Archive for February, 2008

benci rabu.

Seharusnya kita tidak bertemu di hari Rabu
Entah hawa apa yang membuat hati kelu
Haruskah menyalahkan pada bumi
dan manusia-manusia kemarin
Atau ambillah sejumput pasir
dan tiupkan padaku
Agar aku hirau
Tapi, sebaiknya kita tak usah bertemu di hari Rabu
Aku benci… benci sekali pada kebisuan itu

book review: Perang Bintang.

Perang BintangLagi, salah satu chicklit Indonesia yang menurut gw bagus banget dan layak untuk dikoleksi.

Dewie Sekar, sang penulis, meramu novelnya dengan percakapan antartokoh yang lugas, pun saat sang tokoh berdialog dengan dirinya sendiri.

Simak kutipan berikut di mana sang tokoh cewek (Rezia Kartika) bercakap-cakap (menggosip tepatnya) dengan sahabatnya (Yuli) di dalam lift mengenai sang tokoh cowok (Wira Yudha Nugraha):

“Dia memanggilku ‘Mbak’!” aku menggeram lagi (kalau kau menemukan huruf macam yang sedang kaubaca ini, berari aku sedang bicara dalam bahasa Jawa, oke?). “Bisakah kau percaya? ‘Mbak!’ Ya ampun! Ada dua kemungkinan kenapa si brondong itu memanggilku begitu. Pertama, dia memang menganggapku sudah sangat tua. Pantas jadi kakak perempuannya… atau mungkin malah seumuran dinosaurus. Kedua, bisa jadi Wira menganggap sekretaris sama saja dengan pembantu. Anakku juga memanggil pembanu kami ’Mbak’. ’Mbak Sarmini’. Uh, menjengkelkan! Kuharap Big Bos cepat sembuh sehingga aku bisa segera terbebas dari anak manja itu! Tapi, masih lumayan dia nggak memanggilku ’Tante Rezia’. Harusnya aku bersyukur!”

”Apa dia pintar?” tanya Yuli lagi.

”Lumayan. Cepat menangkap apa yang kujelaskan. Dia pintar dan wangi sekali!”

”Wangi, ya? Hmmm… bikin kamu nekat menggigit dia duluan, nggak?”

”Jujur aja… nyaris! Aku memang pengin gigitin dia sampai habis! Baunya maniiis!”

Saat mereka berdua keluar dari lift, mereka berpapasan dengan sang tokoh cowok yang juga keluar dari lift yang sama…

”Pagi juga,” sahut Wira… dalam bahasa Jawa! … sambil mengerjapkan sebelah mata pada aku dan Yuli. ”Jadi seharusnya saya memanggil Anda bagaimana? R-R-REZIA aja?”

Aku benar-benar malu. ”Maafkan saya, Pak,” sahutku tergagap. ”Panggil saya apa saja.”

”Saya tak mengganggap sekretaris sama dengan pembantu, walau nyatanya ugasnya memang mirip… R-R-REZIA! Tugas Anda memang membantu Bos Anda, kan?” kata Wira dalam senyuman yang membuatku mati kutu. ”Oh ya… olong diingat-ingat, banyak sekali orang Jawa di Jakarta. Cobalah belajar bahasa Hindi, atau Tagalog, atau Swahili. Lebih aman untuk menggosip di lift!”

Dan simak yang berikut:

C’mon… sadarlah, Dwiko! Aku bukan untukmu! Hatiku sudah dicuri mahluk tampan yang sekarang sedang nguping obrolan kita! Eh, BTW… ngapain di situ, Wira? Semoga dikau dilanda cemburu buta gara-gara Dwiko meneleponku!

