Archive for October, 2008

leave my mommy alone at home.

Senin ini adalah minggu kedua setelah libur Lebaran. Anak-anak sekolahan dan kuliahan baru mulai masuk, termasuk adek gw, Si Ndut, yang akan menjalani perkuliahan lagi di IPB.

Pagi-pagi buta kedua anaknya nyokap (gw dan Mpit) dah brang-bring-brung di dapur, kamar mandi, maupun di kamarnya masing-masing. Pada pukul 05.30, kami sudah rapi dan harum, siap berangkat menuju tempat aktivitas.

Saat melepas kepergian kami di pintu rumah, tampak nyokap melepas kami dengan berat hati karena nyokap akan kembali menghabiskan hari-harinya sendirian (seminggu kemaren kan ditemenin Si Ndut). Gw jadi sedih melihatnya. Segera setelah mencium tangan nyokap, gw langsung kaburrr… bisa-bisa gw bakal menitikkan air mata.

setelah dua hari sakit.

Akhirnya dapat bekerja kembali setelah dua hari sakit. Dipakaikan stagen supaya perutnya nyaman. Alhamdulillah, my mommy nggak nyuruh-nyuruh untuk bawa termos kompres sekalian.

Sesampainya di kantor, beberapa rekan menanyakan keadaan gw. Gw jawab dengan mantap, perut gw sudah terasa lebih baik.

Mendekati pukul 09.00, seiring dengan semakin banyaknya rekan kerja yang berdatangan, semakin banyak juga pertanyaan mengenai sakitnya gw. Gw memberikan jawaban yang sama namun kali ini dengan seringai/cengiran yang lebar. Karena dalam hati gw bertanya, “Banyak bener ya yang nanyain gw sakit apaan?”. Gw jadi berasa malu, secara sakit gw kan nggak elit, diare gitu. Dan daripada wondering sendirian, langsung saja apa yang terpikirkan itu gw tuang ke dalam Plurk. Legaaa…

Tapi eits, pertanyaan tentang sakitnya gw rupanya tidak berhenti di antara penghuni ruang 615. Saat gw bertandang ke ruang 911, mereka juga menanyakan hal yang sama. Sekonyong-konyong muncul pertanyaan berikutnya, “Apa berita sakitnya gw itu terpampang di papan staffs whereabouts?”

Tapi sampai gw balik ke rumah, gw belum sempat melirik itu-papan-yang-ngejongrok-segede-gaban-dan-menghalangi-pemandangan-ke-arah-pintu-masuk-sehingga-apabila-ada-mas-mas-marketing-dari-hotel-hotel-hanya-Tania Cs-yang-bisa-menikmati.

absen shalat Idul Fitri 1429 H.

Kedua adik gw sulit dibangunkan pada pukul 05.45. Setelah mereka bangun dan mandi, masih juga direpotkan dengan segala perlengkapan yang belum siap. Kelabakan deh mencari mulai dari kaos dalam (Si Ndut ga’ bawa kaos dalam dari rumah, akhirnya memakai kaos dalam gw, kesempitan-kesempitan deh), baju koko (yang ternyata pagi-pagi malah dimasukkan ke dalam mesin cuci oleh nyokap), sajadah, mukena (ternyata mukena yang dibawa Si Mpit yang buluk, heran), sampai sendal jepit.

Pada pukul 06.30, gw, nyokap, tante, dan Si Mpit menuju tanah lapang tempat shalat Idul Fitri diselenggarakan. Si Ndut dan Ilham (anaknya tante) begitu dapat sajadah langsung ngacirrr. Seperempat jalan menuju tanah lapang terdengar suara imam membaca surat Al-Fatihah. Keempat cewek-cewek ini saling berpandangan penuh arti. “Kita telat!”, cerita pandangan penuh arti tersebut. Langkah kami pun menjadi surut, dan kami langsung membalikkan badan kembali menuju rumah.

Aaargh, tahun ini gw absen shalat Ied…. Anyway, Taqaballaahu minna wa minkum, wa shiamana wa shiamakum. Minal aidin wal faidzin.


Keeping my feet stay on the ground:

Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like it's heaven on Earth.
.:Mark Twain:.

Twitter Updates