Archive for the 'me and the world' Category

pada suatu hari Minggu.

Pada suatu hari Minggu, tepatnya 18 Oktober 2009, saya mengikuti kegiatan teman-teman saya antara Semplak (Bogor) – Monas – Pasar Minggu.

Dimulai dengan mendatangi pernikahan Noe, teman dari kantor tetangga. Jam sembilan pagi saya sudah berpakaian, tapi karena keringat terus-menerus bercucuran saya tidak bisa mengenakan make-up. Pelembab dan bedak luntur dengan sempurna.

Sebelumnya saya menawarkan diri menjadi penunjuk jalan bagi teman-teman dari Jakarta. Namun karena saya telat berangkat dari rumah, sementara mereka sudah sampai di Botani Square sebagai meeting point, akhirnya saya memandu mereka via handphone untuk menuju kediaman sang pengantin di daerah Cijahe, Semplak, Bogor.

Saya sampai lebih dulu di tempat resepsi. Langsung bersalaman dengan kedua mempelai, lalu menyantap hidangan dengan santai karena sama sekali tidak perlu mengantri, yeahhh. Lima belas menit kemudian, teman-teman dari Jakarta tiba juga. Dan itu merupakan pertanda dimulainya foto-foto narsis :D

Cantiknya kami (huehuehue)

Cantiknya kami (huehuehue).

Sebelum menuju Monas, kami (saya, Efa, Ayu, Andri, Louise, Shinta, dan Arwan) mampir dulu di Makaroni Panggang untuk menyesap minuman dingin. Selepas dari tempat makan tersebut, Efa berpisah dengan kami.

Perjalanan menuju Monas lancar jaya walau harus memutar tempat tersebut dua kali karena tidak menemukan gerbang masuknya (doh). Kami hadir di Monas untuk acara ini. Sebagai bagian dari organisasi tersebut, senanglah kami bisa ikut berpartisipasi walau mood sebenarnya sudah menurun karena acara tersebut sempat dibatalkan dua kali.

Kami tiba di panggung utama bertepatan dengan tampilnya RAN. Tapi alamakkk, panas banget. Lagu-lagu yang dibawakan oleh RAN tentu saja tidak bisa dinikmati sebagaimana mestinya. Lalu kami memutuskan untuk berteduh saja di dalam tenda sambil melihat-lihat program-program yang dipamerkan.

Walau panas tetap sumringah di depan kamera.

Walau panas tetap sumringah di depan kamera.

Bosan melihat-lihat di dalam tenda, saya melihat keadaan panggung dari jauh dan tetap berteduh menunggu penampilan Maliq n D’Essential. Tiba-tiba kerumunan yang berada di sisi kanan panggung semakin menyemut mengerumuni Angga sang vokalis Maliq. Kami dari jauh hanya menikmati sambil memberi komentar, hebat yah Angga tetap ramah menerima permintaan foto.

Mendekati sebuah Mercy, para fans sudah tidak begitu ramai mengelilingi Angga. Kami dari jauh memberi komentar lagi, bagaimana kalau kita juga minta foto bareng. Dan tada…, hasilnya adalah sebagai berikut:

Yes, berhasil berfoto dengan artis :D

Yes, berhasil berfoto dengan artis :D

Dan dari Angga itulah kami tahu kalau Maliq sudah tampil beberapa waktu yang lalu.

Karena tidak ada yang ditunggu lagi, kami pun pulang. Tapi sebelumnya foto-foto dulu berlatar belakang tugu Monas yang mahsyur itu.

Kata Ayu, dalam foto ini kelihatan banget mana yang keberatan badan (LOL)

Kata Ayu, dalam foto ini kelihatan banget mana yang keberatan badan (LOL)

Selepas magrib, saya, Andri dan Louise menuju Teater Salihara untuk melihat acara Quintessentia yang dimanajeri oleh salah seorang teman kantor saya, Debbie. Di sana juga Lili bergabung dengan kami bertiga.

Andri, saya dan Lili.

Andri, saya dan Lili.

Sita Nursanti dalam If We Hold On

Sita Nursanti dalam If We Hold On.

Dan, kegiatan di hari Minggu tersebut berakhir pada pukul 21.30 WIB. Lelah sekaligus gembira, yang terkadang malah membuat saya sulit untuk tertidur.

sebulan bersama GRI.

