Archive for August, 2007

book review: She’ll Take It!

She'll Take It by Mary CarterSelama ini kita, para perempuan penggemar chicklit, akrab banget dengan Becky si Shopaholic. Kemarin gw baru aja beli chicklit dengan tokoh cewek yang juga punya ”penyakit akut”. Perkenalkan Melanie Zeitgar, perempuan berusia akhir 20-an dari Manhattan, NY dengan pekerjaan yang tidak dapat dibanggakan, kisah cinta yang tidak jelas, keluarga yang menyebalkan, dan terutama ”penyakit” yang dia derita.

Jika Becky harus menghadapi kegiatan belanjanya yang gila-gilaan, Melanie harus menahan tangan-tangannya yang terampil dari kegiatan mengutil alias meng-klepto. Kaos kaki, lipstik, scarf, pembalut, mangkuk saus, sandal, telepon cordless, alat pemotong, boneka-boneka beruang, celana dalam sutera, dan vibrator adalah sedikit dari banyak benda lain penghuni lemari bajunya yang selalu terkunci yang semuanya itu didapatkan dengan gratis!!!

Penyakitnya ini menghampiri Melanie jika ia putus cinta, berat badannya naik, kehilangan pekerjaan, audisi yang payah, audisi yang bagus ketika tidak mendapat panggilan lagi, tagihan-tagihan kartu kredit yang menggunung, gigi yang berlubang atau perut lapar, trauma akibat menggunakan menu otomatis pada telepon, mendapat kunjungan mendadak dari ibunya, tidak ada telepon dari CSUSI-nya (Cinta Sejatiku Untuk Saat Ini), dan jika terjadi serangan-serangan kejadian-kejadian tragis yang mengakibatkan stres di masa mendatang.

Sayang, sebagai penghuni Manhattan, Melanie (atau Mary Carter) kurang mengeksplor gemerlapnya kota itu dan orang-orangnya (I know, ini bukan The Devil’s Wear Prada) sebaliknya kita disuguhi keluhan-keluhan Melanie yang saking seringnya jadi membosankan.

Dan, aneh juga cara-cara seseorang dalam menemukan jalan untuk bertobat. Setelah berhasil menyelamatkan seorang penjaga toko dari serangan jantung di mana ia ketahuan mengutil, Melanie bisa melihat hidup dari sudut pandang yang baru dan memberanikan diri melakukan pengakuan dosa selain dengan Bapa Lorry. Yup, tidak ada yang lebih baik dalam mengakui dosa selain melakukannya dalam siaran televisi di mana lelaki dambaan hati menjadi pemandu acaranya. Dan seluruh dunia, setidaknya seputaran NY akan memaafkan dirimu.

within sadness.

My beloved Dad
You may smile up there
Si Ndut accepted at IPB

officially… unemployed.

Saat memutuskan untuk keluar dari kantor itu, terus-terang emosi lebih banyak menguasai diri gw ketimbang rasio.

Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan yang gw buat harus gw terima dengan sebaik-baiknya. Kata OASIS mah, don’t look back in anger. Yup, I must moving forward.

So, buat teman-teman baikku yang masih di sana kalian harus bertahan dengan ‘cantik’ bukan dengan kepasrahan.


Keeping my feet stay on the ground:

Dance like no one is watching. Sing like no one is listening. Love like you've never been hurt and live like it's heaven on Earth.
.:Mark Twain:.

Twitter Updates