Menurut gw tema yang diusung chicklit ini juga agak lain. Sang tokoh cewek adalah janda cerai dengan satu orang anak perempuan. Maka gak heran, sepanjang 394 halaman novel ini kita disuguhi kekhawatiran Rezia dalam menghadapi norma-norma sosial sebagai seorang janda kembang yang naksir bosnya sendiri yang notabene umurnya lebih muda. Jadi klop, deh, ramuan yang disuguhkan penulis untuk membuat gw menyelesaikan novel ini hanya dalam satu hari.

aku ingin ke desa.

Aku ingin ke desa
Yang…
Damai, tenram
Bersama
Bertani maupun berternak
Berkhidmat kepada mpu-nya hidup
Berhikmah kepada sesama
Bersama
Menyambut mati

book review: Indonesian Idle.

Indonesian IdleMembaca novel kesekian dari Okke Sepatumerah terasa familiar, terutama bagi mereka yang pernah kehilangan pekerjaan pertamanya dengan cara yang tidak menyenangkan. Dipecat. Dipecat karena alasan yang aneh bin ajaib, ditelikung teman sekerja, atau dimanipulasi tenaga-hati-dan pikirannya.

Yeah, I’ve been there done that, too. But, anywayyy… tersebutlah seorang cewek bernama Diandra Andriani, usia awal 20-an, sedang meniti karir sebagai kutu loncat profesional. Anywayyy kuadrat, akhirnya Diandra menginsyafkan diri jadi kutu loncat dan berjanji setia menjadi pekerja yang baik di sebuah majalah perempuan berskala nasional. Ibunya yang sedih melihat anak semata wayangnya pindah-pindah kerja melulu, menjadi bahagia. Apalagi ia bisa sedikit menyombongkan tempat kerja anaknya kepada teman dan keluarga tanpa membuat kening mereka mengerut.

Niat saja ternyata tidak cukup. Bekerja keras rupanya juga masih kurang. Hanya persekongkolan jahat saja yang akhirnya mendepak Diandra kembali ke rimba para pengangguran yang jumlahnya tidak terampuni itu.

Karena tidak ingin mengecewakan sang ibu, Diandra memilih bertahan di Jakarta daripada pulang ke Bandung dengan bekerja sebagai operator warnet. Lagi kesialan menghampirinya. Diandra harus menghadapi bosnya yang mesum. Setelah menerima honornya selama satu bulan, ia pun cabut.

Keadaan sedikit membaik tatkala Diandra menerima pekerjaan sebagai guru les menggambar bagi anak pacar sahabatnya. Untungnya, si pemberi kerja adalah orang yang baik pun si anak yang diajarnya.

Sampai di sini kita ternyata belum bisa menarik nafas bahagia buat sang tokoh, Karena Diandra terlibat main api sesaat dengan pacar sahabatnya itu!!! Nelangsa, pastinya. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada persahabatan. Inilah saat di mana ia harus menghadapi realita, when enough is enough. Ia pun memutuskan pulang ke rumah ibu.


Jadi beginilah, untuk saat ini, dunia kecilku-klau mau diibaratkan hypermart lagi-cukup lengkap dengan kekacauan: dipecat dari perusahaan besar, bekerja menjadi penjaga warnet, mengalami pelecehan seksual, tidak punya pekerjaan, dimarahi Amanda Wijaya, bermain api dengan pacar sahabat, dibenci sahabat, berbohong pada Ibu, sampai pada akhirnya menyerah, kalah.

Sama sekali tidak pernah terbayang aku akan mengalami semua ini. Dan yang membuatku sebal adalah, semua akibat kelakuanku sendiri.

Perasaanku sungguh tidak bisa kudefinisikan: sedih, sebal, kesal, merasa tolol dan ehm, aku benci diriku sendiri.

Agak sedikit plong rasanya ketika mobil milik Fast-Trans telah memasuki kota Bandung. Seperti yang kubilang, Bandung adalah kota yang kucintai, di sini tempatku merasa di “rumah”… (hal. 209-210)

Tepat saat membaca potongan paragraf tersebut, tidak terasa bulir-bulir air mata gw mengalir. Terasa benar penderitaan yang dialami Diandra. Di mana dengan kekerasan kepalanya ia ingin membuktikan bahwa ia bisa.

