book review: Perang Bintang.

Perang Bintang // Dewie Sekar

Lagi, salah satu chicklit Indonesia yang menurut gw bagus banget dan layak untuk dikoleksi.

Dewie Sekar, sang penulis, meramu novelnya dengan percakapan antartokoh yang lugas, pun saat sang tokoh berdialog dengan dirinya sendiri.

Simak kutipan berikut di mana sang tokoh cewek (Rezia Kartika) bercakap-cakap (menggosip tepatnya) dengan sahabatnya (Yuli) di dalam lift mengenai sang tokoh cowok (Wira Yudha Nugraha):

“Dia memanggilku ‘Mbak’!” aku menggeram lagi (kalau kau menemukan huruf macam yang sedang kaubaca ini, berari aku sedang bicara dalam bahasa Jawa, oke?). “Bisakah kau percaya? ‘Mbak!’ Ya ampun! Ada dua kemungkinan kenapa si brondong itu memanggilku begitu. Pertama, dia memang menganggapku sudah sangat tua. Pantas jadi kakak perempuannya… atau mungkin malah seumuran dinosaurus. Kedua, bisa jadi Wira menganggap sekretaris sama saja dengan pembantu. Anakku juga memanggil pembanu kami ’Mbak’. ’Mbak Sarmini’. Uh, menjengkelkan! Kuharap Big Bos cepat sembuh sehingga aku bisa segera terbebas dari anak manja itu! Tapi, masih lumayan dia nggak memanggilku ’Tante Rezia’. Harusnya aku bersyukur!”

”Apa dia pintar?” tanya Yuli lagi.

”Lumayan. Cepat menangkap apa yang kujelaskan. Dia pintar dan wangi sekali!”

”Wangi, ya? Hmmm… bikin kamu nekat menggigit dia duluan, nggak?”

”Jujur aja… nyaris! Aku memang pengin gigitin dia sampai habis! Baunya maniiis!”

Saat mereka berdua keluar dari lift, mereka berpapasan dengan sang tokoh cowok yang juga keluar dari lift yang sama…

”Pagi juga,” sahut Wira… dalam bahasa Jawa! … sambil mengerjapkan sebelah mata pada aku dan Yuli. ”Jadi seharusnya saya memanggil Anda bagaimana? R-R-REZIA aja?”

Aku benar-benar malu. ”Maafkan saya, Pak,” sahutku tergagap. ”Panggil saya apa saja.”

”Saya tak mengganggap sekretaris sama dengan pembantu, walau nyatanya ugasnya memang mirip… R-R-REZIA! Tugas Anda memang membantu Bos Anda, kan?” kata Wira dalam senyuman yang membuatku mati kutu. ”Oh ya… olong diingat-ingat, banyak sekali orang Jawa di Jakarta. Cobalah belajar bahasa Hindi, atau Tagalog, atau Swahili. Lebih aman untuk menggosip di lift!”

Dan simak yang berikut:

C’mon… sadarlah, Dwiko! Aku bukan untukmu! Hatiku sudah dicuri mahluk tampan yang sekarang sedang nguping obrolan kita! Eh, BTW… ngapain di situ, Wira? Semoga dikau dilanda cemburu buta gara-gara Dwiko meneleponku!

Menurut gw tema yang diusung chicklit ini juga agak lain. Sang tokoh cewek adalah janda cerai dengan satu orang anak perempuan. Maka gak heran, sepanjang 394 halaman novel ini kita disuguhi kekhawatiran Rezia dalam menghadapi norma-norma sosial sebagai seorang janda kembang yang naksir bosnya sendiri yang notabene umurnya lebih muda. Jadi klop, deh, ramuan yang disuguhkan penulis untuk membuat gw menyelesaikan novel ini hanya dalam satu hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s