Metro-Text Seduction.
Singkatnya, Metro-Text Seduction adalah sub-tema dari tema besar penyelenggaraan Jakarta Biennale XIV, Maximum City, Survive or Escape? Sedangkan Jakarta Biennale adalah kegiatan berkesenian yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) setiap dua tahun sekali yang bertujuan memotret situasi mutakhir perkembangan seni rupa Indonesia, utamanya jika dikaitkan dengan perkembangan seni rupa dunia. Selain itu biennale ini juga bertujuan untuk mengenali tren-tren terbaru seni rupa dan pemikiran-pemikiran yang berkembang di sekitarnya.
Saya tergerak untuk melongok kegiatan ini dipicu rasa penasaran ingin melihat karya instalasi secara langsung. Maka sepulang kantor bergeraklah saya bersama Lili menuju Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki di mana karya-karya yang terangkum dalam sub-tema Metro-Text Seduction digelar.
Di bagian karya instalasi Toko Satu Buku ini saya menemukan sebuah lukisan yang akrab saya lihat menggantung di setiap rumah-tangga pada periode tahun 80-an. Pemandangan sebuah rumah di tengah-tengah danau yang asri. Tetapi yang membedakannya kini adalah munculnya buldozer-buldozer yang merengsek di tepian danau tersebut, siap melahap rumah tersebut beserta keindahan dan ketentramannya.
Dari semua karya yang dipamerkan, sungguh hanya satu nama saja yang saya kenal. Raffi Ahmad. Yup, bintang sinetron dan presenter acara musik Dahsyat itu. Di sini Raffi menampilkan film pendek yang diangkat dari novel berjudul Barbie karangan Clara Ng. Ceritanya mengenai seorang penyanyi klub malam (diperankan oleh Yuni Shara) yang dicintai habis-habisan oleh satpam klub tersebut.
Informasi dari katalog pameran, Raffi ternyata sudah berpameran hingga Korea Selatan dan Jepang. Menurut saya, filmnya ini lumayan bagus.
Berikutnya adalah karya yang menggelitik karena sering kita temukan pada uang lembaran seribu rupiah yang sudah kumal. Pesan cinta, doa penuh harapan hingga iklan bersetubuh dikompilasi dengan apik menggunakan teknik scannography.
Seni modern bisa datang dari mana saja, salah satunya kulkas yang dipenuhi tempelan stiker ini.
Atau, hasil cetak peta Kota Bandung yang ditempeli banyak post-it warna-warni.
Karya yang satu ini memboyong sepeda motor tua yang ditancapi bunga-bunga mawar merah pada kedua rodanya. Lalu yang terlihat seperti tanah itu merupakan ketan hitam.
Sandra Nyberg menghasilkan karya yang unik. Karyanya didasarkan pada pengalaman subjektif dari teks tertulis. Cerita pendek oleh penulis Finlandia Rosa Liksom dirubah menjadi garis-garis abstrak EEG, mengomentari tugas yang tidak mungkin secara visual menafsirkan sebuah karya yang ditulis tanpa mengakui pentingnya pengalaman pribadi dan keterlibatan emosional. Namun demikian, garis-garis yang terus bergerak juga melambangkan kehidupan berlapis-lapis dalam suatu megaciti, aliran konstan impuls – lambat atau cepat, santai atau tegang. Dalam gambar subyektif, Sandra berusaha untuk menekankan pengalaman subyektif sebagai bagian penting dari konteks yang lebih besar.
Hampir mirip dengan karya Sandra Nyberg adalah karya Ritchie Ned Hansel yang terinspirasi cerpen Fatamorgana yang ditulis oleh Happy Salma. Menurutnya di era modern ini semua orang bisa menciptakan fatamorgana tentang diri mereka untuk direpresentasikan oleh orang lain melalui medium jejaring sosial.






















kapan melihat yang di galeri ‘sebelah’?
Minggu depan, ya. Insyaallah.