak cepat rusak. Bom-Bom yang geram melihat kelakuan tersebut dengan jelas sekali menyindir mereka lewat corong TOA yang dijinjingnya.

Menurut Bom-Bom, bangunan di sepanjang jalan ini usianya masih terbilang muda dibandingkan dengan bangunan di tempat lain. Bagi anggota kami, fakta tersebut menjadi tidak penting. Yang penting bagi kami adalah mendapatkan foto sebanyak-banyaknya dengan latar belakang bangunan-bangunan tersebut. Hehehe…

Jalan yang sudah ditutup ini memang menjadikan orang-orang leluasa untuk berpose maupun berdagang. Beberapa kelompok ABG terlihat melakukan sesi pemotretan di bawah tiang lampu, di depan pintu dan jendela, dan tidak ketinggalan bersama sepeda ontel yang dapat disewa. Di sini juga terdapat mobil kepresidenan yang pernah digunakan oleh Soekarno sedang nongkrong dengan jumawa. Siapa yang ingin berfoto di dekatnya harus membayar sekian puluh ribu rupiah. Yang ogah membayar cukup berfoto dari jauh.

Berbelok ke kanan, tersebutlah sebuah alun-alun kota bernama Taman Fatahillah. Sebagai titik pusat bagi seluruh kawasan Kota Tua, suasana di seputaran taman ini ramai sekali. Terlihat kelompok anak punk yang sedang bercengkrama, pasangan-pasangan yang sedang kasmaran, ABG-ABG (lagi), kelompok kesenian Reog Ponorogo, mahasiswa jurusan film, tukang obat (yang berhasil membentuk kerumunan cukup padat), deretan pengojek sepeda ontel, dan sepasang calon pengantin yang sedang melakukan foto pre-wedding dengan balutan busana bergaya Victoria.

Di taman ini terdapat sepetak lantai batu yang berasal dari Negeri Belanda. Sebaliknya, sepetak lantai batu dari Indonesia juga ditanam di Negeri Belanda. Sayang prasasti yang menerangkan sejarah lantai batu tersebut sudah tidak terpancang lagi di tempatnya, sudah rusak.

Berhadapan dengan Taman Fatahillah terdapat sebuah bangunan yang dulunya adalah gedung balaikota yang sering digunakan sebagai lokasi eksekusi hukum gantung bagi bromocorah pada zamannya. Sekarang gedung yang dibangun tahun 1717 tersebut dijadikan Museum Sejarah Jakarta. Sayang, lagi-lagi museumnya sedang tutup, sehingga saya tidak bisa melihat dan meraba meriam Si Jagur yang tersohor itu.

Di seputaran Taman Fatahillah juga terdapat situs bersejarah maupun budaya lainnya, seperti Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta gedung Kantor Pos Jakarta. Oh ya, kami sempat melongok ke dalam kantor UPT Kota Tua dan menyaksikan bagian-bagian interior gedung yang relatif tak lekang oleh waktu.

Menuju Pelabuhan Sunda Kalapa

Setelah puas berfoto-foto, kami beranjak menuju Pelabuhan Sunda Kalapa melalui Jalan Cengkeh. Sesuai dengan nama jalannya, tempat ini merupakan pusat penjualan rempah-rempah. Kini jalan ini dipenuhi deretan ruko-ruko yang menjual jasa pembuatan atau perbaikan alat berat seperti jangkar kapal.

Di suatu titik di Jalan Tongkol, tepatnya di bawah jalan layang kami menghentikan langkah. Menurut Bom-Bom di tempat tersebut dulunya berdiri Amsterdam Poort, bagian dari benteng terbesar VOC di Batavia yang mulai dibangun pada tahun 1619.

