Namanya Kugy. Mungil, pengkhayal dan berantakan. Ia bersikeras menjadi seorang juru dongeng.
Namanya Keenan. Cerdas, artistik dan penuh kejutan. Ia ingin hidup dari melukis.
Keduanya bertemu pada pertengahan tahun 1999 sebagai mahasiswa di Bandung.
Aliran cerita yang jalin-menjalin dalam 46 bab plus epilog ini bagi saya layaknya menaiki sebuah permainan roller coaster. Emosi saya naik-turun.
Saya terbawa sedih dan nelangsa waktu Kugy menyadari bahwa dirinya jatuh cinta pada Keenan, tapi keadaan pada saat itu sangat tidak memungkinkan baginya untuk berterus-terang. Lalu membutuhkan waktu bertahun-tahun sesudahnya bagi Kugy dan Keenan untuk bersama, di mana saat itu senyum saya tersungging atas keberhasilan mereka memecahkan misteri dan rintangan yang dihadirkan oleh cinta.
Dan itulah yang membuat saya menamatkan novel ini hanya dalam waktu satu hari, waktu saya sedang sakit perut dan mangkir pergi ke kantor.




















