she speaks Finnish, he speaks Prada.

Akhir pekan kemarin gw awali dengan bergegas keluar dari kantor pada pukul 16.30 WIB. Gw bergegas karena mengejar jam tayang Confessions of a Shopaholic di Botani XXI pada pukul 19.15. Kali ini gw janjian nonton bersama Cici, Chie dan Si Mpit.

Tepat jam enam sore gw sampai di Terminal Baranangsiang dan langsung ber-sms dengan ketiga orang di atas untuk mengetahui posisi terakhir mereka. Cici masih di rumahnya, jauh di ujung barat lokasi pertemuan. Chie baru saja menaiki bus jurusan Bogor-Tanjungpriok, dan Si Mpit baru sampai di tol TMII. Kecemasan langsung melanda. Bukan, bukan karena kemungkinan acara nontonnya bisa batal, tapi karena gw musti cepat mencari toilet. Sepanjang perjalanan Lebakbulus-Bogor tadi gw menahan pipis. Hihihi.

Pada pukul 19.00, ketiga orang di atas belum juga menampakkan diri. Gw kembali ber-sms untuk menanyakan posisi mereka. Cici sudah sampai di bilangan Sempur. Si Mpit sudah di gerbang tol Bogor. Sedangkan Chie dengan sangat menyesal batal nonton bareng karena bus-nya baru sampai Cibubur.

Pemberitahuan bahwa film tersebut segera diputar, sudah tiga kali berkumandang. Tiga tiket sudah di tangan, tapi Cici dan Si Mpit belum datang juga dan di kursi tunggu, duduk gw semakin gelisah.

Saat cuplikan film mendatang diputar, akhirnya Si Mpit datang. Langsung saja kami berlari-lari kecil menuju studio 4 meninggalkan Cici yang belum sampai-sampai juga.

Gw sendiri nggak mengantisipasi kehadiran film ini, seperti halnya gw mengantisipasi film Laskar Pelangi atau Twilight. Apalagi setelah seorang teman bilang kalau film ini biasa-biasa saja.

Tapi saat membaca nama Jerry Bruckheimer duduk sebagai produser film ini, hmmm, film ini nggak mungkin biasa-biasa saja. Bruckheimer ini adalah produser untuk film-film laris seperti Armageddon, Black Hawk Down, Pearl Harbor, Pirates of the Caribbean, dan National Treasure.

Film dibuka dengan tekad Becky kecil untuk menjadi perempuan hip bin trendy dengan uang plastik berderet-deret di dalam dompet. Proyeksi masa kecil ini kemudian menjadi kenyataan kala Becky dewasa. Hanya saja, bekerja sebagai jurnalis majalah home and garden tidak memberikan sokongan dana yang cukup bagi hobi belanjanya.

Hidup Becky semakin ironis sejalan dengan semakin berdatangannya tagihan-tagihan dari penerbit kartu kredit. Untuk menyiasati hal ini, Becky memutuskan untuk menjajaki karir yang lebih menjanjikan dan yang merupakan impian terbesarnya, yakni bekerja pada majalah mode Alette.

Di sinilah adegan-adegan konyol bermunculan sambung-menyambung. Kebutuhan untuk memiliki scraf hijau yang diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri saat temu wawancara untuk Alette, sampai menghebohkan sebuah kedai hotdog. Atau saat Becky melakukan wawancara tak terduga dengan majalah Successful Saving. Atau saat ia mencari ide tulisan via Google. Atau saat Becky berada di tengah gala dinner dan disangka sebagai pelayan. Atau, ini yang paling utama, saat Becky pontang-panting menghindari penagih hutang yang tingkat kegigihannya sangat tinggi.

Isla Fisher si pemeran Becky sangat baik memerankan tokoh ini. Adegan konyol yang cenderung slapstick tetap membuat gw tertawa terpingkal-pingkal sampai film berakhir.

Namanya juga sebuah film hasil adaptasi dari sebuah novel, tentu penceritaan tidak memungkinkan dibuat sedetilnya. Dan yang mengganggu gw adalah kisah pencintaan Becky dan Luke Brandon yang kurang berkesan kedalamannya (cuihhh).

3 thoughts on “she speaks Finnish, he speaks Prada.

  1. Opa terima kasih sudah mampir. Niat memberi judul demikian, sebenarnya hanya untuk “gimmick” saja supaya orang tertarik.

    Judul tersebut aku ambil dari cuplikan filmnya, di mana Becky berpura-pura dapat berbahasa Finlandia untuk menaikkan prestise dirinya di hadapan Luke sebagai bos barunya.

    Dalam cuplikan lain, sebagai anak seorang editor fesyen kawakan, Luke sudah punya selera bagus dalam berbusana walaupun sehari-hari dia tampil sederhana. Sehingga Becky mengira Luke tidak tahu apa-apa tentang belanja pakaian.

    Demikian penjelasannya. Semoga dapat dimengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s