Selepas Jalan Tongkol, kami memasuki Jalan Kerapu. Di sebelah kiri jalan tersebut terdapat pintu air Sunda Kalapa. Ugh, kami menghirup bau tidak sedap yang menyeruak dari aliran air sungainya. Di ujung Jalan Kerapu terdapat Pelabuhan Sunda Kalapa. Kami langsung sibuk menentukan spot terbaik dalam mengabadikan diri dengan latar belakang deretan kapal tradisional Indonesia yang besar-besar itu (175 BRT). Kapal-kapal ini digunakan untuk mengangkut antara lain barang kelontong, sembako, tekstil, besi-beton, rotan, kayu gergajian, serta kopra.

Di Museum Bahari dan Menara Syahbandar

Tepat memasuki waktu Magrib kami sampai di Museum Bahari yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No. 1, Kampung Luar Batang. Di tempat ini juga terdapat sebuah situs religi yang sangat terkenal, yakni Masjid Luar Batang. Mesjid ini terkenal karena terdapat makam seorang ulama besar dari Hadramaut (Yaman) yakni Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus.

Di lapangan kecil museum ini kami mengistirahatkan kaki. Rupanya semangat menjelajah mulai menurun seiring dengan kembalinya matahari ke tempat peraduan.

Kembali ke ujung Jalan Pasar Ikan, kami mampir di Menara Syahbandar yang dibangun pada tahun 1839. Menara setinggi 18 meter ini merupakan bangunan tertinggi pada zamannya. Digunakan sebagai menara pengawas atas kapal-kapal yang memasuki Batavia.

Tidak banyak orang yang bisa naik hingga lantai teratas. Dikarenakan usianya yang sudah sangat tua, jadi hanya sekitar 15 orang yang diizinkan masuk per gelombangnya. Seraya menunggu giliran naik, kami duduk-duduk di pelataran menara yang banyak ditumbuhi pepohonan rindang. Sambil leyeh-leyeh itu kami tak lupa mengabadikan diri. Biarpun pencahayaan sangat minim, sehingga sulit sekali untuk memfokuskan kamera, aksi berpose tetap jalan terus.

Sekitar sepuluh menit menunggu, giliran kami untuk memasuki menara pun tiba. Saat saya mengamati rangkaian anak tangga dari kayu bercat merah tersebut, saya sempat ragu-ragu, apalagi setelah Andri memutuskan untuk tidak bergabung. Tapi dengan alasan kemungkinan tidak akan melakukan hal seperti ini lagi di kemudian hari, saya pun memantapkan hati menapaki setiap anak tangga hingga lantai teratas.

Sesampainya di atas, kami bisa memandang keadaaan pelabuhan dan menara Masjid Luar Batang melalui jendela utara. Menengok lewat jendela selatan, terlihat atap dari gedung Galangan Kapal. Di menara ini kami harus bergerak perlahan-lahan karena selain lantai kayunya sudah terlihat ringkih juga karena menaranya mulai miring dua derajat ke arah selatan!.

Hohoho, tantangan terbesar bagi saya rupanya menanti saat saya harus menuruni tangga tersebut. Tergopoh-gopoh seperti manula saya berpegangan erat pada pembatas tangga dan berdoa untuk tidak tergelincir.

Bergerak ke Galangan Kapal

Selepas dari Menara Syahbandar kami menyeberang menuju Galangan Kapal di Jalan Kakap. Gedung yang awalnya digunakan sebagai tempat memperbaiki kapal-kapal itu ternyata usianya lebih tua ketimbang Museum Bahari di sebelah utaranya. Galangan ini dibangun pada tahun 1628, sedangkan bangunan yang kini menjadi Museum Bahari mulai didirikan pada tahun
1652

Sekarang Galangan Kapal dimanfaatkan sebagai restoran, cafe dan sanggar tari tradisional Cina. Kami sempat mengagumi sebuah restoran seafood, Raja Kuring, yang tampak cantik dengan untaian lampu warna-warni di pelataran parkirnya.

