a poem by a father.

Aku Ingin Melukis Rumah Untukmu, Anakku

Sedang duduk kita di beranda
tangan-tangan kecilmu dan terang bolamatamu
adakah bedanya
dengan gambar kecilku dulu
waktu kulukis rumah
tanpa pintu tanpa jendela
dan langit kelabu di atasnya

Ingin kuhapus masa lalu
hari-hari terisak yang sukar engkau mengerti
Sekarang di belakangmu aku berdiri
Sudahkah benar aku menjadi ayah
setelah memberimu beberapa
sesuatu yang tidak engkau pinta
namun aku harus melakukannya

Selagi kental tinta kasih sayang kita
mungkin belum pudar persahabatan, kejujuran,
dan semua saja yang pernah kita bangun
menuliskan garis dan warna menawan
Ingin aku melukis lagi sebuah rumah untukmu
dengan awan putih di atasnya
Sebuah rumah yang terang
berpintu dan berjendela
agar bebas mengalir lalu lalang
benderang nurani kita

Courtesy of Hendrawan Nadesul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s