prozac please…

Saat berangkat menuju kantor bersama Si Mamah. Di dalam angkot yang saya naiki, duduk seorang perempuan muda di samping pintu. Saya duduk tepat di depannya, sedangkan Si Mamah memilih duduk bersama sopir. Mengingat uang receh saya sudah habis, saya meminta ke Si Mamah pecahan lima ratus rupiah, satu keping saja. Saat saya mengantongkan recehan tersebut, tiba-tiba perempuan itu bersuara:

<<Keterangan>>
P1: perempuan dalam angkot
P2: Si Pagit
S: sopir angkot

P1: Mbak, mau ke mana?

P2: Ke depan sana. (Tak lupa menebar senyum keramahan)

P1: Deket ya Mbak rumahnya, murah amat bayar angkotnya?

P2: Rumah? Saya belum punya rumah. (Jujur, yang punya rumah ‘kan Si Mamah)

P1: Ooh, belum punya rumah? Kalo gitu saya minta seribu.

P2: Hmmm… (Bingung dengan topik yang tiba-tiba berganti)

Dan datanglah sang penyelamat:

S: Udah, Mbak, gak usah ditanggepin. Tu’ orang mang lagi sakit ingatan.

P2: Depan kiri, ya… (Turun dari angkot, karena memang jarak yang saya tuju sejauh percakapan saya dengan perempuan tersebut)

Sound familiar… dulu saat di bangku SMP dan SMA saya pernah bercakap-cakap akrab dengan penyandang gila. Diakrab-akrabin sebenarnya, berusaha membangun suasana yang kondusif, agar mereka tidak marah.

Kala SMP, sementara saya mengobrol, kedua adik saya dengan beberapa tetangga hanya melihat dari balik pagar rumah.

Kala SMA, sementara saya ngobrol, temen-temen saya malah lari masuk ke sekolah.

Berdasarkan pengalaman tersebut, sempat terbersit untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan psikologi/psikiatri. Sayang, bersit-an tersebut hanya sampai di situ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s