book review: Indonesian Idle.

Indonesian Idle // Okke Sepatumerah

Membaca novel kesekian dari Okke Sepatumerah terasa familiar, terutama bagi mereka yang pernah kehilangan pekerjaan pertamanya dengan cara yang tidak menyenangkan. Dipecat. Dipecat karena alasan yang aneh bin ajaib, ditelikung teman sekerja, atau dimanipulasi tenaga-hati-dan pikirannya.

Yeah, I’ve been there done that, too. But, anywayyy… tersebutlah seorang cewek bernama Diandra Andriani, usia awal 20-an, sedang meniti karir sebagai kutu loncat profesional. Anywayyy kuadrat, akhirnya Diandra menginsyafkan diri jadi kutu loncat dan berjanji setia menjadi pekerja yang baik di sebuah majalah perempuan berskala nasional. Ibunya yang sedih melihat anak semata wayangnya pindah-pindah kerja melulu, menjadi bahagia. Apalagi ia bisa sedikit menyombongkan tempat kerja anaknya kepada teman dan keluarga tanpa membuat kening mereka mengerut.

Niat saja ternyata tidak cukup. Bekerja keras rupanya juga masih kurang. Hanya persekongkolan jahat saja yang akhirnya mendepak Diandra kembali ke rimba para pengangguran yang jumlahnya tidak terampuni itu.

Karena tidak ingin mengecewakan sang ibu, Diandra memilih bertahan di Jakarta daripada pulang ke Bandung dengan bekerja sebagai operator warnet. Lagi kesialan menghampirinya. Diandra harus menghadapi bosnya yang mesum. Setelah menerima honornya selama satu bulan, ia pun cabut.

Keadaan sedikit membaik tatkala Diandra menerima pekerjaan sebagai guru les menggambar bagi anak pacar sahabatnya. Untungnya, si pemberi kerja adalah orang yang baik pun si anak yang diajarnya.

Sampai di sini kita ternyata belum bisa menarik nafas bahagia buat sang tokoh, Karena Diandra terlibat main api sesaat dengan pacar sahabatnya itu!!! Nelangsa, pastinya. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada persahabatan. Inilah saat di mana ia harus menghadapi realita, when enough is enough. Ia pun memutuskan pulang ke rumah ibu.


Jadi beginilah, untuk saat ini, dunia kecilku-klau mau diibaratkan hypermart lagi-cukup lengkap dengan kekacauan: dipecat dari perusahaan besar, bekerja menjadi penjaga warnet, mengalami pelecehan seksual, tidak punya pekerjaan, dimarahi Amanda Wijaya, bermain api dengan pacar sahabat, dibenci sahabat, berbohong pada Ibu, sampai pada akhirnya menyerah, kalah.

Sama sekali tidak pernah terbayang aku akan mengalami semua ini. Dan yang membuatku sebal adalah, semua akibat kelakuanku sendiri.

Perasaanku sungguh tidak bisa kudefinisikan: sedih, sebal, kesal, merasa tolol dan ehm, aku benci diriku sendiri.

Agak sedikit plong rasanya ketika mobil milik Fast-Trans telah memasuki kota Bandung. Seperti yang kubilang, Bandung adalah kota yang kucintai, di sini tempatku merasa di “rumah”… (hal. 209-210)

Tepat saat membaca potongan paragraf tersebut, tidak terasa bulir-bulir air mata gw mengalir. Terasa benar penderitaan yang dialami Diandra. Di mana dengan kekerasan kepalanya ia ingin membuktikan bahwa ia bisa.

Sebagai suatu kisah yang diharapkan berakhir bahagia, Diandra pun bangkit. Yeah, life is a bitch and then you’re not dead anyway. So, buat yang masih jobless di luar sana (salah satunya elo, Git!), ini nih bacaan inspiratif selain buku Bagaimana Melamar Pekerjaan, Cara Menghadapi Wawancara Kerja, Dress for Success, dan Cosmopolitan’s Career Handbook jilid 1 dan 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s