Diajak, tepatnya diracuni seorang teman, maka mendaratlah saya dalam komunitas Goodreads Indonesia. Tidak lama sesudah daftar menjadi anggota, saya langsung mengikuti kegiatan mereka.

Judulnya, sih, boleh Ririungan dengan GRI Bogor. Tapi peserta terbanyak justru datang dari Jakarta.

Judulnya, sih, boleh Ririungan dengan GRI Bogor. Tapi peserta terbanyak justru datang dari Jakarta.

2 Agustus 2009. Kopdar dengan anggota GRI di Bogor. Acaranya makan-makan, jalan-jalan, dan bagi-bagi buku. Sempat terbengong-bengong karena tidak bisa menjawab kuis-kuis yang dilontarkan. Tapi, pada akhirnya saya tidak pulang dengan tangan kosong. Saya berhasil menggondol The God of Small Things (Arundhati Roy) versi bahasa Inggris. Yipeee…

Menonton cin(T)a

19 Agustus 2009. Tawaran untuk menonton film cin(T)a, yang diputar secara terbatas itu, tentunya tidak saya lewatkan.

Mencari Bintangmu di Langit

30 Agustus 2009. Mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama GRI dan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dalam acara Mencari Bintangmu di Langit. Mengundang juga dua ratus siswa-siswi SMP dan SMA dari seputaran Jakarta untuk lebih mengenal dunia penerbangan dan antariksa.

jalan-jalan malam bersama KHI.

Sabtu kemarin (09/05) saya menghabiskan malam minggu dengan melakukan jalan-jalan mengunjungi Kota Tua Batavia bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI). Hajatan ini berjudul Jakarta Night Heritage Trail (JNHT) dan merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan World Book Day di Indonesia yang dipusatkan di Musium Bank Mandiri (MBM) mulai tanggal 23 April – 17 Mei 2009.

Kegiatan berlangsung selama kurang lebih tujuh jam. Dimulai pada pukul tiga sore dan berakhir sekitar pukul 10 malam. Dan semua dilakukan dengan berjalan kaki.

Bersama Andri dan CieDie, saya beranjak dari Ragunan menuju MBM yang berada di seberang Stasiun Kota menggunakan Bis Transjakarta. Sebelumnya niat kami sempat melempem karena hujan deras disertai angin ribut sempat menghampiri area selatan Jakarta dari pukul 09.00 – 13.00 WIB. Namun rupanya semakin kami melaju ke utara, awan mendung tampak semakin menipis. Bahkan ketika kami sampai di Stasiun Kota, mentari sore bersinar hangat.

Continue reading ‘jalan-jalan malam bersama KHI.’

the sad and undone.

Seminggu semenjak kejadian “Monas”, beginilah kegalauan hati gw pada hari-hari sesudahnya…

After 100 years of awakening, there’s nothing to be proud of as a nation when violence and hatred are used as the legitimate language.

Am I apathies? Or, just shoot me!!!

Semoga dari berbagai serpihan-serpihan permasalahan bangsa ini ada yang terselesaikan dengan baik dan benar.

marriage maybe.

I’m approaching 27, still single and got a lot wedding invitation for the last two months and another three months ahead.

These wedding invitations really bother me. Its okay for those of you who thing wedding reception is the best place to seek potential spouse. But for me personally, it’s just like step in into lion’s maw. Literary, facing a bunch of old ladies or old friends who questioning when will I turn to tie the knot.

But, the neighbors are the worst. They voluntary themselves become the organizer. Mrs. Rohman and Mrs. Arif will organize the guest greeter. Mrs. Toto and Mrs. Ali will organize the banquet. And Mrs. Hendra will responsible for the make-up artiste. They kept buzzing around whenever I passed them in the buffet.

And the only self-defense I can make is simply replied to them with my finest smile which I’ve prepared a day before. I just can’t shout out to them that I’m still available whatsoever. It’ll just give them ammo to feel sorry for me and my Mom. I truly appreciate they kindness. I believe when God sets the time, it will come. Right?

Next Page »


Keeping my feet stay on the ground:

Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like it's heaven on Earth.
.:Mark Twain:.

Twitter Updates