Sebagai suatu kisah yang diharapkan berakhir bahagia, Diandra pun bangkit. Yeah, life is a bitch and then you’re not dead anyway. So, buat yang masih jobless di luar sana (salah satunya elo, Git!), ini nih bacaan inspiratif selain buku Bagaimana Melamar Pekerjaan, Cara Menghadapi Wawancara Kerja, Dress for Success, dan Cosmopolitan’s Career Handbook jilid 1 dan 2.

book review: The Girls of Riyadh.

The Girls of RiyadhSebelum gw membahas buku ini, perkenankanlah gw mengucapkan terima kasih banyak kepada Fla yang tanpa piutangnya tidak mungkin buku ini ada di tangan gw. Fla, hatur nuhun pisan…, janji deh novel Zona at Last gw yang bakal beli.

Buku ini menarik perhatian gw diantara buku-buku yang terpampang dalam kategori buku terbaru, pertama karena disebut-sebut sebagai kisah nyata yang dilarang beredar di Saudi Arabia. Kedua, terdorong oleh rasa ingin tahu gw tentang kehidupan masyarakatnya terutama kaum perempuannya yang jarang diberitakan/diceritakan (atau mungkin, tidak penting untuk diberitakan?). Ketiga, mengacu pada alasan kedua, gw termasuk yang jarang banget baca literatur dari Timur Tengah, apalagi yang penulisnya perempuan, apalagi karya ini (berdasarkan nukilan di sampul belakangnya) adalah karya yang mengobarkan nyala api di seantero pasar gelap Saudi melalui pertanyaan-pertanyaannya tentang penerapan adat-istiadat yang membabi buta. Komplet ya provokasinya?

Kisah nyata ini merupakan kumpulan e-mail bersambung dalam sebuah milis yang mengisahkan empat perempuan Riyadh dari kelas menengah Arab. Mereka (Qamra, Sedhim, Michelle, dan Lumais) bersama-sama berusaha mengungkap rahasia terbesar dalam hidup mereka, yakni cinta kasih.

Bagi Qamra cinta kasih itu adalah menghadapi keinginan orang tua yang tak terbantahkan mengenai pilihan pasangan hidup yang kurang cermat (karena silau oleh nama besar keluarga calon menantu). Sehingga menempatkan Qamra sebagai janda bahkan sebelum anak lelakinya lahir.

Bagi Shedim cinta kasih itu adalah ketidakhati-hatiannya menerjemahkan hasrat menggebu yang membuatnya tergelincir dan menjauhkannya dari pelaminan yang sudah dipersiapkan.

Bagi Michelle cinta kasih itu perbenturan dua dunia. Sebagai seorang anak hasil perkawinan campur (Arab+Amerika) dan lama tinggal di AS, Michelle harus menerima kenyataan bahwa laki-laki pilihannya menolak memperjuangkan dirinya karena ia setengah Arab.

Dan bagi Lumeis nampaknya cinta kasih itu tidak seribet yang dialami ketiga sahabatnya. Hanya saja ia harus berhadapan dengan barisan Amr Ma’ruf wa Nahyu Amil Munkar saat menghabiskan sore disebuah kafe dengan lelaki Syiah.

Walau terbaca getir, tapi kegetiran itu hanya salah satu warna dari berbagai warna lainnya. Lo bakal nemu juga kelucuan, harapan, dan keteguhan hati yang pada akhirnya memimpin keempatnya untuk menemukan cinta kasih yang sebenarnya.

Boleh dibilang ini chicklit lain yang musti dibaca oleh para penggemar chicklit sedunia. Btw, ingin tahu ringkasan buku ini selanjutnya? Silahkan klik di sini.


Keeping my feet stay on the ground:

Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like it's heaven on Earth.
.:Mark Twain:.

Twitter Updates