Jembatan Kota Intan

Kami semakin berjalan ke selatan yakni menuju Jembatan Kota Intan yang dibangun pada tahun 1628 di atas Kali Besar. Jembatan ini dapat diangkat bila kapal ingin keluar masuk Batavia. Disebut Jembatan Kota Intan, karena dahulu didekatnya berdiri benteng intan. Nama jembatan ini sering berganti-ganti, mulai Jembatan Inggris, Jembatan Pusat, Jembatan Pasar Ayam, Jembatan Jungkit, sampai Jembatan Juliana. Sebutan terakhir diberikan karena saat pemerintahan Ratu Juliana, tepatnya tahun 1938, jembatan ini dipugar.

Selepas dari jembatan kami memasuki Jalan Kali Besar Timur. Kami merapat sebentar di dermaga kecil yang ada di situ untuk mendengarkan cerita pembantaian 10.000 etnis Tinghoa oleh penjajah Belanda pada tahun 1740. Pembantaian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemerintah kolonial atas dominasi masyarakat Tionghoa dalam bidang perekonomian. Kali Besar menjadi saksi bisu peristiwa berdarah tersebut, karena mayat-mayat korban pembantaian dibuang di sini.

Setelah melakukan tindakan keji tersebut, perekonomian Batavia langsung menuju titik nadir. Batavia bisa dikatakan mati dari segala bentuk kegiatan usaha. Maka, pemerintah kolonial pada waktu itu lalu mendatangkan orang-orang Tinghoa dan kemudian ditempatkan di kawasan yang sekarang bernama Glodok.

Uji Nyali di Gedung Cipta Niaga

Perjalanan kami dilanjutkan menuju sebuah gedung bernama Cipta Niaga yang kalau tidak salah berada di Jalan Kali Besar Timur IV. Dari sekian banyak gedung-gedung tua peninggalan zaman Belanda yang kami lihat, hanya gedung ini yang dapat kami masuki. Ternyata gedung ini laris-manis dijadikan lokasi syuting film maupun video klip. Kita bisa melihat sekelumit interiornya dalam film Ayat-ayat Cinta, video klip Mulan Jamila (Mahluk Tuhan Paling Seksi) dan entah berapa banyak film horor Indonesia.

Kesan horor kental sekali, karena gedung ini minim cahaya. Cahaya yang ada hanya berasal dari lampu neon milik sang kuncen di dekat pintu masuk. Kami berbondong-bondong menuju lantai dua di mana terdapat ruangan seperti mini ball room. Selanjutnya kami menuju lantai tiga. Di sini kami menemukan ruangan besar dengan atap yang menganga sangat lebar. Miris kami melihatnya. Bangunan sebagus dan sekokoh ini harus kandas karena ketiadaan dana untuk merestorasi.

Jalan Kali Besar Barat

Dari Cipta Niaga ini kami menyeberang menuju Jalan Kali Besar Barat. Tampaknya di sisi barat ini bangunan-bangunannya lebih terurus. Tersebutlah bangunan yang dijadikan executive club Athena dan Toko Merah.

Perjalanan berakhir dengan berfoto bersama di depan Toko Merah. Kemudian kami mengarah kembali ke MBM melalui Jalan Bank yang berada di samping kanan gedung MBI.

Setibanya di taman MBM, saya langsung bergegas menuju meja prasmanan untuk mengambil jatah nasi ulam, segelas air dan sebuah jeruk mandarin. Hmmm, nikmat sekali makan malamnya.

Pada pukul sembilan malam, kami memutuskan untuk undur diri lebih dulu dari waktu yang sudah ditentukan karena kami harus mengejar keberangkatan Bis Transjakarta menuju kawasan Kuningan.

Dari perjalanan ini saya salut atas usaha KHI untuk menularkan kecintaan pada sejarah dan budaya bangsa sendiri.

4 thoughts on “jalan-jalan malam bersama KHI.

  1. huaaaaaaaaaa…..ciamik tulisannya. sebuah catatan perjalanan yg urut dan runtut. Aku aja gak ikut setelah dr MBM ke arah mana trus bisa sampai MBI trus ambil arah mana untuk sampai ke Taman Fatahillah. Hehehehe secara buta arah atau karena kecapekan jalan ya??? Sip…… keep the writing spirit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s