Seminggu yang lalu (18/5) di pernikahan sepupu gw, untuk beberapa saat gw merasakan menjadi pusat perhatian. Hohoho.
Atas kontribusi seorang bibi yang sangat vokal (aka. meneriaki gw dari jarak 10 meter agar gw ikut serta dalam acara mengentaskan kemelajangan), gw berhasil didirikan diantara sekelompok perempuan-perempuan muda (banget dibandingkan usia gw) teman sang pengantin wanita untuk merebut buket bunga yang konon bagi siapa pun yang mendapatkannya dialah yang akan naik ke pelaminan berikutnya. Amin.
Dalam pemikiran gw kala itu—setelah berhasil menghalau rasa malu karena kevokalan sang bibi—wahhh jikalau berhasil mendapatkan buket bunga ini mungkin ada semacam doorprize yang menarik. Minimal voucher makan gitu di resto pizza.
Gw pun menyusun strategi. Awalnya gw berdiri di bagian samping kanan dari kedua pengantin. Tapi di bagian ini perempuan-perempuan muda usia itu cukup padat bergerombol. Kalau begini bisa-bisa terjadi fight cat. Gw pun berpindah ke sisi kiri yang lebih sepi peminat sehingga lebih leluasa bagi gw untuk melakukan berbagai macam lompatan. Gw mantapkan posisi gw demi sebuah voucher. Yeah.
And, here goes the bouquet…
Buket bunga mawar putih itu melayang dengan sempurna dari tangan kedua mempelai. Melambung dengan cantik menuju kerumunan jomblo-jomblo yang berteriak-teriak girang. Tak dinyana, buket tersebut meluncur ke arah gw layaknya sandal jepit yang digunakan untuk menyambit maling jemuran. Gw sempat bereaksi untuk menunduk dan menyelamatkan kepala gw dengan kedua tangan, nggak mau benjol. Namun dalam satu detik kemudian, tangan kanan gw menangkapnya. Gw terpaku. Buket mawar itu ada di tangan gw. Ohhh, beginikah rasanya jika berhasil menangkap bola dan memenangkan inning bagi tim baseball lo???
Kembali ke situasi. Kerumuan perempuan-perempuan muda usia itu mulai terurai diiringi tepukan tangan (buat gw, pastinya). Kemudian beberapa kaum kerabat menghampiri dan mengucapkan selamat serta doa agar gw segera menjadi pengantin. Gw terharu, inikah doorprizenya???
Kembali ke teman gw yang bernama Feby. Kemarin dia baru aja beli sebuah buku berjudul I Beg Your Prada. Since she’s such an impulsive buyer, she bought that book simply because its catchy title, the design of the cover, and certain famous names who give a comment.