Archive for November, 2006

book review: Burned Alive.

Got this book from the office’s library, Burned Alive had put me in burst of tears.The publisher said it is a true story about woman who got burned alive by her brother-in-law because she disgraced her family (a.k.a being pregnant and unmarried).

Mostly I skipped the first chapter because I was so mad to continue reading about her bitter account of what it was like to grow up female in a remote Palestinian village.

Below, I quoted a paragraph from first chapter (sorry, it’s in Indonesian version):

Di desaku, jika para lelaki dewasa disuruh memilih antara seorang gadis dan seekor sapi, mereka akan memilih sapi. Ayahku selalu mengulang-ulang tanpa henti bahwa kami, kaum perempuan, tidak ada artinya. Seekor sapi menghasilkan susu dan anak sapi. Kau bisa menjual keduanya dan membawa uangnya pulang. Tetapi seorang anak perempuan? Apa yang didapatkan keluarga darinya? Tidak ada. Apa yang dihasilkan keluarga darinya? Tidak ada. Apa yang dihasilkan sapi untuk kami? Wol. Kau jual wol itu dan kau mndapatkan uang. Anak-anaknya tumbuh besar, melahirkan lebih banyak anak lagi, lebih banyak lagi susu untuk kau buat keju, kau jual dan kau bawa uangnya pulang. Seekor sapi dan seekor domba lebih berharga daripada seorang anak perempuan. Dan kami para anak perempuan tahu hal ini karena sapi-sapi, domba-domba, dan kambing tidak pernah dipukuli.

favorite game.

This was my father’s favorite game. I don’t know the name of the game, we simply call it “maldini”.

Since my father passed away, I remove the game from my desktop. Yesterday, unintentionally I clicked the unknown folder, and there it is.

buy me books.

It’s already end of the month. Meaning? My paycheck is on the way. To anticipate that moment, I booked 3 novels from online bookstore. One book is the newest on the shelf, The History of Love. The other two are Kahlil Gibran’s The Broken Wings and Arundhati Roy’s The God of Small Things. Can you figure it out, that all the books begin with “The”? Coincident… coincident…

a poem by a father.

Aku Ingin Melukis Rumah Untukmu, Anakku

Sedang duduk kita di beranda
tangan-tangan kecilmu dan terang bolamatamu
adakah bedanya
dengan gambar kecilku dulu
waktu kulukis rumah
tanpa pintu tanpa jendela
dan langit kelabu di atasnya

Ingin kuhapus masa lalu
hari-hari terisak yang sukar engkau mengerti
Sekarang di belakangmu aku berdiri
Sudahkah benar aku menjadi ayah
setelah memberimu beberapa
sesuatu yang tidak engkau pinta
namun aku harus melakukannya

Selagi kental tinta kasih sayang kita
mungkin belum pudar persahabatan, kejujuran,
dan semua saja yang pernah kita bangun
menuliskan garis dan warna menawan
Ingin aku melukis lagi sebuah rumah untukmu
dengan awan putih di atasnya
Sebuah rumah yang terang
berpintu dan berjendela
agar bebas mengalir lalu lalang
benderang nurani kita

Courtesy of Hendrawan Nadesul

a poem by a mother.

Bila Ibu Boleh Memilih

Anakku…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu Maka
ibu akan memilih mengandungmu?
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak…
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu
kecewa dan berurai air mata

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus
berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia
sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah…
saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita
Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah
malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan
tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu, Adalah
sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu

Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

Courtesy of Ratih Sanggarwati

Next Page »